a special day in the right time

Menjadi sarjana, untuk siapapun yang saat ini berstatus mahasiswa, tentulah menjadi sebuah tujuan. Sebagaimana para pelari yang melihat garis finish, seperti itulah mahasiswa yang memandang sebuah toga. Sebuah kemutlakan atas proses yang disebut perkuliahan. Seperti beras menjadi nasi, begitulah mahasiswa menjadi sarjana. -asalkan nasi tidak menjadi bubur dan sarjana tidak menganggur 🙂 Hey, menganggur bukan perbuatan kriminal kawan, hanya saja sedikit menyengsarakan. Okay, focused!

Ya, yang kita bicarakan saat ini adalah tentang mahasiswa-sarjana, nanti dulu lah membahas mahasiswa-magister or mahasiswa-doktor. Saya belum sampai menjadi pelakunya. Tapi mahasiswa-sarjana, saya telah menjadi pelakunya, atau mungkin tersangka, atau korban, atau justru pahlawan?😉

Tanya 1 : Kenapa belum wisuda?

Kegiatan perkuliahan telah saya tinggalkan sejak April 2011, sesaat setelah ujian magang dilaksanakan. Setelah itu saya tak lagi mengecap bangku kuliah. Bukan, saya tak sedang putus kuliah, juga bukan telah di Drop Out dari kampus. Tapi saya sedang berada dalam dua kata yang selalu saya gunakan untuk menjawab pertanyaan : ‘menunda wisuda’.

148 SKS telah terlewat dengan nilai yang Alhamdulillah, KKN (Kuliah Kerja Nyata) telah berlalu, PBL (Pengalaman Belajar Lapangan) telah tuntas, dan Magang telah selesai. Praktis setelah ujian magang digelar dan nilai sudah di tangan, saya leyeh-leyehan. Beberapa teman masih mengikuti mata kuliah yang diulang, saya free se free-freenya. Teman-teman seangkatan masih sibuk membuat tugas kuliah, diskusi makalah kelompok, menghapal diktat, dan lalu ujian. Saya justru anteng-antengan. Ya, apa boleh buat, tak ada mata kuliah yang harus saya ulang, pun kalau diulang saya bisa dijitak anak-anak, dianggap tak bersyukur, tak puas nilai, dan seterusnya, dan seterusnya. Maka untuk urusan kuliah, semenjak April 2011 hingga Oktober 2012 (1 tahun 6 bulan a.ka 3 semester a.ka 1,5 tahun) aktivitas akademik saya adalah menunggu wisuda (menyicil skripsi) hingga Februari 2013 nanti. Wisuda saya akan berlangsung setelah itu.

Tanya 2 : Kenapa mau menunda wisuda?

Adalah pertanyaan yang kerap muncul di angkot-angkot, di telepon, di chat Facebook, di warung, di seminar, dimana-mana, setiap saya menemui teman lama atau keluarga jauh atau tetangga lama atau kenalan baru, dan atau adik-adik mahasiswa baru yang iseng pedekate sama saya. Biasanya saya menjawab lebih singkat : pilihan.

Nah disinilah saya ingin membongkar semua ceritanya sedetail-detailnya. Semoga suka \^.^/. Let me tell you about my process… :

Kehidupan kampus adalah hal yang selama ini saya nanti-nantikan. Menggunakan almamater, menerikkan ‘Hidup Mahasiswa!’, pergi kuliah menggunakan baju bebas, pindah-pindah kelas, dan pulang hingga larut malam dengan berbagai aktivitas kehidupan kampus terlihat sebagai sesuatu yang “KEREN”.  Pertama kali menginjakkan kaki sebagai mahasiswa saya menjadi sangat antusias terhadap kepanitiaan yang di OpRec . Meskipun akhirnya dalam setiap kepanitiaan, saya sering kebagian Seksi Publikasi Dokumentasi atau Seksi Humas. 😀 Beragam tingkat kepanitiaan dijelajah, di dalam kampus ataupun luar kampus.

Hingga secara mengagetkan di semester 4 saya mencalonkan diri sebagai Ketua HIMA Prodi Kesmas (sekarang BEM FKM) lalu terpilih dengan menang selisih tiga suara,  tak kalah mengagetkan di semester 6 saya mengajukan diri sebagai calon Koordinator Wilayah 1 (Sumatera) Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI) lalu terpilih dengan menang selisih satu suara, yang lebih mengagetkan saya menampilkan diri sebagai calon Sekretaris Jenderal ISMKMI (pelaksana harian tertinggi untuk seluruh BEM FKM/HMJ Kesmas seluruh Indonesia anggota ISMKMI) lalu terpilih dengan menang telak. #Gubrak!

All of  it surprised me!

Semuanya mengagetkan saya. Ya, saya sering terkaget-kaget dengan keputusan saya sendiri. Begitu cara saya berkata-kata kepada yang bertanya lebih mendalam. Dengan rangkaian kalimat itu saya menunjukkan bahwa semua ini lahir dari keputusan akan PILIHAN, bukan sekedar kaget dengan apa yang tiba-tiba menimpa saya atau dengan apa yang tiba-tiba mengangkat saya.

