Baparinggo

Ngomong-ngomong soal gigi, ayah dan ibu juga ikutan nimbrung menyoal gigi dan berlanjut pada masa bayiku. #eeh. Di ruang tengah, aku menceritakan tentang pergigian tadi kepada ayah dan ibu. Lalu ibu nyeletuk.

“Makanya kamu itu bandel sih. Kelas 4 dan 5 SD itu yang kebangetan. Malam-malam nggak mau gosok gigi. Siangnya makan es krim…, makan coklat…,” cerocos ibu dengan memanjangkan ujung pas kata ‘krim’ dan ‘coklat’. Saya nyengir bay bay. Heheh.

Ibu melanjutkan, “tapi kalau soal gigimu nggak bisa putih cemerlang,” itu memang sudah terprediksi sebelum lahir. Eh, sebelum lahir? Ini menarik.
“Kenapa bu?”

“Kebanyakan konsumsi antibiotik,” jawab ibu.

Aku mengerinyitkan dahi.

Ibu meneruskan ceritanya, “Waktu Ibu hamil kamu, Ibu kan dua kali kecelakaan. Pertama angkot yang Ibu naiki tabrakan, Ibu lagi di bangku dua. Terus yang kedua, Ibu jatuh dari vespa, waktu itu mau ke sekolah diantarin Om kamu, baju ibu licin, jatuh deh, dua tangan ibu patah, udah gede juga perut Ibu waktu itu. Makanya jadi keluar masuk rumah sakit, sering konsumsi antibiotik.”

Eeh,😦. Ini sebenarnya bukan kali keduanya aku mendengar cerita masa kecilku. Tapi hari ini tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Soal kecelakaan, ya aku tahu, aku pernah mendengarnya sebelum ini waktu ibu bercerita dengan teman-temannya dan aku mencuri dengar. Aku juga pernah melihat photo Ibu di rumah sakit, tangannya diperban, kakinya diperban, perutnya besar. Eeh, aku lah di dalam sana😥.

Ayah jadi ikutan nimbrung. “Kamu itu sebenarnya alah baparinggo, Na.”

“Baparinggo?,” aku heran (ntar dijelasin arti kosakata ini yah).

“Iya Baparinggo, usia lima hari itu, kepalamu dibotakin semua dan dipasang selang infus di ubun-ubunmu. Tahun-tahun itu Padang sedang kena wabah Diare. Kamu ikut terkena wabahnya dan harus dirawat di rumah sakit. Ibu selalu nangis-nangis lihat kamu dari kaca di luar rumah sakit,” terang Ayah.
“Ya, gimana nggak nangis, orang tiap hari itu selalu saja anak yang keluar dengan kain kapan,” ibu menyambung cepat di akhir kalimat ayah.
Ayah meneruskan, “Ayah marahi Ibu karena nangis-nangis terus. Ayah bilang, nggak boleh nangis, hanya akan melemahkan. Waktu itu, ada waktu-waktu untuk menyusui karena di ruangan itu tidak boleh ada banyak orang. Jadi ibu megang kamu hanya pada saat menyusui. Ibu menyusui kamu, tapi tubuhmu penuh dengan selang infus. Ubun-ubunmu itu bergerak-gerak. Yah, namanya juga anak baru lahir, lunak sekali kelihatannya.”

Ya Rabbi, begitukah aku? Allah, berarti aku termasuk yang engkau pilihkan untuk kuat dan bertahan hingga detik ini. :”)

Baju Monyet (tapi ini yang warna orensnya)

Baju Monyet (tapi ini yang warna orensnya)

