KECIL-KECIL JADI JUTAWAN, ASAL JANGAN KETINGGALAN BELAJAR

(Laporan Noviade Jusman/SMA Adabiah, Haibati Arizona/SMAN 1 Padang, Halimah Tusadiyah, Willy Adrian/SMTI Padang)

“Hai Reni, aku Selly. Wah, kita udah lama nggak ketemu ya. Kamu apa kabar? Oh ya, aku ada bisnis baru nih yang cocok banget buat kita-kita. Dijamin deh, lewat bisnis ini kamu bisa jadi jutawan dalam sebulan. Kapan ada waktu? Aku mau ketemu kamu langsung nih….” Sebuah sms yang panjang mampir ke ponsel Reni, dari Selly. Reni dan Selly sama-sama pelajar kelas 2 SMA. Keduanya merupakan teman ketika SD.
Bagaimana kelanjutannya? Ah, itu terserah apa kata Reni. Tapi yang pasti, sedikitnya kutipan cerita di atas menggambarkan “awal” dari aktivitas bisnis yang saat ini marak dilakukan pelajar. Bermacam jenis bisnis berkembang liar di kalangan pelajar, baik model MLM (multi level marketing), membuat usaha kelompok, atau membuka usaha sendiri.  Jenisnya pun bermacam-macam, mulai dari produk kesehatan, jual-beli pulsa, bisnis assesoris, hingga kue-kue.
Pelajar yang berbisnis ternyata menimbulkan pro-kontra antara sesama pelajar, terutama pelajar yang berdomisili di Padang. Dara Mulyana dari SMTI Padang tidak setuju dengan pelajar yang berbisnis. Alasan cewek yang dipanggil Dara ini karena berbisnis di usia sekolah itu banyak risiko dan mengganggu aktivitas pelajar. Begitu juga dengan Lili Permata Sari yang sama bersekolah di SMTI Padang menyatakan tidak setuju. Alasannya serupa dengan Dara. ”Tidak setuju banget. Ya, karena kalau pelajar itu berbisnis dapat menganggu kita dalam belajar,” ujar Lili yang biasa dipanggil Cik Uniang oleh tema-temannya ini.
Akan tetapi, Khairatunnisa dan Dila Haiyanti yang sekolah di SMA Adabiah setuju dengan pelajar yang berbisnis karena menurut mereka berbisnis itu sama dengan menabung untuk masa depan. Begitu juga, teman kita dari SMAN 1 Padang, Batara Pareto Deddy mengatakan setuju saja dengan pelajar yang berbisnis. Bahkan Parel (panggilan akrab Batara Pareto Deddy) juga ikut dalam suatu kegiatan bisnis.  Sama halnya dengan Arliska Fatma Rosi yang juga bersekolah di SMAN 1 Padang. Seperti Parel, Bundo (panggilan akrab Arliska Fatma Rosi) juga ikut dalam suatu kegiatan bisnis.
Faldi Lutrahman juga setuju dengan pelajar berbisnis. Tapi bedanya, cowok yang sekolah di SMTI Padang ini tidak ikut berbisnis. “Aku nggak ikut bisnis tapi temanku ada yang berbisnis jenis MLM, namanya DBS (Duta Business School),” ujar kelahiran Padang, 20 Juni 1993 ini. Khedia Hanifa Deiji yang juga sekolah di SMTI Padang juga setuju dengan bisnis meskipun ia sendiri tidak terlibat dalam kegiatan bisnis apapun.
Menurut teman-teman yang tidak setuju akan kegiatan bisnis seperti Dara dan Lili, pelajar tidak perlu berbisnis karena, seperti yang telah diutarakan sebelumnya, dapat mengganggu aktivitas belajar mengajar. Menurut Lili, pelajar bisa menyibukkan dirinya dengan ikut organisasi di sekolah karena baginya lebih baik daripada menyibukkan diri dengan bisnis. Sementara Dara memilih fokus belajar atau ikut bimbingan belajar saja untuk menunjang prestasi daripada melakukan aktivitas bisnis.
