Pembiayaan Kesehatan 15 % ?

Menyimak Debat Cawapres tentang Anggaran Kesehatan

Pernyataannya adalah (1) Bagaimana jika pembiayaan kesehatan Indonesia 15 % ? (2) Bagaimana dengan pengutamaan promotif-preventif terhadap kuratif-rehabilitatif ?

Berikut kata cawapres sepenangkapan saya :

Boediono :

“ Peningkatan pembangunan kesehatan akan ditingkatkan secara signifikan, sekitar 2,3% dari APBN, yang nanti akan dibincangkan lebih lanjut sesuai kemampuan negara. Sementara untuk prioritas, anggaran untuk preventif lebih ditingkatkan tanpa mengabaikan kuratif. Untuk pengutamaan preventif ini dilakukan dalam bentuk revitalisasi puskesmas.  Puskesmas benar-benar dijadikan sebagai pusat kesehatan masyarakat bukan sebagai balai kesehatan. Puskesmas-puskesmas tersebut akan difasilitasi untuk melakukan aktivitas-aktivitas “di luar gedung” seperti pelaksanaan KB, imunisasi, dan sebagainya yang mengutamakan pelayanan preventif terhadap masyarakat miskin. Sementara 15 % dinilai cukup tinggi. Akan tetapi dalam jangka 5 tahun dapat dicapai hingga 2 x lipat.

Wiranto :

Sebagai gambaran saat ini, biaya untuk kuratif atau rehabilitatif saja sudah ada kerugian. Oleh karena itu diperlukan keseimbangan langkah-langkah. Biaya preventif lebih tinggi dari kuratif akan tetapi  hal tersebut lebih bisa dilakukan penghematan di kemudian hari. Untuk preventif dapat ditingkatkan melalui kegiatan intensif tanpa penambahan anggaran. Karena kesehatan masyarakat penting untuk produktivitas masyarakat. Secara bertahap Wiranto berani memberikan tambahan anggaran untuk kesehatan hingga 15 %. Meskipun 15 % dinilai besar, tapi secara political will angka itu dapat dicapai secara bertahap dan mungkin hingga 2 x lipat di akhir pemerintahan.

Prabowo :

Tidak mau menjanjikan “angka”. Prabowo bicara masalah dasar Indoneisa dimana saat ini Indonesia mengalami kebocoran kekayaan nasional sehingga anggaran akan terus berkurang. 15 %, 10 %, hanyalah khalayan. Yang penting adalah perubahan paradigma bahwa negara kita miskin. Dan perlu penjadwalan hutang.  Untuk prioritas, lebih memprioritaskan preventif karena yang perlu kita sadari adalah rakyat kita kurang gizi sehingga diperlukan perbaikan gizi.

Agak gatal-gatal rongga di bawah paru-paru saya, bukan apa-apa. Sayanya agak kurang mengerti sih. Hehe. Kurang mengerti dan kurang sepaham agaknya.Cuma di sini saya nggak nangkep 15% dari apanya, dari kekayaan Indonesia atau APBN atau apa ada yang tahu? Hehe. (Penyimak yang tidak menyimak). Juga masalah penggandengan kedudukan, sepanjang pembelajaran saya, rehabilitatif digandengkan dengan promotif-preventif dan kuratif berdiri sendiri dalam hal kedudukan.

Pendapat ketiga cawapres tersebut menimbulkan pertanyaan bagi saya yang baru mahasiswa tingkat 2 Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat ini : (1) Sebagai rakyat yang pesimistik, saya curiga dengan 30% anggaran untuk kesehatan di akhir pemerintahan, benarkah? (2) Apa itu political will? Apa itu Keberanian? (3) apakah perencanaan sama dengan khayalan sama halnya ketika bertanya apakah cita-cita sama dengan impian? Sementara cita-cita adalah apa yang akan kita capai.

Cuma sekali lagi, agak gatal-gatal rongga di bawah paru-paru saya, ingin bicara banyak, tapi saya takut menjadi seorang Prita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s