GBHK Angyun (1)

GARIS-GARIS BESAR HALUAN KEMESRAAN 

WITH ANGYUN ABRAHAM (1)

“Oke, judulnya rada sensasional, jangan gosip duluan yah. Meskipun mirip-mirip draft yang biasa kita bahas dalam forum gitu tapi isinya gag akan ribet-ribet soal organisasi, landasan, konsideran, pertimbangan, dan seterusnya. Tulisan ini dibuat dalam rangka hari ulang tahun Angyun ke-24 yang jatuh 2 Maret 2013 lalu. Tenang, yang lain jangan protes dulu, kebagian tulisan juga kok ntar kalau saya lagi mood nulis. Hehe. Tapi berhubung saya lagi rusuh sama Angyun!!!, yang niatnya tulisan ini diposting di blog, diposting di facebook aja. Jadi Angyun gag bisa baca *kerlingkerling*“

 

Agustus 2009, di kampus FKM UNAND – Padang

Sevil ngamuk-ngamuk ngomong sendiri ke henpon. “Aduh, ini orang gimana sih, lain ditanya lain dijawab,” gerutunya. Saya dan Icha cuma bisa ngakak lihat ekspresi Sevil. Ceritanya sevil baru aja nelponin panitia Rakernas. Saya dan Icha jadi penasaran ngeliat rupa orang yang ditelpon sevil sampe mukanya kusut gitu. Kami buka facebook dan friendster (friendster masih laku jaman itu cuy) dan kita menemukan perawakan bapak-bapak beralmamater kuning bernamakan Angyun Abraham. Bertiga kita kompak ketawa ilfeel.

 

Agustus 2009, di Terminal Lebak Bulus – Jakarta

Saya akhirnya menemukan Icha dan Sevil. Kami terpisah pesawat berjarak 1 hari untuk keberangkatan Padang – Jakarta. Alhasil janjian ketemuan di terminal lebak bulus sekaligus janjian ketemuan dengan panitia. Setelah mondar mandir haluan kiri dan kanan terminal, kami ketemu dengan 3 orang panitia menggunakan 2 motor. Awalnya kami bertiga mikir, ini gimana ngangkut ke lokasi acaranya kalau motor cuma 2 sementara orangnya ada 6. Tapi ternyata panitia sudah berpikir sebelum kami memikirkannya. Semua barang bawaan kami di drop panitia ke angkot, salah satu kunci motor dikasi ke sevil. Alhasil 2 orang panitia membawa travel bag kami dengan angkot. Icha dan Sevil boncengan motor menggunakan motor yang tadi dibawa panitia. Saya boncengan sama 1 orang panitia lainnya. Dan panitia yang ngebonceng itu adalah Angyun Abraham.

Agustus 2009, di Wisma SLB Lebak Bulus – Jakarta

Sesi perkenalan. Ketua Panitia memfasilitasi semua delegasi denga games perkenalan. Semua delegasi diminta untuk menyerahkan salah satu benda miliknya, apapun itu, untuk dikumpulkan di tengah-tengah delegasi yang duduk melingkar. Macem-macem ada yang ngasi pulpen, buku, jam tangan, handphone, sampai sepatu. Saya lupa ngasi apa. *hehe.

Tapi saya ingat apa yang terjadi. Ceritanya Sang ketua panitia ngedapetin gelang Icha, trus nggak sengaja putus sama dia. Icha panik dunk secara itu gelang bukan sembarang gelang, itu gelang pemberian mama icha, berkhasiat obat, dan cukup mahal. #eh. Tapi ketupel ini malah cuma menimang-nimang itu gelang dengan ekspresi yang sok kharismatik, tanpa tersirat di wajahnya untuk menyambungkan kembali gelang yang putus. Icha sampai narik-narik baju saya agar memberi isyarat ke orang tersebut agar gelangnya diperbaiki. Jangankan isyarat, saya langsung negur, “Mas, itu gelangnya diperbaiki.” Eh orang itu cuma jawab dengan gelagat wibawa, “Oh iya, nanti saya perbaiki,” dan itu gelang cuma ditimang-timang lagi. Saya sampai curiga jangan-jangan gelangnya sengaja ditimang-timang dulu supaya bisa jadi alesan untuk akrab dengan Icha. *matasipit. Icha udah punya pacar, week😛. Orang itu Angyun Abraham.

