Rumah Impian

Aku memimpikan memiliki sebuah rumah sederhana, cukup satu lantai, dengan teras yang agak besar. Teras yang cukup menampung belasan orang bersantai berhadap-hadapan. Teras untuk kami (aku, suamiku, anak-anakku) saling berkumpul dengan teman. Aku menyenangi berkumpul bersama teman-teman di rumah.

Di sudut kanan, ada beberapa tanaman obat dan tanaman dapur. Sedari kecil, aku penyakitan, mengonsumsi aneka bentuk dan warna obat. Ketika dulu merasa hebat karena berani dan rajin minum obat. Namun sekarang, aku paling tidak ingin mengonsumsi obat, begitu juga tidak ingin menjejali suami dan anak-anakku obat yang berbentuk bulat-bulat. Aku akan pelajari segala macam khasiat tanaman. Mengonsumsi mereka, tanaman berkhasiat ini, adalah pencegahan penyakit, mencegah ke rumah sakit, mencegah meminum obat, Begitu juga dengan bumbu-bumbu masakan, aku senang memetik mereka sebagaimana ketika kecil aku sering membantu ibu mengambilkan bumbu masak di kebun samping rumah.

Aku juga akan menanam buah-buahan. Ini adalah hobi ayah dan ibu. Selalu ada tanaman buah di setiap rumah yang kami tempati. Rumah di kampung ibu terlengkap, ada sawo, belimbing, rambutan, alpukat, pepaya, pisang, kelapa, sunkis, sampe kakao.Kakao yang terbanyak karena ayah malah berkebun kakao di rumah di kampung ibu. Rumah di kampung ayah terkenal dengan rambutan yang mengelilingi rumah, 6 pohon rambutan dengan jenis bibit yang berbeda. Selain rambutan ada pepaya, pisang, mangga, kakao, dan nangka. Rumah sebelum rumah ini malah ada batang semangka. Di rumah yang sekarang, ada alpukat, mangga, dan anggur. Nangka kami baru saja berbuah, sementara anggur hanya sampai panen pertama setelah itu gagal panen, udara dan tanahnya tidak cocok.

Rumahku nanti harus ada taman bunga. Halaman yang luas juga akan kuhiasi dengan bermacam-macam bunga. Aku pastikan segala jenis bunga ada di rumahku, mulai dari melati hingga teratai, dari mawar hingga rumput teki, semua jenis anggrek, dan bunga-bunga indah lainnya. Selaras dengan janjiku padanya, aku akan menjadi bunga di rumahmu yang mengindahkan dan terindahkan.

Tanah pekarangan rumah kami nanti akan dilapisi dengan rumput lembut seperti permadani. Aku tak ingin punya pagar besi untuk rumahku. Aku akan memagari rumahku dengan tanaman pagar saja, bonsai mungkin. Tanaman itu akan aku rancang setinggi dada. Rumah itu nanti akan berada di daerah pegunungan namun masih mudah diakses dari pusat kota. Rumah itu akan berada di sudut antara jalan simpang tiga. Tanah tempat rumahku didirikan lebih tinggi dibanding jalan. Jika diukur kemiripan mungkin mirip dengan lokasi rektorat Universitas Andalas. Aku suka posisi rektorat itu.

Di masa depan, warga komplek perumahan tempatku tinggalku adalah warga yang sangat menjunjung tinggi kebersihan dan keindahan lingkungan. Mereka sangat mencintai untuk melindungi bumi. Di sana semua orang berkendaraan dengan sepeda. Setiap pagi selesai sholat shubuh, tua muda jalan sehat, yang lainnya melakukan senam massal. Tidak ada yang merokok. Intra keluarga dan antar keluarga hidup dengan damai dan sejahtera.

 

Negara tempatku tinggal juga membuat sebuah peraturan. Dimana setiap pegawai perusahaan negeri dan swasta serta siswa dan mahasiswa baru boleh keluar rumah setelah jam 7 pagi dan tidak boleh berkeliaran lewat pukul 11 malam. Televisi yang diizinkan siar hanya televisi yang lebih banyak bernuansa pendidikan dibanding hiburan. Setiap rumah juga diwajibkan memiliki perpustakaan mini yang ditujukan untuk memupuk generasi cerdas cinta baca.

 

Dalam hal perpustakaan, aku akan membangun perpustakaan itu terpisah dengan rumahku. Ruangan itu kubuat berdinding kaca, beratap gonjong dan berbentuk persegi empat seperti rangkiang. Kaca yang menjadi dindingnya tembus cahaya tapi udara panas tidak bisa masuk. Meskipun matahari di luar terik, ruang di perpustakaan miniku akan tetap sejuk.

 

Di perpustakaan itu aka ada satu kamar kecil tempat aku menaruh satu set komputer, printer, Scanner, dan LCD proyektor. Juga ada televisi dan radio. O iya, aku juga akan menaruh mesin tik di sana. Kata Rosihan Anwar, bunyi mesin tik akan meningkatkan laju otak berpikir dalam menulis. Kamar itu aku gunakan sebagai kamar kerja untuk menulis.

