Pesawat Oh Pecawatt….!!!

Ketika saya masih imut-imut, lagi hobi-hobinya main sepeda roda 3 keliling kampung. Pesawat lewat di langit. Saya and the gank langsung teriak-teriak. “Pecawaaaat….!!! Pecawatt!!!!”. Teman saya yang punya Etek (tante,-red) bernama Evi (disingkat “Pi”,-red) yang tinggal di Jakarta langsung pamer, “Etek Pi…. Tek Pi… Da daa Da daa..!!!,” sambil melambai-lambaikan tangan seakan-akan Etek Evi sedang berada di atas pesawat dan melambai-lambaikan tangan pada temanku di bawah. Anak-anak lain tak mau kalah, masing-masing dan juga saya (:P) ikut memanggil-manggil saudara kami masing-masing yang berdomisili di Jakarta. Maklum, orang Padang, banyak yang merantau kesana kemari apalagi ke Jakarta. (:D) Begitulah seterusnya setiap ada pesawat lewat, anak-anak kampung yang unyu-unyu tanpa dosa ini berteriak-teriak.

::Kalo dipikir-pikir waktu kecil saya katrok bin norak yah? –“
 

Lalu, selama berpuluh-puluh tahun sejak lahir saya gag pernah naik pesawat. Pertama kali naik pesawat saya sudah berumur 20 tahun (d^^b). Sangat tidak patut dibanggakan bila dibandingkan dengan teman-teman semasa SD yang sering pamer baru saja naik pesawat ke Jakarta. Saya mampunya naik bis dari Padang – Jakarta, dulu itu menghabiskan waktu 3 hari 2 malam. Kalau sekarang kabarnya lebih cepat 1 hari 2 malam.. (:D)

Tepatnya 08-08-09, hari Sabtu, akhirnya saya naik pesawat. Berangkat sendiri ke ibukota, Jakarta. Bisa dibayangkanlah : sendirian, perempuan, katrok, berangkat shubuh-shubuh, nggak ngerti Jakarta, takut ke ibukota, dan terutama TAKUT karena GAG PERNAH NAIK PESAWAT. Ibu sempat nggak kasih izin karena saya sendirian. Takut ilang anak semata wayangnya. Tapi ini tiket udah ada, dikasi orang, gratis pula. Tentunya, kata Ayah, kita harus ‘berterima kasih dengan tidak menyia-nyiakan’.

Alhamdulillah, tiket PP naik pesawat itu, GRATIS. Saya dan 2 orang teman lainnya (Icha dan Sevil) menerima undangan untuk menjadi Delegasi Kampus Universitas Andalas atas nama Mahasiswa Kesehatan Masyarakat dalam kegiatan Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI). #Ceritanya, sebelum berangkat kampus memberikan dana untuk 2 orang saja. Namun kami saat itu ngotot pergi bertiga, dengan alasan kami bertiga telah saling melengkapi, jika salah satu gag ada, kami akan hilang di Jakarta, terutama saya. Saya bakalan ilang karena terakhir ke Jakarta itu usia 11 tahun. Alhasil kami bertiga sepakat dana dari kampus dibagi tiga, cukup untuk tiket pesawat pulang dan registrasi acara. Darimanakah tiket perginya? Alhamdulillah tiket itu diberikan gratis oleh Padang Ekspres Group sebagai bentuk apresiasi pimpinan P’Mails dan Padang Ekspres terhadap salah satu “anak didik”nya… Alhamdulillah dapat tiket VIP pula. Malangnya, karena pemesanan tiket saya berbeda dengan Sevil dan Icha, jadwal keberangkatan dan maskapai penerbangan kami pun berbeda. -___-
 