Agustus 2009, di Wisma SLB Lebak Bulus – Jakarta

Saya kesel, presidium sidang ngasi saya SP sampai 2 kali cuma karena saya sibuk ngurusin redaksi, titik koma, dan EYD yang salah dalam draft tata tertib sidang. Saya dianggap mengganggu kelancaran sidang. Akhirnya cuma bisa menahan diri untuk nggak angkat tangan ngajuin opsi lagi. Well, saya pikir persoalan redaksi itu bagian penting. Tapi ternyata saya salah forum.😀 Basic sidang saya adalah sidang UKM jurnalistik, wajar kalau titik koma, EYD, redaksi itu bagian penting. Ini forum organisasi kesmas nasional cuy. Tapi saya sadarnya baru sekarang. Haha… *ketawajahat*, dulu di tahun 2009 masih kesel karena dikasi SP. Kesel sampai-sampai saya mengingat persis bagaimana ekspresi, kata-kata, nada, mimik, intro, dan pitch control sang presidium sidang yang ngasi saya SP. Oh ya, presidium sidang nya itu Angyun Abraham.

November 2010, di FK UI Salemba dan FKIK UMJ – Jakarta

Angyun sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk pertemuan ke UMJ. Tapi saya sudah jingkrak-jingkrak pengen ke Monas dulu. Secara udah beberapa kali ke Jakarta tapi belum pernah ke Monas. Akhirnya Angyun melepas dengan gaya-gaya film di India. Saya dan teman-teman lainnya lari-lari kecil mengikuti Fikura UIN yang akan jadi penunjuk jalan  magrib itu. Angyun sempat saya lihat terduduk lesu di salah satu pot bunga gede di tepi jalan raya memandang iringan langkah kami. Ia tidak ikhlas melepas kepergian kami, tetapi juga tidak bisa menahan langkah kami. Oke, ini lebay.

Udah mendekati jam 11 malam, saya dan teman-teman lain, diiringi Ridhwan sampai di UMJ. Teman-teman di UMJ udah muka kesal, mereka sudah mempersiapkan ruangan, tapi kita nya molor datang. Alhasil ruangan cuma bisa dipakai sampai jam 12.00. Yang kita omongin belum beres. Akhirnya pindah ke teras mesjid UMJ. Ngobrol bermanfaat sampai jam 3 pagi.

Poinnya bukan pada ngobrol sampai jam 3 pagi nya. Tapi tentang Angyun nya. Saya akhirnya mengerti kenapa Angyun lesu sekali, karena kita terlalu berlama-lama main-main, dari FK UI ke Sekret IAKMI ke Soto Betawi ke Monas ke Lamaan. Kerasa banget lama nya apalagi pas naik KOPAJA Monas-UMJ. Sementara teman-teman UMJ udah nungguin. Waktu itu saya mikirnya simpel, wong Ridhwan aja barengan kita, ceritanya Ridhwan “orang besar”nya UMJ lah. Tapi saya salah. Salah. Salah. Salah. Angyun benar.😥

Maaf yah teman-teman yang udah lama nunggu waktu itu, maaf kami masih kampungan… Huaaaa…. *nangisbeneran

Maret 2011, di Lec Athirah Antang – Makassar

Saya dibonceng Ilho UNHAS (waktu itu Ketua Panitia Munas XII Makassar, belakangan jadi Wasekjend ISMKMI J ) dari penginapan ke rumah, haduh saya lupa namanya, ke rumah panitia yang digunakan sebagai tempat tim perumus merumuskan AD ART.  Disana saya menemukan Angyun dan teman-teman lainnya telungkupan dengan bantal-bantal yang bertebaran dan snack-snack yang berserakan di sekitar ruangan. Rupanya ini lukisan ruangan atas kelelahan yang menguras otak dan tenaga mereka selama dua hari dua malam. Ini hari terakhir mereka untuk menyelesaikan rumusan, hari ini semua harus selesai. Ceritanya saya SCnya, jadi saya ngontrol mereka. Balik ke Lec Athirah Antang, kita mulai pembukaan acara munas. Skip skip skip. Kita skip skip saja cerita sidangnya.

Suatu malam… #eaaa. Beberapa delegasi udah ribut-ribut di lorong-lorong kamar. “Blablablabla huaaaa huaaaa sssssst… Blablablabla huaaaa huaaaa sssssst…” Hari ini Angyun ulang tahun. Angyun masih di teras penginapan ngobrol dengan Tuty UNMUL. Ngobrolnya seru lagi, bikin sirik. #eh. Saya putar otak untuk ngerjain Angyun. Dasar, sebagai manusia undercreative, saya gag punya ide. Haha. Yang lain juga mikir gimana caranya ngerjain Angyun. Maka dengan sangat kreatif, lahirlah ide cemerlang itu, cara ngerjainnya adalah SIRAM PAKE AIR. *Loh, itu biasa ya.😮 Pokoknya gitu lah, kami sepakat membasahi angyun dengan air bak mandi tanpa kembang tengah malam.