Akan tetapi, hal ini dibantah teman-teman yang setuju berbisnis seperti Parel, Arliska, Faldi, dan Khedia. Khedia yang biasa dipanggil “DJ” oleh teman-temannya ini tidak sepakat bila dikatakan bisnis dapat mengganggu aktivitas sekolah. Menurut kelahiran Padang 10 April 1993 ini bisnis yang dijalani temannya tidak menganggu kegiatan belajar mengajar karena bisnis yang mereka jalani itu termasuk bisnis santai dan tidak menghabiskan waktu. Demikian juga halnya dengan Faldi yang mengatakan bahwa teman-temannya yang berbisnis itu tidak sampai mengganggu sekolahnya karena bisnis tersebut dijalani pada waktu-waktu senggang. “Lagipula berbisnis dapat menjadikan pelajar mandiri, lebih kreatif, dan juga dapat menambah uang jajan,” tambah Khedia.
Arliska Fatma Rosi yang kini duduk di kelas XII IPA 6 SMAN 1 Padang juga menolak pendapat Dara dan Lili. Arliska yang berbisnis pulsa dan alat-alat tulis ini mengatakan bahwa bisnis yang dijalaninya tidak sampai mengganggu sekolah tapi malah menunjang belajarnya. “Hampir semua anak sekolahan kan perlu alat-alat tulis untuk belajar. Begitu juga dengan pulsa,” tuturnya. Arliska pun mengatakan bahwa berbisnis di usia sekolah dapat memberinya pengalaman  berbisnis yang lebih baik. Jadi, sebelum jadi business woman beneran, Arliska sudah punya pengalaman kecil.
Batara Pareto Deddy punya alasan yang berbeda atas sikap setujunya. Parel mengaku berbisnis jual beli pulsa. Ia memilih ini karena menurutnya sekarang pulsa sudah menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian orang.  Cowok yang lahir di Padang 1 Februari 1993 ini  mencoba berbisnis di usia sekolah agar nantinya tidak canggung lagi menghadapi dunia kerja dan masa depan.
Sedangkan Yesi Agustiyuza, siswi SMTI Padang, sudah bergelut langsung dengan bisnis MLM. Bisnis yang dijalaninya bernama TIENS atau yang biasa disebut “Tianshi “. “Aku memilih bergabung dengan sebuah produk dari Cina yaitu TIENS. Aku memilih itu karena sistem dan jaringannya bagus dan tidak menyita pelajaran sekolah,” ujar cewek yang akrab dengan panggilan Achi ini. Menurut Achi, pelajar yang berbisnis daspat mengembangkan diri mereka di dunia bisnis sejak dini. “Apalagi aku sekolah di SMTI yang salah satu tujuannya menciptakan lulusan yang berjiwa wirausaha,” sahut Achi yang hobi ngejahilin orang ini..
Teman kita lainnya dari SMTI Padang yaitu Muhammad Afdhal Syah juga bergabung sebagai member TIENS. Katanya, TIENS bersifat fleksibel soal waktu alias nggak kaku dan bisa diikuti oleh semua orang. Bagi Afdhal, lewat bisnis yang digelutinya ini, ia bisa membiayai uang sekolah sendiri. Afdhal pun dapat belajar bisnis dari sekarang sebagai pengalaman untuk di dunia kerja nanti.
Mutiara Mendopa yang juga dari SMTI Padang menceritakan temannya yang ikut berbisnis. “Aku setuju sekali dengan pelajar yang berbisnis. Itu luar biasa sekali,” ujarnya yang biasa dipanggil “Mumut Imut” ini. “Bisnis temanku itu berupa home industry, mereka membuat kue dan asesoris seperti dompet. Teman Mumut yang berbisnis ini melakukan bisnisnya secara berkelompok. Menurut Mumut, aktivitas bisnis yang dijalani teman-temannya ini tidak sampai menganggu sekolah karena merek berbisnis di luar jam sekolah.
Wah, hebat ya teman-teman kita. Ada yang berbisnis ada pula yang tidak. Alasannya juga oke. Yang tidak setuju berbisnis memilih untuk fokus belajar atau ikut organisasi sementara yang setuju bertujuan untuk mencari pengalaman berbisnis sambil membantu orangtua untuk membiayai uang sekolah sendiri atau ditabung.
