Berhasil Menumpuk Kenangan

Saya sampai di terminal Lebak Bulus Jakarta Selatan siang itu setelah diantar saudara yang berdomisili di Depok. Satu-satunya harapan saya di tengah hiruk pikuknya Kota Jakarta siang itu adalah bertemu segera dengan Icha dan Sevil. Kami bertiga adalah delegasi Universitas Andalas untuk agenda Rakernas ISMKMI. Bulan delapan tahun dua ribu sembilan, pertama kalinya saya ke kota yang jauh tanpa orangtua. Mungkin ada sekitar tiga puluh menit menunggu, akhirnya saya melihat dua perempuan itu : sevil dan icha, dua orang yang beriringan dengan saya di organisasi himpunan mahasiswa program studi ilmu kesehatan masyarakat keluarga mahasiswa fakultas kedokteran universitas andalas atau yang sering kami singkat dengan HIMA PSIKM KM FK UNAND.

Akhirnya, dua keping kehidupan saya yang sempat terpisahkan, lengkap sudah. Ini bukan soal hiperbolistik. Tapi tentu Kawan bisa merasakan, rasanya menjadi seseorang yang sendirian di negeri orang. Tak lengkap rasanya jika tidak setali tiga uang. Dari sini perjuangan dimulai.

Kami sempat terseret kesana kemari mengikuti arus petunjuk sms yang kami terima dari panitia, dari haluan kanan terminal ke haluan kiri terminal, ke mesjid, masuk lagi ke dalam terminal, dan begitu seterusnya. Hingga diantara para sopir dengan angkotnya, kami bertemu juga dengan tiga orang panitia dengan dua motor.

Wait, kami 3 orang, yang menjemput 3 orang 2 motor. Total 5 orang, 3 travel bag besar-besar, dan 2 motor. Tentu saja perencanaan penjemputan yang kurang matang. Kurang matang bagi saya. Tetapi ternyata sudah matang bagi panitia. Icha dan Sevil diberikan 1 kunci motor. Saya diputuskan untuk dibonceng panitia. Sementara travelbag kami, diboyong dua orang panitia ke dalam angkot.

Alhasil, kami bertiga menuju lokasi Rakernas menggunakan motor. Segala barang bawaan dipercayakan pada dua panitia yang membawa dengan angkot. Bagi Sevil yang mengendarai motor, ini menjadi kejutan karena pertama kalinya mengendarai motor di kota sempit Jakarta. Begitu juga bagi Icha yang waswas dibonceng Sevil. Saya sendiri mencemaskan kedua kepingan jiwa ini karena mereka harus naik motor di tempat yang sama sekali asing. Mereka mengikuti motor yang saya boncengi. Sementara saya, memasrahkan diri pada yang membonceng, yang hari ini berhasil menumpuk kenangan, ialah Angyun Abraham.

IMG_3533 (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s