Memilih

Oleh : Nilna R. Isna

istock_confused-indecisiveBeberapa hari belakangan, saya diramaikan oleh satu kata yang agak merisaukan hati : memilih. Tidak hanya memilih untuk diri sendiri tapi juga memilihkan untuk orang lain. Bukan hanya memilih yang akan menghebohkan orang sejagad tapi juga memilih yang hanya untuk pribadi sendiri. Tentu teman-teman juga tengah mengalami hal yang sama.
Adik sepupu saya yang baru saja tamat SD bertanya dengan pilihan, masuk SMP ini atau MTsN itu atau pesantren di sana? Begitu juga dengan adik kelas saya semasa SMA, “Pilihannya apa ya Kak?,” tanyanya sebelum mengisi formulir SPMB. Teman-teman di kampus lain lagi,  “Kita liburan kemana? Pilih salah satu”. Di rumah, ayah menentukan pilihannya untuk memilih salah satu calon presiden. Di rumah juga, ibu memilih wortel untuk dimasak sebagai sayur hari ini. Saya sendiri sibuk memilih channel televisi pagi ini.
Memang, memilih merupakan hal yang penting dalam menentukan jalan hidup. Banyak orang yang menganggap sepele soal memilih namun banyak juga yang menganggap memilih sebagai suatu yang sulit. Dalam suatu kutipan di internet, saya menemukan “You are the sum total of your choice that you made in your live”. Maksudnya, kamu adalah keseluruhan dari pilihanmu yang dapat menentukan jalan hidupmu.
Benar, pilihanmu adalah hidupmu, apa yang terjadi dalam hidupmu adalah seberapa piawainya kamu memilih. Selanjutnya, apapun yang terjadi harus kamu terima dan kamu cintai. Seperti halnya ketika kamu memilih teman atau memilih teman dekat, tentu kamu memilih yang kamu cintai dan kamu pun mencintai apa yang kamu pilih. “Choose your love and love your choice.”
Akan tetapi terkadang, banyak di antara kita yang lambat laun berhenti mencintai pilihannya setelah memilih apa yang ia cintai. Banyak kasus, misalnya merujuk pada kasus di atas, adik sepupu saya tadi sudah memilih masuk pesantren tapi kemudian tidak menikmatinya dan ingin masuk SMA. Atau ayah yang tadinya memilih salah satu calon presiden, setelah terpilih sang presiden tidak sesuai dengan kampanyenya, ayah pun mencerca.
Inti memilih bukanlah memilih yang tepat, bagi saya, tapi bagaimana mencintai dan mensyukuri pilihan tersebut. Ketika kamu mencintai pilihanmu tentulah kamu menganggap itu pilihan yang tetap. Tetapi, ketika kamu tidak mencintainya, apapun pilihanmu akan terasa tidak tepat.
Demikianlah memilih, dipilih, dan pilihan. Memang sulit tapi itu adalah bagian dari hidup. Kamu mengaku tidak pernah memilih untuk hidup. Tapi ayah dan ibumu memilihkan hidup untukmu. Sekarang, saatnya kamu mencintai pilihan itu dan memilih untuk kehidupanmu selanjutnya.

sumber : P’Mails , 5 – 11 Juli 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s