Selamam sebelum keberangkatan saya, rumah tampak sangat sibuk. Saya sendiri bingung secara ini keberangkatan ke luar pulau sendirian (terdengar agak mengerikan). Segala perlengkapan pun dipersiapkan. Semua peralatan saya beli baru : handuk baru, baju baru, kaus kaki baru, sepatu baru, sabun baru, sikat gigi baru, parfum baru, minyak telon baru, semuanya baru. Kecuali travel bag yang harus saya pinjam sama paman. Kalau beli baru, darimana duit? Pun di rumah tidak ada travel bag sama sekali kecuali tas kain yang biasa dipakai buat pulang kampung. #Well, saya kampungan dan sangat katrok (tapi bangga jadi anak daerah :)) )

Pagi-pagi buta jam 3 udah bangun. Mandi dan siap-siap. Jam 4 shubuh berangkat ke Bandara. Perjalanan dari rumah ke Bandara yang berada di pinggiran kota akan memakan waktu 1 jam. Saya harus check in jam 5 dan take off jam 6 shubuh. Jadi harus pagi-pagi banget. Saya diantar oleh Ayah dengan taksi yang udah dipesen sejak semalam. Nah, berhubung VIP, saya dijemput langsung oleh travel agency langganan Padang Ekspres Grup, saya memanggil beliau Om In.

Oleh Om In saya diajarin semuanya, mulai dari masuk- liatin tiket – bagasi – check in – taruh bagasi – naik ke lantai 2 – bayar airport tax – liatin tiket lagi – bagasi lagi – dan duduk. Alhamdulillah (dapat duduk di Executive Lounge Anugrah di Bandara International Minangkabau. Berhubung saya ini katrok, sedikitpun saya tak menyentuh cicipan yang tersedia, padahal boleh bebas icip ini icip itu, saya nahan selera, waktu itu mikirnya “pasti bayar dan mahal”. Berhubung irit, pelit, tepatnya gag ada duit, saya gag memilih menyentuh makanan, hanya menyentuh majalah dan toilet.

Ehe„ toilet? Ya, di exe lounge itu saya milih ke toilet, mushalla, sholat sunnah, sholat shubuh (kalau dari Padang, pesawat jam 6, berarti sholat shubuhnya di bandara), dan banyak-banyak berdoa supaya saya selamat selama perjalanan. Pokoknya kaku, kagok, and keringat dingin. Antara penasaran dan takut mau naik pesawat.. Hahaha. Jujur bahkan saya nggak tahu kapan saya harus masuk ke dalam pesawat dan nggak ngerti suara-suara panggilan di dalam Lounge, apakah saya sudah bisa masuk pesawat? atau belum? -__-. Maka saya titip pesan sama Om In kalau udah waktunya, mohon dipanggil, dan saya pura-pura sibuk membaca, jadi nggak konsen sama panggilan.😀 Kelihatan banget katroknya.

Akhirnya Om In kasi kode, trus nunjukin bagaimana di dalam pesawat nanti karena tentunya Om In tidak bisa mengantar sampai ke dalam pesawat. Saya manggut-manggut. Dan masuk. Nah, untuk apa pramugari? Jawabannya : untuk ditanya-tanyai. Begitu masuk saya langsung nyamperin pramugari, minta anter ke kursinya. Hehe.

Eh, gag taunya duduk paling depan. Duduk di tengah, di sebelah kanan bapak-bapak gendut pake jas rapi, di sebelah kiri bapak-bapak pake jas rapi n gendut juga. Saya matut diri : kecil, kurus, nggak rapi, make kemeja kuliah, gelang-gelang nggak jelas di tangan kiri, jam 20an ribu di tangan kanan, celanan jeans yang udah jelek banget jahitan bawahnya karena sering diinjak-injak, dan sepatu 30an ribu. Hahahahaha.

