BANDA

BANDA

Nilna R. Isna

Dapur rumah Tuti menghadap ke banda. Pada dinding dapur itu ada lubang sebesar kepalan yang setinggi dengan mata. Dengan demikian, ia bisa sambil berdiri mengintip ke banda. Lama Tuti mengintip lewat lubang itu. Lama pula ia memandang ke banda.

***

Dahulu banda itu berair jernih. Banda adalah sebutan orang Padang untuk sungai kecil yang mengalir di antara pemukiman penduduk. Anak-anak senang bermain di sana. Mulai dari mandi-mandi biasa, menciprat-cipratkan air, sampai pacu renang. Lagak renang anak-anak itu tak ubahnya seperti perenang profesional. Bedanya, anak-anak di banda berenang tanpa gaya. Gaya renang mereka adalah gaya suka-suka, sekehendak hati mereka saja, asalkan menang.

Selain disenangi anak-anak, banda juga disukai oleh ibu-ibu. Setiap shubuh, ibu-ibu akan berbondong-bondong ke banda sambil membawa sebaskom kain kotor. Kain-kain itu akan dicuci di banda. Biasanya ibu-ibu tak hanya membawa kain kotornya, mereka juga membawa anak-anak mereka yang masih bersekolah SD untuk mandi pagi di sana. Anak-anak itu disuruh mandi agak ke hulu supaya badan mereka tidak terkena air sabun bekas cucian. Anak-anak yang mandi pagi di banda akan selalu girang karena salah satu akan bertemu dengan salah satu yang lain, yang lainnya bertemu dengan yang lain lagi, hingga mereka berkumpul lalu mandi sambil tertawa-tawa bersama. Maka, tak jarang acara mandi pagi anak-anak itu memakan waktu satu jam. Mulai dari sang ibu membasahi kain pertama hingga membilas kain terakhir.

Sementara anak-anak mereka mandi, ibu-ibu akan berkumpul pula. Di banda, setiap ibu memiliki batu masing-masing tempat mereka mencuci kain. Batu-batu itu seakan sudah dihakpatenkan karena setiap ibu selalu memakai batu yang sama setiap harinya. Ditilik lewat garis keturunan, rupanya batu yang dipakai sekarang adalah batu-batu yang dahulunya dipakai oleh amak-amak mereka. Agaknya, batu ini telah diwariskan turun temurun.

Di banda ini, ibu-ibu akan berciloteh seru dengan kawan-kawannya. Suara mereka hiruk pikuk di tengah hempasan kain yang dicuci. Mereka bercerita tentang apa saja. Tentang suami, tentang anak-anak, juga tentang saudara-saudara mereka. Topik yang selalu paling hangat adalah tentang adik siapa yang akan menikah dalam waktu dekat. Ini topik penting pada setiap bulan karena ibu-ibu yang mencuci di banda menggelar arisan. Arisan baralek namanya. Siapa yang akan mengadakan acara baralek pada bulan itu, dialah yang berhak menerima arisan.

Kebetulan, ibu-ibu yang bermukim di sekitar banda ini merupakan ibu-ibu muda. Anak-anak mereka masih kecil. Namun demikian, mereka memiliki adik yang tidak sedikit jumlahnya. Tak jarang anak tertua seumuran dengan adik bungsu mereka. Maka, bukan perihal aneh pula jika arisan yang dimaksud berguna untuk menabung menambah keperluan pernikahan sang adik.

“Kapan jadinya si Ujang baralek, Ni?” tanya si Res.

“Belum tahu Res,” jawab Ema yang biasa dipanggil uni oleh kawan-kawannya karena dia yang berumur paling tua.

“Kok gitu? Kalau belum jelas seperti itu, belum jelas pula siapa yang mau menerima arisan baralek kita.”

“Itulah Res. Si Ujang itu banyak ulahnya. Pacarnya banyak tapi yang mau dijadikan istri tak ada.”

Ibu-ibu yang mendengarnya langsung terkikik. Si Res geleng-geleng kepala. Ema yang jadi sumber cerita senyam senyum masam.

“Bilang ke Ujang, Ni! Hehe. Mau sampai kapan dia membujang? Mau nunggu si Tuti tamat SMP?” Dewi yang punya anak bernama Tuti, yang sekarang baru mau masuk SD dan sedang mandi di hulu, mengangkat suara sebelum tawanya benar-benar terhenti.

Ibu-ibu yang mendengar ciloteh Dewi pun tertawa lepas. Jika dalam bulan itu tak ada yang akan melaksanakan baralek, nama yang berhak menerima arisan akan dikocok. Pengocokan digelar di banda setelah ibu-ibu selesai mencuci kain. Ketika acara pengocokan arisan dilangsungkan, anak-anak, suami, saudara-saudara, bahkan orang tua dari ibu-ibu ini beramai-ramai menonton ke banda. Mereka akan bersorak riuh apabila nama anggota keluarga mereka yang keluar.

