Mati Lampu : Lampu Mati

Lampu mati, hmm bukan, mati lampu. Sebelum saya sempat mengirimkan tiket Pku-Cgk 7 September 2012 kepada Whela Aprilia Wisti yang Alhamdulillah  lulus untuk mengikuti seleksi BNN selanjutnya di Jakarta. Tiket yang dipesan Whela kepada saya tertunda sejenak untuk saya kirimi via email.  Saya pun kemudian memilih duduk di ruang tengah, berkumpul satu keluarga (yang isinya 3 orang) Ibu jadi kesal karena lampu mati sesaat sebelum beliau sempat menyanduk nasi. Padahal posisi beliau sudah ready untuk makan malam ini, terpaksa balik kanan, ke ruang tengah. Ayah yang sedang menonton siaran TelkomVision yang “full of film tanpa iklan” ikut digantung karena televisi mendadak mati.

Pukul 10.00 pm ketika itu. Lilin tak ada. Kami mono. Satu-satunya pencahayaan adalah HP Samsung 300anribu yang ada senternya. Lemas dengan cahaya yang tak cukup, Ibu meminta saya untuk ke warung depan : beli lilin.

Saya manut, kemudian berangkat ke warung seadanya dengan pakaian daster dan bahkan tanpa alas kaki, sulit nyari sendal gelap-gelap begini. Warungnya tepat di depan rumah, jadi tak apalah.

“Tante.., beli lilin,” semangat saya membeli lilin.

Tante pemilik warung, yang warungnya juga dicahayai oleh sebatang lilin memberikan sebungkus putih lilin.

“Lima ribu segini,” ujar tante.

Saya yang berniat beli sebatang, akhirnya memutuskan untuk membeli “segini” yang dimaksud tante (sebungkus, isinya kira-kira 10,-red).

“Ya itu aja nte, tapi duitnya empat ribu tebawa nyo nte?” saya nyengir, tapi wajah saya samar, mati lampu saya nyaris tak terlihat.

Pemuda-pemuda yang masih “duduk main-main batu domino” di warung tersebut ikut selidik menyelidiki saya siapa gerangan yang beli lilin ngebon seribu. Mereka lebih kurang berjumlah delapan orang pemuda tanggung yang semua usianya lebih muda dari saya.

Tapi saudara-saudara, keajaiban semesta terjadi. Takdir menunjukkan jati dirinya, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Jual beli telah selesai. Kesepakatan telah terlaksana (meski saya masih ngebon seribu). Namun dunia berkata lain.

“Terima kasih, nte” ujar saya mengakhiri jual-beli,  Saya memutar badan, lalu sekejap kilat kecepatan cahaya, BYAAAAAR : lampu hidup. Warung bersorak seperti Indonesia baru saja GOL lawan Belanda. Saya terkesiap shock, apa daya lilin sudah dibeli, sepuluh biji, hutang pula, saya berdaster, sobek pula di kanannya, saya ndak pakai sendal, ketahuan sama adek-adek pemuda.

Sembari menjunjung lilin menutupi kepala, saya lari kaki ayam, ke rumah, 3 detik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s