 

Buku-buku. Ah, tentu saja perpustakaan mini itu akan kupenuhi dengan beribu-ribu buku. Bisa jadi perpustakaan mini itu tidak boleh disebut perpustakaan mini lagi karena jumlah bukunya yang tidak mini.  Aku akan mengelola beribu buku itu dalam lemari-lemari yang disusun berjajar letter U. Setiap buku diberi “serial number” yang akan menjadi pedoman dalam laci katalog. Iya, aku juga akan membuatkan laci katalog untuk perpustakaan miniku.

Satu lemari disediakan khusus untuk buku-buku yang aku sendiri menjadi penulisnya. Aku memang memimpikan menulis banyak buku dalam hidupku. Buku-buku yang aku tulis itu terdiri dari jenis yang berbeda-beda. Aku akan menulis buku di segala bidang. Hanya saja bidang sastra, kesehatan, psikologi, dan humanisme akan lebih diutamakan. Olala, aku ingin sekali menulis 1000 buku.

Ruang tengah di perpustakaan miniku sengaja dikosongkan dari lemari. Ia akan dialasi dengan karpet lembut dan sebuah meja bulat kecil setinggi betis. Di sanalah tempatku memanjakan diri untuk melaksanakan hobi membacaku.

Masih ada mimpiku yang lain. Aku menginginkan mendirikan rumah sehat, sekolah gratis, dan sanggar sastra. Mendirikan dan mengelola rumah sehat memang menjadi tujuan utamaku. Di sana orang-orang tidak pergi berobat tapi untuk membangun kelompok-kelompok dengan kegiatan sadar sehat. Suasana rumah sehat dibuat senyaman mungkin plus taman sehatnya.

Sekolah gratis akan aku dirikan di kampung halamanku. Kakekku sempat bilang ia ingin anak-anaknya mendirikan sebuah sekolah di kampung. Jika anak-anak kakek tak dapat mewujudkannya maka aku sebagai cucunya yang akan mewujudkan keinginan itu.

Aku juga ingin mengasuh sebuah sanggar menulis. Aku begitu menyukai dunia menulis dan aku ingin “tulisan” yang aku punya diteruskan ke generasi-generasi di bawahku. Aku akan melakukannya dengan cara guru menulisku, guru kehidupanku, Om Yusrizal KW. Tidak akan ada teori dalam sanggar menulis ini, yang ada hanya perintah : menulislah! Aku juga akan lebih banyak memotivasi dan mengajarkan bagaimana cara memaknai hidup.

*Tulisan ini ditulis pada tahun 2008

Kuliner Mengesankan Sepanjang Sumatera

dan cerita menarik ketika menikmatinya

1. MIE ACEH – ACEH

Ceritanya shubuh-shubuh nyampe Aceh. Penginapan masih sepi. Dan target utama kita adalah “pengen makan mie aceh”. Alhasil setelah mengutarakan keinginan ke “kakanda” kita… hehe. (makasi yg bg Afriady), kita dibeliin mie aceh… Padahal waktu itu cuma bilang “pengen makan” bukan “minta dibeliin”. Hehehe…

Waktu itu yang versi udang-nya. Yang diphoto ini versi kepitingnya. Hehe.

(moment muswil I ISMKMI 2010*)

 

2. TEH TARIK – ACEH

Yah, berhubung saya juga tertarik dengan namanya “teh tarik”, alhasil temennya mie aceh saat makan di “dapu kupi” Aceh, saya pesennya teh tarik. Eh, ga tahunya teh tarik itu teh telur.. hehe #ketipu45 :D

(moment muswil I ISMKMI 2010*)

 

3. KOPI ACEH – ACEH

Kopi yang akhirnya membuat saya ketagihan minum kopi. Kopi dengan warna paling hitam ini benar-benar memikat. Warnanya boleh hitam tapi rasanya manis luar biasa. Saya lebih senang menyebutkan rasanya : nikmat memikat ^^

Ceritanya, pagi-pagi saya cancel tiket ke bandara. Seharusnya pagi itu saya sudah berangkat ke Medan untuk nyambung ke Padang demi Grand Final UNAND AWARDS. Namun akhirnya saya memutuskan untuk melepaskan UNAND Awards dan meneruskan amanah sebagai Korwil I ISMKMI yang baru saja diemban. Alhamdulillah tiket bisa dipending sampai besok dengan sedikit membayar denda.

Dari bandara menuju kembali ke ruang sidang, saya pesan 2 bungkus kupi aceh, secara malamnya saya kurang tidur, jadi harus tetap melekin ini mata :D
Berhasil, kopi aceh mampu membuat mata saya terang benderang hingga akhir sidang. Meskipun saking semangatnya, saya hampir menumpahkan setengah bungkus untuk dibagi ke Aya, rekan mahasiswa dari Padang yang juga ke Aceh. :D Ini sumpah kopi paling memikat di Indonesia.