Setelah atur posisi dan strategi, byuuurr… Angyun diguyur. Akhirnya ide cemerlang ngerjain kita benar-benar cemerlang. Angyun diguyur lengkap dengan almamater dan barang-barang berharga yang masih di badan. Awalnya kita udah sepakat untuk Angyun ngelepas jas almamaternya dulu agar gag basah, karena kalau basah urusannya berabe, dy ndak bisa masuk sidang tanpa jas almamater. Saya dan Ka Yayan UNSRI udah ngerayu-rayu untuk dia ngelepas almamaternya, tapi ya berhubung saya dan ka Yayan termasuk kategori perayu tidak ulung, kami gagal. Gerah karena kelamaan nungguin Angyun ngelepas jas almamaternya, ya udah kita guyur aja.😀 *haha. Ide yang sangat cemerlang karena berhasil membuat Angyun galau bin merana (wait, waktu itu belum ada istilah galau, bro. Jadi tepatnya berhasil bikin Angyun merana). Tidak bisa masuk ke dalam forum sidang itu menyengsarakan. Akhirnya jas almamater itu dijemur di kabel listrik. Ahahaha…. Gag ada tempat jemuran disana. Well, itu kabel listrik udah mirip tali jemuran, ya udah dijemur disono.

Oh ya, selain jas almamater yang basah, guyuran itu juga membuat Angyun meriang. Jadi seiring lah jas almamaternya dengan tuannya. Jas almamaternya gag bisa digunakan ikut sidang, dia nya meriang jadi juga gag bisa ikutan sidang. Oh ya, waktu itu Makassar musim hujan, alhasil itu jas almamater lama keringnya. Angyun nya udah sembuh, jas almamaternya masih basah. Oh ya lagi, selain diguyur pakai air, Angyun juga diguyur sama isi tong sampah yang kebetulan dekat dari tempat dia lesehan ngobrol. Yaaah, kodong… kasihan sekali dikau Angyun, diguyur sampah. L Oh ya lagi, itu yang guyur pakai tong sampah saya ingat oknumnya adalah Ka Fadli UNHAS. Jiahahaaa. (Ka Fadli kemudian jadi bagian dari sekian dari sedikit dalam ISMKMI yang berjuang hingga tahun paling akhir kuliah J )

Saya pengen banget punya baju kayak Angyun yang gambarnya “I love RI”. Icon love disana diganti dengan lambang burung Garuda. Sumpah itu baju bagus banget. Saya minta ke Angyun agar ngasi bajunya ke saya buat kenang-kenangan sekaligus saya jatuh cinta banget sama itu baju. Tapi Angyun ogah. -__- Karena gag berhasil membujuk rayu Angyun, saya lari ke Losari, belok ke Rotterdam. Oke, fokus. Karena gag berhasil dapetin baju Angyun, saya cukup terobati ketika sampai di Pantai LOSARI. Nemu huruf R dan I. Akhirnya saya minta difoto sama panitia agar di foto di antara huruf R dan I yang dipajang di pantai Losari. Hehehe, lumayan mengobati.

Selama di Munas Makassar ini saya nggak terlalu banyak interaksi sama Angyun, lebih banyak interaksi dengan teman-teman di wilayah 1.

Eh, btw selang beberapa bulan berikutnya saya menemukan baju yang mirip persis kembar banget dengan punya nya Angyun di Ramayana Padang. Hualaaa… Senang sekali. Tanpa lihat dompet langsung sambar bajunya ngacir ke kasir, untung uang di dompet cukup.😀

April 2011, Wisma LPMP UNP – Padang

“Hai, ibu negara,” sapanya. Saya bengong. Dia yang pakai batik kok malah saya yang dipanggil Ibu Negara. Saya jawab ngasal, “Hai Bapak Negara”. Cukup sekian senyum salam sapa sopan santun saya dan Angyun hari itu. Saya masih sibuk-sibuk untuk beberapa urusan kepanitiaan. Sementara Angyun baru datang dari flight Jakarta-Padang. Ndak cukup sampai  semenit saya dan Angyun bertegur sapa. Saya menuju ke jalan yang berlawanan arah dari Angyun, saya keluar penginapan, dan Angyun meneruskan ke dalam penginapan, menuju kamar yang sudah disiapkan untuknya.

