Ci Mancik

Ci Mancik

Nilna R. Isna

Kita berlarian menuju pohon ceri . Berkejaran berganti-gantian. Kadang-kadang kau yang jaga, aku sembunyi. Kadang-kadang aku yang jaga, kau sembunyi. Kadang-kadang kita sembunyi bersama, tidak ada yang menjaga. Atau boleh jadi, kita yang jaga bersama-sama, tidak ada yang sembunyi.

“Ciek… Duo… Tigo…,” begitu aku berhitung jika sedang jaga.

“Satu… Dua… Tiga….” Nah, kalau kau yang berjaga, ini bahasa yang kau pakai.

Lalu kita berganti-gantian bersembunyi di bawah pohon ceri.

Waktu itu, kau dan aku tak peduli siapa yang menang siapa yang kalah. Yang jelas kita sama-sama bermain, sama-sama tertawa. Kataku, permainan ini bernama Ci Mancik. Tapi kau menggeleng. Katamu, namanya Petak Umpet.

“Bukan, namanya Ci Mancik. Itu kecek Ibu Rani (Itu kata Ibuku).”

“Rani, aku juga sering main ini di Jakarta. Namanya Petak Umpet.”

Kita beradu mulut. Tapi akhirnya, aku mengalah, lalu kau pun ikut mengalah. Bukan Ci Mancik atau Petak Umpet, kita sepakat menamai permainan itu “Mencit”.

Bermain Ci Mancik seakan sudah menjadi perkara wajib bagi kita. Setiap hari sepulang sekolah, kita bermain Ci Mancik tanpa mengganti seragam terlebih dahulu bahkan tanpa pulang ke rumah untuk sekedar meletakkan tas. Kalau sudah begini, Ibu selalu berang ketika aku pulang dengan seragam yang awut-awutan. Ia menjewer telingaku dan menyeret masuk ke kamar.

“Ganti seragam dulu sepulang sekolah, makan, bikin PR, baru pergi main,” teriak Ibu marah.

Aku tertunduk malu campur kesal.

“Kenapa sih, Ibu tidak pernah mau melihat anaknya senang sebentar,” batinku dalam kekanakanku sebelum masuk ke kamar lalu membanting pintu.

Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu ketika pulang dengan kondisi awut-awutan sepertiku. Mungkin kau dimarahi dan dijewer sepertiku. Mungkin juga kau dibelai lembut oleh ibumu, ia mengganti bajumu yang kotor, dan kau dipersilahkan makan dengan tenang. Aku berpikir begini karena tidak pernah melihat telingamu merah di pagi hari ketika kita sama-sama berangkat sekolah. Kau selalu cantik dengan kepang rambutmu yang rapi, bajumu juga licin dan putih bersih. Meski aku tahu, kau tak pernah memakai baju baru. Bajumu selalu saja bekas baju kakakmu. Tidak seperti aku yang setiap tahun memakai baju baru. Untuk hal ini, aku merasa menang dari dirimu.

Hari ini, kita pulang sekolah dengan riang gembira. Seperti biasa, kita berjalan kaki dari sekolah ke rumah. Jarak rumah dengan sekolah cukup jauh kalau tidak mau dibilang dekat. Aku selalu menawarimu naik angkot.

“Naik angkot saja. Lebih cepat. Tidak mengeluarkan tenaga. Ayo!,” ucapku merayu.

Kau menggeleng, malah balik merayuku.

“Kita jalan kaki saja, Rani. Kalau kita jalan kaki, bisa beli es di warung Babe, bisa main ayunan di TK depan, terus kita main Mencit di dekat pohon ceri. Nanti kau sembunyi saja di bawah pohon. Seperti biasa,” ucapmu sambil mengerlingkan mata.

Ah Tika, kau terlalu pandai merayuku. Aku mengikuti keinginanmu dan kita pulang jalan kaki bersama.

