Ada Hal yang Paling Saya Kenang Ketika Kata “SAKIT” dan “TEMAN” Muncul Beriringan

Tulisan ini terinspirasi dari nama saya yang sempat muncul dalam blog Maghriza Novita Syahti tentang Mengenang Kenangan dengan Setengah Lusin Teman Hmm, you know that?! Saya menulis tulisan ini dengan tergesa-gesa sebelum berangkat ke Dumai, dalam rangka, hm… menghadiri pernikahan saudara sepupu seumuran yang membuat saya confuse luar biasa.😀 Okay, focused!

Ada hal yang paling saya kenang ketika kata “sakit” dan “teman” muncul beriringan.

#1 Angyun Abraham

Diantara sepulang Rakernas ISMKMI Jakarta 2011 dan menjelang keberangkatan menuju Munas FDKMI Surabaya 2011, saya menderita sakit yang tak terdefenisikan. Mungkin flu, mungkin demam, mungkin masuk angin, mungkin diare, mungkin kelelahan, atau mungkin juga sakit malarindu/broken heart/sejenisnya. Malam yang seharusnya dipakai untuk beristirahat demi menjadi moderator Seminar Nasional MDG’s di UHAMKA esok harinya malah menjadi malam yang kurang beruntung. Suhu badan terasa naik, namun ujung kaki dan tangan dingin, serta perut yang mules tanpa ampun. Semua itu sukses membuat saya tak bisa tidur semalaman.

Saya sempat pesimis tak bisa beraktivitas di keesokan harinya. Pagi-paginya, Angyun yang melihat tampang saya lemas tidak ikut menunjukkan wajah lemas. Dia hanya berkata, “Kamu akan sehat dan harus tetap pergi hari ini!”. Satu kalimat yang terdengar tidak manusiawi dalam kondisi “parah” saya pagi itu. Namun tiba-tiba, dia meracik sesuatu yang tidak saya suka : wedang jahe asli racikan sendiri.

Saya yang sebelumnya tak pernah mau berurusan dengan jahe dipaksa minum. Tampangnya pagi itu serupa ibu-ibu paruh baya yang memaksa anaknya yang akan menikah untuk minum jamu. *TERDENGAR KURANG MENGENAKKAN*

Alhasil, saya minum, karena kalau tidak saya terancam ditelantarkan di Jakarta. Tapi tahukah, ternyata rasanya enak! Hehehe. Enak dan menyembuhkan. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk bisa akhirnya bangkit duduk, berdiri, berjalan, dan berlari (loh?), yah berlari dengan motor sepagi itu dengan baju dan jaket dua lapis untuk menghindari sakit yang kedua kali, menuju UHAMKA dan menunaikan amanah yang telah dimintakan kepada saya.

Sejak saat itu, saya sering kangen dengan wedang jahe, tapi hanya wedang jahe di Jakarta dengan racikan asli, bukan instan.

#2 Lafi Munira

Saat menemukannya di Statiun Bungurasih malam itu, saya sudah lemas juga. Perjalanan Banjarbaru-Banjarmasin-Martapura dalam tour Muswil 2, lalu mendarat di Surabaya, plus berita tentang Padang Gempa di saat HP mati karena lowbatt, serta keliling Surabaya untuk “mengejar dan mendapatkan” sebuah “info” pada hari sebelumnya membuat saya luar biasa lelah. Tentu juga dengan pola makan tak berarturan pada saat itu. Saya menemukan Lafi dengan setumpuk barang “oleh-oleh” dari kampungnya yang berada di Banjarmasin. Kami sebenarnya dalam rute perjalanan yang sama, namun pesawat saya ke surabaya lebih dahulu satu hari dibanding Lafi.

Well, kami berdua akan bersama-sama menuju Jogja. Lafi yang memang kuliah di Jogja dan saya yang sudah menjanjikan agenda Gathering Jogja ISMKMI kepada teman-teman Jogja di kampusnya Lafi, FKM UAD. Namun kunjungan pertama saya ke Jogja tersebut tak berjalan semenyenangkan yang telah direncanakan : keliling Jogja sampai ke Borobudur atau Prambanan atau bahkan saya ingin ke Merapi. Namun kondisi tubuh yang “tak jelas” membuat rencana itu urung. Saya hanya sempat ke Tugu Jogja dan makan es krim di salah satu sudut kota Jogja, itupun setelah Riska dan Rama menjemput saya malam itu dengan motor. Saya hampir-hampir tak ingin berangkat, lalu Lafi mendorong, alasannya : masa’ ke Jogja ga kemana-mana. Dan kemudian saya menyehatkan diri untuk “fighting” bermotor ria malam itu.