April 2011, Parai Mountain Resort– Bukittinggi

Sidang sudah usai, tapi saya ditahan Angyun bersama Aya, Ira, dan Ibni serta Ana UNSRI untuk tetap berada di ruangan sidang hotel. Saya rusuh. “Mau ngomong apaan?!,” ketus saya pada malam yang larut itu. Dan ternyata Angyun sedang mempraktekan ceramah dakwahnya kepada kita berlima. Well, saya mengesankan Angyun lagi praktek dakwah dan kami berlima menjadi audiens dakwahnya. Judul dakwah Angyun adalah CINTA, NIKAH, dan PACARAN.

Judul yang makjleb banget dan belakangan diketahui bahwa audiens utamanya adalah SAYA. Dengan poin-poin materi dakwah yang nyempil-nyempil ke kehidupan saya, dengan penekanan-penekanan materi dakwah yang berfokus pada saya. Angyun jahaaat…. T__T. Saya skip apa materinya. Kesimpulanya adalah Angyun sedang memberitahu kepada saya bahwa hubungan yang saya jalani dengan seseorang itu adalah jalan yang salah, karena jenis hubungan saya sudah masuk ranah pacaran, dan pacaran itu tidak boleh, kalau cinta cukup di dalam hati, kalau udah siap segera menikah. Yak, intinya demikian.

Dakwah tengah malam yang diterima dalam keadaan ngantuk yang teramat sangat sampai kami mengutuk-ngutuk bisik-bisik dan mematuk-matuk tumit ke lantai saking ngantuknya, tapi tetap harus mendengarkan apa yang sedang ia dakwahkan. Dakwah tengah malam yang makjleb banget bagi saya pribadi, nusuk banget sama apa yang terjadi pada diri saya sendiri. Dakwah tengah malam yang belakangan saya rasakan “special”nya. Oh ya, sedikit spesial karena malam itu Angyun ngasi saya buku warna pink. :3 Makacii Bapak Yang Paling Nyebelin Sepanjang Forum.

April 2011, Asrama Haji – Padang

Dia berdiri, waktu itu sidang molor sampai pagi. “Saya mau pamitan dengan teman-teman karena berangkat ke Jakarta dengan pesawat pagi ini, untuk meneruskan perjalanan ke Pekalongan untuk Muswil 3.” Jegeeerrr!!! Saya kaget seperti disambar petir. Bukan karena Angyun mau balik pagi ini, tapi karena kalimat keduanya. Apa?! Angyun mau ke Muswil 3? Kok gag bilang-bilang saya? Urusan dia ke muswil 3 apa? Harusnya kan urusan saya? Oke gag masalah dia datang. Tapi kenapa saya gag dikasi tahu? Saya mau kesana juga..!!! Tapi batal, alasan simpel, saya belum ngerti pulau jawa, sementara yang ngarahin dari Jakarta ke Pekalongan itu gag ada. Kenapa Angyun nggak ngasi tahu saya kalau dia ada rencana? Kalau dia ada rencana, mustinya ngasi tahu saya… pertama karena saya sekjendnya dan kedua karena berarti ada yang bisa menemani saya untuk kesana. Ahh… bener-bener lemes dengan kalimat kedua Angyun tersebut.

Saat dia pamitan kepada saya, saya pasang muka jutek. Kesel sekali karena dia ndak bilang-bilang akan berangkat ke Muswil 3.

Mei 2011, Wisma SLB Lebak Bulus – Jakarta

Apaan yak kisah bareng Angyun pas disini. Saya kok lupa. Bentar, ingat-ingat dulu. Oh iya, soal pembicaraan di forum, kita skip saja. Lanjut ke hari terakhir. Angyun menjadi bagian dari modus operandi melakukan tindakan kriminal terhadap sekjend dalam rangka hari ulang tahun sekjend. Semua insan-insan yang terlibat ketahuan semua kalau lagi ngerjain. Wakawakawaka, gagal kalau mau merencanakan “ngerjain sekjend” di hari ulang tahunnya. Bagaimana bagaimanapun seorang sekjend yang tahu dan sadar hari ini hari ulang tahunnya pasti akan “ngerasa” kalau dia bakal dikerjain sama anak-anak, dikasi surprise, disiram, trus dinyanyiin Happy Birthday. Wakawakawaka *ketawaseremkepedean.