(moment muswil I ISMKMI 2010*)

 

4. BIKA AMBON – MEDAN

^^ Kue aneh, namanya Bika Ambon tapi asalnya dari Medan. Well, kalau kamu ke Medan tanpa bawa oleh-oleh Bika Ambon. Rugii45. Kue Bika Ambon emang cocok buat oleh-oleh, yang mengakibatkan dalam beberapa kali ke Medan, saya HARUS ke toko Bika Ambon dulu. Kalau nggak, bisa ngamuk-ngamuk orang Padang. ^^ Pulang dari Medan bawa Bika Ambon, It’s a must!.

(moment MATAPENA ISMKMI 2010*)

 

5. BOLU GULUNG MERANTI – MEDAN

Ada lagi nih khas Medan yang nggak boleh ketinggalan. “Bolu Gulung Meranti” Hmm, bolu dengan kotak kue yang khas ini paling banyak dijejerin saat kamu di bandara, baik kotak-kotak di toko-toko, maupun kotak-kota di tangan-tangan penduduk bandara yang berseliweran ^^.

(moment MATAPENA ISMKMI 2010*)

 

6. PEMPEK – PALEMBANG

^^Kalau udah tentang Pempek Palembang, saya mesti colek Lafi Munira n Mardiana Khiroz dan colek Angyun Abraham buat pamer. Hehe. ;D. Cerita tentang Pempek, saat munas Palembang, ceritanya kita “celingak celinguk” di Rusunawa UNSRI, kelaperan, n bosan. Berhubung panitia tuan rumah masih sibuk siap-siap untuk pembukaan, kita pun para delegasi “yang pengen cari udara luar” ini kabuuur.. Hahah. Sekitar belasan orang nekat naik angkot (padahal satu orang pun gag ada yang ngerti Palembang/Indralaya. Tapi kata bang Aan UTU, kita jalan aja, rame-rame kok, gapapa. Hilang satu hilang semua. Huaha.. #kasianpanitia.

Alhasil perjalanan itu sempat nyampe di tugu Kabupaten Ogan Ilir, makan pempek deh disana. Eh, tahu gag, saya bingung, “ternyata gini loh rasa pempek asli?, Kok enak yang di Padang yaah?” Haha.. #Lidahkuparah….

Oiyah, saat itu kirain udah jauh aja jalannya. Eh, nggak tahunya cuma keliling-keliling UNSRI. Tiba-tiba nyampe Alfamart, trus jalan kaki deh dari Alfamart menuju Rusunawa dan jalan kakinya itu jaaauuuuhhh banget… Padahal sopir angkotnya udah ningetin. Dasar waktu itu delegasi pada bandel. Pada sotoy… Hahah….

(moment MUNAS XI ISMKMI 2009*)

 

7. DUKU – PALEMBANG


Duku Palembang, oleh-oleh wajib dari Palembang. Ngomong-ngomong tentang duku Palembang. Saya colek Pramana Anggi, Elvira Yunita, n Shara Jeane dulu. ;D Jadi pulang dari Palembang, kita ngebis ke Padang. Dalam perjalanan, bis berhenti di deretan kios pedagang Duku Palembang. Huaaah, deretan gtu deh pedagangnya. Waktu itu sekitar pukul 10 ato 11an malam.

Kita awalnya pada malas turun, kecapekan. Tapi demi melihat ada yang beli… ‘kayaknya enak’ Hehe. Akhirnya Anggi diutus untuk turun. Saya, Ira, n Aya nitip.
Eh, gg tahunya murah dink. Sekilo cuma 5rbu. Ira sampai balik, ke bawah, dan beli beberapa kilo lagi. (Saya pribadi nyesel nggak nambah T__T gara-gara males turun)

Eits sebenarnya, bukan masalah malas turunnya itu yg menarik. Haha.. (ketawa dulu deh). Jadi di bis ada nenek-nenek yang selama perjalanan curhat habis ke orang yang duduk di sebelahnya + kenek bis. Sang nenek bercerita miris banget : diusir menantu, nggak punya duit, cuma ada duit sekian, pokoknya sedih n miris banget deh.

Tapi… saat ada pembelian per-duku-an, sang nenek naik ke atas bis dengan sekarung besar duku (mau jualan kali ya?) sampai-sampai tu karung ganggu para penumpang yang mau lewat-lewat.

Saya mikir, Anggi juga, Ira juga, Aya juga, karena sebenernya kami juga nyimak curhatan sang nenek tadi. Pertanyaannya sama : katanya gg ada duit, ko bisa beli sekarung besar gitu?

