Rumah Impian

Aku memimpikan memiliki sebuah rumah sederhana, cukup satu lantai, dengan teras yang agak besar. Teras yang cukup menampung belasan orang bersantai berhadap-hadapan. Teras untuk kami (aku, suamiku, anak-anakku) saling berkumpul dengan teman. Aku menyenangi berkumpul bersama teman-teman di rumah.

Di sudut kanan, ada beberapa tanaman obat dan tanaman dapur. Sedari kecil, aku penyakitan, mengonsumsi aneka bentuk dan warna obat. Ketika dulu merasa hebat karena berani dan rajin minum obat. Namun sekarang, aku paling tidak ingin mengonsumsi obat, begitu juga tidak ingin menjejali suami dan anak-anakku obat yang berbentuk bulat-bulat. Aku akan pelajari segala macam khasiat tanaman. Mengonsumsi mereka, tanaman berkhasiat ini, adalah pencegahan penyakit, mencegah ke rumah sakit, mencegah meminum obat, Begitu juga dengan bumbu-bumbu masakan, aku senang memetik mereka sebagaimana ketika kecil aku sering membantu ibu mengambilkan bumbu masak di kebun samping rumah.

Aku juga akan menanam buah-buahan. Ini adalah hobi ayah dan ibu. Selalu ada tanaman buah di setiap rumah yang kami tempati. Rumah di kampung ibu terlengkap, ada sawo, belimbing, rambutan, alpukat, pepaya, pisang, kelapa, sunkis, sampe kakao.Kakao yang terbanyak karena ayah malah berkebun kakao di rumah di kampung ibu. Rumah di kampung ayah terkenal dengan rambutan yang mengelilingi rumah, 6 pohon rambutan dengan jenis bibit yang berbeda. Selain rambutan ada pepaya, pisang, mangga, kakao, dan nangka. Rumah sebelum rumah ini malah ada batang semangka. Di rumah yang sekarang, ada alpukat, mangga, dan anggur. Nangka kami baru saja berbuah, sementara anggur hanya sampai panen pertama setelah itu gagal panen, udara dan tanahnya tidak cocok.

Rumahku nanti harus ada taman bunga. Halaman yang luas juga akan kuhiasi dengan bermacam-macam bunga. Aku pastikan segala jenis bunga ada di rumahku, mulai dari melati hingga teratai, dari mawar hingga rumput teki, semua jenis anggrek, dan bunga-bunga indah lainnya. Selaras dengan janjiku padanya, aku akan menjadi bunga di rumahmu yang mengindahkan dan terindahkan.

Tanah pekarangan rumah kami nanti akan dilapisi dengan rumput lembut seperti permadani. Aku tak ingin punya pagar besi untuk rumahku. Aku akan memagari rumahku dengan tanaman pagar saja, bonsai mungkin. Tanaman itu akan aku rancang setinggi dada. Rumah itu nanti akan berada di daerah pegunungan namun masih mudah diakses dari pusat kota. Rumah itu akan berada di sudut antara jalan simpang tiga. Tanah tempat rumahku didirikan lebih tinggi dibanding jalan. Jika diukur kemiripan mungkin mirip dengan lokasi rektorat Universitas Andalas. Aku suka posisi rektorat itu.

Di masa depan, warga komplek perumahan tempatku tinggalku adalah warga yang sangat menjunjung tinggi kebersihan dan keindahan lingkungan. Mereka sangat mencintai untuk melindungi bumi. Di sana semua orang berkendaraan dengan sepeda. Setiap pagi selesai sholat shubuh, tua muda jalan sehat, yang lainnya melakukan senam massal. Tidak ada yang merokok. Intra keluarga dan antar keluarga hidup dengan damai dan sejahtera.

 

Negara tempatku tinggal juga membuat sebuah peraturan. Dimana setiap pegawai perusahaan negeri dan swasta serta siswa dan mahasiswa baru boleh keluar rumah setelah jam 7 pagi dan tidak boleh berkeliaran lewat pukul 11 malam. Televisi yang diizinkan siar hanya televisi yang lebih banyak bernuansa pendidikan dibanding hiburan. Setiap rumah juga diwajibkan memiliki perpustakaan mini yang ditujukan untuk memupuk generasi cerdas cinta baca.

 

Dalam hal perpustakaan, aku akan membangun perpustakaan itu terpisah dengan rumahku. Ruangan itu kubuat berdinding kaca, beratap gonjong dan berbentuk persegi empat seperti rangkiang. Kaca yang menjadi dindingnya tembus cahaya tapi udara panas tidak bisa masuk. Meskipun matahari di luar terik, ruang di perpustakaan miniku akan tetap sejuk.

 

Di perpustakaan itu aka ada satu kamar kecil tempat aku menaruh satu set komputer, printer, Scanner, dan LCD proyektor. Juga ada televisi dan radio. O iya, aku juga akan menaruh mesin tik di sana. Kata Rosihan Anwar, bunyi mesin tik akan meningkatkan laju otak berpikir dalam menulis. Kamar itu aku gunakan sebagai kamar kerja untuk menulis.

 

Buku-buku. Ah, tentu saja perpustakaan mini itu akan kupenuhi dengan beribu-ribu buku. Bisa jadi perpustakaan mini itu tidak boleh disebut perpustakaan mini lagi karena jumlah bukunya yang tidak mini.  Aku akan mengelola beribu buku itu dalam lemari-lemari yang disusun berjajar letter U. Setiap buku diberi “serial number” yang akan menjadi pedoman dalam laci katalog. Iya, aku juga akan membuatkan laci katalog untuk perpustakaan miniku.

Satu lemari disediakan khusus untuk buku-buku yang aku sendiri menjadi penulisnya. Aku memang memimpikan menulis banyak buku dalam hidupku. Buku-buku yang aku tulis itu terdiri dari jenis yang berbeda-beda. Aku akan menulis buku di segala bidang. Hanya saja bidang sastra, kesehatan, psikologi, dan humanisme akan lebih diutamakan. Olala, aku ingin sekali menulis 1000 buku.

Ruang tengah di perpustakaan miniku sengaja dikosongkan dari lemari. Ia akan dialasi dengan karpet lembut dan sebuah meja bulat kecil setinggi betis. Di sanalah tempatku memanjakan diri untuk melaksanakan hobi membacaku.

Masih ada mimpiku yang lain. Aku menginginkan mendirikan rumah sehat, sekolah gratis, dan sanggar sastra. Mendirikan dan mengelola rumah sehat memang menjadi tujuan utamaku. Di sana orang-orang tidak pergi berobat tapi untuk membangun kelompok-kelompok dengan kegiatan sadar sehat. Suasana rumah sehat dibuat senyaman mungkin plus taman sehatnya.

Sekolah gratis akan aku dirikan di kampung halamanku. Kakekku sempat bilang ia ingin anak-anaknya mendirikan sebuah sekolah di kampung. Jika anak-anak kakek tak dapat mewujudkannya maka aku sebagai cucunya yang akan mewujudkan keinginan itu.

Aku juga ingin mengasuh sebuah sanggar menulis. Aku begitu menyukai dunia menulis dan aku ingin “tulisan” yang aku punya diteruskan ke generasi-generasi di bawahku. Aku akan melakukannya dengan cara guru menulisku, guru kehidupanku, Om Yusrizal KW. Tidak akan ada teori dalam sanggar menulis ini, yang ada hanya perintah : menulislah! Aku juga akan lebih banyak memotivasi dan mengajarkan bagaimana cara memaknai hidup.

*Tulisan ini ditulis pada tahun 2008

One thought on “Rumah Impian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s