Masjid Raya Baiturrahman #HeartsOfIndonesia1

 

Masjid Raya Baiturrahman, saya berkesempatan untuk masuk, sholat, dan berdoa di dalamnya pada bulan Maret 2010 lalu. Saat itu, kami berempat (Aan, Ira, Aya, dan Saya) sebagai delegasi kampus Universitas Andalas menghadiri Muswil 1 ISMKMI yang dituanrumahi oleh FKM UNMUHA. Memang ada rasa yang berbeda ketika memasuki halaman masjid ini. Bukan, bukan karena masjid ini dianggap mistis. Namun karena masjid yang dibangun kokoh ini menunjukkan kebesaran Allah melalui lembaran-lembaran sejarah yang dilaluinya.

Masjid Raya Baiturrahman dulunya merupakan masjid Kesultanan Aceh. Nama Baiturrahman diberi oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu masjid ini menjadi salah satu pusat pengembangan ajaran Islam Wilayah kerajaan Aceh. Pada kesultanan tersebut, gaya arsitektur masjid masih mirip dengan masjid-masjid tua di pulau jawa : Bangunan kayu dengan atap segi empat dan bertingkat yang memiliki 1 kubah.

Namun masjid dengan badan kayu itu dibakar oleh belanda. Pada tahun 1873, Belanda menyerang kota Banda Aceh dan terjadi pertempuran besar antara Rakyat Aceh dengan tentara belanda. Masjid dibakar karena masjid saat itu juga dijadikan sebagai pusat kekuatan tentara Aceh melawan Belanda. Pada pertempuran itu, seorang perwira tinggi Belanda bernama Kohler tewas ditembak. Pertempuran di Mesjid ini dikenang lewat pembangunan prasasti Kohler pada halaman Mesjid. Letak prasasti di bawah pohon Geulempang, yang tumbuh di dekat salah satu gerbang Mesjid.

Empat tahun kemudian, 1879 masjid kembali dibangun. Pembangunan mesjid ini dirancang arsitek Belanda keturunan Italia. Bahan bangunan Mesjid sebagian didatangkan dari Penang – Malaysia, batu marmer dari Negeri Belanda, batu pualam untuk tangga dan lantai dari Cina, besi untuk jendela dari Belgia, kayu dari Birma dan tiang-tiang mesjid dari Surabaya. Pada saat itu baru dibangun dengan satu kubah. Namun seiring dengan semakin kuatnya rakyat aceh, mesjid terus diperluas termasuk menambah dua kubah sehingga masjid menjadi tiga kubah. Belanda kemudian meninggalkan Aceh. Bumi Nangroe beralih pada Indonesia.

Pada 1957, masa pemerintahan presiden Soekarno, Mesjid ini kembali berubah. Dua kubah baru dibuat di bagian belakang. Dibangun pula dua menara dengan jumlah tiang mencapai 280 buah. Lima kubah kemudian dianggap mewakili Pancasila yang digagas Soekarno. Pada kurun 1992-1995, Mesjid kembali dipugar dan diperluas hingga memiliki tujuh buah kubah dan lima menara. Setelah dipugar, Mesjid itu mampu menampung 10.000 hingga 13.000 jemaah. Halaman Mesjid juga diperluas hingga menjadi 3,3 hektar.

Semua pemugaran dilakukan dengan mempertahankan arsitektur dan bentuk ornamen lama pada masa Belanda. Salah satu tiang peninggalan Belanda, ketika Mesjid masih berkubah satu, masih dipertahankan. Arsitektur Mesjid ini bercorak eklektik, yaitu gabungan berbagai unsur dan model terbaik dari berbagai negeri.Ini misalnya tampak pada tiga pintu bukaan serta jendela yang bisa berfungsi sebagai pintu masuk. Jendela ini dibentuk oleh empat tiang langsing silindris model arsitektur Moorish, yang banyak terdapat di Mesjid-Mesjid Afrika Utara dan Spanyol. Sementara bagian tengah ruang shalat berbentuk bujur sangkar, diatapi kubah utama yang bercorak bawang. Pucuknya dihiasi kubah, mirip Mesjid-Mesjid kuno di India. Pada jendela yang sekaligus menjadi pintu terdapat ukiran yang tampak kokoh dan indah. Untuk menambah kemegahan dan keindahan, Mesjid ini ditempatkan di tengah lapangan terbuka, sehingga semua bagian Mesjid jelas terlihat juga dari kejauhan.

Kebesaran dan Kekuasaan Allah SWT diperlihatkan ketika Tsunami menerjang Aceh dan sebagian negara di Asia selatan dan tenggara pada 26 Desember 2004. Masjid ini merupakan satu-satunya bangunan yang masih berdiri kokoh di antara bangunan sekitar yang luluh lantak. Masjid ini sekaligus sebagai penyelamat, orang-orang yang naik dan berlindung ke masjid selamat dari bencana dahsyat itu. Pada halaman masjid inilah berdiri posko bencana pertama pasca tsunami. Masjid ini tangguh bertahan dari gempa dan terjangan air laut yang naik ke daratan. Hanya sedikit bangunan yang retak akibat gempa. Gempa juga mengakibatkan pondasi mesjid turun pada beberapa tempat. Namun tidak begitu terlihat. Kerusakan parah hanya terjadi pada menara di halaman masjid, yang dikenal dengan sebutan tugu modal. Tugu modal merupakan sebuah monument yang menunjukkan Aceh pernah dinyatakan sebagai daerah modal dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Pasca tsunami perdamaian datang. Masjid ini kembali menjadi bagian sejarah itu. Di masjid inilah warga menggelar doa khusus ketika delegasi Indonesia bertemu dengan wakil Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia. Masjid ini pula yang menjadi saksi ketika pasca perjanjian damai, Aceh menggelar pemilihan kepala daerah secara langsung. Uji membaca Al Quran bagi para calon Gubernur digelar di masjid ini. Pasca tsunami, kerusakan-kerusakan Masjid Baiturrahman pun diperbaiki. Kini masjid Baiturahman seolah habis bersolek, tampil cantik menawan.

Hasil bersolek inilah yang saya saksikan di tahun 2010. Memasukinya, terasa kaki saya bergetar dan bulu kuduk merinding. Tentu saja, saya tiba-tiba membayangkan bencana Tsunami di tahun 2004, bagaimana mesjid ini menjadi tempat berlindung orang banyak. Tak pernah terbayangkan akan sampai di negri Serambi Mekah ini, apalagi memasuki masjid ini. Saya meraih handphone dan menelpon Bapak. “Pak, saya sekarang di masjid Baiturrahman, baru saja sholat.” Bapak menjawab dari seberang, “Berdoa dan bersyukurlah, Nak. Masjid itu penuh keberkahan.”

One thought on “Masjid Raya Baiturrahman #HeartsOfIndonesia1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s