Buyuang, Upiak, dan Mando di TPSku

2383537321-kpu-bangkalan-belum-sortir-surat-suara-pilpresTPS tempat aku jadi KPPS ada-ada saja. Saat penghitungan suara, orang-orang ramai meneriakkan “Buyuang….”, “Upiak….”, “Mando….”. Bukan karena Si Buyuang, Si Upiak, dan Rang Mando di TPSku ini maling surat suara atau ngacir dari nempelin tinta. Tapi, karena si Buyuang, Si Upiak, dan Rang Mando inilah yang merupakan Capres Indonesia 2009-2014. Hehe.

Buyuang = SBY, Upiak = Megawati, Mando = Jusuf Kalla

Berawal dari ketua RT kami yang meneriakkan “SBY” saat penghitungan suara. Lama-lama SBY tersebut disingkat jadi BY. “BeYe… BeYe… BeYe…” Eh, tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Buyuang…!” Alhasil, tiap surat suara yang nyontreng SBY, diteriakin “Buyuaaaang…!”.

Nah, untuk JK, berhubung JK adalah urang sumando rang Minang. Maka, ketika ada surat suara yang nyontreng JK, diteriakin “Mando….!”. Dan untuk Megawati, ketika Buyuang disebut-sebut, ada yang protes, “Upiaknya mana?” Akhirnya, ketika Megawati yang tercontreng, diteriakin “Upiaaak…!”.

Wew, pokoknya rame deh pas penghitungan suara tadi. Bahagia sangat. Nggak hanya bapak-bapak dan ibu-ibu, anak-anakpun heboh ikut berteriak.  “Buyuang….”, “Upiak….”, “Mando….” “Buyuang….”, “Upiak….”, “Mando….” “Buyuang….”, “Upiak….”, “Mando….”

Memilih

Oleh : Nilna R. Isna

istock_confused-indecisiveBeberapa hari belakangan, saya diramaikan oleh satu kata yang agak merisaukan hati : memilih. Tidak hanya memilih untuk diri sendiri tapi juga memilihkan untuk orang lain. Bukan hanya memilih yang akan menghebohkan orang sejagad tapi juga memilih yang hanya untuk pribadi sendiri. Tentu teman-teman juga tengah mengalami hal yang sama.
Adik sepupu saya yang baru saja tamat SD bertanya dengan pilihan, masuk SMP ini atau MTsN itu atau pesantren di sana? Begitu juga dengan adik kelas saya semasa SMA, “Pilihannya apa ya Kak?,” tanyanya sebelum mengisi formulir SPMB. Teman-teman di kampus lain lagi,  “Kita liburan kemana? Pilih salah satu”. Di rumah, ayah menentukan pilihannya untuk memilih salah satu calon presiden. Di rumah juga, ibu memilih wortel untuk dimasak sebagai sayur hari ini. Saya sendiri sibuk memilih channel televisi pagi ini.
Memang, memilih merupakan hal yang penting dalam menentukan jalan hidup. Banyak orang yang menganggap sepele soal memilih namun banyak juga yang menganggap memilih sebagai suatu yang sulit. Dalam suatu kutipan di internet, saya menemukan “You are the sum total of your choice that you made in your live”. Maksudnya, kamu adalah keseluruhan dari pilihanmu yang dapat menentukan jalan hidupmu. Read More…

Menerima Kekalahan

Dalam sebuah perlombaan, apa saja bisa terjadi. Sebagai peserta kita mesti menerima dua keputusan ini. Jika tidak menang, berarti kalah. Namun yang tak bisa dimengerti adalah sikap para peserta untuk menerima kekalahan. Ada yang menangis, ada yang stress berat, ada yang tak mau makan, tapi ada juga yang santai-santai saja. Benarkah? Mungkin iya, mungkin tidak.
Sebelumnya, kita tanya dulu lomba seperti apakah yang sering diikuti oleh teman-teman? Kita awali dengan Annisatul Muhara, siswi SMAN 1 Padang pernah ikut lomba SMAPSIC dan GEMBITAMA yang diadakan UNAND. Jauh sebelumnya, ketika masih SD, Nisa pernah ikut lomba pidato. “Alhamdulillah yang lomba pidato sama GEMBITAMA menang, kalau SMAPSIC nggak,” jawab Nisa perihal hasil lomba yang diikutinya.
Ghina Athaya, siswi SMAN 2 Payakumbuh juga pernah ikut lomba. ”Lomba 17-an,” sebutnya.     Cuma, kata Gina, sampai saat ini ia belum pernah menang. ”Sedih, kecewa, iri, tapi nggak sampai berlarut-larut,” ucap Gina. Narita Cristy, SMAN 6 Padang, juga pernah mengikuti lomba seperti lomba shalat jenazah dan lomba cerdas cermat. Sama halnya dengan Gina, Tata, panggilan akrab Narita Cristy juga nggak pernah menang. ”Semua lomba itu nggak pernah menang,” ujarnya cengengesan.
Sementara, Siti Amelia yang juga dari SMAN 6 Padang pernah ikut segudang lomba antara lain olimpiade matematika, pramuka penggalang tingkat nasional, cerdas cermat, lomba menari. ”dan lain-lain,” sambungnya. Wah… wah… wah…. Waktu itu, gadis kelahiran 21 Maret 1994 ini menang juara 2 pada lomba menggambar animasi se-kota Padang. ”Rasanya senang dan bangga karena bisa menunjukkan bakat kita,” ujar Siti mengungkapkan perasaan. Akan tetapi, Siti juga pernah kalah dalam perlombaan. ”Pada olimpiade matematika dan lomba menari, Siti kalah. Sedikit kecewa sih. Tapi ya nggak apa-apa,” tuturnya. Read More…