#1

Saya memilih berkata ‘bersedia’ ketika kawan-kawan seangkatan meminta setengah memaksa agar saya mencalonkan diri sebagai ketua HIMA. Sungguh sebenarnya saya sudah punya pilihan lain untuk siapa yang selayaknya menjadi ketua HIMA. Sayangnya yang saya harapkan tak mau tahu tak mau peduli, apalagi mencalonkan diri untuk mengangkat jurusan saya yang saat itu baru berdiri :(  I think, he is a perfect one to be a leader . Hmm, saya tidak tahu apakah ini menyangkut hubungan kami. Ketika masih berstatus *ehem, censored* saya begitu giat menjadi tim sukses utama pencalonannya. Sayangnya, perahu retak di tengah pelayaran. Saya dan dia menjadi dua orang yang berlain arah. Ah, malah curhat! Berlain arah,  saya berada pada arah HIMA dan ia entah sengaja atau tidak malah memilih sebaiknya.  Akhirnya? Justru saya yang mengambil alih sendiri harapan tersebut. Yang Insya Allah, harapan yang membawa berkah🙂.

1 tahun berlalu, HIMA berjalan dengan kebaikan, semilir harmoni kepengurusan yang menyejukkan, irama kegiatan yang mengalun merdu, sedikit riak-riak kecil memperindah pesisir pantai, gelombang ombak yang tidak menakutkan bahkan mengejar dikejar. Kawan, kita tidak sedang bermain di pantai kan?

#2

Saya memilih berkata ‘oke’ saat kawan-kawan di UNAND mendorong agar saya mencalonkan diri sebagai Korwil 1 ISMKMI. Well, pada saat bersamaan saya berstatus sebagai finalis Best Student Award Universitas. Malang bagi saya karena jadwal Muswil untuk pemilihan Korwil di Aceh justru tepat bersamaan dengan jadwal Grand Final Best Student Award di Padang. Adalah sebuah keputusan yang membuat kepala bekerja keras saat menentukan stay at Padang untuk Grand Final or flight to Aceh untuk Muswil ISMKMI. Akhirnya saya memilih Muswil dengan alasan : jika ke Grand Final saya berbuat untuk kepentingan saya sendiri, jika ke Muswil saya berbuat untuk kepentingan UNAND. U know that, Alhamdulillah saya terpilih sebagai Korwil setelah melalui kampanye visi misi yang cukup menarik (cukup sengit,-red), dan Alhamdulillah pula pada saat yang bersamaan saya ditelpon oleh Panitia yang menyatakan bahwa saya menjadi pemenang Kategori Best Achievement dalam Best Students Award. | Wait, saya tidak hadir kompetisi Grand Final nya! | ‘Kptsn dewan juri tdk dpt diganggu gugat’ <– ketikan ini yang saya terima via SMS.  Keluarga di Padang buncah dengan teriakan ketika saya memberi kabar terpilih sebagai korwil dan menang best student universitas.🙂

1 tahun berlalu, saya mengenal banyak, mengetahui banyak, mempelajari banyak. Banyak hal tentang kepemimpinan, tentang organisasi nasional, tentang ragam karakter budaya, tentang kesehatan masyarakat. Kaget? Ya kaget, saya tidak pernah bermimpi menjadi ketua apalagi mengepalai sumatra. Belajar sendiri? Yup, sangat otodidak. Saat itu wilayah 1 baru memulai kiprahnya. Kami memulai segalanya dari awal, dari nol, Pasti Pas! Dengan harus kami katakan, Korwil periode 2010/2011 itulah Korwil pertama untuk wilayah 1. Kami kemudian belajar dari wilayah lain, dari wilayah kawan-kawan di pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi (wilayah 2, 3 dan 4)  yang telah maju sebelumnya. Alhasil, atas dukungan senior-senior dari BEM/HIMA yang ada di wilayah 1, kami berhasil. LPJ Korwil 2010/2011 diterima tanpa syarat. Hoooreeeeee!!! Segenap pengurus wilayah 1 bersalam-salaman gembira heboh hingga presidium sidang mengetuk palunya meminta tenang. 

#3

Saya memilih berkata “Ya” ketika presidium sidang saat itu (Munas ISMKMI 2011 di Makassar) bertanya ‘Apakah anda bersedia menunda wisuda hingga akhir masa jabatan?’. Sontak peserta rapat menjadi riuh, tepuk tangan, beberapa standing applause. Tapi tahukah apa yang terjadi pada saya? Lemes. Tinggal 2 mata kuliah : magang dan skripsi yang saya prediksi akan berjalan dalam 2 bulan saja, setelah itu saya graduated. Namun demi keputusan yang sudah matang ini,  kehadiran sang graduated yang diharapkan datang dalam 2 bulan, ditunda menjadi datang hingga 2 tahun ke depan. Dengan alasan yang mirip pada alasan di #2 : Saya memilih menunggu 2 tahun daripada menunggu 2 bulan dengan pertimbangan, jika menunggu 2 tahun saya masih punya banyak waktu untuk benar-benar menjadi mahasiswa dalam fungsi yang sesungguhnya guna mendalami kesehatan masyarakat dalam defenisi yang sesungguhnya, jika menunggu 2 bulan saya hanya punya waktu untuk sibuk magang, skripsi, lalu pilih-pilih kebaya buat wisuda.

