Menunggu

#Lastcall3

Kami sampai di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Ini untuk keempat kalinya saya menapaki Bandara terfavorit saya sepanjang perjalanan nusantara. Kami turun melalui pintu yang berbeda. Saya, Rina, dan Rofi duduk di bagian depan sehingga keluar dari pintu depan. Alif dan Frieska duduk di bagian belakang sehingga keluar dari pintu belakang. Ketika berada di “belalai gajah” (saya tidak tahu ini apa istilahnya untuk ‘lorong’ yang membawa kita dari pintu depan pesawat langsung ke lantai 2 bandara). Saya sebut saja belalai gajah ya. Ketika berada di belalai gajah, saya dan Rina menyempatkan diri foto sebentar berlatar tulisan BANDARA SULTAN HASANUDDIN. Kami terbilang pertama keluar dari pesawat tapi malah berlama-lama di belalai. Jika bukan karena sudah tidak ada penumpang lagi yang keluar dari pintu depan, mungkin kami masih saja bereksperimen untuk mendapatkan hasil foto yang baik berbekal kamera henpon Nokia.

Sementara Alif terlihat dari atas bolak-balik di bawah, entah karena tas nya yang disimpan di kabin bagian depan, entah menunggu Frieska turun, entah kebingungan. Saya dan Rina malah memperhatikan dari atas. Kami melihat Alif dari kaca yang (hmm, lagi-lagi saya tidak tahu apa namanya), intinya saya dan Rina bisa melihat Alif dan Frieska dari atas, sementara Alif dan Frieska tidak bisa melihat kami dari bawah. Saya dan Rina seperti orang udik yang baru pertama kali menemukan fenomena alam ini, haha, ketika saya bisa lihat Alif dan Alif tidak bisa lihat saya. Hingga Alif menelpon saya dan bertanya, “Tas kak?”. Ah ya, tas nya sudah dibawa Rofi. Alif kemudian lenggang kangkung ke dalam bandara.

Kami bertemu di dalam. Harus saya katakan inilah penapakan di Bandara Sultan Hasanuddin yang tidak tergesa-gesa. Saya menyempatkan foto di depan kapal Pinishi, dari dulu saya ingin foto disini tapi tak pernah sempat. Kami berlima bermain-main di Bandara yang mengesankan bagi saya ini. Kenapa mengesankan? Diantara semua bandara saya paling suka Sultan Hasanuddin, memang Bandara Juanda Surabaya paling bersih, memang Bandara Soekarno Hatta paling besar. Tapi saya suka Bandara Sultan Hasanuddin, mungkin karena penisbahan “Bandara International”nya beriringan dengan Bandara Internasional Minangkabau, ketika Jusuf Kalla jadi Wakil Presiden dan merekomendasikan memajukan Bandara di Makassar dan di Padang. Tapi harus saya akui, Bandara Sultan Hasanuddin tentunya jauh lebih berprestasi dan bergengsi.

Kemana kami setelah ini? Jam masih menunjukkan pukul 15.00 WITA, sementara penerbangan ke Sorong pukul 03.30 WITA esok harinya. Sebelumnya saya sudah sampaikan ke Ilho (wasekjendku tersayang yang sekarang sudah punya kekasih #eh) bahwa saya akan landing pukul 14.00 WITA. Ilho bertanya kami berapa orang? Saya jawab 5. Dan lalu dia diam. Saya mengerti, dia diam karena lagi mikir, “ini anak orang 5 mau diangkut pakai apa?” Haha. Memastikan sudah berada di Makassar, saya hubungi Ilho lagi, dia bilang sedang mencari kendaraan. Lalu kami memutuskan untuk menunggu saja.

Keluar dari bandara, daeng-daeng memperebutkan kami. Maka kata-kata mutiara paling manis adalah, “sudah ada mi yang jemput kak”. Bagaimanapun tampang Sumatera kami tidak akan bisa mengelabui pemikiran Sulawesi mereka. Capek-capek berlogat Makassar tetap saja terdengar sebagai “pendatang”. Satu lagi yang menarik dari Bandara Sultan Hasanuddin, tentang pintu kedatangan yang membuat kami seperti berada di dalam aquarium serta turunan menuju tempat parkir yang menciptakan sensasi membawa troli, seakan bandara ini adalah arena permainan dan troli wahananya. Saya sedikit bercerita tentang troli bandara Sultan Hasanuddin ketika pertama kali berada disini dulu tahun 2011. Trolinya tak bisa jalan, rodanya terkunci, saya kebingungan, hingga Bang Nanda (FKM USU 2007 yang juga jadi delegasi dan satu pesawat dengan saya), menekan handheld ke bawah dan rodanya bisa jalan dengan mulus. Kejadian ini terjadi persis pada Rofi yang susah payah menyeret troli karena rodanya “ngambek”.

Sampai di lantai satu, Rofi-Frieska-Alif sholat. Saya dan Rina menjaga troli. Kami lapar, belum makan siang. Kami juga menunggu, menunggu Ilho. Saya sempat membeli susu kotak, disusul Rina, dan kemudian disusul semuanya beli camilan di minimarket yang ada di Bandara itu, saya lupa nama minimarketnya.

Kami menunggu, menunggu Ilho datang. Satu jam berlalu. Kami masih menunggu, menunggu Ilho datang, sudah satu jam lebih kami menunggu. Kami kelaparan. Tadinya sebelum turun saya sempat memberi opsi, makan atau tunggu? Karena khawatir Ilho datang saat kami makan, kami memilih menunggu. Saya telpon Ilho lagi, Ilho masih di kampus, mencari kendaraan. Kami memutuskan makan. Kembali lagi ke atas, ke pintu kedatangan bandara, di sekitar sana banyak makanan (yang dijual).

Dalam perjalanan dari bawah ke atas, seorang Daeng mendekati kami. Awalnya menawarkan rent car, kami menolak, menunggu Ilho. Tapi kemudian sang Daeng ramah, ia tak memaksa kami menggunakan rent car nya, tapi ia menanyai kebutuhan kami. Ah, kepo juga ini daeng. Kami mau makan. Ia juga bertanya mau kemana ki, kami mau ke UNHAS. Tapi kemudian muncul lagi opsi baru dari saya : makan atau rent car? Alif sampai kesal karena dari tadi mengajukan opsi terus. “Putuskan lah kak,” tegas Alif. Saya tersurut. Oke, use rent car, kita ke UNHAS sekarang. Saya telpon Ilho menanyai keberadaanya, Ilho masih di kampus, maka tak masalah. “Tunggu saja uni di kampus ya, standby ya dek,” ujarku sebelum menutup telpon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s