Anak Sakarek Ula Sakarek Baluik

Wisran Hadi

*mengenang satu hal yang digelitik Alm. Wisran Hadi

“Amak bahaso minang, Abak bahaso minang, nan anak ndak ngarati jo bahaso minang(1),” ujar Etek(2) geram. Aku mendengarkannya sambil terus mengupas bawang. Pagi menjelang siang itu, aku dan Etek sedang mempersiapkan makanan untuk makan siang kami nanti. Lalu, anak tetangga kami yang masih berusia 4 tahun datang bersama kakaknya untuk meminjam sulo(3). Etek meminjamkan sulo itu tapi ia geram. Bukan karena sulo yang dipinjam, tapi karena bahasa yang digunakan oleh kedua anak adalah bahasa Indonesia, bukan bahasa minang. Sehingga yang seharusnya dipinjam adalah “sulo” menjadi “sula”.

Bukan berarti Etek tidak suka bahasa Indonesia. Bukan begitu. Tetapi yang Etek tidak suka adalah para orangtua modern saat ini yang tidak lagi memperkenalkan bahasa daerah sebagai bahasa ibu di dalam keluarga. Akhirnya, sang anak yang punya darah minang tadi, tidak pandai bahasa minang. Lalu, dimana letak tanda-tanda keminangannya? Etek setuju setiap anak diajarkan bahasa Indonesia, tetapi Etek tidak setuju jika anak-anak tidak diajarkan bahasa daerah mereka.

Etek pun menceritakan kepada saya tentang sebuah acara yang ditontonnya di televisi lokal, TVRI SUMBAR. Etek yang notabene “ibu rumah tangga paling rumahan” itu bercuap-cuap tentang cuapan sosok budayawan minang yang menjadi pengasuh dalam acara itu. Pada acara itu Sang Budayawan menyindir ibu-ibu dan ayah-ayah yang tidak mengajarkan bahasa minang kepada anaknya sejak lahir hingga dewasa. Padahal ayah dan ibunya orang minang, kakek dan neneknya orang minang, ia lahir di minang, ia pun besar di minang, tapi tidak pandai bahasa minang. Sementara sang anak di lingkungan sosialnya akan sangat sering terpapar dengan bahasa minang baik di lingkungan pertemanan, sekolah, masjid/mushalla, pasar, angkot, sampai ke kedai-kedai di depan rumah ketika sang anak ingin membeli permen, coklat, atau ciki-ciki(4). Alhasil jadilah anak itu, meminjam istilah di acara tersebut : sakarek ula sakarek baluik(5).

Sejak saat itupun Etek tak pernah meninggalkan barang sekali pun acara tersebut. Belakangan saya tahu, acara itu berjudul SURAMBI ADAT yang diasuh oleh budayawan terbaik di Sumatera Barat : Bapak Wisran Hadi.

Izinkan saya memunajatkan doa terlebih dahulu kepada beliau, kepada Pak Wis :
Alloohummaghfir li Wisran Hadi warfa’ darajatahuu fil mahdiyyiin wakhlufhu fii aqibihii fil ghaabiriin waghfir lanaa walahuu yaa rabbal aalamiin wafsah lahuu fii qabrihi wa nawwir lahuu fiihi. Ya Allah ampunilah Bapak Wisran Hadi, angkatlah derajatnya dalam kelompok orang-orang yang mendapat petunjuk, berilah penggantinya sesudah kepergiannya menyusul orang-orang yang telah berlalu, ampunilah kami dan dia, wahai Tuhan Alam Semesta. Berikanlah beliau kelapangan di dalam kuburnya dan terangilah beliau di dalam kuburnya. Aamiin.

Bapak Wisran Hadi adalah tokoh sastrawan dan budayawan yang mulanya melukis kemudian menjadi penulis. Beliau lahir di Padang, Sumatera Barat, 27 Juli 1945 dan kemudian dibesarkan, besar, dan membesarkan anak-anak di ranah Minang, Sumatera Barat. Beliau memiliki 1 orang istri dan 4 orang anak. Istrinya, Profesor Raudha Taib adalah keluarga pewaris Kerajaan Pagaruyung.

Seperti AA Navis, Wisran Hadi adalah sastrawan Sumatera Barat yang membuktikan untuk terkenal dan menjadi sastrawan kaliber nasional bisa dari daerah. Setelah menamatkan pendidikan di ASRI Jogjakarta pada tahun 1969, beliau mewakili Indonesia dalam International Writing Program di Iowa University, Iowa, USA selama 4 bulan pada tahun 1977. Ia juga melakukan observasi teater modern Amerika Serikat di New York tahun 1978 dan di Amerika dan Jepang tahun 1987.

