Beneran Last Call

#LastCall5

Saya terbangun. Pukul 02.00 dini hari. Dengan tergesa saya membangunkan Frieska dan Rina. Sudah saatnya berangkat, tapi ini telat. Saya buru-buru keluar dari kamar kilat berdinding meja pimpong di sekret UNHAS. Alif dan Rofi masih tertidur pulas. Repotnya, teman-teman UNHAS juga tengah tertidur lelah. Perjalanan beberapa jam sebelumnya menembus gerimis Makassar demi mengantarkan kami keliling kota itu tentu melelahkan. Beberapa teman ada yang tertidur di luar sekret, mungkin berjaga-jaga agar tak kami tak telat menuju bendara. Berjaga sembari menonton televisi, merebahkan diri, lalu terlelap. Ilho tertidur lengkap dengan sepatu, ia berbaring lurus beralaskan bentangan lapangan badminton yang luas, tanpa alas. Saya panik bingung dengan apa yang hendak dibuat. Kalau bangunkan mereka, kasihan mereka tengah pulas akibat lelah menyambut kami yang merepotkan. Kalau tak bangunkan mereka, kami ketinggalan pesawat.

Alif, Frieska, Rina, dan Rofi telah siap. Tak satupun diantara kami yang mandi setelah lelap kala itu. Adapun mandi yang kami andalkan hanya mandi sebelum jalan-jalan keliling Makassar pada tanggal sebelumnya. Saya beranikan diri bangunkan Ilho, mengusap tangannya dari luar baju yang dikenakannya. Beberapa teman makassar ada yang sudah bangun tapi masih antara sadar dan tak sadar. Saya harus sampaikan, “Dek, penerbangan kami jam 3 pagi. Ini sudah jam 2. Berapa jam dari sini ke bandara?” Ia tak menjawab tapi memilih untuk sibuk membangunkan teman-teman lainnya. Saya panik.

Yang ada dalam pikiran adalah kami akan ketinggalan pesawat. Karena check in harus satu jam sebelum keberangkatan. Kawan-kawan UNHAS terbangun pada waktu yang belum seharusnya. Kami dari UNAND tak enak, tapi tak punya daya. Handphone saya berbunyi. Saya heran siapa pula yang telpon tengah malam dalam situasi yang panik begini. Saya angkat, yang telepon pihak Sriwijaya. Astaga.

“Ini dengan mbak Nilna untuk penerbangan Sriwijaya Ujung Pandang – Sorong?”

“Iya mbak, saya.”

“Mbak, check in sebentar lagi ditutup. Mbak sudah berada dimana?”

“Iya mbak, kami berlima orang. Mohon tunggu kami mbak. Sudah mau berangkat.”

“Iya tapi posisi mbak sekarang dimana?”

“UNHAS, mbak. Tunggu kami.”

“UNHAS? UNHAS jauh itu dari bandara mbak.”

“Mbak, tolong tunggu kami. Kami dari Padang, kami ada 5 orang.”

“30 menit sebelum pesawat berangkat, mbak sudah harus ada di bandara. Setelah itu tidak ada toleransi lagi.”

“Oke.”

Telpon ditutup. Saya panik. Teman-teman UNAND panik. Teman-teman UNHAS jauh lebih panik. Motor cukup 5 motor. Tapi 5 motor tak cukup untuk membawa barang-barang kami yang ukurannya setengah badan kami masing-masing. “Tunggu sebentar,” begitu kata Ilho. Tapi apa yang harus ditunggu dalam situasi begini. Saya tak paham harus pikir apa sampai mata saya bertumpu pada sesuatu di ujung jalan, sebuah cahaya, cahaya mobil yang melaju kencang ke arah kami.

Saya tak ingat pasti itu mobil apa, mobil siapa, dan darimana datangnya. Yang pasti ini sudah dalam rancangan kawan-kawan UNHAS. Mobil mewah berkecepatan tinggi itu berhenti tepat di depan kami. Teman-teman UNHAS dengan sigap memasukkan barang-barang kami ke mobil. Saya, Frieska, dan Rina diburu untuk masuk ke dalam mobil. Saking banyaknya barang kami, mobil jenis sedan ini hanya muat oleh kami bertiga yang berdempetan di bangku belakang. Bangku depan justru diisi oleh koper-koper kami. Rofi dan Alif diarahkan untuk naik motor, berboncengan. Dini hari yang teramat sigap itu, kami tak sempat bersalaman dan mengucapkan terima kasih yang lebih jauh dan lebih dalam kepada teman-teman UNHAS. Dini hari itu segala sesuatunya berjalan dengan amat sigap.

Mobil yang membawa kami melaju dengan kecepatan tinggi. Di belakang kami, beberapa motor menyusul terutama motor yang membawa Alif dan Rofi. Di belakang mereka, masih ada beberapa motor (yang tiba-tiba terlihat lebih dari 5 motor) mengikuti. Semua kendaraan yang ada dalam konvoi dadakan ini berkecepatan tinggi. Dini hari itu, jalanan kota Makassar menjadi milik kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s