ILC Selasa Malam

Senin sore, seorang garin (disebut juga merbot) masjid datang ke rumah saya mengantarkan surat undangan. Awalnya saya pikir undangan ini untuk ayah, ayah memang biasa diundang untuk rapat-rapat warga. Namun begitu melihat kepala surat saya kaget. “Loh ini untuk saya?” saya kaget campur heran. “Iya kak, undangan rapat pesantren ramadhan,” ujar garin menjawab keheranan.

“Ooh, iya. Terima kasih,” saya mahfum setelah membaca isi surat. Undangan Rapat Pembentukan Panitia Pesantren Ramadhan untuk hari Selasa tanggal 10 Juli 2012, pukul 20.00 WIB (ba’da Isya), bertempat di Masjid Baitul Huda. (Insya Allah di tulisan lain saya akan mengulas pesantren ramadhan di kota Padang).

***

Selasa malam, sekitar pukul 19.45 WIB saya tergesa-gesa dari kedai telur ayah menuju rumah yang berjarak 200 meter. Siang tadi saya menerima informasi bahwa malam ini pukul 20.00 WIB ada siaran Indonesia Lawyers Club di TVone yang membahas tentang rokok. Namun di pertengahan jalan, saya berpapasan dengan ibu ketua PKK di komplek saya tinggal, beliau bertanya dengan nada ajakan. “Na, ikut rapat kan? Ayolah ikut… Khawatir cuma dikit yang datang, soalnya panitia tahun lalu banyak yang udah kuliah dan kerja di luar kota tahun ini… Ikut ya?” Saya jadi serba salah.

Memang salah satu ajaran hidup yang ditanamkan ayah saya adalah memenuhi undangan. Namun kegalauan malam itu sedang berpihak kepada saya, datang rapat atau stay di depan tivi nonton ILC. Prinsipnya adalah dahulukan yang pertama mengundang, begitu pesan ayah. Namun persoalan kali ini berbeda. Satu memenuhi undangan dan satunya lagi amanah pergerakan.

Akhirnya saya memutuskan untuk tidak dulu menghadiri rapat di masjid. Saya sms seorang teman menyatakan permohonan maaf tidak bisa hadir dengan alasan menonton TV. Yah, kedengarannya alasannya tidak wajar. Namun saya pikir sang teman paham kenapa saya lebih memilih nonton TV daripada hadir rapat. Ya, persoalan rokok adalah fokus saya baik di akademik maupun di organisasi mahasiswa.

Namun, apa yang saya dapatkan dari ILC? Sebuah kekecewaan atas tayangan jurnalisme. Pak Karni Ilyas, sang moderator, yang dicap wartawan senior  saya dapati tidak mencerminkan seorang jurnalis.

Menjadi moderator yang secara jelas berpihak kepada satu kelompok. Sebagai yang pernah berkecimpung di dunia jurnalistik, saya kecewa berat. Lalu juga porsi massa yang timpang antara kelompok pro dan kontra. Serta yang paling utama adalah mengenai etika : etika jurnalis, etika berbicara, dan etika berbudaya. Sorak-sorakan lebih sering terdengar sebagai pengganti tepuk tangan. Dalam forum yang ditonton jutaan rakyat Indonesia itu seharusnya mencerminkan perilaku bangsa yang bersopan santun.

Sedih, tentu saja, ini tidak hanya sekedar penilaian subjektif sebagai saya yang merupakan seseorang yang ikut berteriak-teriak : Lindungi Kami dari Asap Rokok. Tapi ini adalah pandangan awam seorang remaja nun jauh di barat Indonesia yang berkata : bukankah orang-orang hebat semua yang ada disana, kenapa seperti forum-forum “lapau” begini? Bicara keras-keras, saling mendahului, ah…..

Ketika Wisnu Brata berbicara, moderator mendengarkan dengan seksana. Ketika Wamenkes Ali Gufron berbicara, moderator menyela-nyela. “Jeroan kan juga membahayakan kesehatan, Pak. Kenapa tidak ada aturan tentang Jeroan?,” begitu kira-kira pertanyaan Pak Karni Ilyas menyela.

Well, soal sela menyela, oke saya maklumi, ini toh forum bebas (mungkin itu alasannya sehingga bebas saling sela). Masalah utamanya adalah bagaimana mungkin seorang Pimpinan Redaksi TV besar yang juga dicap sebagai wartawan senior yang pastinya cerdas, menyamakan rokok dengan jeroan? “Allahu Akbar”, takbir yang terucap dari bibir saya untuk menenangkan hati yang geram di depan layar TV. Lewat status twitter saya bicara,

“Kalau ada orang makan jeroan, dy gag ganggu org di sebelah dia. Kalau ada yang ngerokok, dy ganggu bangeeeetttttt orang2 di sekitarnya”

Twit yang saya tulis dengan hati kesal. Allah, bagaimana mungkin seorang Karni Ilyas tidak bisa membedakan rokok dan jeroan, bagaimana mungkin seorang wartawan senior yang malang melintang di dunia jurnalistik yang penuh logika dan analitik menyamakan rokok dengan jeroan.