Pada tahun 1991 dan tahun 2000, Wisran Hadi mendapatkan penghargaan sebagai Sastrawan Terbaik Indonesia oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tahun 2000 mendapat penghargaan South East Asia (SEA) Write Award. Tahun 2003 mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia. Beliau dua kali dia dianugerahi penghargaan oleh Pemerintah Kota Padang (1976 dan 2005) sebagai seniman teladan dan budayawan Indonesia.
Tak hanya itu, beliau juga mengajar dengan menjadi dosen tamu untuk mata kuliah Sejarah dan Filsafat Seni dan Penulisan Kreatif pada Akademi Seni Kebangsaan (ASK) Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia di Kuala Lumpur. Sebelumnya menjadi dosen luar biasa pada Fak.Sastra Universitas Andalas Padang.

Kita bisa membacanya pada surat kabar Padang Ekspres, surat kabar Singgalang dan Haluan. Kita juga bisa melihatnya pada acara Surambi Adat Wisran Hadi di TVRI Sumatera Barat. Selain menulis, melukis dan mengajar, dia juga banyak memberikan makalah pada berbagai seminar, baik di Indonesia maupun di Malaysia.

Namun, pada selasa pagi yang mendung, Pak Wisran Hadi meninggalkan kita, meninggalkan Surambi Adat yang masih ingin ditonton oleh Etek, meninggalkan Jilatang dan Sabai Nan Aluih yang menggelitik di Harian Pagi Padang Ekspres, meninggalkan ratusan naskah yang lebih banyak dari naskah teaternya William Shakespare, meninggalkan anak-anak muda yang sangat dekat di pikirannya sebagai generasi penerus moral ABS-SBK6, meninggalkan keluarga yang dicintai, sahabat-sahabat yang disayangi, serta meninggalkan semua masyarakat minang yang mencintai dan menyayangi beliau.
Wisran Hadi meninggal pada Selasa pagi, 28 Juni 2011, pada saat mengetik di depan komputer sembari menunggu salah satu tulisannya yang dimuat di Koran lokal Sumatera Barat, Haluan. Beliau tiba-tiba terkulai jatuh dan kemudian dipapah putranya ke dalam kamar, di kamar itulah beliau dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

Selamat jalan Pak Wis, ayahanda yang mengingatkan saya akan pentingnya bahasa ibu sebagai tetanda. Sungguh, saya masih membutuhkan kehadiran Bapak, tetapi Allah SWT telah berkehendak. Setidaknya, Bapak Wisran Hadi telah menunjukkan salah satu kunci sorganya dalam amalan yang tak pernah terputus yaitu Ilmu yang bermanfaat : karya-karya yang tetap hidup di sanubari tanah ini hingga bertahun-tahun setelah ini.

Keterangan :
(1) Amak bahaso minang, Abak bahaso minang, nan anak ndak ngarati jo bahaso minang, terjemahan : Ibu berbahasa Minang, Ayah berbahasa Minang, anak tidak mengerti (tidak pandai) berbahasa Miinang”
(2) Etek, panggilan Minang untuk Tante.
(3) Sulo, bahasa minang untuk alat pengupas kelapa
(4) Ciki-ciki, istilah di Padang untuk makanan ringan
(5) Sakarek ula sakarek baluik, terjemahan : sekerat ular, sekerat belut = pribahasa yang maknanya orang yang tidak memiliki pemahaman yang utuh akan sesuatu perkara, sehingga suka main comot sana dan sini.

Beberapa tulisan yang menjadi rujukan :
1. “Tentang Wisran Hadi” dikutip dari http://wisranhadi.wordpress.com/tentang-wisran-hadi/
2. “Detik-detik Terakhir, Wisran Hadi Tengah Menulis” dikutip dari http://inioke.com/konten/7224/detik-detik-terakhir-wisran-hadi-tengah-menulis.html
3. Cerita-cerita di Pandam Pekuburan Keluarga Wisran Hadi di Siteba

In Memorian with Wisran HadiMasjid dimana Ayahanda Wisran Hadi disholatkanPeristirahatan terakhir, Karangan Bunga, dan Keluarga yang ditinggalkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s