LELAKI PEMUISI

Lelaki Pemuisi

Nilna R. Isna

 

Siapa lelaki itu? Pertanyaan ini yang selalu membebani kepala Lindi. Ada hawa misteri pada sosok yang dipertanyakannya. Lelaki itu aneh dan entah. Setiap pagi, sebelum pagi benar-benar meracau, laki-laki misterius ini terlebih dahulu mengacau telinga dan kepala Lindi.

“Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak.

Lurus kaku pepohonan. Tak bergerak

Sampai ke puncak. Sepi memagut,”

Lindi merinding. Sesuara itu muncul pelan lalu menggelegar. Ia membuka pintu lebar-lebar, berharap menemukan sumber suara yang membuat jantungnya berdebar. Namun, tak ada siapapun yang  ditemukannya di luar. Hanya selesap bayang tampak hilir mudik, berhenti, lalu menghentak, yang dijumpai Lindi di balik gorden jendela kaca, tepat pada sebuah rumah di depan rumahnya.

Selepas melaksanakan sholat shubuh, Lindi selalu pergi ke dapur, memasak air dan menanak nasi untuk makan pagi. Saat memasukkan beras ke dalam periuk, Lindi terlonjak setengah mati, ada seseorang berteriak-teriak pilu di luar rumahnya. Agak tergesa, Lindi meninggalkan periuk dan berasnya. Ia berlari keluar rumah hendak mengetahui apa yang terjadi.

Tapi, ia tak menemukan apapun atau siapapun. Suara itu kini terdengar sayup-sayup dan hilang timbul, tidak sekeras suara yang didengarnya saat berada di dalam rumah tadi. Lindi kembali ke dalam rumah. Pergi ke ruang tengah tempat ia biasa menonton televisi.

“Mungkin tadi suara televisi. Aku memang teledor,” pikirnya. Tapi, sesungguhnya ia yakin betul telah mematikan televisi sebelum tidur kemarin dan ia tak menyalakannya lagi setelah bangun shubuh ini. Bukan kebiasaannya untuk menonton televisi hingga larut malam atau menyalakannya shubuh-shubuh. Tepat keyakinan Lindi. Televisinya mati. Suara itu bukan dari televisi.

Lindi terlonjak lagi. Teriakan pilu kembali menyelusupi telinganya. Ia segera bergegas keluar rumah. Kali ini lebih awas mengedarkan pandangan dan menajamkan pendengaran. Anehnya, setiap kali Lindi keluar rumah, suara itu hilang timbul.

Lindi menggerakkan langkah ke jalanan komplek rumahnya. Empat rumah di depan rumah Lindi hening menyepi. Hanya rumah di sebelah kanannya yang mengeluarkan suara denting-denting piring seperti digaduh kucing. Lindi melangkah lebih jauh, menyusuri rumah-rumah hingga ujung gang, berharap menemukan orang yang sedari tadi telah membuatnya jantungan. Akan tetapi, tetap saja, ia tak menemukan siapa-siapa.

Lindi berkecamuk dengan rasa penasarannya. Ia tinggalkan jalanan dan rumah-rumah tetangga. Langit masih kelam. Matahari belum naik. Masih shubuh. Lindi merasa aneh sendiri menyadari sebegitu menggebunya ia mencari suara misterius itu shubuh-shubuh begini. Ia kembali masuk rumah.

Saat menutup pintu rumah. Lindi kembali mendengar suara-suara, kali ini lebih menerjang-nerjang gendang telinganya. Tapi, Lindi tidak segera keluar rumah. Ada hal lain yang lebih penting untuk diburunya. Ia berlari-lari kecil ke dapur. Air sudah melimpah-limpah keluar dari periuk. Api kompornya memericik. Dengan sigap, Lindi mematikan kompor. Dilapnya pinggir-pinggir kompor yang basah tersiram air tanak.

“Gara-gara suara itu,” desis Lindi.

Sejak saat itulah, ia selalu mendengar suara-suara berteriak, menghentak-hentak, menggelegar, pilu, sendu, dan bermacam-macam suara lainnya. Belakangan, Lindi tahu, suara itu berasal dari seorang lelaki yang menempati rumah di depan rumahnya.

Bagi Lindi, laki-laki itu menjadi misteri. Lelaki itu tak pernah ditemui Lindi baik pagi, siang, ataupun malam hari. Hanya suara sosok misterius itu yang ditangkap telinga Lindi setiap shubuh, saat ia memasak air dan menanak nasi.

