Komtemplasi 21.00

21.00 WIB, aku mematikan komputer kantor. Cukup untuk hari ini. Setumpuk berkas selesai dikerjakan untuk diteruskan ke bidang lain. Meski tingginya tumpukan berkas yang telah selesai belum bisa mengalahkan tingginya tumpukan berkas yang akan diselesaikan. Pekerjaan yang tak habis-habisnya. Belum selesai setumpuk, datang lagi tumpukan lain. Belum selesai satu jenis pekerjaan dari tumpukan yang sudah menggunung, susul-menyusul jenis pekerjaan lain yang ikut mengantri untuk di-final-kan.

Tentu, aku tak bermaksud menggerutu atas pekerjaanku. Bagiku, mungkin bagi kami, yang telah bersusah payah mengikuti tahapan demi tahapan tes rekrutmen, amanah yang saat ini kami jalani adalah pilihan yang telah dipilihkan Tuhan untuk kami. Tuhan telah memilih kami untuk berada disini, mengerjakan semua pekerjaan ini, karenanya Tuhan meluluskan kami dalam ketatnya persaingan seleksi. Atas hal itu, tak ada alasan bagi kami untuk tidak bersyukur, mensyukuri nikmat pilihan Illahi.

Aku memejamkan mata sejenak di kursi yang telah panas diduduki semenjak jam 08.00 pagi tadi. Di kursi ini, telah 9 bulan aku menikmati hari-hari. Pukul 08.00 pagi sampai 15.00 adalah jam pelayanan, saat-saat yang tak henti-hentinya berbicara melayani peserta yang juga tak henti-hentinya mengantri. Hentian antrian baru akan terjadi bila jam pelayanan sudah berakhir. Meski demikian, tidak tertutup kemungkinan masih ada peserta dan calon peserta yang datang di luar jam pelayanan sekedar bertanya atau mendesak ingin segera dieksekusi keperluannya. Di sini, tidak ada jam istirahat untuk pelayanan. Pelayanan nonstop jam 08.00 sampai 15.00, hanya kami petugasnya yang bergantian setengah atau sejam seorang untuk istirahat sholat dan makan siang.

Setelah jam 15.00 adalah waktu untuk fokus mengerjakan pekerjaan “back office” yang banyaknya sungguh tak terhingga pula. Maka begitulah pada akhirnya, semenjak sembilan bulan merasakan jadi “pegawai” selama itulah waktu senggang terasa amat berkurang. Jam kerja rata-rata nyaris 12 jam per hari. Sabtu Minggu yang sejatinya untuk waktu libur, kadang-kadang terpakai untuk bersisetia di kantor demi menyelesaikan pekerjaan yang harus selesai. Sementara waktu yang tersedia tak sebanyak pekerjaan yang kita punya.

Kupikir awalnya, “nasib” kerja ekstra keras ini hanya berlaku untuk pegawai baru, semacam ospek. Ternyata tidak. Instansi tempatku bekerja sekarang ini tidak mengenal jam 5 sore sebagai jam pulang, meski memang demikian harusnya jam kerja 08.00-17.00. Tetapi tidak. Seringkali sampai lewat magrib, formasi kantor masih lengkap, semua duduk di kursinya masing-masing, menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Awalnya kupikir yang muda dan belum menikah saja yang “diberi kesempatan” untuk berlama-lama di kantor, dalam artian dibebankan tugas yang lebih banyak. Ternyata tidak. Para kepala unit pun bersitahan di depan meja dan komputer. Seringkali jam 07.00 malam di kantor ini suasana kerjanya serasa masih jam 07.00 pagi.

Pukul 21.00, aku ingat tadi salah satu rekan kerja yang baru saja selesai cuti melahirkan terburu-buru keluar kantor. “Naik angkot,” katanya. Ah, padahal hari sudah gelap, rumahnya justru di kota yang berbeda dengan kota tempat kantor kami berada, sekitar 1,5 jam perjalanan pulang. Biasanya, ia dijemput suami yang siaga. Mungkin hari ini berhalangan hadir. Ah, bagaimana dengan bayinya yang baru berusia 3 bulan? Setahuku, semenjak beliau selesai cuti, tak pernah ia pulang tepat waktu, selalu lewat magrib. Tetapi Tuhan tentu telah memilihkan cara kehidupan yang terbaik untuknya, buktinya ia memiliki suami yang setiap hari rela melintasi kota, menjemput dan mengantar sang istri.