Dan pertanyaan yang berseliweran di kepala masing-masing itu akhirnya dibahasakan oleh sang kenek “Amak! Tadi kato amak, amak ndak bapitih do. Ko sakaruang gadang amak bali lansek haa.??!!”. Sang kenek mete-mete.
Huaaaha wkwkwk, saya n yang lainnya ketawa ngakak (tapi dalam hati, hehe) takut juga kalau ntar disemprot sang nenek.

(ps : itu keneknya ngomong pake bahasa minang, maaf malas translate, artinya cari sendiri yaah. :p )

(moment MUNAS XI ISMKMI 2009*)

 

Ini baru 7 jenis kuliner, masih ada Riau dan Jambi yang sempat saya kunjungi, tapi belum sempat menikmati kuliner khasnya. Lalu Kepri, Bengkulu, Babel, dan Lampung yang masih dalam antrian daftar daerah yang akan dikunjungi…. Tunggu ceritanya yaah. ^^

Pesawat Oh Pecawatt….!!!

Ketika saya masih imut-imut, lagi hobi-hobinya main sepeda roda 3 keliling kampung. Pesawat lewat di langit. Saya and the gank langsung teriak-teriak. “Pecawaaaat….!!! Pecawatt!!!!”. Teman saya yang punya Etek (tante,-red) bernama Evi (disingkat “Pi”,-red) yang tinggal di Jakarta langsung pamer, “Etek Pi…. Tek Pi… Da daa Da daa..!!!,” sambil melambai-lambaikan tangan seakan-akan Etek Evi sedang berada di atas pesawat dan melambai-lambaikan tangan pada temanku di bawah. Anak-anak lain tak mau kalah, masing-masing dan juga saya (:P) ikut memanggil-manggil saudara kami masing-masing yang berdomisili di Jakarta. Maklum, orang Padang, banyak yang merantau kesana kemari apalagi ke Jakarta. (:D) Begitulah seterusnya setiap ada pesawat lewat, anak-anak kampung yang unyu-unyu tanpa dosa ini berteriak-teriak.

::Kalo dipikir-pikir waktu kecil saya katrok bin norak yah? –”
 

Lalu, selama berpuluh-puluh tahun sejak lahir saya gag pernah naik pesawat. Pertama kali naik pesawat saya sudah berumur 20 tahun (d^^b). Sangat tidak patut dibanggakan bila dibandingkan dengan teman-teman semasa SD yang sering pamer baru saja naik pesawat ke Jakarta. Saya mampunya naik bis dari Padang – Jakarta, dulu itu menghabiskan waktu 3 hari 2 malam. Kalau sekarang kabarnya lebih cepat 1 hari 2 malam.. (:D)

Tepatnya 08-08-09, hari Sabtu, akhirnya saya naik pesawat. Berangkat sendiri ke ibukota, Jakarta. Bisa dibayangkanlah : sendirian, perempuan, katrok, berangkat shubuh-shubuh, nggak ngerti Jakarta, takut ke ibukota, dan terutama TAKUT karena GAG PERNAH NAIK PESAWAT. Ibu sempat nggak kasih izin karena saya sendirian. Takut ilang anak semata wayangnya. Tapi ini tiket udah ada, dikasi orang, gratis pula. Tentunya, kata Ayah, kita harus ‘berterima kasih dengan tidak menyia-nyiakan’.

Alhamdulillah, tiket PP naik pesawat itu, GRATIS. Saya dan 2 orang teman lainnya (Icha dan Sevil) menerima undangan untuk menjadi Delegasi Kampus Universitas Andalas atas nama Mahasiswa Kesehatan Masyarakat dalam kegiatan Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI). #Ceritanya, sebelum berangkat kampus memberikan dana untuk 2 orang saja. Namun kami saat itu ngotot pergi bertiga, dengan alasan kami bertiga telah saling melengkapi, jika salah satu gag ada, kami akan hilang di Jakarta, terutama saya. Saya bakalan ilang karena terakhir ke Jakarta itu usia 11 tahun. Alhasil kami bertiga sepakat dana dari kampus dibagi tiga, cukup untuk tiket pesawat pulang dan registrasi acara. Darimanakah tiket perginya? Alhamdulillah tiket itu diberikan gratis oleh Padang Ekspres Group sebagai bentuk apresiasi pimpinan P’Mails dan Padang Ekspres terhadap salah satu “anak didik”nya… Alhamdulillah dapat tiket VIP pula. Malangnya, karena pemesanan tiket saya berbeda dengan Sevil dan Icha, jadwal keberangkatan dan maskapai penerbangan kami pun berbeda. -___-
 

Selamam sebelum keberangkatan saya, rumah tampak sangat sibuk. Saya sendiri bingung secara ini keberangkatan ke luar pulau sendirian (terdengar agak mengerikan). Segala perlengkapan pun dipersiapkan. Semua peralatan saya beli baru : handuk baru, baju baru, kaus kaki baru, sepatu baru, sabun baru, sikat gigi baru, parfum baru, minyak telon baru, semuanya baru. Kecuali travel bag yang harus saya pinjam sama paman. Kalau beli baru, darimana duit? Pun di rumah tidak ada travel bag sama sekali kecuali tas kain yang biasa dipakai buat pulang kampung. #Well, saya kampungan dan sangat katrok (tapi bangga jadi anak daerah :) ) )

