i am your one and only, Daddy

“Kamu ga pake bedak ya?” tanya Ayah tiba-tiba sembari sibuk mengikat per lima krat telur di depannya. Saya tergugu menjawabnya. Antara kaget dengan pertanyaan ayah serta sadar kalau saya lupa memakai bedak.

“Endak, lupa,” jawab saya kemudian.

“Kamu itu keluar-keluar, ya dandan dikit. Keras kali mukamu nampaknya,” tegur ayah.

Saya diam. Belia melanjutkan, “Ndak pakek payung pula?”

Aku meringis. “Tinggal,” kujawab singkat.

Ayah mulai mengangkat telur ke mobil pick up. Telur-telur itu jumlahnya 3.000 butir : ditatak per 30 butir dalam tiap tatakan, tiap 10 tatakan diikat dengan tali rafia berwarna merah, dan ayah menaikkan 10 ikat tatakan itu ke atas mobil pick up, untuk diantar ke salah satu toko grosir pelanggan ayah. Kali ini adalah jumlah minimal yang dikirimkan kepada pelanggan. Bukan, bukan pelanggan yang meminta sedikit. Tapi sang pelanggan yang meminta mendadak, sehingga Ayah hanya sanggup mensortir 3.000 butir telur saja untuk di stock hari ini.

“Besok ditambah. Ini buru-buru,” ucap ayah menjawab tanyaku, setelah obrolan singkat tentang bedak tadi.

Aku memperhatikan ayah. Usia beliau 60 tahun. Ia mengangkat setiap ikat telur yang kira-kira beratnya mencapai 21 kg. Ayah melarangku melakukan tindakan bantuan. “Hanya akan terjadi dua hal,” sebut ayah kala itu, “pertama kepalamu yang pecah karena kau terjatuh, kedua telur-telur itu yang pecah,” begitu alasan ayah.

Selesai. Ayah menuntaskan mengangkat semuanya ke bak pick up. Sebelum berangkat, ayah menunjukkan harga setiap kelompok telur. Ya, setiap hari harus selalu update harga dari ayah sesuai hasil sortiran ayah. Aku mengangguk memahami. Dan ayah berangkat menggunakan mobil pick up nya.

Selepas ayah berangkat, ada yang mengganjal dalam pikiranku. Ayah lelaki, usianya 60 tahun, dan ia menggunakan topi. Sementara saya perempuan, berusia 23 tahun, jangankan SPF atau SunBlock, bedak pun bisa-bisanya lupa, dan payung malah ketinggalan. Ini tidak sekali ini saja, terlalu sering saya lupa membawa payung di kala cuaca terik ataupun mendung.

Dan well, jarang sekali ayah memperhatikan saya. Sekalinya perhatian, yang diprotes justru saya yang tidak dandan.😀 Saya ingat saat pesta pernikahan saudara ketika di Dumai dulu, saat saya memasrahkan muka kepada tante yang suka merias. Ayah sempat pangling dan bilang, “Cantik kamu kalau dandan gini, nak.” Saya cuma miris sama wajah sendiri yang menurut saya, “This is me, a “menor” one in this day”😀😀😀

Sudah 10 menit ayah pergi, semenjak saya menulis tulisan ini. Hari ini sendirian di warung. Ibu ke beberapa dinas untuk mengurus pensiunnya dan ayah di mengantarkan telur. Saya mengalah untuk tidak ke kampus hari ini, surat untuk penelitian masih bisa diambil besok. Tapi teguran ayah tadi soal “dandan” masih terngiang-ngiang.
Aah, ayah… Ciyus? Miapah?

Oke, lupakan bahasa alay barusan. Selama ini, ayah dan ibu selalu punya cara berbeda setiap kali saya membawa teman ke rumah. Jika lelaki, maka ibu sangat welcome dan ayah agak dingin. Jika perempuan, maka ayah welcome dan ibu masih welcome.😀 Kecuali untuk beberapa teman yang sering ke rumah dan ayah bisa melihat gelagat bahwa dia or mereka hanya seorang teman, saya sama sekali tak tertarik kepada mereka-mereka itu, apalagi tertarik untuk berpacaran. Ayah bisa menilainya hanya dari cara saya berbicara kepada yang bersangkutan. Meski terkadang saya agak risih juga ketika beberapa kali dugaan ayah salah.

*

Ayah adalah sosok yang sukses membuat hubungan kasih saya dengan seseorang berantakan. Ayah dan ibu kompak tidak setuju kepada sosok itu. Meski hingga saat ini keduanya hanya kenal nama, tak pernah sekalipun bertemu ataupun sekedar melihat photonya saja. Tapi ayah sudah pernah menelpon “dia” untuk berkata, “Kalau Nilna masih menghubungimu, katakan kepada saya.” Guys, ayah tidak meminta seseorang itu untuk berhenti menghubungiku tetapi justru kebalikannya ayah meminta aku untuk berhenti menghubunginya dan bersekongkol dengan “si dia” agar dia menjadi pelapor setiap kali aku berusaha menghubunginya. Rasanya justru dia yang jadi anak ayah. Meski hingga sekarang “dia” pun juga tak cukup berani  (atau tak cukup tega) untuk melapor kepada ayah bila saya kembali minta balik. (Ya, saya yang minta balik. Betapa menyedihkannya saya yang seorang perempuan, pihak saya yang tidak merestui, dan saya yang justru minta balik, serta tak pernah balikan lagi hingga sekarang! How poor are u, buddy…)