Protes keras bernada ejekan tentu muncul dari berbagai orang, terutama anak-anak muda yang usianya jauh di bawah seorang wartawan senior seperti Pak Karni :

@Hafiizh_Argent @karniilyas Kalo Jeroan mau makan berkilo2 cm dia sendiri yg sakit. Tapi klo rokok, Orang Sekitar Ikut Sakit (dan lebih berbahaya dampaknya)

@nherlambang Lucu juga ya liat mereka membandingkan bahaya rokok dan jeroan… *katanya orang pinter* @tvone_ilc @karniilyas

@ramazaoldyeck kenapa memberikan perbandingan rokok dgn junkfood dan jeroan sih pak @karniilyas?be smart plis!junkfood jeroan mah g ada penderita pasifnya

@tgerda lagian kita mkn jeroan juga ga akn tiap hari pak.kl rokok,bisa gt sehari cuma sebatang?? @esty_arla @karniilyas

@alithajehan Dear om karni ilyas, rokok kok disamain sama jeroan😐

@monika_kembaren rokok dianalogikan sama jeroan? jelas beda la„ jeroan ruginya kan buat diri sendiri kalo rokok ya orang lain yg lebih banyak kena -.-

@hallonaldot Pak kalo rokok itu, membahayakan org lain tapi kalo lemak atau jeroan membahayakan diri sendiri aja cc @tvone_ilc

@edwart_Song Rokok kok samakan dgn jeroan.Pak rokok klu mau samakan dengan dgn jeroan. Asap rokoknya jg dimakan, jgn bagi2 kekami yg ga rokok @tvone_ilc

@naufalthof Jeroan? Juga membuat kolesterol. Knp tidak di haramkan? Ya, jelas Rokok merusak diri sendiri dan orang lain. Jeroankan merusak diri sendiri.

Entahlah, antara mau nangis dan ketawa melihat fenomena ini. Ini baru menyoal jeroan, banyak lagi kata-kata yang keluar yang saya bingung apakah kata-kata tersebut memang datang karena cerdas yang saking cerdasnya memiliki segudang bahan untuk dijadikan sebagai bahan pembanding yang membuat kita antara tertawa dan menangis.

Muncul lagi Henry Yosodiningrat, ketua GRANAT yang membantah bahwa rokok adalah adiktif. Beliau yang ketua (Gerakan Nasional Anti Narkotika) membaca dulu pengertian adiktif. Berikut potongannya, “…adiksi yang sulit dihentikan dan berefek ingin menggunakannya secara terus-menerus..” demikian Pak Henry membaca. Ketika dia membaca saya menangguk-angguk bahwa yang dibacanya benar. Hal yang dibacanya itu berbanding terbalik dengan apa yang diucapkannya bahwa rokok bukan adiktif. Yang beliau baca adalah Undang-Undang No.5 Tahun 1997 tentang Psikotropika yang menyebutkan beberapa obat yang mengandung zat adiktif di antaranya adalah :
1. Amfetamin
2. Amobarbital, Flunitrazepam
3. Diahepam, Bromazepam, Fenobarbital
4. Minuman Beralkohol / Minuman Keras / Miras
5. Tembakau / Rokok / Lisong
6. Halusinogen
7. Bahan Pelarut seperti bensin, tiner, lem, cat, solvent, dll

Saya tidak tahu apakah sang Bapak baru kali itu membaca atau sengaja membaca bagian atasnya saja tentang pengertian dan tidak sampai membaca pada Jenis Obat yang berzat Adiktif. Sekali lagi, beliau adalah seorang KETUA Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT).

Saya hampir-hampir ingin meninggalkan televisi jika tidak ada iklan pada jeda pukul 10.05pm, pada iklan pertama setelah pak karni bilang “setelah pesan-pesan berikut”, ada iklan LA Light. Saya menjadi paham dan sangat paham. Acara ILC yang cerdas ini pun disponsori rokok, tentu saja orang-orangnya (Pak Karni) menjadi “sangat cerdas” demi membela rokok. Ya kalau ngggak, salah satu sponsor hilang dong yang artinya duit juga bakalan hilang. Ya Rabbi, kapitalis benar-benar sudah mengangkangi negeri ini.

Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk terus menyimak ketika Pak Karni mempersilahkan mahasiswa. Semacam merasa ada yang bicara sebaya dengan saya, saya bertahan menonton. Sontak mahasiswi terakhir yang berbicara membuat saya terharu bangga : Fitri Amalia dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beralmamater biru dan berkacamata yang bicara sangat lugas, tegas, dan pasti. Ia juga berani ketika hak bicaranya disela. Fitri membeberkan bagaimana ia mendengar dan melihat dengan telinga dan matanya sendiri tentang curahan hati para petani tembakau di ujung paling timur Jawa Timur (Jember). Bahwa petani justru tidak sejahtera karena tembakau dikuasai para cukong. Cukong yang merupakan titipan industri. Bahwa petani mengakui lebih untung ketika menanam tomat dan cabai.

Sayang, apa yang disampaikan Fitri dialihkan oleh seorang ibu yang menurut Pak Karni adalah ‘orangnya’ dalam artian staff ILC. Ibu-ibu tersebut membela rokok, ia menyebut bangga dirinya sebagai seorang perokok dan dia sehat-sehat saja. Pertama, pengalihan isu dari realitas petani ke pembelaan diri bahwa “saya merokok dan saya sehat-sehat saja”. Kedua, ibu tersebut berbicara dengan suara serak -mungkin suara serak yang sehat-

Sebuah pernyataan kesal muncul di twitter :
@anyakpermata: denger deh buuuk, suaramu wes serak ngono. sek bangga?

Beruntung setelah itu ada yang mendukung pernyataan mahasiswa berkacamata tadi, seorang petani, seorang mantan perokok, dan mengakui bahwa menanam yang lain selain tembakau justru lebih menguntungkan.

Terakhir, di penutup, Ridwan Saidi seorang budayawan, bicara dengan keras dan berdiri di tengah forum yang sedang tiarap. Saya jadi tak bisa berkata-kata.

Silahkan menyimak kata-kata yang muncul di twitter hingga kompasiana yang sempat saya baca :

“Kufur nikmat mereka yang tidak mensyukuri keberadaan rokok.

Begitulah kurang lebih ungkapan Sejarawan Ridwan Saidi di ILC tadi malam. Sejarawan yang satu ini untuk membela keberadaan rokok mengeluarkan ayat Al Qur’an. Bahkan mengajak insyaf mereka yang menentang rokok—rokok baginya, merupakan nikmat Tuhan dan hak asasi bagi yang harus dihargai keberadaannya.

Saya, secara pribadi menyayangkan ungkapan Babe Ridwan Siadi sebagai sejarawan yang tidak bisa menjaga indepensi nalar terhadap persoalan rokok. Apalagi, berpendapat sambil berdiri ditengah forum yang tiarap. Kita sama-sama lahir dari keluarga dan negeri para perokok, kultur para perokok, sama-sama perokok; meski saya sudah berhenti. Bukan hal salah bukan, kalau ada orang yang menuntut hak bebas dari asap dan iklan rokok? bukan hal yang salah pula, jika pemimpin ingin menjaga kesehatan rakyatnya; termasuk dari rokok?. Saya pengagum gagasan Babe karenanya saya berani mengkritik. Seperti halnya saya pernah mengkritik tulisan di Bang Sobary lewat tulisan Harus (tanpa) Rokok. Sebagai saran bagi Babe tidak ada salahnya membaca buku Ibu Mardiah Chamim (saya pernah mereviewnya dengan judul Hak Hidup Tanpa Rokok!). Buku yang dalam penulisannya, si penulis kehilangan 3 komputer dan 1 hardisk—bagaimana pun kritik saya; saya masih mengagumi Babe.” ( source : http://cakmakrus.blogspot.com/2012/07/respon-untuk-indonesia-lowyers-club-ilc.html)

@awaLogis Budayawan ya? kok ngomongnya sperti tdk berbudaya? RT @IbnuHarisah: #ILC malam ini ditutup dengan lenong oleh Ridwan Saidi. Cc: @karniilyas

@diazimroni Seruuu debat kusir di ILC.ridwan saidi ngomong asal bunyi n mhina lg,’yg ga mau merokok it kufur nikmat’ ktnya„astagfirullahh„

@Rudyar_M Ridwan Saidi tidak mencontohkan diskusi dgn baik, ILC jd terlihat amburadul.. Seorang budayawan seharusnya mencontohkan budaya yg baik.