Pagi-pagi buta jam 3 udah bangun. Mandi dan siap-siap. Jam 4 shubuh berangkat ke Bandara. Perjalanan dari rumah ke Bandara yang berada di pinggiran kota akan memakan waktu 1 jam. Saya harus check in jam 5 dan take off jam 6 shubuh. Jadi harus pagi-pagi banget. Saya diantar oleh Ayah dengan taksi yang udah dipesen sejak semalam. Nah, berhubung VIP, saya dijemput langsung oleh travel agency langganan Padang Ekspres Grup, saya memanggil beliau Om In.

Oleh Om In saya diajarin semuanya, mulai dari masuk- liatin tiket – bagasi – check in – taruh bagasi – naik ke lantai 2 – bayar airport tax – liatin tiket lagi – bagasi lagi – dan duduk. Alhamdulillah (dapat duduk di Executive Lounge Anugrah di Bandara International Minangkabau. Berhubung saya ini katrok, sedikitpun saya tak menyentuh cicipan yang tersedia, padahal boleh bebas icip ini icip itu, saya nahan selera, waktu itu mikirnya “pasti bayar dan mahal”. Berhubung irit, pelit, tepatnya gag ada duit, saya gag memilih menyentuh makanan, hanya menyentuh majalah dan toilet.

Ehe„ toilet? Ya, di exe lounge itu saya milih ke toilet, mushalla, sholat sunnah, sholat shubuh (kalau dari Padang, pesawat jam 6, berarti sholat shubuhnya di bandara), dan banyak-banyak berdoa supaya saya selamat selama perjalanan. Pokoknya kaku, kagok, and keringat dingin. Antara penasaran dan takut mau naik pesawat.. Hahaha. Jujur bahkan saya nggak tahu kapan saya harus masuk ke dalam pesawat dan nggak ngerti suara-suara panggilan di dalam Lounge, apakah saya sudah bisa masuk pesawat? atau belum? -__-. Maka saya titip pesan sama Om In kalau udah waktunya, mohon dipanggil, dan saya pura-pura sibuk membaca, jadi nggak konsen sama panggilan. :D Kelihatan banget katroknya.

Akhirnya Om In kasi kode, trus nunjukin bagaimana di dalam pesawat nanti karena tentunya Om In tidak bisa mengantar sampai ke dalam pesawat. Saya manggut-manggut. Dan masuk. Nah, untuk apa pramugari? Jawabannya : untuk ditanya-tanyai. Begitu masuk saya langsung nyamperin pramugari, minta anter ke kursinya. Hehe.

Eh, gag taunya duduk paling depan. Duduk di tengah, di sebelah kanan bapak-bapak gendut pake jas rapi, di sebelah kiri bapak-bapak pake jas rapi n gendut juga. Saya matut diri : kecil, kurus, nggak rapi, make kemeja kuliah, gelang-gelang nggak jelas di tangan kiri, jam 20an ribu di tangan kanan, celanan jeans yang udah jelek banget jahitan bawahnya karena sering diinjak-injak, dan sepatu 30an ribu. Hahahahaha.

Ya udah cuek aja deh. Anggap aja traveller cuek yang udah biasa naik pesawat. Saya sapa kanan kiri, basa basi, ada acara apa Pak ke jakarta? #Hahah,sokbangetsaya. Ternyata yang satu anggota DPR salah satu daerah di Sumbar, yang satu lagi pebisnis yang ada proyek di Jakarta. Pas saya ditanya, adek ada acara apa? Saya jawab padat, “Saya Mahasiswa”. Terus sambung dengan, “saya pertama kali naik pesawat, Pak”. #Aiih,akhirnyajujur #demikeselamatanduniakhirat. Saya mulai bercerita tentang kampus yang saya duduki, tentang acara yang akan dikunjungi, serta tentang dua teman saya yang beda jadwal pesawat. Dua Bapak itu manggut-manggut.

Oh ya, tahukah? Saat pesawat take off, saya berekspresi seperti naik Roll Coaster. (Pejemin mata, pegang kursi erat-erat -sebenernya nggak perlu pegang kursi erat-erat-, jantung dag dig dug). Well, walaupun sebelumnya saya nggak pernah naik Roll Coaster, minimal saya pernah dulu banget naik Halilintar. Hahah.