Di dalam masih terdengar suara-suara, tak lain dari tiga orang kepala unit yang mempersiapkan agenda besok. Sudah dua minggu belakangan, 3 unit ini sibuk dari satu daerah ke daerah lain, dari satu instansi ke instansi lain, menjemput bola. Instansiku ini sibuknya bukan main. Saking sibuknya, sebanyak itu pekerjaan dan kegiatan yang dilakukan pegawainya, masih juga ada yang merasakan “sosialisasi kurang”, “informasi kurang”, dst. Tetapi mau tak mau harus dimaklumi, sebagai instansi pelayanan publik yang “baru lahir” wajar jika masih banyak yang merasa kurang asupan disana-sini.

Aku terbayang anak-anak para kepala unit di kantor ini. Anak mereka masih kecil-kecil, paling besar SD. Bagaimana mereka? Saya bisa jamin dalam dua minggu belakangan, tak pernah papa atau mama mereka pulang ketika mereka baru saja selesai mandi sore. Bahkan besar kemungkinan, mereka baru akan bertemu papa dan mama esok pagi, di waktu yang sempit sebelum berangkat sekolah. Tetapi lagi-lagi, Tuhan telah memilihkan jalan untuk kehidupan seseorang. Pada ayah yang sibuk masih di kantor saat ini, ada ibu yang menjaga dan menemani sepenuh hati dan sepenuh hari. Pada ibu yang masih di kantor saat ini, ada kakek dan nenek yang sayang mereka kepada cucu saat ini melebihi sayang mereka ketika kepada anak dahulu.

Lalu bagaimana dengan aku di masa depan nanti? Menikah dan berkeluarga adalah hal yang paling dinantikan. Bahagia rasanya bila dapat berbagi dengan pujaan hati. Bahkan melihatnya saja tentu akan membuat pikiran dan hati yang sebelumnya kalut akan pekerjaan seketika menjadi damai melihat sepasang mata teduh yang menyejukkan. Aku tiba-tiba membayangkan sesosok lelaki hadir di kursi depan mejaku kini,  pandangan matanya dengan santai ke televisi kantor yang entah menayangkan apa, tapi ia tampak menikmati karena sedang menunggu kekasih hati. Aku masih harus berkutat dengan komputer di depanku. Lelaki itu duduk di seberangnya, menungguku, bersikap santai, tetapi tetap selidik mengawasi, melindungiku. Ah, betapa bahagianya memiliki suami sepengertian itu. Tentu saja aku belum makan. Ia juga belum makan. Mungkin setelah ini kami akan makan di luar. Atau segera pulang dan segera kusiapkan makan untuk kami berdua. Khayalanku segera saja buyar. Adakah lelaki yang sebaik itu?

Ini sudah pukul 21.00, bahkan untuk mengurusi diriku sendiri, aku belum cukup mapan. Aku ingat di rumah kontrakan tempatku tinggal seorang diri belum ada makanan. Aku belum memasak untuk makan malam. Bagaimana jika aku memiliki suami nanti? Maukah ia menungguku agar kita bersama-sama makan? Atau menungguku pulang? Atau makan duluan, bisa jadi nanti aku lebih awas dan lebih ligat memasak untuk persiapan makan malam suami. Jika begitu, siapa yang mengambilkan suamiku nasi? Ia makan sendiri? Atau jika rupanya di masa depan aku tak secekatan itu membagi waktu dan pada jam makan malam aku belum memasak apa-apa, suami akan “jajan” di luar. Oh Tuhan, aku kemudian merasa sungguh-sungguh ketakutan.

Namun atas segala kekalutan dan ketakutan, aku sangat percaya kepada Tuhan. Tuhan tak pernah salah memilihkan amanah kepada seseorang. Begitu pula Tuhan tak pernah salah memilihkan pasangan sebagai teman seperjalanan seseorang. Aku percaya pada itu. Siapakah engkau lelaki yang telah dipilihkan Tuhan untukku? Aku sungguh tidak sabar ingin segera bertemu. Tapi tentu, kini aku tak ingin buru-buru. Masih banyak persoalan “kualitas” yang harus aku tingkatkan. Hari demi hari menjadi hari perbaikan untuk terus belajar dan belajar, menjadi perempuan, menjadi istri, menjadi madrasah bagi anak-anak. Insya Allah.

(Calon) suamiku, engkaulah pilihan Tuhanku, jika kau memintaku untuk meninggalkan instansi ini dan kau memberikan garansi keberlangsungan hidup generasimu dan generasi bangsa ini, aku tentu akan patuh menuruti permintaanmu. Jikalaupun kau memintaku untuk terus berjuang memberikan yang terbaik kepada negeri melalui instansi ini, tentu pula aku akan patuh menuruti harapanmu. Hanya pintaku kini kepada Tuhanku, agar “engkau” yang Ia pilihkan adalah khalifahNya yang benar-benar mengerti akan menjadi khalifah seperti apa aku dilahirkan ke muka bumi, sosok yang paling mengerti perempuannya ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s