cepat lulus, nak

“Cepat lulus, nak”

Kali ini kalimat tersebut tidak muncul dari orangtua atau keluarga, tapi dari seorang Doktor Public Health.

Sudah sejak lama, saya stalking kedatangan beliau ke Kota Padang. Kepada seorang profesor sekaligus ketua program S2/S3 Public Health UNAND, saya mendapat kabar. “Tanggal 22, Insya Allah Nilna,” ujar beliau. Saya menambahkan percakapan singkat itu, “Saya boleh bertemu beliau, bu?”. Beliau menjawab, “Ooh boleh boleh, tentu saja.”

Menjelang tanggal 22, saya aktif muncul di whats app sang Doktor. Seorang adik tingkat yang mengetahui saya berkomunikasi via wa dengan beliau sempat kaget. “Uni wa dengan beliau?” kagetnya ketika itu. Melalui wa saya mendapat kepastian kedatangan beliau.

Saya juga mengonfirmasi kedatangan beliau kepada Profesor yang mengundang beliau. “Insya Allah jadi nilna. Boleh banget. Atur aja untuk ketemu sore bagaimana?” begitu isi sms Bu Prof kepada saya. Melalui wa saya memberitahukan informasi dari Bu Prof kepada beliau. Jawaban beliau berbeda tetapi sangat istimewa, “Ya ok. Silahkan ikut kuliah bapak bahkan. Besok jam 9 Bapak ngajarnya.”

Ya, Doktor Public Health dari UI ini merupakan dosen pakar yang diundang untuk mengajar di S3 Kesmas UNAND. Lalu apa yang bisa dibilang oleh seorang mahasiswa yang belum lulus S1 ini saat diajak masuk dalam kuliah pakar S3? Selain duduk diam, menyimak, mendengar dengan baik, dan tersentak!

Tersentak! 

Di akhir sesi, beliau memperkenalkan saya.  Sebagian besar mahasiswa S3 yang mengikuti kuliah beliau adalah dosen-dosen saya, baik dosen muda maupun senior. Ada rasa yang berbeda ketika seorang Doktor dari kampus yang berbeda dengan kota yang berbeda memperkenalkan saya kepada Bapak dan Ibu yang berasal dari kampus dan kota yang sama dengan saya, bahkan sebagian besar sudah mengenal saya sebagai mahasiswanya.

“Ini anak gue,  dst….”

Tersentak!

Setelah memperkenalkan, beliau meminta saya menyampaikan harapan mahasiswa, tentu saja dalam kacamata sebagai mahasiswa. Lancar betul kalimat yang muncul dari suara saya, sampai-sampai saya sendiri tidak sempat mendengarnya. Hmm. Ya, lancar sekali kalimat itu dengan tekanan-tekanan di beberapa kata yang lahir dari peperangan kata pikir dan kata batin. I must show the real condition, madam. Sir, I’ve talked about a fact. Saya mengakhiri kalimat lancar tadi dengan aneka ragam keluhan yang diramu menjadi sebuah rangkaian harapan. Dan saya gagal mengemasnya menjadi harapan, kalimat lancar itu masih terdengar berupa keluhan.

Di dalam ruangan itu ada dosen-dosen saya, ada kepala dinas, ada kepala puskesmas, ada direktur rumah sakit. Di dalam ruangan itu ada calon-calon Doktor bidang kesehatan masyarakat. “….sehingga nantinya negara bisa memfungsikan kami dengan baik.” Demikian sepenggal kalimat terakhir.

Saya tercekat di akhir kalimat, jika para hadirin tersebut tahu, betapa bergemuruhnya hati saya saat menyampaikan itu. Sama sekali tidak ada maksud mengeluhkan beberapa pihak atau beberapa sisi. Tetapi mencoba menyampaikan beginilah kami anak-anakmu saat ini dalam pola pikir pendek mereka memandang sisi-sisi itu, anak-anakmu yang seperti gunung es, yang tampak puncaknya saja tetapi di bawah garis lautan mereka menumpuk-numpuk menyebar “mosi tidak percaya” pada sistem pendidikan mereka.

Tersentak!

Saya mengakhiri kalimat dengan suara gemetar. Gemetar sekali rasanya. Baru kali ini saya merasakan berbicara lantang, yang kemudian terkesan tidak santun, kepada Bapak dan Ibu dosen saya yang saya hormati. Saya akui, pada saat berbicara saya membayangkan di dalam ruangan itu ada ribuan mahasiswa di belakang yang menyaksikan tajam dengan nametag bertuliskan “peserta didik”, sehingga saya lebih terkuasai untuk menyampaikan kondisi based on fact dan pemikiran real yang pendek dari peserta didik selama ini. Namun kemudian saya terkesan sedang orasi dalam sebuah demonstrasi.😦

Kemudian ruangan hening di akhir kalimat saya. Lalu Doktor memecah dengan tepuk tangan diiringi yang lainnya. Doktor meminta neberapa calon doktor menanggapi “harapan” tadi. Saya duduk dan tiba-tiba ruangan seakan membeku, menyeramkan.

Ada yang salah!!!

