Melepas Penat di Dalam Dada (*)

Sore itu, Lyla menangis. Teman-temannya kasak kusuk kebingungan sambil berbisik-bisik. “Lyla kenapa? Lyla kenapa? Kenapa dia?,” demikian bisik-bisik ribut itu terdengar. Sekitar tiga orang berdiri di dekat Lyla, mencoba menenangkannya, mengusap-ngusap jilbabnya dan memegang tangan Lyla, agar beban yang ia rasakan sedikit ringan.
Tak jauh dari Lyla yang menangis, ada lagi sekelompok orang yang berkerumun. Mereka tampak berdiskusi. Diusut, ternyata yang mereka diskusikan adalah sebab musabab Lyla menangis. Niko akhirnya tunjuk tangan.  Sebelum menangis, Niko sempat berkata dengan suara keras pada Lyla. Mungkin Lyla kaget. Meskipun yang disampaikan Niko bukanlah kata-kata kasar, hanya nadanya saja yang keras. Niko meminta maaf pada Lyla.
Tapi, semakin Niko berusaha meminta maaf, semakin Lyla menangis. Kata Lyla, “Bukan ini bukan salah Niko.”  Lalu, muncul Andi, kali ini Andi juga merasa bersalah. Tadi, sebelum menangis, Lyla meminta tolong kepada Andi untuk mengantarkan surat ke Kepala Sekolah agar ditandatangani. Tapi, Andi menolak. Lyla meminta kepada yang lainnya, yang lain juga menolak. Tinggal Lyla sendiri dengan setumpuk surat di tangannya. “Bukan ini bukan salah Andi,” ucap Lyla lagi, ia masih menangis. Teman-teman Lyla makin bingung.
Lyla merupakan ketua acara perpisahan sekolah. Kepanitiaan sudah dibentuk. Acara tinggal satu minggu lagi. Namun surat-surat undangan belum lah kelar. Tadinya, sudah ditandatangani mulai dari sekretaris panitia sampai kepala sekolah. Tapi, ketika di tangan kepala sekolah, surat tersebut dicek, ternyata banyak kesalahan dalam penulisan, baik soal EYD maupun isi surat. Alhasil, Lyla yang ditegur kepala sekolah. Padahal yang membuat surat bukan dirinya, tapi seketarisnya.  Jelas, Lyla kesal tapi tak bisa menyalahkan karena ia sendiri luput mengecek kebenaran surat di tangannya.
Surat telah diperbaiki, saatnya kembali mengantarkan surat ke kepala sekolah. Hari sudah sore menjelang magrib. Tak mungkin Lyla sendiri yang harus ke rumah kepala sekolah. Tak mungkin gadis itu yang berkeliling-keliling mencari alamat kepala sekolah di malam hari. Lyla meminta bantuan pada teman laki-lakinya. Diminta kepada Andi, Andi menolak. Diminta kepada Reza, Reza menolak. Diminta kepada Soni, Soni menolak.  Semuanya menolak.
Lyla kesal. Ia mencari tahu alamat kepala sekolah sendirian. Alamat rumah kepala sekolah sudah didapat. Tapi, Lyla tidak hapal jalan. Meskipun alamat sudah didapatkan, ia tidak tahu harus melewati jalan apa. Ia bertanya. Kemudian datang Niko, Niko berbicara keras kepada Lyla, “Masa’ itu saja nggak tahu!!!” ujar Niko keras. Lyla kaget. Ia membalik badan. Diam. Bahunya tampak bergetar. Lyla menangis, menangis di tempat, air matanya mengalir deras, tapi Lyla tak mengeluarkan suara sedikit pun.
Saat itulah teman-temannya tersadar. Bahwa Lyla telah menangis.  Tapi ia menangis sendirian tanpa jelas sebab musababnya. Teman-temannya yang lain, yang tidak tahu apa kejadian, ingin tahu apa yang terjadi. Akibatnya, ruangan OSIS itu kemudian ribut dengan menangisnya Lyla.” Ada apa dengan Lyla?” tanya mereka.
***
Lyla sudah agak sedikit tenang. Ia mulai menghapus air matanya dan mengusap wajahnya yang basah. Ia mulai bisa berbicara dengan nada tenang. “Tidak ada yang salah. Tidak ada satupun yang salah. Lyla hanya capek. Lyla hanya ingin melepas penat di dalam dada,” ucap Lyla tersenyum.
Teman-teman Lyla, yang juga panitia acara perpisahan, kembali meminta maaf pada Lyla kalau-kalau ada kesalahan tak sengaja yang terlakukan. Lyla mengangguk pasti memaafkan mereka dan Lyla juga meminta maaf karena telah merepotkan teman-temannya. Teman-teman Lyla, yang juga panitia acara perpisahan, berjanji apabila Lyla membutuhkan bantuan, mereka pasti akan membantu.
Lyla pulang. Dalam perjalanan pulang. Ia heran sendiri sekaligus malu. Kenapa tadi ia harus menangis? Jangankan teman-temannya, Lyla sendiri tak tahu kenapa ia harus menangis. Apakah karena sekretarisnya yang telah salah membuat surat? Bukan. Apakah karena Andi yang tak mau mengantarkan surat? Tidak. Apakah karena Niko berkata kasar? Tidak juga. Tapi apa? Lyla bingung.
Tapi saat ini, ia sudah merasa nyaman. Kadangkala hidup mengharuskan untuk menangis meski tidak tahu betul apa yang membuat ingin sekali menangis. Yang diketahui bahwa segala sesuatu telah dilakukan dengan benar tetapi tetap saja kesalahan selalu dibebankan dan keputusan yang diambil dianggap salah.
Setidaknya Lyla telah melepaskan semuanya : melepaskan penat di dalam dada. Lyla teringat pada sebuah kalimat, “Bukan pukulan ke-100 yang memecah batu, tapi 99 pukulan sebelumnya.” Lyla akhirnya mengerti kenapa ia menangis tadi dan ia berharap teman-temannya yang lain pun mengerti.
(*istimewa untuk Icha dan teman-teman dalam setiap kepanitiaan)

2 thoughts on “Melepas Penat di Dalam Dada (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s