Dua Bapak di sebelah saya udah tidur aja, sebelum ini pesawat terbang lurus -__-. #kecewa, saya mau ngobrol, Pak…. Pada saat keadaan udah aman, lampu udah dinyalakan, ada Bapak-bapak yang jalan-jalan di dalam pesawat, kayaknya ke toilet. Pada saat itu sempat mikir, gimana yah rasanya berjalan di pesawat yang lagi terbang? Selama ini saya sudah sangat sering jalan-jalan di dalam Bis Kota yang lagi ngebut. Hehe. Saya juga pengen tahu bagaimanakah wajah toilet pesawat itu. Namun penasaran itu saja pelihara saja. Pada saat itu belum berani bertindak “lasak”.

Berhubung dua Bapak tadi tidur, saya sibukkan diri dengan baca-baca, melahap semua apapun yang bisa dibaca disana, sambil dalam hati nggak henti berzikir. Setelah apa yang dibaca terasa nggak menarik, malah lebih menarik baca peringatan mematikan handphone- saya meniru-niru saja dua Bapak di sebelah saya. Tidur!. Tepatnya, memejamkan mata. Dan itulah yang terjadi selama di dalam pesawat, sekitar 1,5 jam merem tapi nggak tidur, tubuh tegang, dan telinga aware terhadap setiap bunyi yang ada. Saya baru membuka mata pada saat dari speaker terdengar bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Fiuuh, itu 1,5 jam serasa setahun. -__-

Well, tahukah dalam rangka apa perjalanan pertama ini? Ke Jakarta saat itu adalah untuk menghadiri Rakernas VII ISMKMI. Kemudian betapa nama itu ISMKMI melekat kepada saya hingga sekarang, ia yang membawa saya terbang, keliling kemana-mana, sekaligus awal dari dimulainya perjalanan dari Bandara ke Bandara ini.

Thanks ISMKMI dan thanks a lot buat teman-teman yang setelah hari itu, pernah naik pesawat bareng saya dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) :

  1. Ade Somantri yang juga berangkat shubuh-shubuh, diantar Jendra ke rumah, dari rumah nge-taksi ke BIM, berangkat ke Jakarta utk Workshop TCN.
  2. Elvira Yunita, Shara Jeane, + Andrika Ariyoni yang mendadak muncul di BIM, menikmati perjalanan ke Medan di tengah cuaca buruk, ngeri banget di pesawatnya.
  3. Teman-teman peserta Stuband yang 30an orang, itu satu pesawat heboh dengan kegejean anak-anak yang bandel nggak duduk sesuai nomer tiket. Hahay.
  4. Taufik Hidayat dalam perjalanan menuju Surabaya, eh si Taufik pake sendal jepit.., d^^b Jempooll….

Lama kelamaan, saya belajar, naik pesawat sebenernya sama aja dengan naik angkot. Dulunya saya katrok sumpah, segala barang baru (meskipun harganya 20-30rb) gara-gara takut dibuang di tengah jalan kalau make baju lusuh dan sepatu lusuh. XDDDD #katroksumpah

pada suatu magrib

pada suatu magrib
aku gelisah. berkeliaran bersigegas, bertingkah bergejolak.
kau belum datang!

berusaha bersikap tenang, walau galau tak urung tersembunyikan.
“jangan resah begitu,” ujar seorang teman di sebelah kanan.
kupikir aku bisa bersikap tenang dan meledeknya yang meledekku di sebelah kanan.

setengah berbisik kau kupertanyakan, “sudah ada dimana?”
tapi mereka sibuk dalam kesibukan, mengurusi kertas-kertas, berbicara keras-keras

kau masih dalam perjalanan.
tak semestinya aku merawat kegelisahan, “dia sudah dewasa,” kata mereka.
aku diam.

kau datang!
ah, akhirnya kau datang dalam keadaan yang melekat di pandangan.
kupastikan jalanan dan orang-orang kota ini membuatmu sesak.

aku beranjak, ingin menyambut dengan memeluk.
tapi yang terlakukan hanya bertanya, “jam berapa sampai di terminal?”

kau menjawab, tapi jawabanmu tak melekat di kepalaku,
yang melekat hanya wajahmu, wajah yang selama ini kulihat dengan suara.

pada magrib yang menua,
aku memandangmu dalam-dalam
di sebuah kota,
Jakarta,
pertemuan pertama
setelah kudengar suara-suara.

Habibie & Ainun : lelaki bersinar dan perempuan disampingnya.

“Behind every successful man is a woman” Pepatah tersebutlah yang paling cocok untuk menggambarkan intisari pesan yang ingin disampaikan oleh satu buah buku yang ditulis oleh B.J. Habibie: Habibie & Ainun.

Melalui buku ini, pembaca akan mendapatkan gambaran lengkap mengenai kehidupan Habibie dan kehadiran serta sang istri tercinta di dalam kehidpannya. Masa-masa mereka berpacaran, menikah, merantau di Jerman, hingga berkarya di Indonesia; semuanya diceritakan dengan singkat namun lengkap.

Selain bercerita mengenai cinta mereka, buku ini juga tentu saja diwarnai dengan tiga hal yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan dua pribadi yang  telah manunggal dalam jiwa, roh, batin dan nurani sepanjang masa, sampai akhirat ini, yaitu: iptek, nasionalisme, dan kehidupan agamis.

