Tak Ambil Pusing di Wc Pesing

Selama seminggu, Tim Nan Padek (Padang Ekspres) memasuki pasar, kampus, dan kantor pemerintahan. Bukan menemui pejabat. Tapi menuju sebuah tempat yang letaknya di belakang: kakus. WC. Tempat orang membuang sisa kotoran dari tubuh.
Di Pasar Inpres II, di sana ada terminal bemo. Di atasnya, tempat orang berjual beli segala macam daging. Orang-orang sibuk berlalu lalang. Bila tak seksama melihat, maka kakus yang terletak persis di atas jenjang (dekat terminal bemo) itu tak terlihat. Letaknya memang menghadap ke belakang.
Kakus itu terdiri dari tiga buah tempat untuk buang air besar dan 4 buah kran air. Pedagang pasar memanfaatkannya untuk pelbagai keperluan: buang air, wuduk, dan mencuci ember yang kotor. Namun, tak ada yang gelisah, sebab di kakus itu, saluran airnya tidaklah lancar. Air menggenang di segala penjuru. Pintu kakus itu pun menua dan terlihat lapuk.
Lewat jembatan penyebrangan di lantai II Pasar Raya itu, kita menuju ke sebelahnya. Tukang jahit, pegawai salon, penjual kliping koran menunggu pembeli. Di sini tak seramai dibandingkan pasar raya di bawah. Ada yang kelihatan sedang main domino, biliar, sekedar menghabiskan hari.
Kakusnya berada di belakang. Seorang perempuan menunggui orang yang keluar dari kakus di depan meja persegi dengan uang receh dan seribuan. Orang-orang yang keluar dari kakus itu, memberikan uang sebesar Rp 1000. Kakus itu hampir sama kondisinya dengan yang pertama. Tempat pembuangan air tidak lancar dan bau pesing. Bedanya, di kakus ini, tidak ada pemisahan tempat untuk perempuan dan laki-laki. Hanya ada satu pintu masuk, baik untuk laki-laki maupun perempuan.
Ada sebuah bak yang tidak terlalu besar di dalamnya, dipergunakan bersama untuk wuduk atau mencuci kaki. 6 buah kamar tempat buang air besar di tempat yang sama. Siapa yang duluan, bisa masuk ke tempat tersebut. Karena air buangan yang tidak lancar, lantai di kakus ini becek, sedikt tak terawatt sepertinya.
Masih di lantai II tersebut, persisnya di dekat Padang Teater, ada lagi sebuah kakus—lagi-lagi letaknya di belakang. Agak sulit menemuinya karena letaknya yang tersembunyi. Ini kakus, lebih parah kondisinya dari yang dua tadi. Air yang keluar dari kran tidak lancar. Bak penampungan air tidak lagi dipergunakan. Sebuah ember besar yang telah berlumut, menampung air tersebut. Bau pesing di mana-mana. Meski di sebelahnya tempat orang salat, namun airnya tidaklah bersih. Bau yang tak sedap—seperti bau tanah—tercium dari air tersebut. Ada 4 buah kamar tempat buang hajat. Hanya dua yang dalam kondisi bisa dipergunakan.
Yah, barangkali ucapan seorang pedagang di Pasar Raya itu benar, namanya juga pasar. Tidak ada yang bersih di pasar, apalagi kakusnya. Ada saja sudah cukup, tidak perlu neko-neko.
Namun, di tempat lain, yang  diisi oleh kaum-kaum intelektual (baca: kampus), kondisi hampir seragam ditemukan. Di Pusat Kegiatan Mahasiswa UNP misalnya. Punya dua buah kakus. Air jarang mengalir. Tempat buang air besar tak bisa dipergunakan.
Anti, salah seorang mahasiswa mengakatan, “Kalau tidak terpaksa benar, lebih baik buang air di kos saja.” Ia misalnya, pernah menemui (maaf) pembalut perempuan berserakan. Tak jarang ditemuinya, mahasiswa yang buang hajat, tak menyiramnya. Ini tentu menimbulkan bau yang lebih busuk lagi.
Di kakus dekat mushalla—masih di kampus tersebut—keadaannya lebih parah. Ada tiga buah kakus. Satu kakus tak lagi digunakan (rusak). Air lancar, tapi bak penampung air warnanya telah hitam. Tak pernah diganti. Tempat pembuangan air tidak lancar. Kotoran di mana-mana. Bau kencing sampai keluar. Mahasiswa yang kebetulan lewat di depan kakus itu, tak jarang menutup hidung.
Kakus di rektorat UNP—letaknya di lantai dasar—meski tak sekotor yang tadi, tapi puntung rokok tampak berserakan. Keramiknya agak berlumut—kelihatannya sudah lama tak digosok.
“Saya malas masuk kakus di kampus,” begitu kata Rio, juga salah seorang mahasiswa di sana.