Ayah juga tidak menyetujui saya pacaran sejak dari dahulu kala. Ayah dan ibu kompak. Ketika saya di MTsN, seseorang “menginginkan” saya, ibu mengetahuinya, sebelum saya keburu ditodong dengan pertanyaan, “Maukah kamu jadi pacar saya?” Ibu telah sejak awal mewanti-wanti. Kamu baru boleh pacaran ketika SMA. Alhasil, kejadianlah hal yang sudah diduga. Saya ditodong dengan pantun cinta, dan saya menolaknya. Dia yang merupakan kakak kelas saya lari ke toilet mesjid setelah saya tolak, diikuti tim suksesnya. Lama, lalu ia keluar bak raja diikuti prajurit-prajuritnya. Saya cuma bilang, “Maaf bang” dan dia bilang “tidak apa-apa, manis.” Kalau saya tak salah, saya sempat antara mau melambung dengan mau muntah dengan pernyataan demikian. Next, ketika SMA, seseorang dari jauh menembak saya, saya terpaksa menolak. Ayah bilang tunggu dulu, kalau udah kuliah, ibu pun setuju. Lagi ketika SMA ada lagi yang “menawar” dan saya menolak lagi hanya satu alasan “Belum boleh pacaran”.

U know how, ketika kuliah saya ditanyakan kembali oleh dua orang yang pernah “melamar” saya menjadi pacarnya. Dan entah kenapa, saya tolak lagi. Pertama, saya sudah punya pilihan. Kedua, ibu bilang nanti saja pacarannya kalau sudah menjelang wisuda. #Gedubraakkk.

Akhirnya saya pacaran kucing-kucingan, backstreet kalau orang dulu bilang, dengan pilihan yang saya sebut tadi. Lalu saya putus 18 hari setelahnya -_- Pacaran pertama yang umurnya minimalis. Hahaha. Setelah putus saya trauma luar biasa, hingga menemukan kembali “yang bisa dipilih” 3 tahun setelahnya. Sukses 1,5 bulan, dan gagal kemudian di hari ulang tahun ayah. Ya, ayah tidak setuju dengan sang pacar diikuti ibu. Saya dan sang pacar malam itu mempersiapkan hadiah untuk ulang tahun ayah dan hadiahnya adalah KITA PUTUS! wew! (Tapi kita berdua telah berjanji untuk tetap saling menjaga hati dan membiarkan Tuhan untuk mempertemukan kita berdua kembali. So, romantic! Namun 3 hari kemudian, dia berkhianat, yang baru saya ketahui “pengkhianatan” itu 4 bulan sesudahnya. So, dramatic!)

Ketika hari ulang tahun ayah itulah, ayah mendeklarasikan syarat-syaratnya :

1. Usianya minimal 2 tahun diatas saya, paling ideal jika 5 tahun atau lebih di atas saya

2.  Pekerjaan PNS/BUMN, yang penting bukan swasta

3. Harus orang minang (well, ini request dari ibu)

4. Saya boleh menikah kalau sudah lulus S2

So, bertambah ambruk lah sang mantan pacar kala itu. Semua syarat mendasar dari ayah tidak bisa ia penuhi. Ciaan…

*

Tapi kali ini, saya sedikit lebih bersyukur. Semestinya saya tak pernah pacaran. Saya cukup iri pada mereka yang tidak pernah sekalipun pacaran. Pengalaman pacar-pacaran dengan usia 18 hari dan 1,5 bulan itu menyebalkan. Mending gag usah aja sekalian! Betapa murninya mereka yang mampu menjaga diri dengan tak melakukan pacaran.  Untuk hal yang satu ini, bagi perempuan-perempuan yang tidak mensedekahkan cinta begitu saja, saya patut angkat dua jempol. U are a great girl, and ur future boy are the lucky man. Tapi bukan berarti juga saya membenci mereka yang telah bertahun-tahun pacaran dan mungkin kini sedang mempersiapkan pernikahan. Itu pilihanmu, teman.

Dan pilihanku, adalah pilihan ayah, semestinya aku tak pernah pacaran. -_-

Ayahlah yang tidak begitu cerewet seperti ibu menyoal pacaran, tapi selalu tegas untuk mematahkan semua orang yang “menginginkan” saya dan yang saya “inginkan” di waktu yang belum tepat.

*

Oh ya, soal syarat, tampaknya itu tak berlaku lagi.😉 Syarat-syarat itu hanya dalam rangka melarang saya ketika itu. Karena ayah tahu, jodoh saya bukanlah pekerjaan tangannya, melainkan sebuah keterampilan Tuhan.

– i am your one and only, Daddy –

One thought on “i am your one and only, Daddy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s