Ainun, sebagai tokoh sentral dalam buku ini, sepanjang hidupnya telah sukses menjadi istri dan ibu yang baik. Tidak hanya itu, dukungan dan cintanya kepada Habibie diwujudkan dalam bentuk mendukung visi dan passion yang dimiliki suaminya untuk ikut aktif membangun negeri. Tanpa mengeluh dan protes, dirinya selalu sabar di dalam menemani dan mendukung suaminya kemanapun suaminya pergi. Dirinya adalah sosok yang rendah hati, selalu tersenyum, mandiri, penuh kasih sayang dan juga peduli. Tidak heran apabila dirinya merupakan inspirasi dan semangat yang tidak pernah padam bagi Habibie, bahkan ketika dirinya sudah tidak bersamanya lagi secara fisik di dunia.

Pasangan Habibie-Ainun disebut-sebut sebagai Romeo & Juliet masa kini. Saling setia hingga maut memisahkan–yang menjadi pesan utama kisah Romeo & Juliet–telah diintepretasikan oleh pasangan ini sebagai sikap saling mencintai, menyayangi, mendukung, memahami, memiliki dan kemanunggalan yang tidak pernah terhenti oleh batas ruang dan waktu. Sungguh merupakan bentuk nyata  cinta yang mendatangkan inspirasi dan layak menjadi panutan semua orang.

Namun ketika itu, saya tidak mampu lagi menahan emosi dan kesedihan saya, karena bingung. Saya bingung karena janji yang saya  pernah berikan kepada Ainun untuk selalu mendampinginya di manapun ia berada. Bagaimana kriteria berada “di bawah satu atap” dapat saya penuhi? Saya memanjatkan doa kepada Allah SWT dan memohon petunjukNya. Apakah saya segera ikut saja ke liang kubur? Bagaimana caranya? Dalam keadaan ketidakpastian, kebingungan dan sedih saya menangis.

“Ainun, jiwa, roh, batin dan nurani kita sudah manunggal dan atap kita bersama adalah langit alam semesta. Karena itu Ainun tetap berada di samping saya dan saya di samping Ainun, di mana saja kami sedang berada sepanjang masa.”

Manunggal, pada akhirnya itulah kata yang tepat untuk menggambarkan secara utuh kehidupan bersama mereka selama 48 tahun 10 bulan, dan juga kebersamaan mereka kini hingga seterusnya meski sudah tidak satu alam dan dimensi.

Selasa malam 30 November ini, Bacharudin Jusuf Habibie meluncurkan buku “Habibie & Ainun” yang disebut sejumlah kalangan sebagai buku tentang cerita cinta abadi dua anak manusia. Kehidupan penuh cinta pasangan Habibie dan Hasri Ainun memang bisa menjadi bahan ajar menarik untuk keadaan sosial kini yang terlalu dimabuk kabar selingkuh, cerai, sensasi syahwat dan birahi.

Mereka menguak kisah cinta sejati dan kesetiaan yang membangkitkan takjub, selain menjadi cermin kepada siapa keluarga-keluarga berkaca. Kesetiaan tiada koma dari sang ilmuwan cemerlang kepada istrinya itu, telah menegaskan bahwa cinta abadi itu ada.

Ketulusan cinta Habibie-Ainun dan keromantisan mereka mungkin seindah kuasa cinta yang membalut perjalanan kasih Roro Mendut dan Pronocitro, Laila dan Majnun, Mumtaz Mahal dan Shah Jehan, Guinevere dan Lancelot, Scarlett O’Hara dan Ashley Wilkes, atau pasangan dalam roman-roman lainnya.

Tentu saja kisah cinta Habibie-Ainun tak setragis kisah dalam roman-roman itu. Freddy Mercury, vokalis band legendaris Queen, hanya bisa bersenandung cinta sejati dalam lagunya, “I was born to love you/With every single beat of my heart// Yes, I was born to take care of you/Every single day of my life// You are the one for me/I am the man for you// You were made for me//

Habibie juga melantunkan kidung amor seperti Freddy, dengan berkata, “Ainun tercipta untuk saya, dan saya tercipta untuk Ainun.” Tapi Habibie lebih dari itu, karena untaian syair indah itu dia terjemahkan dalam laku keseharian kepada sang pasangan hati.

“Cinta mereka tidak pernah berkurang, justru terus bertambah,” kata buah hati mereka, Thareq Kemal Habibie, kepada satu televisi nasional beberapa waktu lalu. Mereka melihat satu sama lain secara mendalam, tak hanya dari eloknya paras, indahnya lekuk tubuh atau merdunya suara. Sebaliknya, mereka memaknai wajah mereka sebagai nilai-nilai dari mana keluarga harmonis ditata

Mereka seolah melanggamkan puisi pujangga besar William Shakespeare, “Di wajahmu Aku lihat kemurnian, kebenaran, dan kesetiaan.” Di tengah dunia yang dibalut glamor, seksualitas ekstrem, pemujaan benda, dan pernikahan berimamkan nafsu, dua sejoli itu mempertontonkan cinta sejati yang mempesona nan menggetarkan.