Di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat (PSIKM) FK UNAND, yang terdiri dari 3 lantai itu—di setiap lantai ada kakus. Kakus yang terletak di lantai dua, pintunya macet, air sering mati, dan bau pesing. Hingga, kakus ini jarang dipergunakan oleh mahasiswa.
Tidak saja di Fakultas Kedokteran, bila kita berkunjung ke Kampus Unand Limau Manih, kita akan ditemui dengan fenomena yang sama. WC yang tidak terawat, tidak bisa digunakan, air yang tidak mengalir, dan seterusnya. Bahkan, banyak di antara wc itu yang di tutup dan tidak dipergunakan lagi, terutama di gedung-gedung kuliah bersama. Begitu pula dengan dekanat, wc-nya juga sering tidak dialiri air.
Itu baru UNP dan Unand, sebagai universitas ternama di Sumbar, belum lagi kalau kita berkunjung ke kampus-kampus lain. Sepertinya, wc bukan hal krusial bagi para intelektual tersebut untuk dibenahi. ”Sarjana jebolan wc rusak,” kata seorang mahasiswa jutek.
Agaknya, kita—entah pemerintah atau diri sendiri—tak memperdulikan ini. Kita, kata Masoed Abidin—yang akrab disapa Buya itu—tak tahu cara kencing yang benar. Kita masih saja tak menyiram bila kencing.
Ini bisa saja karena kita tak mendapatkan pendidikan. Dulu, semasanya, Buya bilang, di sekolahnya diajarkan latihan gotong royong. Diajarkan pula di mana membuang sampah. Meski kelihatan sepele, tapi itu akan membentuk karakter orang untuk lebih beraturan. Sekarang, sekolah tidak mengajarkan hal yang remeh temeh itu lagi, juga masalah kencing. Di rumah tidak, di surau bukan. Makanya, orang buang air sekehendak hatinya saja.
Ini juga sebuah pertanda, orang tak salat dengan baik. Orang salat itu kan bersih. 5 kali membersihkan diri sehari. Semestinya itu terbawa dalam kegiatan sehari-hari.
Perlu ada komitmen dari pemerintah kita serta masyarakat kota yang mendidikkan bagaimana cara buang air dari tubuh yang benar. Guru-guru juga penting mengajarkan kepada anak didiknya tentang hal itu. “Karena saya takutkan,” lanjut Buya, “seribu tahun ke depan, masyarakat kita tetap tidak tahu cara kencing yang benar.”
Pemahaman masyarakat, begitu menurut sosiolog Unand, Damsar. Pemahaman masyarakat tentang hidup sehat perlu diperhatikan. Sebab, ini akan mempengaruhi juga bagaimana menjadikan kakus umum itu bersih dan higienis. Dengan kebiasaan hidup sehat, masyarakat tahu dan mengerti kalau kakus yang jorok tersebut merupakan sumber penyakit.
Beban berikutnya ada di pundak pemerintah. Pemerintah tak boleh tinggal diam. Pemerintah seharusnya mengalokasikan dana untuk pemeliharaan dan perbaikan kakus umum tersebut. Selain itu, pemerintah juga mesti mengevaluasi pengelolaan dan pemeliharaan kakus tersebut.
***
Penulusuran Padang Ekspres berakhir di Balai Kota Padang. Terbesit pikiran, ini tak seperti yang ditemui semula. Kakus di sini tentu tak seperti yang ditemui di pasar raya.
Di kakus lantai dasar Balaikota tersebut, kakus untuk perempuan terkunci rapat. “Rusak,” kata seseorang yang lewat di sana. Di kakus laki-laki, ada tiga  buah tempat buang air besar. Satu rusak. Cuma ada satu tempat penampungan air dari tiga kakus tersebut. Bila dua orang karyawan sama-sama tersesak buang air besar, mesti antre. Sebab, penampungnya hanya ember. Itu pun cuma satu.
Air di kloset mengalir dengan lancar. Tapi kloset tersebut, sepertinya jarang disentuh. Berlumut. Lima buah kran ada di sana, tiganya rusak. Di sekitar kakus itu, keramiknya tak terawat dengan baik.
Barangkali, ini merupakan cermin, kita terlalu menganggap sepele. Hal di atas, hanya contoh kecil. Hampir setiap kantor, sekolah dan WC umum, keadaan WC-nya tidak bersih. WC umum, menurut pengamat kebijakan publik Eka Vidya Putra, “Khususnya untuk WC umum, orang kan bayar. Berhak mendapatkan WC yang bersih. Sekali kencing seribu, harusnya setimpal dengan pelayanan WC bersih.” Atau, jangan-jangan, kita terbiasa dengan yang pesing, sehingga tak perlu ambil pusing!!! (Andika Destika Khagen/Gusriyono/Nilna R Isna)

sumber : Padang Ekspres, 5 Juli 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s