Hari sebelumnya, saya telah istirahat total di rumah Lafi. Hari berikutnya, lagi saya harus menunaikan agenda Gathering di UAD. Kali ini giliran Lafi yang ragu, apakah saya sanggup, bahkan Lafi berkeinginan untuk memberikan kabar kepada teman-teman kampus bahwa fisik saya tak cukup baik berkelana hari itu. Namun, ya saya harus mencegah keinginan itu, janji tetap janji dan harus dilunasi. Alhasil saya tetap berangkat bareng Lafi. Bersyukur acara Gathering berjalan lancar, meski teman2 yang terlibat diskusi hari itu, cukup heran dan kikuk dengan kondisi sekjend mereka yang “oleng”. Hehe. Pulangnya, saya diboyong Lafi mengelilingi Malioboro, yang ketika berada disana saya merasa sedang berada di Permindo. Malioboro Jogja dan Permindo Padang adalah dua hal yang serupa saya kira, hanya berbeda pengelolaan saja.

Esoknya, saya harus pulang ke Padang. Dan Lafi lagi-lagi menemani saya untuk berkeliling Jogja dulu demi mencari plastik telur pesenan ayah. Turun naik taksi serta jalan kaki cepat-cepat mengejar waktu. Dua jenis plastik didapatkan namun keduanya membuat saya kewalahan karena jumlah total keduanya adalah 1.010 plastik – yang kemudian membuat saya terkena charge tambahan baik di Bandara Adi Sucipto, maupun Soekarno Hatta –

Lalu, bagaimana dengan sakit yang saya derita? Ya, saya tetap sakit, saya tetap ngacir berusaha menikmati jogja sebisanya seadanya, dan Lafi selalu berada di samping saya, saat makan – saat tidur – saat naik bis – saat di kampus –  saat ke laundry – saat keliling pasar – saat berlari-lari kecil mengejar waktu – hingga saat mengantarkan saya ke bandara. Dalam burung cerewet (twitter,-red) saya sempat membaca kicauan “bagaimana ia bingung melihat saya yang sedang tidur meletakkan semua lelah dan rasa sakit yang ada – di kepala, di badan, di pikiran, di dada – ” Oh ya, saya juga dimasaki olehnya.

Bisalah saya menyebut diri sebagai seorang tamu yang sakit yang merepotkan yang membuat bingung. Dan saya bisalah menyebutnya seorang tuan rumah baik hati bagai ibu peri yang saya sayangi.

🙂

#3 Khairunissa Ifmi, Windi Putri Ayu, Catur Widya Ningsih

Ketiganya adalah sahabat saya sejak memasuki semester 5 kuliah. Kami mengambil peminatan yang sama : AKK (Administrasi Kebijakan Kesehatan. Ketiganya juga diwisuda sarjana pada waktu yang sama : September 2011. Ketiganya saat ini juga sudah bekerja : Khairunissa (Icha) di Kementrian Pekerjaan Umum kota Padang, Windi di Dinas Kesehatan Kab Muaro Bungo, dan Catur Widya Ningsih (Iwid) di Notaris PPAT.

Hari itu adalah hari reuni kami. Traktiran ulang tahun Icha dan Windi (yang keduanya sama-sama berulang tahun di bulan Januari) serta reunian setelah kepulangan Windi dari ibadah umrah. Tempat dan waktu berkumpul sudah ditentukan. Namun, keinginan untuk bisa kumpul berempat itu mentah gara-gara saya yang sedang sakit, yang sedang tak ingin keluar rumah, yang hanya ingin berada di kamar sepanjang hari. Sedih juga saat sempat terdeklamasikan wacana bahwa reunian batal jika Nilna ga datang. Bukan, bukan berarti saya teramat penting, namun dalam formasi yang tidak lengkap, pertemuan selalu terasa kurang afdhal.