1,5 tahun berlalu. Dengan sadar saya katakan saya belum mampu berbuat apa-apa, belum mencapai target yang dikejar, belum! Banyak sudah yang dilakukan, banyak sudah yang dikejar, tapi belum, belum sampai pada titik perfect yang diharapkan. Tapi ada satu hal kebahagiaan batin yang terus menerus menyala, bahwa saya mampu mengemban amanah itu, sanggup menjalankan kepercayaan, dan saya bertahan untuk “pura-pura lupa” dengan skripsi.😀

Dari semua keberhasilan yang tidak berhasil di mata subjektif atas persepsi negatif orang-orang, saya telah berhasil untuk satu hal : menunda kelulusan. Menahan diri untuk mengabaikan penelitian, meski dada saya sesak sungguh saat keluarga besar sudah menyindir-nyindir ganas. Menahan diri untuk tunggu dulu dalam menulis skripsi, meski hati sering iba ketika satu per satu ‘teman seperjuangan ospek’ menyorakkan gelar sarjana. Menahan diri untuk tidak segera sidang, meski mungkin boleh saja sidang duluan asal yudisium belakangan. Tapi saya tak sanggup melakukannya. Saya hanya ingin  menghargai keputusan yang saya pilihkan untuk diri sendiri dan menjaga amanah yang diputuskan oleh forum sidang, oleh kepercayaan teman-teman yang memilih saya sesuai kesepakatan musyawaraf mufakat tanpa voting yang artinya saya dipercaya oleh semua. Dengan begini, akankah kau mengkhianatinya hanya karena tak ingin masa studi di ijazahmu lebih dari angka 4 tahun?

Dengan begini, akankah kau mengkhianatinya hanya karena tak ingin masa studi di ijazahmu lebih dari angka 4 tahun? Pertanyaan inilah yang selalu ingin saya lontarkan kepada semua yang bertanya ‘mengapa’ saya jawab ‘menunda’ dan mereka berkomentar tidak nyaman di pendengaran bahwa saya terlalu idealis atau saya terlalu polos atau saya terlalu bodoh. *whatever

Saya pernah berada di sebuah sudut yang segala sisinya ditutup, semua suara bersepakat, bersahut-sahutan membicarakan betapa ruginya saya. Dalam forum itu, saya tercekat, yang menyerang adalah yang dalam adat budaya harus saya patuhi, tak boleh disela. Awalnya saya cukup tak ambil pusing, tapi ternyata pusing yang mengambil saya. Hingga akhirnya saya mengeluarkan tiga kata : ‘Demi, Menjaga, Amanah’. Forum diam, saya tahu masih banyak yang tak sepakat dengan selaan tak sopan dari saya itu, tapi kali ini bukan giliran saya untuk tercekat.

Kembali ke paragraf pertama

Menjadi sarjana, untuk siapapun yang saat ini berstatus mahasiswa, tentulah menjadi sebuah tujuan. Sebagaimana para pelari yang melihat garis finish, seperti itulah mahasiswa yang memandang sebuah toga. Sebuah kemutlakan atas proses yang disebut perkuliahan. Seperti beras menjadi nasi, begitulah mahasiswa menjadi sarjana.

Saya juga akan menjadi sarjana,memang tidak tepat waktu, tapi di waktu yang tepat : a special day in the right time!

Semoga tulisan ini bisa menjawab atas semua pertanyaan yang muncul tentang : ‘Kenapa belum wisuda?’ dan ‘Kenapa mau menunda wisuda?’.

PhotoMoment : Mas Ian Kuswendy (FKM UNAIR 2008) didampingi arek POKJA usai sidang skripsi dan dinyatakan lulus sebagai Sarjana Kesehatan Masyarakat.🙂 Ooh guys, jangan protes atas penempatan foto ini, memang rada ndak nyambung foto dan postingannya. But, if this post about a special day, he has been a special one. I used to love him. Used to!

Well, saya tidak mencoba mempersuasivekan melalui tulisan ini untuk ramai-ramai terlambat wisuda. Ada perbedaan mendasar antara terlambat wisuda dengan menunda wisuda. Kalau terlambat wisuda alasannya lalai, pembimbing ganas, nilai ada yang belum tuntas, dll. Tapi kalau menunda wisuda, saya yakin alasannya tak jauh-jauh dari : tri dharma perguruan tinggi.

Guys, aktivis mahasiswa bukan bertujuan untuk menjadi mahasiswa abadi, tapi bertujuan untuk menjadi mahasiswa mengabdi.

3 thoughts on “a special day in the right time

  1. keep fighting nilna !
    memang untuk menuju sesuatu yg lbh besar butuh pengorbanan yang besar juga tapi hasilnya lbh menakjubkan dr yg qta byangkan🙂

    bogoshipeoyo.. (i miss uuu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s