@nandiiii88 gw liat ILC bukan tempat diskusi yang baik. Ridwan Saidi tuh ga mencerminkan gaya diskusi yang baik

@pernanda InterMezzo dikit, ini Ridwan Saidi budayawan apaan yak,? Ngomong asal jeplak #ILC

@RofiUddarojat: Liat Ridwan Saidi di ILC yang nyeletuk-nyeletuk nggak jelas, jadi nggak habis pikir. Kok bisa dulu dia debat sama Cak Nur.

@anjarisme Demikian juga gaya pak Ridwan Saidi yang teriak-teriak saat orang lain berpendapat tidak mencerminkan seorang budayawan. Ada apa ILC ?

Dan beginilah kalimat penutup dari Karni Ilyas : “Bicara soal rokok memang tidak ada habisnya… dst” Yang kesimpulannya justru dibaca sendiri oleh ayah saya yang juga sedang menonton, “Jadi, kesimpulannya adalah tidak ada kesimpulan. Ckckck, acara TV sekarang cuma asal laku.”

—-
Hmm, saya akhirnya menangis setelah mereview kembali acara yang berlangsung 3 jam tadi. Saya ingat bagaimana guru ngaji saya ketika di surau dulu memarahi saya, “Jangan tertawa atau bisik-bisik kalau ada teman kamu yang lagi berantem mulut. Tengahi atau kalau tidak bisa menengahi, diam.” Saat itu, dua orang teman ngaji saya sedang berantem mulut tentang apa makanan favorit mereka, yang satu suka KFC yang satu suka humberger, yang kami tahu pasti baik KFC atau humberger belum pernah kami makan sebagai orang kampung yang tinggal jauh di pelosok Indonesia. Kami hanya pernah melihat wujud KFC dan humberger dari televisi. Perdebatan mulut yang sangat sepele dan masuk akal jika saya menertawakan dua teman saya itu. Tapi, pak guru memarahi saya.

Melihat perdebatan di televisi malam itu, saya ingin tertawa karena orang-orang hebat di hadapan saya bertengkar semacam dua teman saya ketika dulu berantem makanan favorit. Namun saya masih menanam perkataan ustadz, sementara mulut saya telah lama dicekat sejak awal acara televisi ini. Air muka yang sulit dijelaskan karena berasal dari hati yang rasanya diikat erat, satu-satunya yang bisa melepaskan ikatan kuat ini adalah air mata. Dan akhirnya…, saya menangis.

Ya, silahkan menjustifikasi saya seorang yang cengeng, tapi anak bangsa mana yang tidak akan menangis melihat tokoh-tokoh bangsanya carut marut  dalam sebuah tayangan elit yang tidak menjaga etika.

8 thoughts on “ILC Selasa Malam

  1. Inilah yg akan disebut sebagai dunia mau terbalik.. Dimana pola pikir sdh salah kaprah. Pemimpin yg dipilih yg lbh byk mudharatnya.. Ketetapan Allah diputarbalikkan seenaknya… Innalillaah… *tepokjidat

  2. Memang meng-edukasi masyarakat adalah tugas atau proses yang berat dan panjang. Jangan bersedih….memang baru segitu pemahaman mereka tentang pengendalian tembakau….Kita perlu cerahkan lagi….

  3. Pas lihat si Ridwan komentar soal rokok itu, masya Allah! Jadi berpikir begitu dahsyat sekali pengaruh rokok membuat orang menjadi sangat-sangat egois. Yakin deh, kalau sampai dia kena penyakit gara2 rokok, pasti dia juga gak mau ngaku.
    Sayangnya gak sempat lihat bagian yang karni ilyan. Bukannya tuh orang udah kena stroke atau jantung gitu ya? Pasti bukan karena rokok juga:P

  4. http://health.kompas.com/read/2012/04/21/02491965/Merokok.Bukan.Hak.Asasi.Manusia

    Saya menahan amarah, geram dan dongkol menyimak acara itu. Sedari awal sudah kelihatan Bang Oon, Karni Ilyas menyetir acara itu untuk membahas teori konspirasi di balik RPP anti tembakau, bukan masalah kesehatannya.

    Semua yang hadir di forum itu juga dalam emosi tinggi, tak terkecuali Pak Wakil menteri kesehatan, yang akibat emosinya itu, pendapatnya jadi malah kurang cerdas dan mudah dipatahkan.

    Emosi memang bikin otak cetek, dan yang paling kelihatan emosinya dalam acara itu tak lain adalah sang ketua Granat, Henri Yosodiningrat serta simbah Ridwan Saidi.

    Pelajaran dari diskusi itu, jangan emosi, seberapapun benarnya kita.
    Salam anti rokok

  5. semoga mereka yg hadir di ILC semalam pada tobat….
    saya juga dulu perokok dan pernah merasakan enaknya merokok, tp saya sangat setuju untuk HIDUP TANPA ROKOK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s