Bu Endang : Menkes Bersahaja, Penuh Karya Bermakna

Reblogged from ISMKMI:

Click to visit the original post

Menteri Kesehatan Republik Indonesia non aktif dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR.PH lahir 57 tahun lalu di Jakarta pada 1 Februari 1955. Beliau memperoleh gelar sarjana pada tahun 1979 adalah lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Selepas bergelar dokter, Bu Endang melanjutkan pendidikan dengan spesialisasi Kesehatan Masyarakat pada Harvard School of Public Health di Boston Amerika Serikat dan lulus tahun 1992.

Read more… 1,043 more words

Reblogged from ISMKMI:

Click to visit the original post

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Turut Berduka cita atas berpulangnya Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih pada pukul 11.41 WIB hari ini, Rabu 2 Mei 2012. Baktinya untuk kesehatan Indonesia telah melekat di hati bangsa. Mari mengheningkan cipta, semoga beliau diterima di sisiNya.

Selamat jalan, Bu… Terima kasih telah mengabdikan diri pada kesehatan masyarakat, menempuh pendidikan spesialisasi kesehatan masyarakat, dan menuangkannya untuk program-program di bidang kesehatan masyarakat.

HUKUM KEKEKALAN TAWA

Sajak : Aan Mansyur

Sejak mula hadir di dunia
lalu mampir dari bibir ke bibir
tawa tak pernah bertambah
besar, tak pernah bertumbuh
subur, tak pernah berkurang
dan tak pernah berkembang.

… Jika di sepasang bibir ada
tawa yang sedang pecah
di sepasang bibir lain tiada
tawa yang merekah.

Begitulah tawa lahir
dan hidup menyandang takdir.

Seperti kini, di kejauhan sana
saat kau tertawa bahagia
bibirku yang tawar tanpa tawa
menjadi asin oleh airmata.

#MayDay

1. ini bukan tentang Hari Buruh

Antara sadar dan tak sadar, saya terbangun. Lampu kamar menyala terang, kipas angin berputar deras. Ibu sedang memasak. Kepala pusing dan punggung bagian bawah terasa masih sangat sakit. Gelagapan saya mencari HP, ada 5 pesan masuk.

sms 1 : Nilna, maaf La terlambat. Ini sedang di angkot.

sms 2 : Nilna dimana?

sms 3 : Nilna La sudah sampai, Nilna dimana?

Saya terkesiap. Jam berapa ini?

Astaghfirullah jam 9.

Saya memutar memori apa yang telah dilakukan sejak tadi. Kemarin tidur jam 2, selepas netmeet yang berakhir jam 11 malam saya masih asyik dengan laptop. Saya ingat bangun jam 05.12, ketika paman yang sekaligus pemasok telur di kios ayah datang memasok telur shubuh itu. Saya beranjak sholat shubuh. Setelah sholat tertidur lagi. Saya bangun kembali 06.30, paman masih di rumah, saya tidak berpikir apa-apa, yang saya tahu ini tanggal 1 Mei, saya mengetik beberapa sms sembari menangis. Setelah sms, menelpon nomor yang tadi menjadi tujuan sms. Tidak diangkat, redial, tidak diangkat, redial, begitu seterusnya. Entah bagaimana, saya tertidur lelah diantara nyanyian nada sambung dan nyanyian operator.

Jam 9 saya terbangun mendapati sms dari Whela. Ya Allah, saya telah menzaliminya. Saya berjanji akan ke Padang Panjang hari ini bersama Whela, teman seangkatan di kampus yang sudah Sarjana. Ia menawarkan diri untuk menemani saya menyelesaikan penelitian yang sejak Bulan Agustus lalu terberngkalai. Saya ulangi, ia yang menawari diri, bukan saya yang meminta. Ketika kuliah dulu, saya sibuk dengan organisasi, saya bahkan hanya sedikit sekali tertawa bersama dalam hal pertemanan. Jika tertawa dan menangis, semua itu ada di organisasi. Whela adalah orang yang objektif memandang, saya tahu dia telah terlalu banyak membantu dan meringankan beban di hati saya, baik selama menjalani kuliah di angkatan maupun berorganisasi di kampus. Whela yang berjuang keras membentuk Al-Kahfi UKM Kerohanian tingkat HIMA di kampus semasa saya memimpin di HIMA. Whela juga yang selalu aktif mengirimkan sms ajakan liqo’ meski saya kebanyakan terlalu sibuk berada di luar Padang sehingga tidak total dalam liqo’. Tapi Whela tetap memberitahukan saya, dimanapun saya berada. Hari ini, saya mengecewakannya, lebih dari itu saya membuatnya teraniaya. Maafkan saya, Whela. Maafkan saya.

Saya menelpon Whela, dengan teduh dan tenang ia berkata tidak apa-apa, ia mengisi waktu menunggu saya dengan tilawah di mushola dekat terminal. Ya, Whela sudah sampai di terminal dan saya masih di kamar!!!

 

sms 4 : Kak, udah kk edit proposalnya kak?