Namun sorenya, saat saya akhirnya keluar kamar untuk sarapan (makan pertama saat itu baru saya mulai pukul 5.30 pm), saat ayah dan ibu kebetulan sedang berkumpul di ruang makan, tiga wajah yang saya rindukan itu muncul di rumah membawa dua kantung besar berisi makanan yang dibungkus. Satu untuk saya, dengan menu makanan yang sama dengan yang mereka pesan saat makan-makan tadi. Satunya lagi untuk ayah dan ibu. Saya hampir menangis saking terharunya. Rumah yang tadi sepi tiba-tiba ramai ribut riuh dengan hiruk pikuk ketiga gadis ini. Rumah yang sebelumnya sepi mendekati suram jadi “acak-acakan” saat Icha, Iwid, dan Windi bergerilya dengan tak henti-henti mengeluarkan suara. Ada-ada saja yang terucapkan oleh mereka. Tak lama, kehadiran mereka tak sampai satu jam, namun telah cukup mengubah keadaan dan diri saya hari itu. Keramaian mereka adalah satu dari sekian banyak yang membuat saya “tidak pernah merasa sendiri”. Yah, kadang saking banyaknya orang yang lalu lintas dalam kehidupan, kita jadi sulit menemukan yang tulus dan yang tidak.🙂 Tapi mereka, saya anggap selalu tulus, dalam bagaimanapun kondisi saya.

#4 Prima Kurniati Hamzah, Karina Nurmy

Prima adalah teman pertama saya ketika kuliah. Karina adalah teman kedua. Tentu saja.😀 Karena Prima sebelumnya sekelas dengan saya ketika SMA, kami lebih sering mengobrol rencana kuliah setelah sama-sama sekelas di bimbel, dan kemudian menjadi karib setelah sama-sama lulus di Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas. Karina adalah saudara sepupu dari Afni, Afni adalah sahabat Prima ketika SMA yang juga sekaligus teman sekelas saya. Otomatis dua orang inilah yang menjadi teman seiring sejalan saya di masa-masa awal kuliah.

Setelah tahun akhir kuliah kami (ehm, tepatnya setelah Karina dan Prima diwisuda), keduanya datang seharian ke rumah saya. Saat itu keduanya memang masih sebagai “joob seeker”. Sibuk kesana kemari memperhatikan lowongan, maklum syndrom bagi yang baru-baru diwisuda. Namun hari itu keduanya “bezuk” saya. Sekali lagi, sakit saya ini tak terdefenisikan jenisnya. Semacam mendadak pusing atau sakit kepala jika sedang berada di luar rumah atau di jalan atau di keramaian. Well, saya sampai sekarang memang tak pernah memeriksakannya. Menurut saya, ini hanya sekedar sakit manja karena “pola pikir yang tak beres”.

Keduanya datang terpisah. Karina lebih dulu, baru Prima. Keduanya hanya datang untuk menemani saya. Duduk berjam-jam di dapur (yeah, di dapur) sambil mendengarkan segala bentuk cerita mulai dari yang remeh temeh hingga yang serius. Seharian kami menghabiskan waktu dengan mengobrol, sesekali buka SocMed, sesekali liat foto-foto, dan lebih banyak nostalgia masa-masa kuliah. Keduanya (mungkin) yang paling banyak tahu tentang sejarah-sejarah suram kisah cinta abal-abal saya. Hahaha.

Kehadiran mereka, menyembuhkan dalam bentuk lain. Kadang ketika sakit, kita tak butuh obat, hanya butuh tertawa. Butuh “mereka” yang selama ini dan senantiasa akan selalu menemani hari-hari tertawa dan bersedih kita. Meski kadang mereka tak punya banyak solusi, hanya bisa mengusap-usap punggung menenangkan, atau hanya bisa tersenyum, atau hanya bisa khidmat mendengarkan, ataupun hanya bisa diam. Atau bahkan hanya bisa terpaku tak berani menatap saat kita “memuntahkan” segalanya, mungkin saat itu mereka kesal dengan muntahan yang ditumpahkan kepadanya, namun kesal atau tidak, mereka ada untuk sekedar menemani.

Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya. – Anonim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s