Nah, ada nggak sih efek negatif dari bisnis itu? Muhammad Afdhal mengatakan tidak ada efek negative dari bisnis yang dijalaninya. Begitu juga dengan Yesi Agustiyuza yang mengatakan tidak ada dampak negatif apa-apa karena ia menjalaninya dengan senang hati. Batara Pareto Deddy juga tidak mengatakan adanya dampak negatif dari bisnisnya. “Malah ada dampak positifnya karena aku punya tambahan uang jajan trus bisa beli apa yang aku mau,” sebutnya.
Akan tetapi, bagi teman kita yang setuju berbisnis tapi tidak ikut bisnis seperti Khedia Hanifa Deiji dan Mutiara Mendopa dari SMTI melihat juga dampak negatif dari teman-temannya yang berbisnis. “Terkadang teman-teman itu tekor. Yah, namanya juga bisnis,” kata Khedia. Sedangkan Mutiara melaporkan kalau teman-temannya yang berbisnis itu sering ditegur sama guru. “Ruginya, mereka itu sering ditegur guru karna sering bicarain bisnis mereka saat belajar. Mungkin karena saking semangatnya,” sahut Mumut.
Kalau dampak positifnya? Sebagian besar teman-teman kita mengatakan dampak positif berbisnis itu apalagi kalau bukan dapat duit. “Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit, mungkin itu ungkapan yang cocok bagi teman-temanku itu karena dengan berbisnis mereka dapat uang untuk bayar uang sekolah sendiri,” ujar Mutiara Mendopa. Arliska Fatma Rosi juga unjuk suara. Katanya, bisnis yang dijalaninya dapat menambah uang saku, membuatnya lebih mandiri, tidak tergantung orangtua, dan terutama belajar memanage uang. Sst, katanya sampai sekarang Arliska masih belajar keras untuk memanage uangnya karena ia sering pusing ngitungin uang apalagi kalau pesanan bisnisnya banyak. Waw, laku keras ya bisnisnya Arliska.
Sedangkan, dampak positif bagi Achi adalah dengan bisnis membuatnya lebih visioner alias berfikir ke depan. Hal ini juga diamini oleh Novia Reza dari SMTI Padang. Diketahui, Novia juga ikut dalam suatu kegiatan bisnis. Novia yang memang bercita-cita jadi pengusaha ini, sejak dini sudah ingin memantapkan dirinya untuk jadi pengusaha. Karena itu, ia mendapat banyak dampak positif atas bisnis yang dijalaninya seperti punya banyak teman, punya tabungan sendiri, dan komunikasinya lancar.
Teman-teman yang ikut berbisnis ini pun banyak mendapat dukungan dari orangtuanya dan juga serta merta mengajak teman-teman lain untuk juga ikut berbisnis. “Bisnis usia muda, why not? Selagi muda kenapa nggak mencoba sih. Kan hitung-hitung cari pengalaman dan menambah wawasan dengan jiwa pengusaha juga,” ujar Novia Reza. Namun, Lili Permata Sari juga punya pesan untuk teman-teman yang ikut bisnis. “Kepada teman-teman yang ikut berbisnis. Jangan sampai bisnis itu membuat kita ninggalin perlajaran ya. Memang sih dengan berbisnis dapat membantu biaya sekolah kita tapi tetap sekolah itu ya penting. Inga… Inga… Ting…!,” ujar Lili semangat.
(Nilna Rahmi Isna)

terbit di Tabloid P’Mails edisi 181, 29 Maret-4 April 2009

5 thoughts on “KECIL-KECIL JADI JUTAWAN, ASAL JANGAN KETINGGALAN BELAJAR

  1. wahh….q baru tw kalo nak TI t da yg dah bsa bisnis gtuu…
    q salut ma kalian sma…
    pe q koq gag ikut dkmntrin sich…
    he..he,…

  2. salut buat tmen SMTI aku ja bru baca, padahal aci masuk dalam topik itu..
    keren..
    koq gak da kbar yg spektakuler lgi ya dri siswa SMTI..
    mkasi udah libatin aci dlam wawancranya ya will..

  3. SALUT buat prestasi SMTI
    tapi aku bru tau.. dan heran lagi aku mrupakan slah 1 yg diwawancarai..
    gak nyangka sampe ada yg ngeposting brita in..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s