Ya udah cuek aja deh. Anggap aja traveller cuek yang udah biasa naik pesawat. Saya sapa kanan kiri, basa basi, ada acara apa Pak ke jakarta? #Hahah,sokbangetsaya. Ternyata yang satu anggota DPR salah satu daerah di Sumbar, yang satu lagi pebisnis yang ada proyek di Jakarta. Pas saya ditanya, adek ada acara apa? Saya jawab padat, “Saya Mahasiswa”. Terus sambung dengan, “saya pertama kali naik pesawat, Pak”. #Aiih,akhirnyajujur #demikeselamatanduniakhirat. Saya mulai bercerita tentang kampus yang saya duduki, tentang acara yang akan dikunjungi, serta tentang dua teman saya yang beda jadwal pesawat. Dua Bapak itu manggut-manggut.

Oh ya, tahukah? Saat pesawat take off, saya berekspresi seperti naik Roll Coaster. (Pejemin mata, pegang kursi erat-erat -sebenernya nggak perlu pegang kursi erat-erat-, jantung dag dig dug). Well, walaupun sebelumnya saya nggak pernah naik Roll Coaster, minimal saya pernah dulu banget naik Halilintar. Hahah.

Dua Bapak di sebelah saya udah tidur aja, sebelum ini pesawat terbang lurus -__-. #kecewa, saya mau ngobrol, Pak…. Pada saat keadaan udah aman, lampu udah dinyalakan, ada Bapak-bapak yang jalan-jalan di dalam pesawat, kayaknya ke toilet. Pada saat itu sempat mikir, gimana yah rasanya berjalan di pesawat yang lagi terbang? Selama ini saya sudah sangat sering jalan-jalan di dalam Bis Kota yang lagi ngebut. Hehe. Saya juga pengen tahu bagaimanakah wajah toilet pesawat itu. Namun penasaran itu saja pelihara saja. Pada saat itu belum berani bertindak “lasak”.

Berhubung dua Bapak tadi tidur, saya sibukkan diri dengan baca-baca, melahap semua apapun yang bisa dibaca disana, sambil dalam hati nggak henti berzikir. Setelah apa yang dibaca terasa nggak menarik, malah lebih menarik baca peringatan mematikan handphone- saya meniru-niru saja dua Bapak di sebelah saya. Tidur!. Tepatnya, memejamkan mata. Dan itulah yang terjadi selama di dalam pesawat, sekitar 1,5 jam merem tapi nggak tidur, tubuh tegang, dan telinga aware terhadap setiap bunyi yang ada. Saya baru membuka mata pada saat dari speaker terdengar bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Fiuuh, itu 1,5 jam serasa setahun. -__-

Well, tahukah dalam rangka apa perjalanan pertama ini? Ke Jakarta saat itu adalah untuk menghadiri Rakernas VII ISMKMI. Kemudian betapa nama itu ISMKMI melekat kepada saya hingga sekarang, ia yang membawa saya terbang, keliling kemana-mana, sekaligus awal dari dimulainya perjalanan dari Bandara ke Bandara ini.

Thanks ISMKMI dan thanks a lot buat teman-teman yang setelah hari itu, pernah naik pesawat bareng saya dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) :

  1. Ade Somantri yang juga berangkat shubuh-shubuh, diantar Jendra ke rumah, dari rumah nge-taksi ke BIM, berangkat ke Jakarta utk Workshop TCN.
  2. Elvira Yunita, Shara Jeane, + Andrika Ariyoni yang mendadak muncul di BIM, menikmati perjalanan ke Medan di tengah cuaca buruk, ngeri banget di pesawatnya.
  3. Teman-teman peserta Stuband yang 30an orang, itu satu pesawat heboh dengan kegejean anak-anak yang bandel nggak duduk sesuai nomer tiket. Hahay.
  4. Taufik Hidayat dalam perjalanan menuju Surabaya, eh si Taufik pake sendal jepit.., d^^b Jempooll….

Lama kelamaan, saya belajar, naik pesawat sebenernya sama aja dengan naik angkot. Dulunya saya katrok sumpah, segala barang baru (meskipun harganya 20-30rb) gara-gara takut dibuang di tengah jalan kalau make baju lusuh dan sepatu lusuh. XDDDD #katroksumpah

One thought on “Pesawat Oh Pecawatt….!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s