Negara KTP

Well, ini bukan negara seperti tulisannya, ini hanya sekedar singkatan untuk KTP. Bukan Kartu Tanpa Penduduk, maksudnya. Tapi ya, sebuah negara!😀

Komplek Talago Permai

Komplek yang saya lihat perkembangannya mulai dari lahan “pucuk ubi” ini yang sekarang jadi lahan komplek dengan jumlah rumah kurang lebih 100 rumah. Pembangunannya dimulai tahun 1996, namun sempat tersendat pada saat “musim paceklik 1998”. Dahulunya, saya bertempat tinggal di Rumah Pak RW sekarang, zaman-zaman masih SD, dan merasakan sekali perpindahan jalan akses dari rumah ke jalan raya (sebelumnya jalan yang harus ditempuh berliku-liku melewati sawah-sawah dan dapur-dapur rumah orang. Itu rute yang harus saya tempuh setiap pagi hanya untuk mencapai akses jalan raya). Lalu seorang developer datang, membawa perubahan, membangun perumahan, yang kemudian dinamai Komplek Talago Permai. Ayah yang saat itu tinggal di lingkungan rumah orangtua (rumah Mumut lama, bagi yang tahu,-red), memutuskan untuk membeli salah satu rumah yang ditawarkan developer ini.

Hingga akhirnya, kelas 3 MTsN (setara kelas 3 SMP) sekitar tahun 2003, saya pindah ke rumah baru.😀 Whuuaaah. (Sebelumnya, selama 4 tahun ayah dan ibu tinggal di sebuah pondok di taman KTP -rumah tante Nella sekarang- yang pondoknya berdinding langsung dengan Pos Ronda. Namun saya diminta Pak RW tetap tinggal sementara bersama beliau, lagipula di pondok hanya ada 1 kamar. Meski digunakan 4 tahun sebagai rumah, kami masih tetap menamainya pondok. Karena orang-orang komplek pun lekat dengan nama pondok🙂 )

Skip. Kita langsung ke tahun 2004. Saat pemerintah kota Padang memberlakukan sistem Pesantren Ramadhan. Saya sudah kelas 1 SMA. Dari sinilah awal mula Negara KTP lahir. Kami yang saat itu, generasi-generasi kelahiran 1987-1993 yang masih AbeGe-AbeGe canggih memulai karier dengan menjadi Panitia 17 Agustus.

Setelah itu berkarier sebagai Panitia Lomba Baca Puisi, terus Panitia Lomba MTQ, dan seterusnya dan seterusnya. Kami mengucapkan terima kasih kepada Om Yal (Anggota DPRD Sumbar sekarang) sebagai Ketua Pemuda saat itu, Om Daniel (Ketua DPRD Sumbar sekarang) sebagai ketua RT saat itu. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Pak Ucok (mantan Wakil Bupati Pesisir Selatan) yang juga pernah menjabat sebagai ketua RT saat kami berkarir. Terima kasih juga kepada Bapak Erwin Naro yang saat itu sebagai Ketua Pengurus Mesjid. Ibuk-ibuk komplek yang senantiasa enerjik. Dan tentunya anak-anak komplek yang hot-hot ceria hip-hip hura ini. Asiik Asiik. Kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugrahnNya yang tiada tara yang menyelamatkan rumah-rumah kami dari Gempa 2009 (Walau banyak juga yang retak-retak berat), para orangtua kami yang mengizinkan kami pulang larut malam sampai jam 10 malam karena nyebar undangan, saudara-saudaraku semua yang di kampung, teman-teman saya dari SD sampai kuliah, saya terharu. I love you, allEhm, keterusan. Oke fokus!

Yah, skip ke tahun 2012 dimana para peserta pesantren ramadhan yang unyu-unyu itu kemudian telah tumbuh berkembang dewasa hingga naik pangkat sebagai jreng jreng jreng : INSTRUKTUR PESANTREN RAMADHAN. Congratulatiooon….!!! Hehehee.

Lebih spesifik, ke tanggal ini, 15 September 2012. (Ehm, maksud saya kemarin. FYI, tulisan ini ditulis tanggal 16 September pukul 00.46 WIB –“). Ada Halal bi Halal Komplek yang diGagasMedia. Sorry, maksud saya digagas bapak-bapak dan ibu-ibu komplek. Saya hanya heran, mana gairah anak-anak KTP yang muda-muda??? Mana? Mana??? Masa’ kalah sama ibu-ibu?!!   Ok, lanjut. Tak tanggung-tanggung ada orgen plus biduan nya segala. KTP diguncang, sodara-sodara!!!

Saya yang sebelumnya stay di depan laptop lagi ngurus-ngurus dan ngecek-ngecek persiapan teman-teman ke Rakornas Manado dijemput seseorang. Yona namanya. Yona, sejak dahulu kala, sejak lahir kayaknya emang bertugas sebagai staf antar jemput kepresidenan. Saya selalu dijemput Yona sejak zaman behaula untuk datang ke acara-acara, baik rapat, acara seru-seruan gini, sampe jemput untuk berangkat ke mesjid.
“Kaak Nilna…. Kaaaak Nilnaaa…,” panggil Yona menggunakan telekung dengan mata kucel di depan pintu rumah saya shubuh-shubuh buta. Ceritanya mau ngajak sholat tarawih, eh salah, sholat shubuh. Hehe.

Kali ini saya dijemput dengan cara berbeda. Pakai motor segala. Dan setelah itu semuanya terasa spesial. Aaah, lebay!. Saya menyambut Yona, mempersilahkan masuk, mendengar ajakan maut dari Yona, dan akhirnya setuju. “Sebentar Yon, kakak selesaikan dulu ini kerjaan yang lagi tergantung”. Sesampai di depan laptop, bak pucuk dicinta ulam pun tiba, laptop saya telah mati sebelum saya matikan. –” Mulai lagi kebiasaannya mati mendadak. Saya tak punya pilihan lain selain benar-benar mengemasinya. Kalau mau lanjutkan pekerjaan tadi dulu yang sebenarnya cuma butuh beberapa detik, saya akan menghabiskan waktu seperempat jam untuk menghidupkan dan mematikan lagi laptop berusia 5 tahun ini. Ya sudahlah, saya berkemas, ambil jaket ambil jilbab, berangkat!!!

Oke, next. Di TKP. Sekali lagi, T.K.P – Tempat Kejadian Perkara. Saya sudah larut bercampur dengan segala usia. Dimulai dari ngegosipin anak-anak SD sampai SMP, dari peserta pesantren sampai instruktur pesantren. Sampai saya menyadari ternyata banyak calon-calon “Indonesian Idol” di komplek ini. Sekali lagi, saya terharuuu. Hihihi…

Maka hadirlah status-status di FB (yang sepertinya telah mengganggu lalu lintas perFBan malam tadi. Hahay. Maaf, beibi). Sampai-sampai ada yang semangat segala nyuruh saya pulang.

Well, situasi aman terkendali. Dan saya menyukai kekompakan negara ini : Komplek Talago Permai🙂

See ya, in the next event! Must be!

One thought on “Negara KTP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s