“Tahun 1992, waktu itu Pemilu, kami baru pulang milih. Kamu step. Kejang-kejang dan matanya membelalak ke atas. Kamu usia 3 tahun. Ayah buru-buru bawa kamu ke bawah (kamar mandi,-red). Waktu melewati tangga, karena buru-buru, ayah melompati dua anak tangga. Tapi karena kalut, saat menyentuk lantai, kaki kiri ayah kepeleset. Ayah jatuh, kamu yang digendongan pun jatuh. Untung kepala kamu nggak kebentur, masih kepeluk sama ayah. Tapi kaki kirimu terhimpit kaki ayah. Waktu itu kamu baru-baru bisa jalan, karena terhimpit jadinya kaki kirimu itu lumpuh dan agak bengkok,” ayah meneruskan ceritanya.
“Untung Ibu sigap mengambil air dari kamar mandi dan menyemburkannya ke kepalamu saat itu juga, saat ayah jatuh. Untung kamu cepat sadar setelah disembur. Basah-basah rumah waktu itu ya, Bu,” ujar ayah sambil melirik Ibu.
Ibu mengangguk dan melanjutkan, “Itu loh sejarahnya baju monyet kamu.”
Eeh, hehe, aku ingat baju monyet. Baju monyet pemberian Bapak (ortu angkatku, ipar ayah, sebelum pindah ke rumah yang sekarang kami tinggal di rumah Bapak). Baju itu berwarna merah dan biru. Nggak tahu juga kenapa disebut Baju Monyet. Tapi baju model begitu disebutnya emang baju monyet ketika dulu.
“Baju monyet itu hadiah dari Bapak karena kamu udah bisa jalan lagi. Waktu kamu lumpuh, Bapak sering mengurut-urut kaki kiri kamu itu dengan embun pagi. Pagi-pagi habis shubuh, Bapak langsung gendong kamu dan bawa ke depan rumah. Beliau urut-urut kaki kamu sambil berdendang-dendang ‘Sembuhkanlah ya Allah, sembuhkanlah anakku Nilna Rahmi, sembuhkanlah kakinya, agar dia bisa berjalan kembali’ Begitu dendang Bapak berulang-ulang,” Ibu bercerita sambil menirukan dendangan dari Bapak.
Aku ingat waktu dibawa Bapak ke halaman depan rumah yang penuh rumput itu. Aku suka bau rumputnya. Tapi kok waktu itu aku nggak ngerasa lumpuh ya. Hehe. Dasar, namanya juga anak 3 tahunan, masih lupa-lupa ingat, eh ingat ingat lupa kayaknya.
“Trus juga saat paru-paru kamu bermasalah yang membuat kita tiap minggu ke dokter anak (ternyata sang dokter anak adalah dosen di kampusku, mantan PD 3 ku. Hehe). Amandel kamu yang hampir bikin ilang suaramu. Juga kelenjar di leher yang bikin cemas itu, kirain tumor,” ucap Ibu.
Aku senyam senyum saja mendengar cerita ayah dan ibu meski di dalam hati miris rasanya.
“Sampai SD kamu itu masih sering sakit-sakitan. Tiap bulan itu pasti ada liburnya karena demam lah, mimisan lah. Demam itu yang paling sering. Tapi anehnya, kamu tangguh juga ya,” celetuk Ayah lagi.
“Bu Guru kamu bilang, kamu aja yang nggak nangis waktu mimisan dan santai aja saat harus ke UKS sendirian,” sambung ayah mengenang.

Aku nyengir. Iyah, kalau di rumah aku mimisan, ibu ngasi daun sirih yang udah digiling untuk menghentikan darahnya. Nah, kalau di sekolah, aku diajarin dokternya : kalau mimisan, tengadahkan kepala, agar darahnya nggak meler. Jadinya, kalau tiba-tiba di sekolah mimisan, langsung deh menengadahkan kepala sambil permisi kepada Bu Guru.

“Buk, permisi mau ke UKS, mimisan,” hehe jadi ingat, itu ngomong ke gurunya sambil menengadah loh, dan langsung lari ke UKS yang ada di lantai 1 (ceritanya waktu SD cuma pas kelas 1 aja yang kelasnya di lantai 1, kelas 2-6 kalau nggak di lantai 2 ya di lantai 3. Hadeeeh, pantas ini kakiku kuat sekali. Wkwk). Sampai di UKS dikasi kapas di hidungnya, and then… boleh tidurrr… Asyyiiik… Hahay.

