DBD, Penyakit Mematikan Setiap Tahun

394758Setiap tahun, terutama pada bulan Januari dan Februari, kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemoragic Fever (DHF) selalu menjadi wabah di rumah sakit-rumah sakit Indonesia.  Penyakit DBD umumnya menyerang anak-anak yang ditandai dengan panas demam tinggi kemudian muncul bercak-bercak merah. Faktor-faktor penyebab penyakit ini masih sangat kompleks meliputi padatnya pemukiman penduduk, kurangnya kontrol lingkungan yang efektif dari masyarakat, serta peningkatan sarana transportasi.
DBD, seperti halnya chikunguya, merupakan penyakit menular yang ditularkan melalui air liur nyamuk aedes aegypti betina. Bedanya dengan chikunguya, virus penyebab penyakit DBD adalah virus dengue famili Flaviviridae dengan genusnya adalah flavivirus. Nyamuk mendapat virus dengue ketika menggigit dan menghisap darah penderita DBD. Virus dengue akan tumbuh berkembang biak di dalam tubuh nyamuk, hingga menajalar ke seluruh tubuh nyamuk termasuk kelenjar air liur. Penyakit DBD akan menular apabila nyamuk pembawa virus dengue ini menggigit dan menghisap darah orang sehat.
WHO membedakan DBD berdasarkan tingkat keparahannya dalam empat stadium. Stadium I ditandai dengan demam disertai gejala-gejala yang tidak khas. Pendarahan belum tampak. Stadium II berupa demam yang disertai pendarahan kulit spontan. Bisa dilihat dengan timbulnya bintik merah pada lengan dan kaki. Pendarahan ini tidak janya terjadi pada kulit tapi dapat juga terjadi di organ dalam. Misalnya, pada usus yang menyebabkan feses atau kotoran berwarna hitam. Stadium III ditunjukkan dengan kegagalan sirkulasi pada penderita, yaitu nadi cepat dan lemah serta tekanan nadi menyempit. Pada stadium ini, kulit terasa dingin, lembab, dan penderita selalu gelisah. Selanjutnya, stadium IV, penderita mengalami shock berat, nadi tidak dapat diraba, dan tekanan darah tidak terukur. Pada kondisi ini penderita sulit ditolong, hanya bergantung pada daya tahan tubuh pasien. DBD stadium IV juga dikenal dengan dengue shock syndrome (DSS).
Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan memperhatikan kondisi lingkungan dalam dan halaman rumah. Buang benda-benda di sekitar rumah yang dapat menampung air, seperti kaleng bekas atau tempurung kelapa. Hindari lokasi-lokasi yang banyak nyamuknya pada pagi hingga sore hari karena aedes aegypti bekerja pada waktu-waktu tersebut. Disarankan untuk menaburkan bubuk abate pada bak mandi dan tempat penampungan air. Bubuk abate dapat dibeli di apotik. Laksanakan gotong royong setiap minggu, terutama membersihkan selokan dan parit. Jika mempunyai kolam dan akuarium, isi dengan ikan pemakan jentk nyamuk. Jangan lupa menyemprot bagian-bagian rumah dan halaman dengan anti nyamuk. Bisa juga dengan menggunakan lotion anti nyamuk, obat nyamuk bakar, dan obat nyamuk elektrik. Bentuk pencegahan lain adalah menggunakan kelambu ketika tidur, baik di siang hari maupun malam hari. (Berbagai sumber/Nilna Rahmi Isna)

terbit di Tabloid P’Mails edisi 174

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s