Sekretariat dan Kamar Kilat

#LastCall4

Baru kali ini kutemukan kawan Makassar yang ramah dan lembut. Mungkin ini akibat pertemuan di forum-forum yang terbiasa mendengarkan mereka bersuara lantang. Dia lah Daeng yang menawarkan kami RentCar, pelayanan yang luar biasa kepada calon penumpang, sopan dan ah saya terkesan. Bisa saya bilang bahkan jauh lebih baik service disini daripada di Padang. Kami diantar oleh Kak Ujang (bener ini kak Ujang namanya? Saya lupa) ke kampus UNHAS, tepatnya ke FKM UNHAS. Perjalanan ini membuat kami mendapat wisata plus plus yaitu mengelilingi kampus UNHAS. Jelas, kami sebagai penumpang awam tentang UNHAS yang luas. Ternyata Kak Ujang juga awam. Gawat. Tapi syukurlah, setidaknya saya dibuat terpana dengan banyaknya fakultas di UNHAS, yang setiapnya terkesan tengah mengemukakan dirinya masing-masing. Setidaknya seperti Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Kehutanan, ya biasa aja sih, tapi saya tiba-tiba benar-benar merasa di hutan, ketika sampai di Fakultas Kedokteran Hewan tiba-tiba serasa semua berubah jadi hewan. Oke, ini lebay.

Hingga setelah tanya sana sini dan telpon-telpon Ilho. Kami sampai. Ilho menyambut dengan baju favorit saya. Maksudnya, saya suka sekali dengan baju Ilho yang ini, baju berwarna hitam dengan tulisan berwarna hijau berbunyi Not Tonight Honey. Saya suka semuanya, tulisannya dan juga perpaduan warnanya. Suka pokoknya. Ilho menyambut dengan kaku. Hahaha. Wajar, serasa ada yang pengen disampaikan tapi tak tersampaikan. Atau lagi bingung akan memulai sapaan darimana, karena Ilho pasti tahu bahwa yang pertama kali terlintas di pikiran saya saat bertemu dengannya adalah : LPJ. *tingtingting* hehe. (Eniwei, Alhamdulillah LPJ kepengurusan berhasil kami susun dengan baik dan Alhamdulillah diterima oleh forum, meski saya harus merelakan tanpa didampingi dengan wasekjend tercinta ini saat LPJ. Alfatihah untuk almh. Ibunda Ilho. :’) )

Akhirnya saya kembali lagi ke sekretariat fenomenal ini, sekretariat dimana karib-karib saya ini bermalam (Ilho, Arif, Qudus, Ka Fadli, juga Irfan, dst), sekretariat dimana mereka berkumpul dan kadang-kadang saling bajak chat ngerjain saya, sekretariat dimana Yusuf dan Lena tinggal, sekretariat yang kemudian juga menjadi tempat bermalam. Setelah istirahat sejenak sore itu setelah melewati dua kali pesawat dan berpindah waktu ke Waktu Indonesia Tengah, saya tanpa sungkan-sungkan lagi karena juga sudah tidak tahan, bilang ke Ilho. “Ilho, kami mau cari makan…” Lalu muncul opsi (opsi terus perasaan dalam hidup saya), makan di tempat makan atau dibawa kesini. Keputusannya dibawa kesini, ke sekret maksudnya. Ilho lalu menghilang. Saya bingung. Saya tanya Arif. Arif bingung. Arif pun lalu menghilang. Saya tanya Quddus, Quddus balik nanya, untung Quddus gag ikut menghilang. Tetiba beberapa orang di sekret lambat-lambat menghilang. Saya jadi bingung, yang lain ikutan bingung, perut saya yang paling bingung. Lalu datang Ilho dan Arif bawa makanan. Aneh…

Kami makan bersama, ternyata Ilho-Arif-Quddus juga belum makan. Astaga, padahal ini nyaris sudah jam 5 sore. Saya bawa rendang, kami makan dengan tambahan rendang. Alhamdulillah rendang ini diterima, masakan Padang memang cocok di lidah siapa saja. *Eaaa, bangga!* Sehabis makan, Ilho mengajak anak-anak jalan-jalan. Saya ditinggal -_-. Saya lupa ditinggal sama siapa, tapi akhirnya bisa menyusul mereka yang ternyata jalan-jalan ke kampus sebelah, ke kampus pasca UNHAS. Di pasca, ketemu Ciky yang teriak-teriak, lalu marah-marah, kenapa ndak bilang-bilang Ciky kalau Uni ke UNHAS. Saya nyengir dangdut. Jalan-jalan di pasca ini sedikit tak ternikmati, saya berkali-kali ditelpon DPN yang sudah terlebih dahulu berada di Sorong, terkait kesiapan panitia dan kondisi peserta, termasuk berita buruk bahwa sudah ada peserta yang sakit (mungkin karena belum adaptasi dengan lingkungan). Huft.

