Ancaman di Balik Alergi Makanan

Seorang gadis yang berasal dari Kanada berusia 15 tahun meninggal setelah berciuman dengan teman prianya. Ternyata sang pria telah makan kacang beberapa menit sebelumnya, sedangkan si perempuan ternyata mempunyai riwayak alergi terhadap makanan kacang. (BBC dalam Judarwanto, 2009). Cerita di atas merupakan segelumit fakta akan ancaman di balik alergi makanan.
Alergi makanan dapat menyerang semua organ dan fungsi tubuh tanpa terkecuali dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mingkin bisa terjadi termasuk mengancam jiwa. Reaksi yang dapat timbul akibat alergi antara lain : (1) mual-mual, (2) diare, (3) angiodema atau bengkak pada bibir, (4) asma, (5) muntah-muntah, (6)laryngeal edema atau pembengkakan pada laryng, dan (7) anaphylaxis yang dapat menimbulkan kematian.
Di berbagai negara penderita alergi makanan sekitar 2 – 2,5% pada dewasa, pada anak sekitar 6 – 8%. Di Amerika Serikat diperkirakan 100 hingga 175 orang meninggal karena alergi makanan setiap tahunnya. Kasus kematian karena reaksi alergi makanan terjadi karena reaksi anaphylaxis. Setiap tahun kasus jumlah kematian yang disebabkan anaphylaxis karena reaksi alergi makanan menunjukkan peningkatan. Hingga saat ini masih belum jelas diketahui penyebab pasti peningkatan tersebut. Sebuah penelitian menunjukkan penggunaan luas zat tambahan protein pada makanan kemasan tampaknya ikut berperan.
Reaksi anaphylaxis yang dapat mengancam jiwa tidak selalu dijumpai pada semua penderita alergi. Penelitian prospektif telah dilakukan British Paediatric Surveillance Unit tahun 1998 – 2000, terhadap penderita reaksi alergi makanan yang masuk rumah sakit. Diantara 13 juta anak di Ingris dan Irlandia didapatkan 229 kasus yang dilaporkan atau rata-rata penderita dirawat 0.89 per 100,000 anak pertahun dengan reaksi anaphylaxis karena alergi makanan. Didapatkan 65% penderita perempuan, 41% di bawah usia 4 tahun dan 60% tempat kejadian adalah di rumah. Empat puluh delapan kasus berat, 3 fatal dan 6 hampir fatal.
Angka kejadian di Australia didapatkan kasus anaphylaxis sekitar 1 dari 200 anak sekolah. Satu dari 6 kejadian anaphylaxis terjadi di sekolah. Sepuluh dari 20 penderita anafilaksis meninggal dunia setiap tahun 6,7. Di Indonesia kasus meninggal karena alergi makanan mungkin belum pernah dilaporkan. Hal ini bukan sekedar karena tidak ada kasus, tetapi tampaknya disebabkan karena kurangnya perhatian terhadap masalah tersebut.
Penderita alergi pada anak yang berisiko terkena anaphylaxis karena alergi makanan biasanya mempunyai riwayat gangguan pencernaan, pernapasan, kulit atau bengkak pada bibir setelah mengonsumsi makanan penyebab alergi. Beberapa jenis makanan yang dapat mengencam jiwa pada orang tertentu seperti kacang tanah, kacang pohon (hazelnut, kenari, dan kacang mete), telur, susu sapi, ikan laut, dan kedelai.
Sebuah penelitian menyebutkan penyebab allergen utama adalah kacang sebanyak 21%, kacang pohon 16%, susu sapi 10% dan telor 7% 1. Makanan dalam jumlah tertentu dapat menimbulkan reaksi anaphylaxis. Antigen makanan mungkin juga tersembunyi di dalam jenis makanan kue, gandum, gula-gula atau makanan lain.
Tentang Anaphylaxis
Anaphylaxis adalah keterlibatan salah satu atau dua ganggua berat kesulitan bernapas (pembengkakan laring atau asma) dan hipotensi (pingsan, kolaps dan gangguan kesadaran). Waktu dan perjalanan penyakit anaphylaxis dapat bervariuasi dianatara beberapa penderita. Manifestasi klinis anaphylaxis yang dapat terjadi karena reaksi alergi makanan adalah urticaria (hives), eritema (kemerahan menyeluruh), eruritus (gatal yang luas) tanpa rash, angioedema (swelling), edema laring, asma, rinitis, konjungtivitis, gatal palatum dan saluran meatikus akustikus eksterna, mual , muntah, nyeri perut, palpitasi, dada berdebar, pingsan, dan gangguan kesadaran. Delapan dari 9 penderita yang mengalami kegawatan disertai gejala asma. Manifestasi klinis yang paling berat yang paling sering dianggap sebagai penyebab kematian adalah edema laring dan kolaps kardiovaskular. Sebuah penelitian menyebutkan keluhan utama yang didapatkan berturut turut adalah bengkak pada wajah (76%), urtikaria (69%), gangguan pernapasan (66%) dan saluran cerna (4%).
(Nilna Rahmi Isna/PSIKM FK UNAND/berbagai sumber)

terbit di Tabloid P’Mails edisi 26 April 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s