“Cita-cita jangan satu, harus dua atau tiga!”

TENTANG CITA-CITA
Oleh : Nilna R. Isna

Aku mendengar kalimat ini. Guruku yang mengatakannya, ketika aku dan teman-teman SMA-ku sama-sama duduk lesehan di karpet hijau dalam ruangan labor komputer. Mendengarnya, pikiranku mengulang kepada zaman saat aku masih memakai kemeja putih dan rok merah. Ya, waktu itu, aku masih SD.
“Anak-anak, kalau sudah besar nanti mau jadi apa?,” tanya Bu Guru. Kelas jadi ribut. Murid-murid bersahut-sahutan berebut menyuarakan cita-cita mereka. Aku termasuk dalam orang yang “berani bersama” itu. Berteriak keras-keras berulang-ulang menyuarakan cita-citaku. “Dokter Bu…! Dokter Bu…! Dokter Bu…!” Suaraku melengking mengalahkan suara teman-temanku yang lain. Sewaktu aku masih eS-De, aku dan teman-temanku hanya mengenal lima cita-cita, yaitu dokter, insinyur, polisi, pengusaha dan presiden. Dokter karena kelihatannya hanya dokter yang bisa “dimiliki perempuan”. Insinyur karena Si Doel Anak Sekolahan juga insinyur. Polisi karena photo orang berseragam polisi keren sekali. Pengusaha karena “bapaknya” juga pengusaha. Presiden karena ada photo presiden di depan kelas dan presiden sering masuk TV.
Aku kembali duduk di karpet hijau dalam ruangan labor komputer  di sekolahku. Guruku sedang menerangkan tentang cita-cita dan pekerjaan kepadaku dan teman-temanku. “Cita-cita jangan satu, harus dua atau tiga!,” katanya. Aku terhenyak. Baru ketika itu, aku mulai menyadari bahwa ternyata pikiranku statis dan aku sangat tidak kreatif.
Aku masih punya satu cita-cita sementara dunia telah berubah. Persaingan global semakin ketat sementara cadangan sumber daya alam semakin menipis. Manusia harus mencari alternatif lain agar tetap “survive” yang mana tidak bergantung lagi pada satu cita-cita. Alternatif-alternatif tersebut berkembang menggunakan alat bernama ‘keterampilan’ dan ‘kreativitas’.
Aku kembali duduk di karpet hijau dalam ruangan labor komputer  di sekolahku. Guruku sedang menerangkan tentang cita-cita dan pekerjaan kepadaku dan teman-temanku. “Cita-cita jangan satu, harus dua atau tiga!,” katanya. Dulu, pikiranku masih statis dan aku sangat tidak kreatif. Aku pun mengambil kertas, menuliskan list cita-cita. Aku harus punya banyak cita-cita!
Kertasku itu berjudul “SAYA PUNYA BANYAK CITA-CITA, tak dapat satu tak apa-apa, dapat semua pasti kaya!” 1. Dokter ; 2. Dosen ; 3. Penulis ; 4. Sastrawan ; 5. Wartawan ; 6. Psikolog ; 7. Politisi ; 8. Direktur Rumah Sakit ; 9. Manajer ;  10. Photograph Design ; 11. Sutradara ; 12. Periklanan ; 13. Penerbit Majalah ; 14. Pengusaha distro ; 15. Menteri Kesehatan. Di bawahnya, aku tuliskan, “Saya punya banyak cita-cita, TAK DAPAT SATU TAK APA-APA, DAPAT SEMUA PASTI KAYA!”
Luar biasa. Luar biasa sekali apa yang telah dikatakan oleh guruku ketika itu. Aku punya banyak cita-cita yang memanfaatkan otak kanan dan otak kiri. Kini, aku merasa menjadi orang yang kreatif dan dinamis. Aku tidak lagi terjebak pada cita-cita yang sempit. Aku senang sekali. Tahukah kawan, 4 dari 15 cita-cita di atas telah tercapai. 8 dari 15 cita-cita itu sedang dalam perjalanan. 2 di antara cita-cita itu dihapus saja karena aku tidak serius dan tidak memanfaatkan peluang. 1 di antara cita-cita itu tidak jadi karena tidak menarik.
Inilah yang dimaksud guruku ketika itu. “Cita-cita jangan satu, harus dua atau tiga!,” karena bisa jadi cita-citamu yang satu itu gagal tercapai atau tidak jadi dicapai. Sehingga, itu tidak menjadi masalah karena kamu kreatif dan kamu telah memikirkan lebih banyak ide untuk banyak cita-cita. Ok, selamat bercita-cita!

ditulis untuk rubrik Opini Tabloid P’Mails edisi 147

4 thoughts on ““Cita-cita jangan satu, harus dua atau tiga!”

  1. nggak pa2, kalo masih meraba-raba asal kamu harus berkomitmen dengan tujuan hidup yg kamu raih. jangan asal ikut-ikutan teman, trend atau berusaha menyenangkan orang lain🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s