Tanda atau Gejala Pengguna Narkoba

Tanda atau gejala kemungkinan adanya penyalahgunaan narkoba pada seseorang dapat dilihat dalam beberapa hal berikut :
1.    Gejala fisik, antara lain :
-    Berat badan turun drastic
-    Mata terlihat cekung dan merah, muka pucat, dan bibir kehitam-hitaman
-    Tangan penuh dengan bintik-bintik merah, seperti bekas gigitan nyamuk dan ada tanda bekas luka sayatan. Goresan dan perubahan warna kulit di tempat bekas suntikan
-    Buang air besar dan buang air kecil kurang lancer
-    Sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas

2.    Emosi, antara lain :
-    Sangat sensitif dan cepat merasa bosan
-    Bila ditegur atau dimarahi, menunjukkan sikap membangkang
-    Emosi naik turun dan tidak ragu untuk memukul orang atau berbicara kasar terhadap anggota keluarga atau orang di sekitarnya
-    Nafsu makan tidak menentu

3.    Perilaku
-    Malas dan sering melupakan tanggung jawab dan tugas-tugas rutinnya
-    Menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga
-    Sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal keluarga, pergi tanpa pamit, dan pulang tengah malam
-    Suka mencuri uang di rumah, sekolah ataupun tempat pekerjaan dan menggadaikan barang-barang berharga di rumah. Begitu pun dengan barang-barang berharga  miliknya, banyak yang hilang
-    Selalu kehabisan uang
-    Waktu di rumah kerap dihabiskan di kamar tidur, kloset, gudang, ruang yang gelap, kamar mandi, dan tempat-tempat sepi lainnya.
-    Takut dengan air dan malas mandi. Apabila terkena air akan terasa sakit.
-    Sering batuk-batuk dan pilek berkepanjangan.
-    Sering berbohong dan ingkar janji dengan berbagai macam alasan
-    Sering menguap
-    Mengeluarkan air mata berlebihan
-    Mengeluarkan keringat berlebihan
-    Sering mimpi buruk
-    Sering nyeri di kepala
(http://nusaindah.tripod.com/narkoba.htm/Nilna Rahmi Isna/PSIKM UNAND)

