Dari Baju ke Buku : MAHARAJA DIRAJA ADITYAWARMAN MATAHARI DI KHATULISTIWA

Dari Baju ke Buku : MAHARAJA DIRAJA ADITYAWARMAN MATAHARI DI KHATULISTIWA

Saya dan Angyun memasuki Distro Sembalakon, salah satu distro di Kota Padang dengan kaos bertuliskan atau bergambarkan khas Minang. Memang rencana hari ini adalah mengunjungi Distro dengan produk Khas Minang/Padang. Saya dahulukan menyapa bang Yu yang tengah duduk di meja kasir. Kemudian mata saya tertuju kepada sesuatu yang berbeda. Dalam Distro yang seharusnya berisi baju dan kawan-kawannya ini, justru ada buku dalam satu deret rak.

Buku itu berjudul :

MAHARAJA DIRAJA

ADITYAWARMAN

MATAHARI DI KHATULISTIWA

Dari melirik, saya akhirnya menyentuh buku tersebut. “Wah, ada buku bang,” ujar saya pada Bang Yu. Saya beralih pada Angyun yang sedang asyik menyidik baju demi baju. Lalu kemudian pandangan matanya tertahan lama pada deret rak buku yang tadi menarik perhatian saya.

“Matahari di Khatulistiwa,” ujarnya merapal judul dalam buku. “Wah, ADITYAWARMAN,” ujarnya excited. “Adityawarman ini…?” tanyanya tertahan, dan diam sambil membaca halaman belakang buku. “Hmm, bagus…” ujarnya usai membaca lalu menimbang-nimbang buku.

Saya berkata di dalam hati, “Ah, saya harus punya buku ini. Ayah juga pasti suka buku ini. Dan ibu pasti akan ikut-ikutan membaca.” Dengan rencana di dalam hati, saya hendak berbisik kepada Bang Yu bahwa saya akan kembali ke sini di lain waktu untuk tujuan khusus membeli buku ini. Ya, kali ini belum dulu, uang tunai yang saya tarik di ATM tadi memang dimaksudkan untuk membeli baju. Mungkin dari sekian baju yang ada, Angyun tertarik pada salah satu.

Angyun meneruskan menyidik baju-baju. Menyidik kata-kata, gambar, hingga ukuran dan bahan dasar baju di dalam distro ini. Dan tentu saja harga. Well, harga semua baju di dalam ruangan petak berAC ini adalah Rp 75.000. Beberapa kali juga, saya dibuat pusing karena harus menerjemahkan kata-kata berbahasa Minang ke dalam bahasa Indonesia yang menjadi pertanyaan Angyun atas kata-kata yang dibacanya dari helai-helai baju yang terpajang. Yah, saya akui, saya hampir-hampir selalu kesulitan menerjemahkan bahasa Minang ke dalam bahasa Indonesia. Bagi saya, bahasa Minang sudah cukup seksi dimaknai dalam bahasa Minang, tidak perlu diIndonesiakan.🙂

Mangamek

Ngango dulu baru mangecek

Pucuak Parancih

Urang Awak

Ranah

adalah sederet kata yang harus saya terjemahkan. Hampir semua baju ditanyakan Angyun : apa artinya?. Saya lebih senang menjawab dengan mengganti sendiri pertanyannya dengan : apa maknanya? atau apa itu?

tuang tuang alai | sipuluik tulang itiak | anak rajo pai ka balai | anak daro dalam biliak

Dari sekian yang menarik, Baju Sipatuang (capung) yang membuat saya lebih kelimpungan lagi mengartikannya. “Ini semacam nyanyian Angyun… Jika diartikan per kata tidak bisa langsung dimaknai,” ujar saya. Angyun justru menyuruh saya menyanyikannya. Ah…

Mungkin ada 30-45 menitan saya dan Angyun bermain-main di Distro Sembalakon. Melompat dari baju ke baju. Memaknai disain ke disain. Hingga saya berujung pada suatu pertanyaan : “Ada yang tertarik untuk dibeli?”

Angyun menarik napas dan berujar pada helaan napasnya : “Angyun lebih tertarik ke buku ini sebenarnya.” Tangannya kembali menyentuh buku MAHARAJA DIRAJA ADITYAWARMAN. Gleg! Saya tersentak. Well, dari tadi saya memang merencanakan akan membeli buku itu. Tapi tidak sekarang, karena mungkin Angyun akan memilih satu baju. Itu sebabnya saya berniat meminta Bang Yu menyimpan satu. Khawatir kehabisan atau saya kelamaan untuk kembali lagi ke sini.

Saya menjawab bersigegas, “Iyaaa, Nilna juga tadinya tertarik sama buku ini. Hmm, cuma tadi mikirnya anggarannya bukan untuk beli buku. Ya udah, kita beli aja. Ayah juga pasti suka. Nanti minta ayah yang belikan saja. Pake duit Nilna dulu.”

ps : anggarannya ya untuk beli baju, tapi berhubung Angyun tidak memilih membeli baju di distro-distro berikutnya, maka dialihkan ke buku ini. Ayah pun memilih buku ini daripada baju. “Bagus pilihannya ke buku ini, kalau baju cuma buat kamu, kalau buku buat semua orang,” ujar Ayah di rumah. Dan menyoal anggaran, “Pake duit kamu donk, kamu beli buat anak kamu nanti,” ujar ayah. Saya cemberut dalam hati sumringah.😀

Buku Keren yang ditemukan dan dibeli di Distro Sembalakon. Hari ini jadwalnya mengunjungi Distro-distro yang membawa brand Minang/Padang. Yang dibawa pulang bukan sebuah baju, melainkan sebuah buku.

Buku ini, penting untuk dibaca dan dimiliki!

#himbauan #bukaniklan

[status FB]

One thought on “Dari Baju ke Buku : MAHARAJA DIRAJA ADITYAWARMAN MATAHARI DI KHATULISTIWA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s