Lindi pun tak bisa menerka berapa umur si lelaki. Awalnya, Lindi memperkirakan laki-laki yang tinggal di depan rumahnya itu masih bujangan atau bisa disebut sebagai pemuda. Tapi, akhir-akhir ini, Lindi mendengar suara serak kakek tua dari puisi-puisi yang selalu didengarnya.

Mungkin dia bujangan yang sudah tidak pemuda lagi. Sempat terpikirkan oleh Lindi kemungkinan seperti itu. Bisa saja sebab sepengetahuan Lindi, tak pernah seorang wanita pun datang ke rumah itu yang bisa dicurigai sebagai istri, anak, menantu, ataupun cucu. Atau dia kakek-kakek yang masih punya semangat muda?

Hari ini, rasa penasaran Lindi terhadap si lelaki pemuisi semakin memuncak. Ia sengaja tidak menanak nasi setelah sholat shubuh. Lindi melangkahkan kakinya keluar rumah, hawa dingin langsung menyerbunya. Lindi menghirup napas dalam-dalam.

“Sambutan pagi yang luar biasa,” batin Lindi.

Lindi menggerakkan kaki ke halaman rumahnya. Berpura-pura senam pagi, kepalanya ditolehkan ke kanan dan ke kiri, lalu membungkukkan badan, tegak, bungkuk lagi, tegak lagi. Gerakan-gerakan ini dilakukan Lindi sambil melirik-lirik jendela rumah lelaki pemuisi. Ia sudah mengatur strategi agar bisa mengintip lebih dekat.

“Tak kuasa melepas-renggut.”

            Lindi berdegup kaget. Dirinya tak menyangka lelaki itu mau berpuisi ketika ia berada di luar rumah, tak seperti biasanya. Atau mungkin kebetulan saja pada pagi sebelum-sebelumnya suara itu hanya didengar Lindi saat ia di dalam rumah. Suara pintu rumah lelaki misterius itu berderit. Lindi kelabakan. Kakinya ketatar-ketitir. Ada sapu lidi tertonggok tak jauh darinya. Segera disambarnya sapu lidi itu.

Sambil berpura-pura menyapu halaman, Lindi menunggu pintu menganga lebih lebar. Tangannya gemetar. Ia malah syok dengan tingkahnya sendiri.

“Ayo cepat! Buka pintunya,” bisik Lindi sementara kepalanya tetap tertumpu pada daun basah yang bertebaran di kaki sapu lidi.

Lindi melirik ke pintu. Pintu itu membuka sedikit sehingga memancar cahaya lampu dari dalam rumah ke shubuh yang masih pekat. Lindi sengaja mengeraskan suara sapu lidinya. Niatnya agar sang lelaki merasa terganggu dengan suara berisik yang dibuatnya.

Namun usaha Lindi tak laku. Strategi yang telah disusunnya tadi pun lebur bersamaan dengan pintu yang berderit. Lelaki itu seakan bersikukuh tak akan keluar rumah, apapun yang terjadi.

Lindi mulai merasa kesal. Ia heran kenapa lelaki pemuisi itu tak jua menampakkan roman mukanya. Hanya itu yang ditunggu Lindi untuk mengobati rasa penasarannya. Sementara rasa penasaran itu selalu kambuh setiap shubuh tersebab dari suara-suara bergemuruh dari sang lelaki.

Kekesalan Lindi bukan hari ini saja. Pada kemarin-kemarin sekitar tiga bulan yang lalu, Lindi selalu merasa terganggu dengan kehadiran suara itu.

“Huh, siapa sih dia? Setiap hari menggangguku saja. Apa dia lupa kalau sekarang masih shubuh?” begitu gumaman Lindi dari dapurnya.

“Mungkin dia pujangga tak jadi. Atau mungkin dia akan mengikuti semacam lomba membaca puisi. Ah, mana mungkin, sudah berapa lama dia membaca puisi? Bahkan kadang terdengar tak wajar.” Lindi terus bergumam pada dirinya sendiri.

“Mungkin dia itu semacam peri yang dikirim Tuhan untuk membangunkan orang-orang agar segera ke sumur , menimba air, berwudhu, lalu sholat. Hahaha.” Sepertinya Lindi benar-benar telah terkacaukan pikirannya oleh lelaki aneh itu.