sumber : P’Mails edisi 28 Juni – 4 Juli 2009

Mengenal Jenis-jenis NAPZA

NAPZA adalah singkatan dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya. Ada 4 hal dalam singkatan itu. Narkotika yaitu zat-zat alamiah maupun sintetik dari bahan yang dapat menimbulkan candu yang mempunyai efek menurunkan atau mengubah kesadaran.  Alkohol merupakan zat aktif dalam berbagai minuman keras. Di dalam alkohol terkandung etanol yang berfungsi menekan syaraf pusat. Kemudian psikotropika yaitu zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif, yaitu perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Sedangkan zat-zat adiktif adalah zat-zat yang mengakibatkan ketergantungan. Zat-zat ini berbahaya karena bisa mematikan seel otak.
Ada dua jenis NAPZA berdasarkan bahan antara lain NAPZA dengan bahan alamiah dan NAPZA dengan bahan buatan. NAPZA dengan bahan alamiah, contohnya ganja, candu cocaina, jamur, kaktus, tembakau, pinang, dan pinang sirih. Sementara NAPZA dengan bahan buatan, seperti amphetamin, kodein, lem, dan lain sebagainya.
NAPZA juga dibagi berdasarkan efek kerja. Ada 3 efek NAPZA yaitu merangsang, menurunkan, dan mengacaukan sistem syaraf pusat. Opium, Morfein, dan Kodein adalah NAPZA yang berefek merangsang sistem syaraf pusat. Kafein, kokain, ecstasy, dan tembakau merupakan contoh NAPZA yang dapat menurunkan sistem syaraf pusat. Sedangkan contoh NAPZA yang mengacaukan sistem syaraf pusat antara lain meskalin dan ganja.
Cara menggunakan NAPZA pun bermacam-macam. Ada yang lewat oral atau mulut, seperti alkohol, ecstasy dan sedativa. Ada yang dimasukkan dengan cara menyuntikkan seperti heroin dan morfin. Cara lain dengan menaruhkannya di bagian tubuh yang terluka. Kodein, heroin atau putaw, dan morfin adalah contoh NAPZA yang dapat dikonsumsi dengan menaruhnya di tempat luka. Kemudian, ada yang dengan cara menghirup seperti kokain,  ganja, dan methampetamin atau yang lebih dikenal dengan shabu-shabu.
Tak hanya jenis, efek, dan cara menggunakannya yang beragam. Bentuk NAPZA pun bermacam-macam. Saat ini, NAPZA banyak ditemukan dalam bentuk bubuk, pasta, pil, kristal, gas, bahkan kertas. Heroin bisa ditemukan dalam bentuk bubuk dan pasta. Begitu juga dengan kodein. NAPZA lainnya yang bisa ditemukan dalam bentuk bubuk antara lain morfin dan methampetamin. Sementara methampetamin dan amphetamin juga bisa ditemukan dalam bentuk kristal. Ecstasy dan sedativa transkuiliser adalah contoh NAPZA yang biasa dikemas dalam bentuk pil. Sedangkan NAPZA dalam bentuk gas adalah oxycodon dan dalam bentuk kertas dikenal dengan LSD.
(Nilna Rahmi Isna)

sumber : P’Mails 28 Juni – 4 Juli 2009

Tak Ambil Pusing di Wc Pesing

Selama seminggu, Tim Nan Padek (Padang Ekspres) memasuki pasar, kampus, dan kantor pemerintahan. Bukan menemui pejabat. Tapi menuju sebuah tempat yang letaknya di belakang: kakus. WC. Tempat orang membuang sisa kotoran dari tubuh.
Di Pasar Inpres II, di sana ada terminal bemo. Di atasnya, tempat orang berjual beli segala macam daging. Orang-orang sibuk berlalu lalang. Bila tak seksama melihat, maka kakus yang terletak persis di atas jenjang (dekat terminal bemo) itu tak terlihat. Letaknya memang menghadap ke belakang.
Kakus itu terdiri dari tiga buah tempat untuk buang air besar dan 4 buah kran air. Pedagang pasar memanfaatkannya untuk pelbagai keperluan: buang air, wuduk, dan mencuci ember yang kotor. Namun, tak ada yang gelisah, sebab di kakus itu, saluran airnya tidaklah lancar. Air menggenang di segala penjuru. Pintu kakus itu pun menua dan terlihat lapuk.
Lewat jembatan penyebrangan di lantai II Pasar Raya itu, kita menuju ke sebelahnya. Tukang jahit, pegawai salon, penjual kliping koran menunggu pembeli. Di sini tak seramai dibandingkan pasar raya di bawah. Ada yang kelihatan sedang main domino, biliar, sekedar menghabiskan hari.
Kakusnya berada di belakang. Seorang perempuan menunggui orang yang keluar dari kakus di depan meja persegi dengan uang receh dan seribuan. Orang-orang yang keluar dari kakus itu, memberikan uang sebesar Rp 1000. Kakus itu hampir sama kondisinya dengan yang pertama. Tempat pembuangan air tidak lancar dan bau pesing. Bedanya, di kakus ini, tidak ada pemisahan tempat untuk perempuan dan laki-laki. Hanya ada satu pintu masuk, baik untuk laki-laki maupun perempuan.
Ada sebuah bak yang tidak terlalu besar di dalamnya, dipergunakan bersama untuk wuduk atau mencuci kaki. 6 buah kamar tempat buang air besar di tempat yang sama. Siapa yang duluan, bisa masuk ke tempat tersebut. Karena air buangan yang tidak lancar, lantai di kakus ini becek, sedikt tak terawatt sepertinya.
Masih di lantai II tersebut, persisnya di dekat Padang Teater, ada lagi sebuah kakus—lagi-lagi letaknya di belakang. Agak sulit menemuinya karena letaknya yang tersembunyi. Ini kakus, lebih parah kondisinya dari yang dua tadi. Air yang keluar dari kran tidak lancar. Bak penampungan air tidak lagi dipergunakan. Sebuah ember besar yang telah berlumut, menampung air tersebut. Bau pesing di mana-mana. Meski di sebelahnya tempat orang salat, namun airnya tidaklah bersih. Bau yang tak sedap—seperti bau tanah—tercium dari air tersebut. Ada 4 buah kamar tempat buang hajat. Hanya dua yang dalam kondisi bisa dipergunakan. Read More…

Pembiayaan Kesehatan 15 % ?