 

Cinta sejati

Kesetiaan Habibie mengingatkan pada salah satu kisah kasih agung di era modern, antara dua ilmuwan brilian, Pierre Curie dan Marie Sklodowska Curie. Sebagaimana Habibie dan Ainun, Pierre dan Marie dipersatukan oleh cinta. Keduanya tak saling mencari untung, tak pula saling menuntut, apalagi memanipulasi kelebihan, pencapaian dan kedudukan pasangannya. Mereka bersenyawa menjadi ekajiwa dwitubuh karena menganggap satu sama lain sebagai belahan jiwa.

Pesona cinta memang menyentuh kalbu semua orang, dan manakala itu merasuk pada dua anak manusia yang ikhlas berbagi rasa dan dipersatukan oleh ketertarikan sama, maka hidup menjadi lebih berbunga. Itulah yang dirasakan Marie dan Pierre, dan mungkin pula dinikmati Habibie dan Ainun, serta semua pasangan sejiwa lainnya. Adalah kecerdasan dan ketekunan Marie yang membuat Pierre jatuh hati. Setelah beberapa kali gagal dipinang Pierre, perempuan Polandia itu menerima cinta Pierre dan berlanjut ke pernikahan pada 1895. Pernikahan itu kian menyatukan mereka, hingga bermitra demi sains.

Masa-masa sulit berhasil mereka lalui, karena mereka selalu berbagi, saling mengisi dan merasa saling membutuhkan. Sukses akhirnya mereka capai pada 1898 setelah menemukan polonium dan radium. Untuk upayanya itu, mereka, bersama Antoine Henri Becquerel, dianugerahi Nobel Fisika pada 1903.

Hidup Marie berantakan setelah Pierre meninggal dunia pada 1906. Tapi, cintanya yang tak pernah padam pada suami, membuat Marie bangkit menapaki jalan yang diretas belahan jiwanya untuk menjadi profesor fisika dan meraih lagi Nobel kimia pada 1911. Namun, di tengah kesuksesan itu, Marie tetap merindukan Pierre. Marie merasa dia adalah Pierre, dan Pierre adalah dia. Pada 1934 Marie menyusul Pierre ke alam baka karena leukemia.

Seperti Marie, Habibie juga amat kehilangan belahan jiwanya, seolah setengah hatinya terenggut. Habibie mengatakan tak akan melewatkan sehari pun berziarah dalam masa 40 hari setelah wafatnya sang istri. Sungguh satu ungkap kesetiaan mendalam dari seorang pecinta sejati.

Habibie seolah mendeklamasikan puisi pujangga besar Persia, Jalaluddin Rumi, “Aku mungkin bisa menutup bumi dengan taburan melati/ Aku dapat saja memenuhi samudera dengan tangisan/ Aku bisa saja mengguncang surgawi dengan pepujian/ Tapi tak satu pun dari semua itu dapat meraihmu.”

 

Ideal

Habibie-Ainun adalah gambaran otentik mengenai wujud doa setiap pasangan nikah untuk hadirnya keluarga harmonis yang dibalut kesetiaan. Habib Ali Almuhdar, guru mengaji Keluarga Besar Habibie, berkata, “Keluarga Habibie adalah keluarga sakinah mawaddah warohmah.” Artinya, keluarga itu senantiasa diliputi kasih sayang dan menjalankan perintah Tuhan sehingga selalu dilimpahi rahmat-Nya.

Habibie-Ainun, serta keluarga-keluarga lain seperti mereka, merekatkan ikatan keluarga di atas fondasi saling menyadari dan mengakui perbedaan-perbedaan mereka. Mereka bersatu menjadi dua belahan jiwa yang bersenyawa dalam satu tubuh di mana sang perempuan menutup ketaksempurnaan emosi pria, sebaliknya kesenjangan nalar pada perempuan ditutup sang pria. Jika keadaan itu membawa keutuhan kepada keduanya, maka kebersamaan mereka adalah perkawinan sejati antardua sejiwa sehati.

Mengutip para pakar spiritual, tatkala jiwa-jiwa seperti itu menyatu, pikiran-pikiran tentang seks tak lagi dominan. Sebaliknya, makin dominan persatuan seks, makin hambar sebuah persenyawaan spiritual. Jika persenyawaan spiritual itu kian kuat, maka dua jiwa itu kian rapat menyatu. Inilah level di mana perkawinan sejati antardua belahan jiwa telah tercipta, sebagai mana Tuhan rencanakan untuk setiap manusia.

-dikutip dari http://afkaridiskon.blogspot.com/2011/04/habibie-dan-ainun.html-

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.