Perjalanan (1)

“Seketika tersenyum simpel membaca postingan Arif Zailani Siregar dalam judul tulisan jangan lupa untuk berjuang. Seketika berflashback pada yang telah dan acap terjadi pada diri. Seketika mengenang cerita kawan-kawan tentang PERJALANAN. Seketika juga teringat tweet seorang adik, entah berhubungan entah tidak, tapi senyum yang sama muncul seperti senyum-senyum sebelumnya. Ia menulis, “Terus kerjanya itu jalan-jalan. coba berfikir satu hal yg lebih jauh berimbang dari semua itu. Kebudayaan organisasinya begitu.” Semoga tweet tersebut tidak ada hubungannya dengan mosi negatif yang ia tuliskan. Tapi yang jelas keduanya menulis tentang perjalanan (atau jalan-jalan) yang membuat saya menuliskan tulisan ini.”

Perjalanan pertama, Agustus 2009, Padang-Jakarta. Saya yang saat itu sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa PSIKM KM FK UNAND (biar jelas, saya panjangkan : Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Keluarga Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.. *hehe, hati-hati ambil jeda nafas* . Sekarang sudah menjadi BEM KM FKM UNAND, seiring perubahan status Prodi menjadi Fakultas). Hmm, kepanjangan. Saya ulang…

Perjalanan pertama, Agustus 2009, Padang-Jakarta. Saya yang saat itu sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Kesmas UNAND mendapatkan undangan menghadiri RAKERNAS ISMKMI (Rapat Kerja Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia) di Jakarta. Undangan yang membuat saya dan rekan-rekan pengurus HIMA lainnya jingkrak-jingkrak. Undangan itu kami anggap sebagai anugrah yang baik di kepengurusan ini karena sudah diajaknya kampus kecil kami dalam organisasi sekaliber ISMKMI (meski sebelumnya telah terpapar dengan JMKI dan PAMI, namun tetap ISMKMI yang menjadi targetnya). Perjalanan pertama itu menjadi perjalanan pertama yang mengesankan sekaligus mencetak sejarah plus memulai langkah bagi UNAND dan PSIKM. Saya berangkat bertiga, bareng Icha (Sekum HIMA) dan Sevil (Bendum HIMA). Keterbatasan biaya untuk berangkat membuat kami sedikit nekat.

Ya, nekat. Sejatinya kampus menganggarkan 2juta rupiah untuk pendelegasian itu. Hitung-hitung dana tersebut hanya cukup untuk berangkat 1 orang. Tapi 1 orang tidak cukup bagi kami yang masih baru. Saya yang notabene akan berangkat pada saat itu tidak pernah naik pesawat sebelumnya (beda dengan Icha dan Sevil yang sudah beberapa kali naik pesawat). Pun ke ibukota Jakarta, terakhir saya alami kelas 5 SD bersama ibu, itupun dengan menggunakan bis Pulang Pergi. Sehingga berkat yakin, kami memutuskan berangkat bertiga sekaligus. Toh berangkat berdua juga membuat kami masih merasa ada yang kurang.

Diputuskan bahwa dana dibagi ber3. Tiket pesawat ke Jakarta sedang mahal-mahalnya, harga 600-800an ribu, untuk harga normal yang biasanya sekitar 350-450rb. Alhasil, bersusah-susahlah kami menghemat dana. Dana registrasi didahulukan. Dana tiket pulang ditangguhkan menunggu harga tiket stabil (Alhamdulillah, tiket pulangnya berkisar 400an ribu). Lalu bagaimana dengan berangkat? Kami cari akal masing-masing. Icha dan Sevil Alhamdulillah bisa ditanggulangi kedua orangtua. Sementara saya, saya meminta dukungan ke Padang Ekspres, lembaga yang selama ini menaungi dan membina saya terkait jurnalistik. Alhamdulillah Pak Wiztian Yoetri, Pemimpin Redaksi Padang Ekspres saat itu menyambut baik misi pendelegasian saya sehingga tiket berangkat ke Jakarta dibantu oleh beliau. Perbedaan cara dalam membeli tiket ini yang kemudian membuat saya terpisah pesawat dengan Icha dan Sevil.

