#MayDay

1. ini bukan tentang Hari Buruh

Antara sadar dan tak sadar, saya terbangun. Lampu kamar menyala terang, kipas angin berputar deras. Ibu sedang memasak. Kepala pusing dan punggung bagian bawah terasa masih sangat sakit. Gelagapan saya mencari HP, ada 5 pesan masuk.

sms 1 : Nilna, maaf La terlambat. Ini sedang di angkot.

sms 2 : Nilna dimana?

sms 3 : Nilna La sudah sampai, Nilna dimana?

Saya terkesiap. Jam berapa ini?

Astaghfirullah jam 9.

Saya memutar memori apa yang telah dilakukan sejak tadi. Kemarin tidur jam 2, selepas netmeet yang berakhir jam 11 malam saya masih asyik dengan laptop. Saya ingat bangun jam 05.12, ketika paman yang sekaligus pemasok telur di kios ayah datang memasok telur shubuh itu. Saya beranjak sholat shubuh. Setelah sholat tertidur lagi. Saya bangun kembali 06.30, paman masih di rumah, saya tidak berpikir apa-apa, yang saya tahu ini tanggal 1 Mei, saya mengetik beberapa sms sembari menangis. Setelah sms, menelpon nomor yang tadi menjadi tujuan sms. Tidak diangkat, redial, tidak diangkat, redial, begitu seterusnya. Entah bagaimana, saya tertidur lelah diantara nyanyian nada sambung dan nyanyian operator.

Jam 9 saya terbangun mendapati sms dari Whela. Ya Allah, saya telah menzaliminya. Saya berjanji akan ke Padang Panjang hari ini bersama Whela, teman seangkatan di kampus yang sudah Sarjana. Ia menawarkan diri untuk menemani saya menyelesaikan penelitian yang sejak Bulan Agustus lalu terberngkalai. Saya ulangi, ia yang menawari diri, bukan saya yang meminta. Ketika kuliah dulu, saya sibuk dengan organisasi, saya bahkan hanya sedikit sekali tertawa bersama dalam hal pertemanan. Jika tertawa dan menangis, semua itu ada di organisasi. Whela adalah orang yang objektif memandang, saya tahu dia telah terlalu banyak membantu dan meringankan beban di hati saya, baik selama menjalani kuliah di angkatan maupun berorganisasi di kampus. Whela yang berjuang keras membentuk Al-Kahfi UKM Kerohanian tingkat HIMA di kampus semasa saya memimpin di HIMA. Whela juga yang selalu aktif mengirimkan sms ajakan liqo’ meski saya kebanyakan terlalu sibuk berada di luar Padang sehingga tidak total dalam liqo’. Tapi Whela tetap memberitahukan saya, dimanapun saya berada. Hari ini, saya mengecewakannya, lebih dari itu saya membuatnya teraniaya. Maafkan saya, Whela. Maafkan saya.

Saya menelpon Whela, dengan teduh dan tenang ia berkata tidak apa-apa, ia mengisi waktu menunggu saya dengan tilawah di mushola dekat terminal. Ya, Whela sudah sampai di terminal dan saya masih di kamar!!!

 

sms 4 : Kak, udah kk edit proposalnya kak?

Sms dari Ora, Steering Commitee untuk Workshop Siaga Bencana di Medan Juni mendatang. Kemarin ia sms proposal sudah dikirim ke email saya untuk diedit. Kemarin setelah netmeet rakor, saya masih lanjut membahas pendidikan profesi dengan beberapa teman terkait kegiatan yang akan dilaksanakan di Jakarta di bulan yang sama dengan Workshop. Praktis, saya belum melihat apalagi mengedit.

 

sms 5 : Uni, uni itu editor buletin, kenapa tidak pernah menanyakan kabar buletin? kenapa tidak … kenapa tidak… apakah seperti ini pemimpin kami? apakah.. *some text missing*

belum selesai saya membaca, HP mati. Saya memaksanya hidup kembali. Hidup, tapi sms tadi tidak bisa dibuka. *JEB* HP mati total. Saya cari charger, membiarkannya 5 menit dicas. Saya mengulang memori sms dari salah satu Direktur tadi. Saya sayup-sayup lupa bagaimana redaksinya. Tapi yang pasti sang pengirim MARAH kepada saya. Marah karena selama ini saya terkesan tidak begitu perhatian sama proyek yang ia kerjakan. Meski hati sedikit tersenggol, tapi bersyukur saya tersenyum. Jika saya tidak mengenal “karakter” mungkin saya akan balik marah. Bersyukur rasanya berada disini, memiliki anak yang banyak dengan karakter mereka masing-masing. Soal editor, ya saya memang salah satu editor buletinnya, setiap saat membuka email dan melihat dari milis subject yang berisikan “JUDUL : _____________ (edited) yang artinya sudah diedit. Bagi saya sang pemegang project jauh lebih mandiri dibanding yang lainnya. Maka saya biarkan. Tapi ternyata “membiarkan mandiri” bukan berarti “tidak memberi perhatian”.

Menjadi seorang “ibu” memang harus adil seadil-adilnya, tidak hanya adil membagi sama rata tapi juga adil meletakkan sesuatu pada tempatnya. Hampir setiap hari, semua menuntut, semua mendesak, semua ingin mendapatkan keadilan, semua ingin diberi perhatian. Tak hanya di tubuh organisasi, tapi juga dalam hubungan pertemanan, dalam berbakti pada orangtua, termasuk dalam menyayangi diri sendiri.

Saya kembali menghidupkan HP dan membuka kembali sms 5 tadi. Malang, memori HP saya kelebihan beban, smsnya tidak bisa dibuka, sementara sms lain antri untuk masuk. Terpaksa beberapa sms saya hapus, termasuk sms terakhir, dengan harapan saya sms balik meminta smsnya dikirimkan kembali.

Sms-sms selanjutnya pun masuk, mulai dari yang bertanya sedang dimana hingga adek tingkat yang menanyakan kabar, mungkin ingin bertanya penelitian karena judulnya mirip dengan judul penelitian saya yang terbengkalai.  Saya membalas sms mereka satu per satu, lalu membenarkan HP. Membuang beberapa sms dan mengetik kembali beberapa sms dan juga mms.

Kepala saya masih sakit, berikut punggung juga pinggang, sementara mata masih merah. Wajah itu, wajah di balik cermin lemari yang saya lihat, meski hari masih pagi tapi wajah itu tampak terlihat sangat lelah, sangat sembab, dan juga sangat basah.

2. Hari ini 1 May. #MayDay

Setahun berlalu sesudah hari itu. Sebuah pernyataan yang mengubah hidup saya. Menenggelamkan mimpi-mimpi, menghilangkan gairah, menanam tangis, membuat semuanya berantakan. Saya merasa sudah jauh berbeda, sangat jauh berbeda.

Satu hal, saya hanya ingin sembuh, ingin kembali, ingin menata, ingin hidup normal, ingin bahagia, ingin berbahagia. Menghapus senyuman semu dan tawa semu. Sudah satu tahun, sudah satu tahun air mata bersetia menemani matahari dan bintang dalam kehidupan saya.

3. Ini bukan tentang hari buruh, ini tentang 1 Mei, tentang hari ini, tentang senyum yang hilang, tentang air mata yang bersetia menemani matahari dan bintang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s