Filariasis, Menyebar ke Seluruh Indonesia

filariasisFilariasis atau penyakit kaki gajah adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria. Infeksi cacing ini ditularkan oleh beragam jenis nyamuk. Di Indonesia, penyakit kaki gajah tersebar luas hampir di seluruh provinsi. Hasil survai laboraturium menyatakan 6 juta orang sudah terinfeksi cacing filaria dan sekitar 100 juta orang mempunyai resiko tinggi tertular karena nyamyk penularnya bervariasi dan tersebar luas.
Cacing filaria yang menimbulkan filariasis memiliki tiga spesies, yaitu wucheria brancofti, brugia malayi, dan brugia timori. Tiga spesies ini dapat dikelompokkan lagi dalam lima tipe. Tipe pertama adalah wucheria brancofti yang ditularkan oleh nyamuk culex guinguefasciatus yang biasa ditemukan di daerah perkotaan. Tipe kedua juga wucheria brancofti yang ditularkan oleh nyamuk anopheles dan mansonia yang kasusnya ditemukan di daerah pedesaan. Tipe ketiga adalah brugia malayi yang ditularkan oleh nyamuk mansonia dan anopheles, biasa ditemukan di daerah sawah dekat pantai. Tipe keempat adalah brugia timori yang ditularkan oleh nyamuk mansonia dan ditemukan di daerah hutan. Tipe kelima juga brugia timori yang ditularkan oleh nyamuk anopheles. Beragamnya jenis nyamuk penular filariasis ini menyebabkan penyakitnya pun tersebar merata di seluruh Indonesia.
Seseorang dapat tertular dan terinfeksi filariasis apabila orang tersebut digigit nyamuk infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3). Nyamuk tersebut mendapat cacing filarial kecil (microfilaria) sewaktu menghisap darah penderita filariasis. Gejala klinis filariasis akut berupa demam berulang-ulang selama 3 sampai 5 hari. Demam ini dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat. Kemudian muncul pembengkakan kelenjar getah bening di daerah lipatan paha yang kemerahan, panas, dan sakit.  Akibat sering terjadi pembengkakan, kelenjar getah bening dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah. Gejala kronis atau menahun terjadi 10 sampai 15 tahun setelah gejala akut pertama. Pada gejala kronis ini, sudah terjadi pembersaran yang menetap pada tungkai dan lengan.
Sampai saat ini vaksin untuk mencegah filariasis belum ada. Upaya yang bisa dilakukan adalah aksi mengontrol nyamuk dan menghindari gigitan nyamuk. Nyamuk dapat dikontrol dengan membersihkan atau mengeringkan rawa-rawa dan air yang tergenang, memberihkan got atau sekolan, dan memelihara ikan pemakan nyamuk di dalam kolam. Gigitan nyamuk dapat dihindari dengan menggunakan baju berlengan pankang dan celana panjang jika keluar rumah di makam hari dan menggunakan kelambu ketika tidur.(Berbagai sumber/Nilna Rahmi Isna)

terbit di tabloid P’Mails edisi 174

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s