Kita sampai di warung Babe. Aku masih ingat pesan Ibu, ‘Jangan jajan sembarangan ya, Nak. Apalagi jajanan es. Kamu bisa sakit nanti.’ Tapi, karena kau tampak asyik mencucut es lima ratusan itu, aku tergiur juga. Aku mengikutimu membeli es yang sama. Lalu, mencucutnya berdua. Tertawa-tawa.

Puas minum es yang cukup melepaskan dahaga. Aku melihat keramaian di persimpangan masuk rumah kita. Terdengar suara-suara gendang darisana. Aku menarik tanganmu. Kau sempat protes.

“Rani, apa-apaan sih. Sakit tau kamu tarik begitu.”

Aku terus menarikmu sambil berlari, menjawab pertanyaanmu dengan mengacungkan telunjuk ke arah keramaian itu.

“Oh itu, masa kamu nggak tau. Itukantopeng monyet.”

Kau balik menarik tanganku, membuatku berhenti berlari. Aku menatapnya, sedikit ternganga.

“Topeng apa?”

“Topeng Monyet.”

“Apa itu?”

“Apa ya? Yang jelas ada monyet menari-nari sambil membawa payung. Kadang-kadang dia menarik gerobak kecil yang dibuat pemiliknya. Monyet itu berjoget-joget sesuai irama gendang yang ditabuh tuannya.”

“Aku mau tahu. Kita lihat yuk!”

Rani mengangguk. Kemudian kita berlari kecil menuju arena topeng monyet itu. Sekali lagi aku ternganga. Baru sekali itu aku melihat topeng monyet. Aku tertunduk malu. “Tika memang pintar,” batinku, “dia tahu segalanya. Dia pernah tinggal diJakarta. Aku saja yang belum pernah keJakarta. Huh.”

Selama ini, sejak kepindahanmu dariJakartakePadang. Aku selalu menemanimu bermain. Bermain ini-itu. Kadang-kadang kau menginap di rumahku. Kita bermain boneka bersama. Atau kita bermain tali karet yang ujung-ujungnya diikatkan ke tiang-tiang teras rumahku. Tapi, aku tak pernah main apalagi menginap di rumahmu. Tidak boleh oleh Ibuku.

Kau selalu berbahasaIndonesiakepadaku. Tentu saja, dulu kaukantinggal diJakarta. Kau tak pandai bahasa Minang. Karena kau berteman denganku dan aku ingin berteman denganmu, aku mengikutimu berbahasaIndonesia.

“Jadinya aku bisa dua bahasa : Minang dan Indonesia,” kilahku pada Ibu yang heran sejak aku berteman denganmu selalu menggunakan bahasa Indonesia.

Sebenarnya bukan itu alasanku. Aku hanya tidak mau dibilang kampungan oleh teman-teman di sekolahku. Kitakanmasuk sekolah di hari yang sama, di kelas yang sama, di bangku yang sama pula. Kau lincah sekali memperkenalkan dirimu di depan kelas. Aku pun ingin sepertimu. Maka, aku memperkenalkan diriku di depan kelas meniru kalimatmu. Yah, tidak selincah dan seanggun sepertimu. Tapi paling tidak, orang-orang menatap kagum padaku karena aku teman dekatmu, aku tinggal bertetanggaan denganmu, dan aku berbahasaIndonesiasepertimu. Itu sebabnya, aku menggunakan bahasa Indonesia dalam pergaulanku hingga sekarang. Bahasa minang hanya kupakai apabila berbicara di rumah atau berhitung ketika kita main Mencit.

“Tika, kita main Mencit dulu, yuk!,” ajakku setelah tontonan topeng monyet itu berakhir.

Seperti biasa, kau menjawab dengan anggukan. Kita mempercepat langkah menuju pohon ceri, takut tidak cukup waktu karena terlalu lama menonton topeng monyet tadi. Sesampainya di bawah pohon ceri, kita menanggalkan tas, lalu suit.

