Ritual Pekan Budaya

Niatnya, mau ke Sanggar Sastra Pelangi jam 2 siang hari minggu ini. Udah 2 x pertemuan Nilna nggak ke sanggar gara-gara agenda Coaching. Bahkan udah izin segala untuk tidak hadir hari ini. Tapi, Alhamdulillah nggak jadi coz jadwalnya berubah dan juga karena jadwal Mubes yang mundur minggu depan (Alhasil, minggu besok mesti mikirin ujian coaching KKN dan Mubes HIMA de). Tapi, sekedar memastikan saya SMS Opie (Maghriza Novita Syahti). Opie bilang tanya Kak Ria (Ria Febrina) coz Opie ragu apakah Sanggar tetap di basecamp atau pindah ke Pekan Budaya.

Kebetulan, hari ini adalah pembukaan Pekan Budaya Sumatera Barat tahun 2010 bertempat di Taman Budaya hingga Museum Adityawarman Taman Melati. Saya pun SMS kak Ria. Mumpung Kak Ria sedang berada di Pekan Budaya, saya sms lagi, “apakah saya perlu ke sana?”. (Ssst, bunyi smsnya seperti saran Opie. Hehe). Kak Ria SMS singkat, “Iya, secepatnya!”.

Tak sulit menemukan Kak Ria di Pekan Budaya, beliau sedang mewawancarai Uni Tanah Datar di ruang pameran Pekan Budaya. Kak Ria ditemani David Pratama as photographer. Saya pun ikut wawancara beberapa Uda-Uni (icon wisata,-red) Kota dan Kabupaten yang ada. Eheem, beberapa pertanyaan emang sedikit menguji-uji sih seberapa luas sih wawasan para Uda-Uni ini terhadap pariwisata dan budaya tempat mereka eksis? Hehe. Peace! Beberapa yang diwawancarai emang ada yang mengecewakan namun ada juga yang tahu secara luas seluk beluk budaya dan pariwisata negerinya. Jadi, sebandinglah. Selain itu juga sempat wawancara Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Bapak James Hallyward. Kalimat yang saya ingat dari Bapak James, “Remaja Sumatera Barat WAJIB ke Pekan Budaya Sumatera Barat 2010 agar mereka tahu kebudayaan negerinya” Terengteng…teng…, secara nggak langsung saya wajib juga promosi Pekan Budaya ke teman-teman remaja.

Wajib hadir dan meliput Pekan Budaya Sumatera Barat sebenarnya sudah yang kesekian kali saya lakukan. Pertama kali saat Pekan Budaya 2007, pada masa itu hampir setiap hari dalam sepekan saya ke Pekan Budaya Sumbar. Alasan ketika itu simpel saja, selain untuk meliput buat P’Mails, juga karena bosen nganggur di rumah, secara pada saat itu masa-masa kosong selepas SPMB menjelang pengumuman keluar. Semenjak itu, setiap tahun, saya mewajibkan diri ke Pekan Budaya.

Di pekan budaya pun, ada ritual yang hampir tiap tahun saya lakukan. Dan ini biasanya saya lakukan bersama Opie yaitu : (sesuai urutan)

1. Berburu brosur pariwisata dan budaya di ruang pameran. Sekali jalan wajib singgah ke stand-stand untuk isi absen sana-sini dan ambil brosur ini-itu.
2. Sembari isi absen dan ambil brosur itu, kami selalu iseng nanya ke Uda-Uni (duta wisatanya, semacam Abang-None-red) yang ada di stand tersebut. Nanya-nanya sekaligus ngetes, apakah para Uda-Uni ini benar-benar memiliki wawasan yang luas terhadap daerahnya? Nyatanya, hampir pada setiap tahun, selalu ada yang membuat kami kecewa atas jawaban-jawaban tak maksimal yang dikeluarkan oleh beberapa diantara mereka.
3. Ke Gallery. Khusus untuk Gallery, kalau tidak salah baru mulai tahun 2008. Gallery adalah tempat favorit yang wajib kami kunjungi. Gallery adalah tempat untuk pameran lukisan. Pertama kali ke Gallery tahun 2008, saya takjub sekali. Jujur, itu kali pertama saya mengunjungi Gallery Lukisan. Selalu saja ada makna yang rahasia tapi menggoda untuk diterka dalam setiap lukisan yang ada. Ini juga menjadi tempat paling penting untuk berphoto-photo ria. Hehe
4. Kantin Mami. Kantin mami adalah tempat apabila kami lapar dan haus. Hohoho.
5. Selebihnya, kami akan keliling-keliling seputar lokasi pekan budaya. Mungkin ke museum, mungkin ke galeri depdiknas dan depdikbud, mungkin nonton teater, mungkin nonton randai, atau jalan-jalan ke pantai. Dengan satu hal, apapun yang kami lakukan di Pekan Budaya menghasilkan sebuah berita dan menerbitkan sebuah cerita.

Oh ya, untuk tahun ini, Sanggar Sastra Pelangi kembali bergembira. Opie masuk dalam 15 besar UBUD Writer Festival. Awarnya, jalan-jalan ke Bali untuk pertemuan sastrawan nasional free transportation and free accommodation. Waah, mantap. Teman-teman Sanggar langsung nitip ini-itu ke Opie. Sampai-sampai Opie kepikiran untuk membawa dua koper kosong dari Padang khusus untuk membawa oleh-oleh titipan. Hoho.

Walaupun Opie pribadi belum dapat surat resmi dari Bali, tapi kami yakin kabar berita itu pasti benar. Opie atau Maghriza Novita Syahti memang terbaik di sanggar kami atas kekonsistenannya dalam menulis. Apapun perlombaan menulis cerpen yang diikutinya, Opie selalu keluar sebagai pemenang. Bahkan Ibu saya, sampai sekarang tak henti-henti memuji cerpen “Lukisan Hujan” yang menjadi pemenang dalam LMCR 2008. Saya selalu salut dengan Opie untuk manajemen waktu yang dimilikinya. Meskipun sibuk kuliah, mesti bolak-balik Padang Bukittinggi, Opie tak pernah keteteran dalam menulis. Ia tetap menulis cerpen, tetap menjadi jurnalis untuk inioke, tetap mengikuti even-even di kampusnya, tetap mengurusi organisasi kampusnya, tetap punya waktu untuk keluarga, dan juga tidak kehabisan waktu untuk sekedar berkumpul bersama teman-temannya. Ini yang tidak saya punya, manajemen waktu yang baik seperti yang dimiliki Opie. (Hehe, bahkan untuk ke kampus pun, masih sering telat dan malam-malam masih sering begadang. Hoaalah. Mesti belajar ke Opie niih!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s