Sms dari Ora, Steering Commitee untuk Workshop Siaga Bencana di Medan Juni mendatang. Kemarin ia sms proposal sudah dikirim ke email saya untuk diedit. Kemarin setelah netmeet rakor, saya masih lanjut membahas pendidikan profesi dengan beberapa teman terkait kegiatan yang akan dilaksanakan di Jakarta di bulan yang sama dengan Workshop. Praktis, saya belum melihat apalagi mengedit.

 

sms 5 : Uni, uni itu editor buletin, kenapa tidak pernah menanyakan kabar buletin? kenapa tidak … kenapa tidak… apakah seperti ini pemimpin kami? apakah.. *some text missing*

belum selesai saya membaca, HP mati. Saya memaksanya hidup kembali. Hidup, tapi sms tadi tidak bisa dibuka. *JEB* HP mati total. Saya cari charger, membiarkannya 5 menit dicas. Saya mengulang memori sms dari salah satu Direktur tadi. Saya sayup-sayup lupa bagaimana redaksinya. Tapi yang pasti sang pengirim MARAH kepada saya. Marah karena selama ini saya terkesan tidak begitu perhatian sama proyek yang ia kerjakan. Meski hati sedikit tersenggol, tapi bersyukur saya tersenyum. Jika saya tidak mengenal “karakter” mungkin saya akan balik marah. Bersyukur rasanya berada disini, memiliki anak yang banyak dengan karakter mereka masing-masing. Soal editor, ya saya memang salah satu editor buletinnya, setiap saat membuka email dan melihat dari milis subject yang berisikan “JUDUL : _____________ (edited) yang artinya sudah diedit. Bagi saya sang pemegang project jauh lebih mandiri dibanding yang lainnya. Maka saya biarkan. Tapi ternyata “membiarkan mandiri” bukan berarti “tidak memberi perhatian”.

Menjadi seorang “ibu” memang harus adil seadil-adilnya, tidak hanya adil membagi sama rata tapi juga adil meletakkan sesuatu pada tempatnya. Hampir setiap hari, semua menuntut, semua mendesak, semua ingin mendapatkan keadilan, semua ingin diberi perhatian. Tak hanya di tubuh organisasi, tapi juga dalam hubungan pertemanan, dalam berbakti pada orangtua, termasuk dalam menyayangi diri sendiri.

Saya kembali menghidupkan HP dan membuka kembali sms 5 tadi. Malang, memori HP saya kelebihan beban, smsnya tidak bisa dibuka, sementara sms lain antri untuk masuk. Terpaksa beberapa sms saya hapus, termasuk sms terakhir, dengan harapan saya sms balik meminta smsnya dikirimkan kembali.

Sms-sms selanjutnya pun masuk, mulai dari yang bertanya sedang dimana hingga adek tingkat yang menanyakan kabar, mungkin ingin bertanya penelitian karena judulnya mirip dengan judul penelitian saya yang terbengkalai.  Saya membalas sms mereka satu per satu, lalu membenarkan HP. Membuang beberapa sms dan mengetik kembali beberapa sms dan juga mms.

Kepala saya masih sakit, berikut punggung juga pinggang, sementara mata masih merah. Wajah itu, wajah di balik cermin lemari yang saya lihat, meski hari masih pagi tapi wajah itu tampak terlihat sangat lelah, sangat sembab, dan juga sangat basah.

2. Hari ini 1 May. #MayDay

Setahun berlalu sesudah hari itu. Sebuah pernyataan yang mengubah hidup saya. Menenggelamkan mimpi-mimpi, menghilangkan gairah, menanam tangis, membuat semuanya berantakan. Saya merasa sudah jauh berbeda, sangat jauh berbeda.

Satu hal, saya hanya ingin sembuh, ingin kembali, ingin menata, ingin hidup normal, ingin bahagia, ingin berbahagia. Menghapus senyuman semu dan tawa semu. Sudah satu tahun, sudah satu tahun air mata bersetia menemani matahari dan bintang dalam kehidupan saya.

3. Ini bukan tentang hari buruh, ini tentang 1 Mei, tentang hari ini, tentang senyum yang hilang, tentang air mata yang bersetia menemani matahari dan bintang

PARIPURNA PURA-PURA

Reblogged from Berhenti Sejenak!:

Click to visit the original post

 

“DPR kok seperti anak TK” –Gus Dur

Perkenankan saya untuk tidak sepenuhnya sepakat dengan argumen ini. Anak TK, mereka bertengkar, saling mengejek, bercanda, dan kadang bertingkah semaunya, oleh sebab mereka belum tahu. Mereka hanya belum mengerti. Namun kalau ada orang sudah tua, sudah tahu mana baik buruk, sudah mengerti mana yang pantas dilakukan mana yang tidak, sudah dipercaya rakyat, masih bertingkah seperti itu, hipotesa saya ada dua: mereka tidak pernah sekolah, atau memang dicipta tanpa otak.

Read more… 1,126 more words