Banda pun menjadi pusat mandi cuci kakus. Jika ingin mandi harus melangkah agak ke hulu. Untuk mencuci boleh di banda yang banyak batu-batunya. Bila ingin kakus harus ke hilir di tempat yang bersemak. Pada masa itu, sekali dalam dua malam, selalu ada seseorang yang pergi ke banda sambil membawa senter. Kadang-kadang mereka berjalan berdua menuju banda. Orang yang satu duduk di tepian banda sambil menyenter orang lainnya yang duduk berjongkok di dalam banda. Begitulah, banda selain sebagai tempat mandi dan mencuci pada pagi hari, juga sebagai tempat kakus pada malam harinya.

Jika bukan pada malam, seseorang akan kakus pada parak siang. Orang yang akan kakus ini harus pergi jauh ke hilir, menjauhi ibu-ibu yang mencuci. Sangat diusahakan agar dia yang pergi kakus tak ketahuan oleh ibu-ibu yang mencuci. Biasanya, seseorang yang kakus pagi-pagi menyukai tempat yang bersemak agar dapat menyembunyikan kepala. Kepala disembunyikan ke semak, pantat disembunyikan ke air banda. Orang lain tak akan tahu.

Itu ketika banda masih berair jernih. Ketika ibu-ibu masih mencuci menggunakan sabun Tombak. Ketika rumah-rumah belum memiliki tempat untuk mandi, cuci, dan kakus. Ketika Tuti baru masuk SD. Ketika Ujang masih pacaran.

Sekarang Tuti sudah tamat SMP dan si Ujang sudah menikah. Arisan baralek pun sudah beralih dari untuk adik ke untuk anak. Geliat arisan pun mengalami peningkatan. Bukan hanya arisan baralek, melainkan juga arisan daging, arisan piring, dan arisan beras. Semua arisan ini tetap difungsikan untuk menabung menambah biaya baralek.

Akan tetapi, pertemuan mereka tak lagi di banda. Pengocokan arisan telah dialihkan ke warung. Warung yang dimaksud adalah warung bu Wik yang menjual berbagai macam keperluan rumah tangga dari sabun mandi hingga sayur mayur.

Ibu-ibu yang dulu mencuci di banda dengan menggunakan sabun Tombak pun sudah bertukar merek. Setiap keluarga sudah membeli televisi. Di televisi mereka menonton iklan sabun Ekonomi Kuning Pencuci Piring dan sabun Ekonomi Biru Pencuci Baju. Bu Wik yang punya warung tertarik dengan sabun Ekonomi. Ia membeli sabun tersebut di pasar raya. Sabun itu dipromosikannya kepada ibu-ibu yang mengocok arisan di warungnya. Maka, semenjak itu, ibu-ibu mencuci baju dengan sabun Ekonomi.

Rumah-rumah di sekitar banda pun sudah memiliki sumur sendiri lengkap dengan kakus. Aktivitas mandi-cuci-kakus yang dulu bergiat di banda sudah berpindah ke sumur. Anak-anak tak lagi mandi bersama dan ibu-ibu mencuci sebaskom kain sendirian di sumur. Orang-orang tak perlu lagi menyembunyikan kepala ketika kakus karena di rumah mereka sudah dilengkapi tempat kakus yang ditutupi dengan pintu.

Ketika itulah banda kehilangan pamor. Penduduk tak lagi melirik banda apalagi beramai-ramai ke banda. Tanah di tepi banda mulai gerus. Air banda pun menjadi semakin keruh.

Namun, suatu hari, datang seorang pejabat melihat-lihat keadaan penduduk di pemukiman itu. Pejabat itu mengangguk-angguk saat melihat setiap rumah sudah memiliki tempat untuk mandi, mencuci, dan kakus. Ketika sang pejabat berjalan-jalan, kemudian menemukan banda, tercetus ide cemerlang di otaknya.

“Bagaimana jika kita membuat keramba ikan di banda ini?” tanyanya berorasi.

Penduduk mengangguk-angguk setuju. Sebagian bertepuk tangan.

“Saya akan modali keramba ikan di banda ini. Seribu bibit ikan akan saya sumbangkan. Kita jadikan banda ini sebagai banda larangan. Setiap tahun kita panen ikan,” lanjut Pejabat itu berkoar-koar.

Kali ini semua orang bertepuk tangan. Senyum terkembang di wajah para penduduk. Begitu juga di wajah sang pejabat.

Tak jadilah banda kehilangan pamor. Mulai saat itu banda dirawat sebagai tempat keramba ikan. Ada 20 keramba dengan 50 ikan pada setiap keramba. Para penduduk menaruh harapan pada banda itu. Tak jarang mereka membeli pelet (makanan ikan) secara sukarela. Setiap sore, mereka akan membawa anak-anak mereka ke banda sambil menyebar-nyebarkan pelet. Alangkah senang hati anak-anak itu saat melihat ikan-ikan berebutan makanan dari balik keramba.