Oke, itu perjalanan pertama, belum apa-apa sudah “punya cerita”. Perjalanan pertama saya naik pesawat, dan sendiri pula. Mengetahui berangkat sendiri ke Jakarta ini sempat membuat Ibu nekat ingin menghentikan dan membatalkan tiket saya. Ibu tentu khawatir, anaknya yang semata wayang dan perempuan ini dilepas pergi sendirian naik burung besi yang tak pernah ia alami sebelumnya. Tahukah selama di pesawat, saya tak henti berzikir, berita-berita kecelakaan pesawat menggantung-gantung di depan mata. Menyeramkan!, bagi saya.

Itu perjalanan dan pengalaman pertama. September 2009, Padang dilanda gempa. Seketika kawan-kawan di ISMKMI, yang dikenal dan mengenal saya setelah perjalanan pertama ke Jakarta itu, tak kalah panik dibanding saudara-saudara saya di pulau Jawa. Ketika sinyal normal, belasan, tidak, puluhan sms masuk ke HP saya bertanya kabar, bahkan kawan-kawan yang hanya mengenal saya melalui nama di dunia email (saat itu milist masih sangat ramai) ikut menanyakan kabar. Saya baik-baik saja, tidak ada yang patah, bahkan Alhamdulillah luka pun tak ada. Saya masih diselamatkan Allah SWT. Tapi kondisi saya adalah bagian kecil dari sebagian besar warga kota yang menjadi korban. Dukungan dan kepedulian dari teman-teman nasional yang menguatkan saya untuk bangkit dan membangkitkan Sumbar. Segera, kami membentuk kelompok kecil di Padang, sementara nasional melakukan gerakan amal. Puluhan juta rupiah dikirimkan ke rekening kami sebagai bentuk kepedulian saudara-saudara di luar Padang yang tergabung dalam ISMKMI. Puluhan juta yang mungkin masih kecil dari yang seharusnya dibutuhkan, tapi sudah begitu besar bagi kami, dan tentunya bagi korban yang menjadi target kami. Sekitar 28juta total bantuan yang ada, yang kemudian didistribusikan untuk kebutuhan pangan korban hingga H+30 gempa, dan sebagian besar digunakan untuk pemulihan dua sekolah dasar yang kami bantu perlengkapan kelas (meja, kursi, lemari) nya serta buku-buku perpustakaan.

Dari pengalaman itu, saya merasa sangat bersyukur menjadi bagian dari ISMKMI, menjadi bagian dari mahasiswa dalam lingkup nasional, meski hanya bagian yang teramat kecil. Bukan tentang seberapa besar yang mereka kumpulkan, tetapi tentang seberapa cinta dan kuatnya persaudaraan antar kota antar provinsi yang kami jalin ini.

Perjalanan-perjalanan berikutnya pun bergulir hingga sekarang, terutama saya yang kemudian dipilihkan Tuhan untuk sedikit lebih lama berjalan beriringan dengan kawan-kawan ISMKMI Nasional.

Merindukan wajah-wajah sesepuh disini diantaranya Bang Septian, Kang Asep, Mas Mabruri, Mbak Yati, Mas Mamad, Riska, Kak Dila, Bang Dhani, Deri, Bastomi, Haphap, Zela, Nisa, Ian, Nia, Ka Andi, semuanya :') Masihkah disini untuk ISMKMI? Masih! Semestinya ada yang masih!

Merindukan wajah-wajah sesepuh disini diantaranya Bang Septian, Kang Asep, Mas Mabruri, Mbak Yati, Mas Mamad, Riska, Kak Dila, Bang Dhani, Deri, Bastomi, Haphap, Zela, Nisa, Ian, Nia, Ka Andi, semuanya :’) Masihkah disini untuk ISMKMI? Masih! Semestinya ada yang masih!

One thought on “Perjalanan (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s