Apa yang salah? Bahasa komunikasi saya, idealisme saya, gelora muda saya, dan KEANGKUHAN!!! Ada yang salah dengan ETIKA saya. Tidak mungkin, tidak mungkin seorang mahasiswa yang bahkan belum lulus S1 berani bicara demikian kepada para calon Doktor.

“Saya kaget mendengar nilna bicara begitu,” ujar seorang ibu saya.

“Saya kecewa, kecewa sekali nilna berbicara begitu di hadapan kami,” ujar seorang ibu saya yang lainnya.

“Kami sudah berusaha, Nilna tidak bisa underestimate seperti itu,” ujar seorang ibu yang lainnya.

Saya seperti diserang, tetapi kemudian saya sadar. Saya patut diserang. Ini bukan tentang apa isi yang saya sampaikan tetapi tentang bagaimana cara saya menyampaikannya. Ada yang salah dengan etika saya. Saya tidak berbicara dengan bahasa komunikasi yang benar. Sehingga apa yang disampaikan oleh comunicator tidak sampai kepada comunican, karena proses komunikasi yang tidak benar.

DAN INILAH YANG TERJADI DI HAMPIR SELURUH GERAKAN MAHASISWA SAAT INI!!!

Dengan kondisi negri yang demokratis ini, mahasiswa seakan kehilangan jati dirinya sebagai golongan yang santun dan etika yang luhur. Mahasiswa terlalu terbuai dengan keangkuhan jaket almamaternya, terlalu terbuai dengan label mahasiswanya, terlalu bergelora semangat muda nya, tetapi kehilangan intelektualitas afektif nya. Mahasiswa terlalu merasa telah benar memperjuangkan rakyat (ke bawah), tetapi ada yang lupa. Sudahkah kita juga benar dalam proses advokasi kita ke atas? Tanpa etika yang benar, tanpa cara komunikasi yang benar, tanpa kesantunan yang benar, mahasiswa belum akan mampu benar-benar menjadi iron stock, agent of change, social control, dan moral force.

Tersentak!

Betapa kemudian saya menyadari, apa yang mahasiswa keluhkan tidak sebanding dengan apa yang telah orangtua kita usahakan. Para orangtua kita sedang berproses menggodok kondisi yang ideal, sedang berproses untuk terus belajar dan belajar demi asupan pada anak didiknya, sedang ngos-ngosan memburu dan mengejar untuk terus melakukan riset demi riset dan mengembangkan metode-metode analysis untuk kondisi ideal tadi sehingga pemikiran-pemikiran tersebut tertuang dalam sebuah pemecahan masalah yang dapat menjadi pertimbangan dalam pengambilan kebijakan. Kebijakan yang untuk siapa lagi, jika bukan untuk anak didiknya bagi para akademisi dan untuk masyarakatnya bagi para SKPD.

Dari kuliah pakar S3 ini saya menemukan sendiri sebuah pemahaman yang menguatkan pola pikir sebelumnya. Bahwa secapek-capeknya mahasiswa mengeluh, para penentu (kita sebut orangtua kita). Bahwa secapek-capeknya mahasiswa mengeluh, lebih capek lagi para orangtua kita mendengarnya. Bahwa seprotes-protesnya kita, lebih layak lagi para orangtua untuk protes kepada kita-kia yang masih mahasiswa ini karena cuma bisa ngomong tanpa real action. Bahwa sekecewa-kecewanya kita, lebih kecewa lagi para orangtua ketika kita justru tak bisa belajar dengan benar.

Jadi,

“Sebesar apapun dan seberat apapun rintangan dan tantangan ke depan adik-adikku, kalian tak boleh sekalipun jadi generasi SDM (Selamatkan Diri Masing-masing). Tentu kita resah ketika dianggap “anak kemarin sore yang berharap jadi jagoan”. Tapi tugas kita lah menunjukkan bahwa kita inilah generasi-generasi dengan usia setahun jagung dengan darah setampuk pinang yang ingin belajar, belajar, dan terus belajar, sehingga mampu menjadi generasi tangguh, agen perubahan, pengontrol sosial, dan penegak moral yang menjadi cikal bakal generasi berlian di masa mendatang. Dan semua proses itu harus dilalui dengan tawadhu’.

Ingat dek, kamu masih mahasiswa. Usiamu, pendidikanmu, pengalamanmu tak ada yang bisa kau sombongkan. Tetapi kejernihan dan ketulusanmu menjadi poin plus dalam setiap gerakan-gerakan kemahasiswaan Jika justru tak jernih dan tak tulus, jangan pernah bangga dengan almamater lusuhmu! (bangga saja tak boleh, apalagi angkuh!)”

So Now, adek-adekku. Apa action mu? Sudah tidak zamannya lagi pakai ilmu serigala yang main terkam sana sini, lalu kena racun karena sembarang terkam. Ayo, saatnya membuka komunikasi, dengan cara yang baik-baik, mendengar yang baik-baik, melihat yang baik-baik, berbicara dengan cara yang baik-baik. Ingat rumus komunikasi, pesan yang “dewa” dari comunicator sekalipun tidak akan sampai kepada comunican jika telah rusak/hancur pada proses komunikasinya.

