Barakah Ied Adha

Semalam keluarga dari kampung datang ke rumah. Selain karena ada bisnis dengan ayah juga sekalian silaturahim. Satu keluarga diboyong semua ke Padang. Dan beginilah kalau ada yang datang ke rumah, ibu akan menjamu luar biasa, sibuk ini itu, dan pastinya ada makanan. Menu semalam adalah Mie Goreng Tomat ^^.

Keasyikan ngobrol, main, dan lain-lain, akhirnya pukul 23.30 WIB memutuskan untuk balik ke kampus karena besok harus menyambut lebaran. Saya termasuk yang jarang pulang kampung bila lebaran karena memang saat ini tinggal di sekitar keluarga ayah sehingga sudah terbiasa lebaran diantara keluarga ayah (yang semestinya di Minang itu berkumpul bersama keluarga Ibu).

Singkat kata, sebelum pulang, Kuti (begitu saya memanggilnya) mengajakku untuk pulang kali ini. Dan Jgeeerr!!! Macam diculik, serupa kilat, sambar baju-handphone-sikat gigi, berangkat. Dompet pun ketinggalan saking buru-burunya.

Saya sampai di kampung sekitar pukul 01.30 WIB. Pukul 07.00 WIB satu lagi rombongan keluarga ibu datang untuk berlebaran bersama. Pukul 07.15 WIB berangkat ke Masjid untuk sholat Ied.

Sumbar masih mendung. Meski di sela-sela khutbah sempat turun rintik hujan yang menambah corak dari beberapa mukena parasut yang dikenakan jamaah. Cuaca benar-benar cerah saat jamaah pulang ke rumah masing-masing. Namun sempat hujan lebat qabla dzuhur, bertepatan dengan selesai disemblihnya hewan qurban seakan air itu mempercepat mengalirnya darah-darah dari sapi dan kambing yang selesai disemblih. Lalu cerah lagi ba’da dzuhur saat warga mengganti kupon dengan sekantong daging. Subhanallah. Skenariomu hari ini indah ya Allah. :’)

Sorenya saya harus balik ke Padang. Namun sebelum itu sempat bersepeda ria dengan adek sepupu mengunjungi beberapa keluarga. Kakekku, ya kakekku, meski bukan kakek kandung, namun beliaulah yang memberikan “peluang” bagiku untuk terus mengabdi selama menjadi mahasiswa dengan mampu meluluhkan hati kedua orangtuaku sehingga mengizinkanku mengambil keputusan besar itu. Kakekku saat ini terbaring lemah di dipannya. Sakit liver. Kakinya sudah tidak mampu berdiri lagi. Ya Rabb, sembuhkan kakekku. Berikanlah beliau nikmat kesehatan di usia senjanya… Aamiin. :’)

Perjalanan menuju rumah kakek (kampungku, Alhamdulillah jalanannya masih rapi, tertata, dan asri)

Ba’da Ashar, saya bertolak ke Padang sambil membawa sekantong daging, berkah daging dari kampus. Pukul 5 sore, sampai di rumah. Ibu masih berkutat di dapur. Sop sudah jadi, Kalio daging hampir jadi, dan Dendeng akan dimasak. Aku ikut berkutat dengan ibu, meski pada saat yang bersamaan, aku juga berkutat dengan laptop, sambi menyambi. Indahnya menjadi perempuan. Ayah yang tahu hari-hariku selalu dengan laptop meletakkan posisi meja dan kursi untukku berdekatan dengan dapur. Sehingga mau tak mau, aku tetap harus peduli pada dapur.

Berikut yang akhirnya tersaji ba’da magrib :

(ps : yang dalam photo porsi kecil, yang dibuat porsi besar, yang tahan lama. Hehe)

Ba’da Isya, ini yang tidak mengenakkan, kondisi dapur yang berantakan, dan saya harus dinas malam : cuci piring porsi besar… Hoho.

Hehe, sedih lihat dapur. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s