Senja itu, kami kembali ke sekret. Beberapa orang yang tadi menghilang, sudah muncul, mereka datang dengan beberapa perlengkapan. Ada yang bawa  karpet, ada yang bawa tikar, ada yang bawa bantal (eh, ada gag ya yang bawa bantal?). Intinya hilangnya mereka tadi karena ada satu komando (entah dari siapa) untuk pulang ke rumah/kosan masing-masing demi meminjamkan perlengkapan mereka untuk kami pakai tidur di sekret. Beberapa kawan laki-laki kemudian mendorong-dorong meja pimpong. Taraaa…., dua meja pimpong disulap menjadi dinding kamar, dan karpet tadi untuk alas kami tidur. Saya terharu sekali. Tidak menyangka dengan sigap mereka mempersiapkan, meski sederhana, tapi ide membuat kamar ini brilian sekali. Saya masih berpikir untuk tidur di ruangan yang terbuka, sebagaimana tidur kepanitiaan camp yang tingkat kenyamanan bergantung pada kepiawaian memilih tempat. Dari sini saya tahu, bahwa orang-orang Makassar memang sangat menjaga perempuan, dan tentu saja tulus dan lembut hatinya. Ecieciecie….

Kami personal Hygiene, ya di sekret ini ada kamar mandi. Saya ingat Quddus mengecek dulu kondisi kamar mandi sebelum kami masuki. Hehehe. Wajar sih, para lelaki memang suka mengecek dulu kamar mandi mereka sebelum dimasuki orang lain, tapi saya serasa orang penting yang bahkan kebersihan dan ketersediaan perlengkapan di kamar mandi nya harus diperhatikan dan dicek dulu. Okay, ini lebay lagi… hihihi.

Mereka, adik-adikku UNAND, bersih-bersih untuk jalan-jalan malam ini keliling Makassar. Saya malah bersih-bersih untuk mendiskusikan LPJ dengan Ilho. -____- Padahal saya pengen jalan-jalan juga. Meski sebelumnya sudah dua kali ke Losari, saya masih ingin kesana lagi, apalagi kata Irfan ada yang baru dari Losari. Singkatnya anak-anak sudah pergi duluan dengan yang lain. Saya disetrap Ilho (atau Ilho saya setrap) untuk merapikan LPJ. Blablablablabla, kita skip aja yah soal bikin LPJnya. Selain bikin LPJ, juga masih sempat diskusi dengan beberapa adik dari UNHAS tentang banyak hal. Sehingga sampailah saya pada pernyataan, tepatnya hasutan, atau mungkin rayuan, untuk menyusul mereka yang lagi jalan-jalan di Losari.

Awalnya Ilho gag mau, saya ngambek. Kata Ilho gag usah jalan-jalan, istirahat saja buat besok Munas. Saya ngotot mau jalan-jalan. Ilho ngalah. Akhirnya kami menyusul yang lain, diiringi dengan salah satu kawan Ilho yang sama-sama asli Jeneponto. Serasa saya lagi naik motor sama Ilho, trus ada ajudan yang mengiringi. Okaaaay,, ini lebaaaay lagii.. hahaha. Menurut informasi, anak-anak ini lagi makan coto Makassar, belum sampai ke Losari, karena mereka dikurung hujan. Di tengah perjalanan, beneran ada hujan yang datang, Ilho menepi sebentar. Saya bilang, “Gapapa dek, terobos saja, udah biasa naik motor hujan-hujanan.” (saya lalu ingat hujan-hujanan naik motor dengan Angyun, Ian, dll. Oke, ini lain cerita). Ilho ragu-ragu, tapi akhirnya tancap juga. Lagian ini cuma hujan jenis gerimis mengundang.

Kami sampai Losari bersamaan dengan kawan-kawan lain yang ternyata juga baru sampai di Losari. Yap, ada yang baru. Jika dulu di tahun 2011 cuma ada tulisan PANTAI LOSARI, kini sudah ada macam-macam tulisan berwarna merah seperti BUGIS dan MAKASSAR. Juga ada beberapa icon Makassar/Bugis yang dibuat serupa patung. Serta juga dengan kemegahan Masjid Terapung di sisi Pantai Losari.  Mereka, adik-adikku dari UNAND ini, ngapain lagi kalau tidak foto-foto. Arif, pada moment-moment seperti ini, terlihat berkamera LSR yang dikalungkan di lehernya. Saya selalu suka melihat Arif dengan kameranya. Jadilah Arif dengan sabar dan setia foto-foto kami anak Sumatera yang histeris tak jelas berada di Makassar walau hanya satu malam saja ini.

Puas foto-foto. Well, jumlah kami cuma 5 (lima) orang. Tapi teman-teman UNHAS yang menemani jalan-jalan ini sampai belasan, satu sekret dibawa kabur malam-malam ke Losari lengkap semua angkatan, termasuk maba angkatan 2012 yang tak habis-habisnya diuji mentalnya sepanjang perjalanan. Padahal itu maba Favorit FKM UNHAS 2013. Jalan-jalan malam kali itu diakhiri dengan makan pisang epe’ dan minum saraba’ (semacam skoteng).

Adapun malam itu, saya bilang kepada Alif, “Bahagia itu sederhana. Seperti malam ini, makan pisang epe’ dan minum saraba’ di Pantai Losari ditemani Presiden BEM FKM UNHAS tahun 2012, Presiden BEM FKM UNHAS tahun 2013, ketua Maperwa FKM UNHAS, Wasekjend, beberapa pengurus BEM aktif dan demisioner, serta tak ketinggalan Maba peraih gelar Maba Favorit FKM UNHAS.” Ya, bahagia itu sederhana, malam yang singkat di LOSARI ditemani semua orang penting FKM UNHAS itu membahagiakan sekali. Padahal, apa pentingnya kami?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s