Bagaimana cara agar proses tidak rusak/hancur? Berhenti mengeluh! Kembangkan pola pikirmu dalam action plan, hindari judgement, dengarkan dengan baik, dan yang terakhir CERDAS.

🙂 *Melalui tulisan ini saya pun sedang belajar memperbaiki diri*

cepat lulus, nak

Tadi siang, di akhir makan siang yang merupakan jam-jam terakhir sang doktor di kota Padang sebelum ke bandara, beliau berkata, “cepat lulus, nak.” sebuah kalimat dewa yang cetar membahana badai.🙂 Dibalik harapan-harapanku (harapan kita), ada harapan beliau (harapan mereka) kepadaku (kepada kita). Terima kasih, ayahanda.

Semoga tulisan ini bisa memberi inspirasi dan manfaat pada semua pihak. (Warm Hug Nilna R. Isna)

Semoga tulisan ini bisa memberi inspirasi dan manfaat pada semua pihak.

Warm Hug, Nilna R. Isna

ps 1: Saya sengaja tidak menyebutkan nama doktor dan profesor dalam cerita ini. Keduanya adalah dua tokoh hebat yang selama ini banyak menjadi inspirasi dan memberi motivasi kepada kami para mahasiswa di berbagai kesempatan, yang tidak sekedar menyoal keilmuan tetapi juga kehidupan.
ps 2: Terima kasih juga kepada  Bapak dan Ibu calon doktor yang mengizinkan saya ikut duduk bersama di dalam ruangan tersebut dan pada makan siang tadi. Semoga ilmu yang dituangkan kepada kami selalu memberi keberkahan dan Bapak Ibu selalu dilindungiNya. Amin ya rabbal alamin.

3 thoughts on “cepat lulus, nak

  1. saya selalu ingin belajar seperti kakak,,,tapi mungkin saya terlalau dangkal dalam pemikiran dan takut dalam bertindak..terimakasih atas inspirasi dan tulisan yg memotivasi ini kak!!!

  2. Suka dengan gaya tulisannya, menurutku sangat kreatif dan tetap bisa mengalir, runut, dan mudah difahami.
    Menurutku, konteks ini sangat ke-indonesiaan karena etika komunikasi (diatas standar) yang harus dijunjung tinggi menggambarkan senioritas masih sangat kental dinegeri ini. Saya pribadi tidak melihat bahwa keluhan yang disampaikan oleh Nilna merupakan pidato sebuah keangkuhan atau menyombongkan diri, justru saya melihat bahwa itu objektifitas seorang mahasiswa/ orang biasa yang ingin atau mendambakan sebuah perbaikan dalam dunia kesehatan, at least di daerahnya.
    Fenomena ini juga dialami baru-baru ini oleh orang nomor 1 dan 2 di Jakarta, Jokowi dan Basuki. Keluh kesah pedagang, orang kecil, pegawai di Jakarta telah disampaikan dengan berbagai cara dan etika, tapi ditangan gubernur sebelumnya, keluh kesah mereka dianggap sebuah omong kosong yang dikiranya tidak melihat realitas yang ada, realitas bahwa pemerintah telah bekerja keras untuk mengatasi berbagai persoalan Jakarta, pemerintah punya prioritas penyeleseian permasalahan jakarta, dan pemerintah hanya berlalu sambil berseloroh “emangnya dia tahu apa gimana sulitnya?”.
    Cerita Jakarta berbeda kemudian ditangan Jokowi dan Basuki, dimana keluh kesah setiap warganya adalah prioritas yang masuk dalam list penyelesaian. Bahkan pemerintah DKI bersyukur karena warga ikut membantu memberikan masukan dan pantauan terhadap apa yang tengah mereka kerjakan. Kemudian kerja keras DKI menjadi mudah dan tentunya senang karena diapresiasi oleh warga yang dipimpinnya. Tidak sedikit dukungan yang datang kepada mereka sebagai bentuk apresiasi kesungguhannya memimpin DKI. Misalnya jaringan diaspora indonesia di luar negeri baru kemarin melakukan teleconference dg pak wagub untuk membantu mengatasi banjir. Ada juga komunitas pecinta pejabat jujur datang ke Balai kota untuk memberikan pin “kami cinta pejabat jujur” kepada pak wagub sebagai apresiasi. Dan saya kira masih banyak lagi.
    Pada intinya, saya ingin mendukung apa yang sudah dilakukan Nilna dihadapan para dokter dan calon dokter itu sebagai bentuk aspirasi dari seorang Nilna. Saya kira itu tidak salah. Dan saya berharap, ketika Nilna nanti jadi senior atau sudah menjadi dokter, Nilna akan lebih bisa menghargai orang-orang seperti Nilna yang dengan lantang dan bersemangat ingin sebuah perbaikan. Sudah saatnya kita tidak lagi mengenal senioritas. Nabi bahkan pernah bilang “lihatlah apa ucapannya, jangan lihat siapa yang mengucapkannya”. Jika memang itu baik, maka sebagai orang lebih dewasa kita sebaiknya mengakui kebaikan itu.
    Demikian, semoga berkenan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s