Tagged with Sastra

PLAT MOTOR PAK HAJI GURU

terbit di Padang Ekspres, 14 Desember 2008 Cerpen Nilna R. Isna Pak Haji Guru sungguh benci dengan guyonan lokal yang sedang ngetrend di kompleknya. Guyonan itu tak lain datang dari Udin yang baru pulang merantau dari kota. Udin menebarkan virus ‘kota’nya kepada pemuda-pemuda sebayanya. Tak ayal, hampir semua muda-mudi kampung mengikut gaya trendy Udin. Membuat … Continue reading

Kue Bika Ambon

Cerpen Anak Nilna R. Isna, terbit di halaman Ceria P’Mails Siang ini Dola belajar masak bersama mama. Dola sudah berjanji pada mama akan membuat kue bika ambon. Semua bahan-bahan sudah dipersiapkan di dapur. Ada tepung sagu, gula pasir, mentega, santan dan telur. Alat-alatnya juga sudah ada. Ada oven untuk memasak, loyang untuk meletakkan adonan, dan … Continue reading

Nyawaku Suara

Cerpen Nilna R. Isna terbit di Harian Haluan Minggu Nyawaku Suara Nilna R. Isna Anak-anakku bertengkar hebat dengan anak-anaknya di dalam rumahku, di luar rumahku, dan di sebelahku. “Alia, sudah kukatakan padamu, jangan pulang lewat senja. Kamu ini wanita. Sekali lagi kamu pulang lewat senja, kutampar kau!” Itu anak tertuaku. Di luar rumah, ia melayangkan … Continue reading

Sajak Sebelum Tidur

Sebelum Penyakit Itu Datang 9 Maret 2008 22:45:00 Aku sendirian di rumah Kamu apa kabar? dan penyakit kesepian hinggap selalu setiap malam sebelum dia tidur memaksanya membongkar rak-rak tempatnya menyembunyikan berlembar koran yang kabarnya tlah usang sebelum penyakit itu datang … Nasib Sang Nasib 12 Maret 2008 22:05:00 Dan sang nasib tak lebih mujur daripada … Continue reading

Demi Forum Penulis Pemula 2008

Jumat siang itu hujan. Saya, bertiga dengan Opie dan Icha, sudah bersiap-siap akan pergi ke Perpustakaan Daerah Sumbar. Kami mau menyerahkan formulir Forum Penulis Pemula 2008. Konon kabarnya, forum ini sekaligus untuk lomba. Calon peserta harus pernah mempublikasikan tulisan di media massa. Tulisan itu diarsipkan beserta formulir. Sementara itu, calon peserta dibatasi usianya 16-23 tahun. … Continue reading

Menyeruak belukar

: ru Fajar melepas terang pada pagi di kilau cahaya embun pematang berderai-derai Lirik lama membujuk kalbu berlomba mengejar langit matahari kini Inilah segelintir pasir di kaki bukit menyeruak belukar dalam jerami menggunung Lantai dua, Maret 2007 Antologi Puisi Temu Penyair 2008 : Kampung Dalam Diri

26 Februari

lalu aku terjaga, 26 Februari ketika matahari merongrong bumi Baru kini aku merasa lain seperti menggigil Hawa mencuat membeku di kening dan rama-rama melesat melewati anggrek satu biji, dua biji, 26 Februari dan ranting melintang dari jarak yang kita atur dengan jemari oleh rasa yang campuri hati tiada luka tersakiti, tanpa linang di pipi hari … Continue reading

Edisi Kelebat

Nilna R. Isna Kelebat 1 Akhirnya kaubuka juga penggalan-penggalan kisah yang disimpan bertahun-tahun lamanya itu. Berkelebat dalam garis-garis nasib. Nasib yang menggiringmu ke dermaga batinku. Ingatanku kembali menyapu ruangan sesak yang membekap dirimu dan diriku di awal pertemuan kita. ”Astaga, negeri apa ini? Sempit. Dan mengapa manusia betah bertahan disini? Lalu untuk apa kita kemari?” … Continue reading

Malas

Saya tidak tahu, kenapa malas senang sekali dekat-dekat dengan saya. Ingin saya usir malas itu, saya depak ke luar kamar, dan saya bisa hidup tentram. Tapi, sama saja. Sekalipun malas sudah saya tendang jauh-jauh, malas kembali datang. Kali ini bukan malas yang ingin dekat dengan saya tapi saya yang memanggil malas. “Nay, tolong Ibu menanak … Continue reading

Kata Tanpa Jeda

Dari Workshop Penulisan / Bengkel Sastra Dewan Kesenian Sumatera Barat di Kayutanam oleh: Nilna Rahmi Isna “Kita tidak menulis tentang bunga, tapi menulis bunga Kita tidak menulis tentang luka, tapi menulis luka” Sastra dalam dunianya adalah ilmu, bidang, hobi yang tak berkesudahan. Menulis sastra justru berbeda dengan menulis pada umumnya. Sastra berbicara sepotong kata tapi … Continue reading

Semakin Kabut

malam menyapa kabut gelak terkekeh, kadang terkikik pukul sebelas, mendekati dua belas nina bobok tak terdengar sudah tak ada lagi ibu-ibu yang mendongeng berdendang, atau bertepuk sajak dan lirik berceceran, tak teratur dan malam kembali menyapa kabut yang kini semakin kalut kayu tanam. desember 2006 Singgalang, 8 Februari 2007 Riau Pos,

Sajak Kumala

terpaksa menerobos pintu pemisah waktu padahal sajak tak hanya berirama sendu selasa menyusut menyerobot kicauan burung melawan arus timbang teratai pondok jamur, sarang laba, makanan burung oi, kumala tersenyum pada bungalow pada alam, sepassang merpati menari seekor angsa kehilangan pasangan –dan rabu pagi kumala tersenyum nanar 2006 Singgalang, 8 Februari 2007 Riau Pos,

Ordinat

atau kita bergulat juga, teta di sofa absisi ordinat, tanpa limit tindih menindih seribu frekuensi sekalipun ujungnya bebas, gerak-gerak dekapkan balutan paralel sampai nyentuh atau kita bergumul saja, kelvin di balik selimut terbuai osmosis murni terlarut tikam-menikam tak kenal momentum biar matriksnya nol, mengeliat integral selipkan lapis resonansi hingga mendesah Padang. Januari 2007