Menyimak Debat Cawapres tentang Anggaran Kesehatan

Pernyataannya adalah (1) Bagaimana jika pembiayaan kesehatan Indonesia 15 % ? (2) Bagaimana dengan pengutamaan promotif-preventif terhadap kuratif-rehabilitatif ?

Berikut kata cawapres sepenangkapan saya :

Boediono :

“ Peningkatan pembangunan kesehatan akan ditingkatkan secara signifikan, sekitar 2,3% dari APBN, yang nanti akan dibincangkan lebih lanjut sesuai kemampuan negara. Sementara untuk prioritas, anggaran untuk preventif lebih ditingkatkan tanpa mengabaikan kuratif. Untuk pengutamaan preventif ini dilakukan dalam bentuk revitalisasi puskesmas.  Puskesmas benar-benar dijadikan sebagai pusat kesehatan masyarakat bukan sebagai balai kesehatan. Puskesmas-puskesmas tersebut akan difasilitasi untuk melakukan aktivitas-aktivitas “di luar gedung” seperti pelaksanaan KB, imunisasi, dan sebagainya yang mengutamakan pelayanan preventif terhadap masyarakat miskin. Sementara 15 % dinilai cukup tinggi. Akan tetapi dalam jangka 5 tahun dapat dicapai hingga 2 x lipat.

Wiranto :

Sebagai gambaran saat ini, biaya untuk kuratif atau rehabilitatif saja sudah ada kerugian. Oleh karena itu diperlukan keseimbangan langkah-langkah. Biaya preventif lebih tinggi dari kuratif akan tetapi  hal tersebut lebih bisa dilakukan penghematan di kemudian hari. Untuk preventif dapat ditingkatkan melalui kegiatan intensif tanpa penambahan anggaran. Karena kesehatan masyarakat penting untuk produktivitas masyarakat. Secara bertahap Wiranto berani memberikan tambahan anggaran untuk kesehatan hingga 15 %. Meskipun 15 % dinilai besar, tapi secara political will angka itu dapat dicapai secara bertahap dan mungkin hingga 2 x lipat di akhir pemerintahan.

Prabowo :

Tidak mau menjanjikan “angka”. Prabowo bicara masalah dasar Indoneisa dimana saat ini Indonesia mengalami kebocoran kekayaan nasional sehingga anggaran akan terus berkurang. 15 %, 10 %, hanyalah khalayan. Yang penting adalah perubahan paradigma bahwa negara kita miskin. Dan perlu penjadwalan hutang.  Untuk prioritas, lebih memprioritaskan preventif karena yang perlu kita sadari adalah rakyat kita kurang gizi sehingga diperlukan perbaikan gizi.

Agak gatal-gatal rongga di bawah paru-paru saya, bukan apa-apa. Sayanya agak kurang mengerti sih. Hehe. Kurang mengerti dan kurang sepaham agaknya.Cuma di sini saya nggak nangkep 15% dari apanya, dari kekayaan Indonesia atau APBN atau apa ada yang tahu? Hehe. (Penyimak yang tidak menyimak). Juga masalah penggandengan kedudukan, sepanjang pembelajaran saya, rehabilitatif digandengkan dengan promotif-preventif dan kuratif berdiri sendiri dalam hal kedudukan.

Pendapat ketiga cawapres tersebut menimbulkan pertanyaan bagi saya yang baru mahasiswa tingkat 2 Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat ini : (1) Sebagai rakyat yang pesimistik, saya curiga dengan 30% anggaran untuk kesehatan di akhir pemerintahan, benarkah? (2) Apa itu political will? Apa itu Keberanian? (3) apakah perencanaan sama dengan khayalan sama halnya ketika bertanya apakah cita-cita sama dengan impian? Sementara cita-cita adalah apa yang akan kita capai.

Cuma sekali lagi, agak gatal-gatal rongga di bawah paru-paru saya, ingin bicara banyak, tapi saya takut menjadi seorang Prita.