Setahun berselang, tibalah hari panen ikan. Masyarakat berbondong-bondong ke banda. Label ikan larangan dicabut. Pak Zul, selaku ketua RT, dipercaya membuka keramba pertama sebagai tanda dicabutnya label ikan larangan. Lalu ikan-ikan yang sudah gemuk-gemuk itu dibagi-bagi per keluarga. Selanjutnya nasib ikan-ikan tersebut diserahkan kepada keluarga yang menerima apakah akan digoreng, dijual, atau diternakkan lagi. Pembagian dilakukan dengan adil.

Namun sayang, tak seorang pun penduduk yang memutuskan agar ikan-ikan itu dikembangbiakkan lagi di keramba. Hampir semua penduduk menjual hasil panen ikan. Hasilnya, banda kembali kehilangan pamornya.

Bertahun-tahun setelah itu, setelah Tuti tamat kuliah dan segera menikah, banda benar-benar tak terhiraukan. Dulu, banda berair jernih di mana anak-anak mandi dan ibu-ibu mencuci kain. Kemudian, banda dijadikan tempat beternak ikan sehingga penduduk di sekitar banda mendadak kaya dari hasil penjualan ikan. Sekarang, banda berair tak keruan. Dibilang jernih tidak. Dibilang keruh pun bukan. Air di banda sekarang mengalir teramat lambat. Di permukaannya teronggok sampah-sampah plastik. Tak jarang banda membawa bangkai anjing atau bangkai ayam. Warnanya kumuh. Airnya pun semakin lama semakin mengering.

Sementara itu, penduduk semakin modern. Di rumah mereka sudah ada kamar mandi yang berdinding keramik. Di sebelah kamar mandi sudah berdiri sebuah mesin cuci. Si Tuti yang sudah jadi ibu tak perlu repot lagi mencuci kain. Sebagian besar penduduk sudah kaya dari modal penjualan ikan. Hampir semuanya menjadi pedagang, baik pedagang kain maupun membuka restoran.

Sejak saat itu, banda benar-benar telah kehilangan pamor.

***

Tuti membalikkan badan. Kali ini kepalanya disandarkan ke dinding, tepat menutupi lubang tempat ia mengintip tadi. Tuti teringat dengan teman-temannya yang dulu senang bermain di banda. Si Ari sudah jadi atlit renang sungguhan. Ari jadi andalan dan selalu meraih medali di setiap pertandingan. Si Budi sudah jadi ilmuwan. Budi melanjutkan kuliah ke Bandung dan sekarang mengambil S3 di Australia. Si Weni, yang dulu hobi mencipratkan air ke muka Tuti, sekarang kecipratan jadi jutawan. Weni menikah dengan konglomerat.

Hanya Tuti yang setia dengan banda. Bukti kesetiaannya, ia masih terbiasa membuang sampah ke banda. Lewat lubang itulah, ia suka mencampakkan apa saja. Sampah yang disodorkan Tuti lewat lubang akan terlempar ke banda.

Namun, kehadiran Tuti di dekat lubang ini bukan untuk membuang sampah seperti yang biasa dilakukannya. Ia sedang rindu bermain-main lagi di banda. Tuti membalikkan badan. Kali ini ia kembali mengintip ke banda.

Betapa kagetnya Tuti. Banda itu kini mengalirkan air jernih nan deras. Segera diambilnya sabun mandi dan handuk. Ia bergegas keluar rumah lewat pintu dapur. Dari sana ia berlari ke banda.

Akan tetapi, Tuti kecewa. Air banda masih kering dan kumuh. Banda yang tampak mengalirkan air jernih dan deras tadi hanya ilusi. Namun, keinginannya untuk kembali mandi-mandi di banda membabi buta. Diceburkannya tubuh ke banda.

Padang

*Cerpen ini termaktub dalam Kumpulan Cerpen  “Malam Lengang” yang diterbitkan Badan Perpustakaan Daerah Sumatera  Barat tahun 2008.

Daftar Istilah

Amak-amak     : Ibu

Baralek            : Kenduri/resepsi pernikahan

Parak Siang    : Shubuh-shubuh sebelum matahari terbit

Tentang Penulis :

Nilna R. Isna. Lahir di Padang, 31 Mei 1989. Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas.  Karyanya berupa cerpen dan puisi pernah dimuat di sejumlah media massa cetak dan elektronik. Beberapa karyanya sempat dibukukan dalam antologi puisi Komposisi Sunyi dan Kampung dalam Diri serta antalogi cerpen Malam Lengang. Ketika SMA bergiat sebagai reporter sekolah tabloid P’Mails. Di kampus, menerima amanah sebagai Sekretaris Jenderal Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia. Berdiskusi dan bercengkrama karya sastra bersama kawan-kawan Sanggar Sastra Pelangi Yayasan Citra Budaya Sumbar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s