Angyun sepertinya bertugas membuat konsep dan membagi peran masing-masing pihak yang akan terlibat. Ceritanya usai sidang saya dibikin pusing dengan salah satu staf yang baru diangkat tapi langsung ingin mengundurkan diri dari kepengurusan. Terus saya kemalaman sampai di penginapan. Pengen masuk kamar, kamar sudah dikunci (pada bagian ini saya kesel banget nih mereka tega ngunci saya dari dalam, terkurung di luar deh). Akhirnya saya tidur di sofa ruang tengah yang ada tivinya. Sembari pengen tidur, anak-anak udah pada ribut karena kabarnya aksi besok terancam batal dengan modus apabila massa aksi kurang dari 100 orang maka anak-anak makassar gag mau ikutan aksi. (Tapi mereka main dramanya gag cantik, masa’ habis marah-marah pakai acara senyum, saya ingat Arie UTU nggak sanggup nahan ketawanya usai marah-marah ke saya). Saya cuma ngeliatin dan ngedengerin mereka lemes, bukan karena shock mereka ga mau ikut aksi, tapi udah ngantuk ini. Dari awal sampai akhir saya tahu persis ini anak-anak pasti lagi ngerjain. Eh, saya dapat ide cemerlang, secara acak saya membuka pintu-pintu kamar para delegasi. Pada pintu ke-4 (kalau gag salah), horeee kebukaa. Disana sedang tidur sekitaran 4 orang teman-teman dari UNSIL, saya nyempil diantara mereka. Paginya bangun, saya balik ke kamar, trus pasang muka sangar kepada penghuni kamar. Enak saja semalem saya dikunciin, siapa yang ngajarin? Satupun gag ada yang mau ngaku. -_-“ Habis mandi-mandi beberes-beres, teman-teman dari Makassar masih ribut aja nggak mau ikut aksi, beberapa diantara mereka pakai acara merokok di depan saya yang bikin saya ngejar sampai dapat untuk mematahkan rokok mereka. Intinya saya tahu banget kalau itu lagi ngerjain dan pengen bikin saya marah besar. Saya nahan diri untuk nggak marah. Toh mereka lagi drama kan ya. Masalah baru muncul lagi, bis nya telat datang, media sudah dikonfirmasi untuk datang jam sekian. Bis telat datang sama dengan telat banget karena macet di Jakarta itu Allahurabbi. Saya yang disalahin. Hadeeeh, pinter banget ya ini anak-anak nyari-nyari celah. Saya nggak terlalu fokus pada kasus yang terjadi karena saya yakin itu bagian dari drama. Saya fokus ke beberapa delegasi yang ternyata tidak tahu rencana ini terus mereka ketakutan, gelisah, dan pengen pulang ke daerah masing-masing. *eh, lebay. Saya lebih fokus kepada anak-anak yang nggak paham masalah dan ngerasa ini masalah serius, jadi saya berusaha menenangkan mereka. “Udeh, biarin aja kalau ada teman-teman yang nggak mau ikut aksi, kalian santai aja, ini masih di dalam kendali uni kok, udah jangan khawatir, cup cup cup.” *oke, gag ada cup cup cup nya.  Sementara teman-teman yang jadi aktris masih aja mengeluarkan kata-kata yang bikin anak-anak tadi makin ciut. Well, ini yang mau dikerjain saya apa anak-anak yang lain sih.😀 Akhirnya saya diberi kesempatan untuk memberikan solusi. Saya mengawali kalimat dengan, “Saya tahu apa yang sedang teman-teman lakukan, tapi maaf teman-teman tidak berhasil membuat saya marah. Ini yang pertama. Yang kedua, terkait aksi, kita tetap akan melakukan aksi berapapun massa aksinya dan…” Byuuur saya diguyur dari belakang.

Udah, itu doang. Selanjutnya seperti biasa teman-teman nyanyi-nyanyi selamat ulang tahun dan happy birthday tanpa kue. Biar seru dikit saya ngejar anak-anak yang jadi aktris dan aktor tadi dengan mengibas-ngibaskan baju dan jilbab saya agar mereka kecipratan basah. Setelah seru-seruan dikit, korlap aksi manggil-manggil, “Ayo teman-teman kita ke bis, bisnya udah nunggu dari tadi”. Sial! Jadi bis mana yang datangnya telat?

Eh, kelamaan cerita tentang saya ultahnya. Kan yang ultah Angyun yak. Wkwkwkwk. Malam ini 02.59 WIB 03 Maret 2013. Sudah waktunya tahajjud, sujud, dan tengkurep (tidur maksudnya). Cerita tentang GBHK with Angyun ini masih berlanjut. Sampai tuntas kita ceritanya.

– Btw, panjang banget ya ini tulisan –

Di FK UI Salemba pasca 1st HPEQ (SEARAME

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s