Sekarang, gantian Lindi yang membuat suara gaduh. Ia menghentak-hentakkan sapu lidinya lebih kuat. Ditebar-tebarkannya sampah ke sekeliling halaman lalu dikumpulkannya, ditebarkan lagi, dikumpulkan lagi hingga Lindi merasa capek sendiri.

Segala menanti. Menanti. Menanti

Sepi.”

“Ya sudah kalau kesepian. Sini aku temani. Kau tak perlu lama menanti,” jawab Lindi dalam hati. Kini, kebencian Lindi terhadap lelaki dan puisi mulai memudar. Sekarang ia ingin sekali berteman dengan sang lelaki pemuisi.

Lelaki itu telah menorehkan sesuatu di hati Lindi. Ia mulai meresapi makna-makna halus dari puisi. Lindi mencoba menikmati setiap puisi yang dibacakan setiap shubuh itu. Lindi mulai rajin membaca dan membeli buku puisi. Terkadang ia malah menyimak bacaan puisi si lelaki, atau kadang-kadang ia ikut membaca puisi yang sama dari dapurnya saat ia menunggu air mendidih. Itulah sebabnya mengapa Lindi begitu menggebu untuk bertemu sang lelaki.

Sayup-sayup terdengar kepiluan di sela-sela suara gaduh sapu lidi Lindi. Lindi yang sedari tadi mencoba mengalihkan perhatian si lelaki, berbalik teralihkan perhatiannya pada lirik-lirik puisi. Ia terdiam. Suara gaduh sapu lidinya pun diam.

“Tambah ini menanti jadi mencekik

Memberat-mencekung punda”

Lindi melepaskan sapu lidinya. Ia melangkah keluar dari pagar rumah.

“Sampai binasa segala. Belum apa-apa”

Lindi berjalan menuju rumah di depan rumahnya.

“Udara bertuba. Setan bertempik”

Lindi sampai di pintu rumah si lelaki pemuisi.           

Ini sepi terus ada. Dan menanti.”

Pintu rumah itu berderit panjang. Matahari sudah naik. Tiap-tiap rumah menebarkan keriuhan pagi. Kran yang terbuka, hempasan air kamar mandi, teriakan ibu-ibu yang membangunkan anak-anak mereka, piring berdenting, kompor dan penggorengan, knalpot motor yang mengeluarkan asap pagi, deru mobil yang dipanaskan, seruput kopi panas bapak-bapak, tukang roti keliling, motor loper koran.

Lindi berdiri mematung di depan rumah sang lelaki pemuisi. Pintu rumah itu telah menganga lebar. Seseorang berdiri di depannya.

“ Ini puisi Chairil Anwar. Kau mengenalnya?” ujar sang lelaki.

Lindi mengangguk pasti.

“Tuan pemuisi, kau semakin aneh!” gumam Lindi.

Lelaki pemuisi itu tersenyum. Lelaki itu mengulang membaca paragraf terakhir puisi yang tadi dibacakannya. Lalu menutup pintu.

Lindi sungguh-sungguh telah jatuh cinta. Bukan pada sang lelaki, bukan lagi pada puisi, juga bukan pada pagi. Lindi telah jatuh cinta pada dirinya sendiri, pada sapu lidi yang dipegangnya, pada suara-suara yang didengarnya, pada mata dan penglihatannya, pada aroma yang dibauinya, pada kata-kata yang bergumam keluar dari mulutnya, pada setiap hawa yang dirasakannya. Lebih dari itu, Lindi jatuh cinta pada khayalannya.

 

Tentang Penulis :

Nilna R. Isna. Lahir di Padang, 31 Mei 1989. Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas.  Karyanya berupa cerpen dan puisi pernah dimuat di sejumlah media massa cetak dan elektronik. Beberapa karyanya sempat dibukukan dalam antologi puisi Komposisi Sunyi dan Kampung dalam Diri serta antalogi cerpen Malam Lengang. Sejak tahun 2005 bergiat di tabloid P’Mails sebagai reporter sekolah. Di kampus, menerima amanah sebaga Sekretaris Jenderal Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia. Berdiskusi dan bercengkrama karya sastra bersama kawan-kawan Sanggar Sastra Pelangi Yayasan Citra Budaya Sumbar.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s