“Suit!”

Aku jempol, kau telunjuk. Aku yang menang. Kau yang jaga. Aku berpikir jahil kala itu. Aku pun bediri saja di belakangmu. Kau mulai menghitung, “Satu… dua… tiga…,” sampai sepuluh. Aku terkikik tertahan di belakangmu. Mungkin kau berpikir aku akan bersembunyi di antara semak-semak di bawah pohon ceri. Sebentar lagi, kau mengakhiri hitunganmu, “delapan… sembilan….”

“Hap!” Aku menyentuh batang pohon ceri yang kau jaga tepat saat kau mengakhiri hitunganmu yang ke sepuluh. Kau bersungut-sungut kesal.

“Aku menang!… Aku menang!… Aku menang!..,” teriakku girang.

“Ah, kamu curang! Curang! Aku benci kamu. Kamu curang!”

Tindakanmu sungguh mengagetkanku, Tika. Kau berlari menjauhiku sambil terus mengucapkan kata “curang”. Kulihat air matamu menitik. Aku terpana melihat tingkahmu. Aku merasa bersalah seakan-akan telah melakukan dosa besar padamu. Aku menyalahkan diri.

“Oke, aku kalah!,” desisku.

Tapi kau terus berlari.

Nyaris dalam setiap hal, aku mengalah demi dirimu. Jangankan mengalah, aku memang kalah dibandingkan dengan dirimu yang cantik, rapi, pintar, dan dulu tinggal diJakarta. Apakah salah jika aku sekali-kali berteriak menang di depanmu. Aku terus menatapmu hingga kau berbelok ke pekarangan rumahmu, hingga kau hilang dari pandanganku.

Sejak saat itu, aku jarang sekali bertemu denganmu, Tika. Hanya sesekali aku dapat melihat sekelebat bayanganmu dari balik jendela. Kita tidak pernah lagi pergi ke sekolah bersama. Kita tak pernah lagi pulang sekolah berjalan kaki sambil bergandengan. Kita juga tidak pernah bermain Ci Mancik di bawah pohon ceri. Pun di sekolah, kau tak pernah mau menatapku apalagi berbicara padaku.

Sebenarnya, aku ingin teriak marah di depanmu. Menghujammu dengan kata-kata bengis.

“Kau egois! Mau menang sendiri! Kau jahat! Kau memojokkanku! Apa sih salahku! Dasar anak manja! Egois!”

Tapi, kata itu tak pernah sampai di telingamu, Tika. Aku hanya mampu memendamnya di dalam hati.

Setiap malam, aku menyalahkan diri. Sesekali aku mengumpatmu di balik bantal. Hingga suatu hari, aku mendengarmu pindah rumah ke Jakarta lagi. Aku tahu, kepindahanmu ini tidak ada sangkut pautnya dengan pertengkaran kita. Tapi kau pasti senang karena kau tak perlu lagi bertemu denganku di sekolah atau memergokiku mengintipmu di dalam rumah. Kau pasti senang sekali, Tika.

Bertahun-tahun setelah pertengkaran itu, aku tumbuh remaja, sama seperti dirimu. Kita tumbuh bersama-sama menjadi remaja, menjadi dewasa. Tapi kita berada dikotayang berbeda. Aku meninggalkan bermain Ci Mancik di bawah pohon ceri seperti kau meninggalkanku. Aku benar-benar merindukan permainan itu, permainan Ci Mancik yang namanya kita ciptakan sendiri : Mencit. Tika, aku pun merindukanmu di bawah pohon ceri tempat kita bermain dulu.***

Nilna R. Isna. Lahir di Padang, 31 Mei 1989. Sekarang kuliah di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat F. Kedokteran Universitas Andalas. Bergiat di Sanggar Sastra Citra Hati Sumatera Barat.

Ket : Ci Mancik telah diterbitkan di P’Mails Padang Ekspres Tahun 2008


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s