UN Dihapuskan Atau Tidak???

UN Dihapuskan atau Tidak?
(Reporter : Anggi Resty Harlen/SMAN 6 Padang, dirangkum oleh : Nilna Rahmi Isna)

Kabarnya, Ujian Nasional (UN) akan dihapuskan. Hal ini dinyatakan berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak kasasi gugatan UN yang diajukan pemerintah. Mahkamah Agung dinyatakan memenangngkan gugatan citizen law suit tentang penyelenggaraan Ujian Nasional. Putusan MA itu dikeluarkan dengan nomor register 2596K/PDT/2008 pada 14 September 2009. Dengan putusan ini, UN dinilai cacat hukum dan pemerintah dilarang menyelenggarakannya. Dengan kata lain, berdasarkan ketentuan hukum, UN resmi dihapuskan.
Beberapa alasan tentang disepakatinya penghapusan UN mencuat muncul dari berbagai kalangan, baik kalangan akademisi maupun tidak. Alasan-alasan itu antara lain bahwa tidak adil rasanya bagi siswa jika kelulusan mereka hanya ditentukan oleh satu buah tes. Belum lagi imej UN yang sudah menjadi momok menakutkan bagi siswa bahkan santer terdengar ada siswa yang sampai bunuh diri segala. Kasus-kasus janggal juga sering terjadi dimana siswa yang sehari-harinya terlihat pintar nyatanya tidak lulus dan kesalahan yang terjadi biasanya kesalahan bersifat teknis, seperti salah menggunakan pensil, lupa menuliskan tanggal, dan sebagainya. Selain itu berdasarkan pengalaman, pelaksanaan UN selama ini terkesan ‘tidak bersih’. Sering terjadi kecurangan baik dari pihak siswa, guru, ataupun elemen-elemen di luar itu. Akibatnya, kualitas pendidikan jadi tidak merata, pelaksanaan UN mubazir dan cenderung membuang dana.
Jikalaupun UN tetap dilaksanakan, pemerintah mestinya melihat sistem pendidikan secara menyeluruh. Sarana dan prasarana pendidikan masih belum merata di seluruh Indonesia yang menyebabkan siswa-siswi di kota menjadi lebih “terjamin” dibanding siswa-siswi di daerah.
Akan tetapi, jika UN tidak dilaksanakan, muncul masalah baru yakni bagaimana mengukur kualitas siswa. Harus ada sesuatu yang menjadi tolak ukur ataupun jaminan mutu kualitas pendidikan para lulusan sekolah-sekolah di Indonesia.
Hal ini diperkuat dengan pernyatan Seto Mulyadi (Ketua Komnas Perlindungan Anak) seperti yang dilansir dalam http://www.kompas.com. Kak Seto mendukung UN tidak perlu dihapus. “Kelulusan setiap siswa di level pendidikan didasarkan pada proses belajar mengajar selama siswa di sekolah. UN ditempatkan sebagai bagian dari proses penilaian. Melalui UN pula, pemerintah atau sekolah bisa menggunakannya untuk mengevaluasi sarana dan prasarana pendidikan seperti kualitas guru, kurikulum, dan standar penilaian,” demikian alasan Kak Seto yang bisa dijadikan pertimbangan semua pihak.
Nah, perdebatan dan ketidakjelasan mengenai UN ini membuat para pelajar yang notabene merupakan objek dari putusan ini kebingungan. Quincha Diandra Putri misalnya. Siswi SMPN 9 Padang ini mengaku pusing. “Masalah UN yang masih diperdebatkan ini membuat para murid pusing. Kata pemerintah UN tetap diadakan sedangkan MA tidak menginginkan. Dan hingga sekarang belum ada keputusan,” ujarnya sedikit kesal. Icha, panggilan akrabnya, melanjutkan dengan keheranan. “Meski katanya dihapuskan, tapi UN tetap diadakan di bulan Maret. Menurut Icha sih, pendidikan Indonesia masih banyak kekurangannya,” tutur kelahiran tahun 1996 ini. Begitulah yang terjadi. Memang kabar selanjutnya menyatakan bahwa diadakan Peninjauan Kembali (PK) terhadap putusan MA ini. Hingga saat ini, masih belum jelas, apakah UN jadi dihapuskan atau tidak.
Memandang dari ketidakjelasan tersebut, Rhandy Defo Oldefo memberikan pandangan. “UN diperdebatkan, ya nggak masalah. Memang hal ini harus dipertimbangan untuk kemajuan pendidikan Indonesia,” sebutnya. Karena menurut Defo lagi, masih banyak hal dalam sistem pendidikan yang harus dikaji ulang. Pendapat Defo diperkuat oleh Ranti Annissa Sikumbangjati. Walaupun kabar-kabar tentang UN masih belum jelas, Ranti menyepakati jika masalah UN mesti dikaji. Tidak masalah jika terjadi perdebatan panjang asalkan masalah bisa teratasi, demikian menurutnya.
Namun demikian, ditinjau dari segi para pelajar, apakah mereka lebih sepakat UN dihapuskan atau tidak?
Bagi Firsty Thursiana Kavin, tidak apa-apa jika UN tetap diadakan. “Cuma sistemnya harus dirubah. Nggak kayak sekarang. Masa’ hanya gara-gara nilai salah satu mata ujian saja anak murid jadi nggak lulus,” ujarnya.
Sementara menurut Ranti Annissa Sikumbangjati, UN seharusnya ditiadakan. “Alasannya karena sudah banyak pengalaman-pengalai man dahulu yang menimbulkan banyak kecurangan yang tidak menjamin hasil dari siswa itu sendiri,” ucap kelahiran Bandung ini. Ranti menguatkan kecurangan-kecurangan tersebut dengan adanya kunci jawaban yang mempengaruhi jawaban siswa, nilai tambah dari guru yang bersangkutan agar nilai siswa tertolong, adanya bocoran soal, dan sebagainya.
Defo Oldefo punya pendapat sama. Menurutnya, UN nggak efisien untuk menentukan kelulusan siswa karena banyak cara yang bisa murid-murid lakukan untuk jebol UN.
Jika memang UN dihapuskan atau ditiadakan, lalu apa penggantinya yang pas menurut pelajar?
Menurut Rhandy Defo Oldefo, UN diganti dengan ujian praktek. “Lebih objektif karena dilakukan person to person one by one,” ujar Rhandy. Sementara menurut Ranti Annisa Sikumbangjati, sebaiknya UN digabung dengan SPMB. “Sebaiknya, UN itu digabung dengan ujian SPMB, agar siswa tidak terlalu berpikir terlalu berat untuk memasuki perguruan tinggi agar penilaian lebih efektif dan tidak membuang waktu,” ujarnya beralasan. Menyentil pernyataan Ranti, memang sempat terdengar PTN memiliki rencana untuk terlibat di dalam pelaksanaan UN. Namun bagaimana kelanjutannya pun masih belum jelas.
Merangkum dari semuanya, memang keputusan akan UN masih belum jelas. Teman-teman pelajar tentu tetap bersiap-siap untuk ikut UN atau sejenis ujian lain sebagai pengganti UN yang menentukan kualitas lulusan mereka. Kepada pelajar, apapun keputusannya nanti, mari kita dukung terus upaya pemerintah dan masyarakat untuk mencerdaskan bangsa ini. Hapuskan kebodohan dan kecurangan di bumi pertiwi kita. Masa depan cerah untuk Indonesia!. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s