Yang paling parah waktu di Jakarta. Ayah dan Ibu juga mengulasnya sedikit tentang itu. Jadi ceritanya sekitar umur 4 tahunan, aku diajak ibu ke Jakarta. Eh, nyampe Jakarta malah sakit tipus. Yang rencananya mau liburan jadi repot keluarga-keluarga di Jakarta karena aku. Sampai-sampai Alm. Mami (adik ibuku) membelikan kasur n kelambu khusus untukku. Bahkan ayah pun sempat akan naik pesawat ke Jakarta demi nyusul aku. Ayah masih di Padang ketika itu. Dan zaman baheula itu, ongkos pesawat mahaaaallll….

“Memasuki MTsN kamu mulai jarang sakit. Palingan mimisan, itupun waktu kelas 1 aja. SMA bisa dibilang nggak sakit. Nah, kuliah ini, palingan waktu kamu sakit gigi yang terpaksa bikin kamu akhirnya ke rumah sakit,” ujar Ayah. Ayah menekankan pada kata “akhirnya”. Hehe.

“Tapi kemarin ini nih, sebelum kamu ke Kendari. Waktu Ibu umrah. Ayah yang panik. Bangun-bangun kamu udah pucat, kepalanya panas banget. Kayaknya itu sakit parah kamu yang kayaknya udah lama banget kamu nggak sakit, Na. Buru-buru kan kita ke Dokter. Yang ayah pikirkan, ibu nggak di rumah, kamu sakit, mau ke Kendari pula, sejauh itu,” sahut ayah dan menekankan di kata “Kendari”.

“Anehnya, Bu. Dua hari sebelum ke Kendari, dia udah sehat wal’afiat,” sebut ayah ke Ibu.

Aku senyam senyum mesem. Ibu menyimak sambil terus memeriksa hasil ujian muridnya di sekolah. Kendari… Hmm, waktu itu awal Mei. :”( Ya, awal Mei. Aku sakit tidak hanya karena kelelahan fisik tapi juga beban pikiran, beban perasaan, dan beban hati. Dan kekuatan untuk berangkat ke Kendari tidak lain dan tidak bukan hanyalah karena kekuatan yang dikirimkan, dikirimkan melalui kata-kata yang menyejukkan dan memekarkan, yang menyemangati diri ini untuk kuat. :”( Ah, nggak mau mengulas ini lebih banyak.

Well, kupikir hidupku semasa kecil repot banget yah. Tepatnya banyak ngerepotin orang karena kondisi fisik yang lemah. Sejak dalam kandungan aja udah banyak “penyakit” yang nyamperin. Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa aku masih bisa hidup sampai sekarang? Dan kalau diingat-ingat lagi, aku ini ternyata BENERAN BANDEL! Yaah, gimana nggak bandel, waktu di dalam kandungan aja bertahan hidup, pas ada wabah masih bertahan hidup, pernah lumpuh tapi nggak pernah ngaku (nggak ngerasain soalnya) Hehe. Yaa, satu hal yang kutahu, bahwa ternyata Allah SWT sangat sayang padaku, yang kutangkap bahwa Ia telah memilihku untuk tetap menjadi penduduk bumi ini hingga detik ini. :”) So, kenapa harus kusia-siakan. Cheer Up, Nilna. Masa depan menantimu.

Ah, lagi-lagi, ya masa depan yang selalu diingatkannya. Mau stagnant atau move On? Rabb, kuatkan aku. :”)

Oh iya, What’s the meaning of BAPARINGGO. Hmm, gimana ya jelasinnya. Paringgo/Baparinggo itu istilah untuk suatu keadaan, misalnya kain sobek trus dijahit lagi, atau kaca pecah trus di lem. Artinya sudah pernah kena, kalau nggak hati-hati, mudah banget kena lagi.

Itu yang dimaksud ayah. Ayah bilang, aku itu baparinggo. Mengingat semua “lemahnya” aku waktu kecil, ayah dan ibu cemas jika aku tak pandai menjaga kesehatanku sendiri maka akan dengan mudah aku sakit lagi, dan yang paling diingatkan ayah da ibu tentang laptop yang sehari-harian ditatapin terus, kepalaku yang paling mereka cemaskan.

Ah, Ayah… Ibu… :”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s