Saatnya Memikirkan Ketertiban Merokok

19466Diperkirakan, sejak tahun 1000 sebelum Masehi, asap rokok sudah mulai memenuhi udara. Suku Maya dan Aztec (penduduk asli Amerika) yang memulainya. Tradisi membakar tembakau kemudian dimulai untuk menunjukkan persahabatan dan persaudaraan saat beberapa suku yang berbeda berkumpul, serta sebagai ritual pengobatan.
Kru Columbus membawa tembakau beserta tradisi mengunyah dan membakar lewat pipa ini ke “peradaban” di Inggris. Namun demikian, seorang diplomat dan petualang Perancislah yang justru paling berperan dalam menyebarkan popularitas rokok di seantero Eropa, orang ini adalah Jean Nicot. Dari sinilah istilah nikotin (dari Nicot) berasal. Versi sejarah lain mengatakan, tradisi rokok dan merokok yang lebih tua berasal dari Turki semenjak periode dinasti Ottoman. Mengenai ini, kita tidak mendapatkan rekam jejak yang pasti.
Di Indonesia, Haji Jamahri dari Kudus adalah orang yang pertama kali meramu tembakau dengan cengkeh pada tahun 1880. Tujuan awal Jamahri adalah mencari obat penyakit asma yang dideritanya. Pada akhirnya rokok racikan Jamahri menjadi terkenal, rokok kretek. Jenis rokok yang dinamai sesuai dengan bunyi yang dihasilkan oleh benturan cengkeh dan tembakau dengan api sebagai penyulut.
Dewasa ini, pertumbuhan industri rokok meningkat dengan pesat. Ada empat kota yang menjadi pusat di Indonesia. Semuanya berada di Jawa, yaitu Kediri, Kudus, Malang dan Surabaya. Tom Saptaatmaja, mantan humas salah satu pabrik rokok, menulis, “Untuk seluruh Indonesia ada sekitar 100 produsen rokok besar yang mempekerjakan sekitar 6.437.451 orang dan merupakan sumber nafkah bagi 19,3 juta anggota keluarga mereka. Tak heran, dalam waktu dekat, Organisasi Buruh Internasional (ILO) akan mengkaji industri rokok di Jatim dan Jateng untuk meneliti sejauh mana dampak ekonomi yang ditimbulkan seandainya pembatasan terhadap industri rokok diberlakukan.”
Ini ditambah dengan terus meningkatnya pemasukan Negara dari cukai dan pajak rokok dari tahun ke tahun. Untuk tahun 2008 majalah ekonomi KONTAN mematok angka 47 triliun dari hanya 29,7 triliun di 2003. Waw!
Namun, tak dapat dilengahkan, terdapat sekitar 7.000 artikel ilmiah yang membuktikan bahwa di dalam rokok terdapat 4.000 jenis bahan kimia dengan 69 zat di antaranya bersifat karsinogenik dan adiktif. Tidak perlu seorang dokter yang doktor mengatakan rokok itu berbahaya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan rokok adalah epidemi global yang telah membunuh tidak kurang dari 1 orang setiap 6 detik dan merupakan penyebab 7 dari 8 kematian terbesar di dunia.

Uang atau Paru-paru?
Saat ini, produsen rokok makin agresif dalam meningkatkan penjualan. Etika papan raksasa di pinggir jalan, jam tayang di televisi, di obok-obok demi menjual 199 miliar batang rokok pertahun atau berada di urutan ke-4 setelah RRC (1.679 miliar batang), AS (480 miliar), Jepang (230 miliar), serta Rusia (230 miliar).
Sebagaimana dikatakan Defriman Djafri, SKM, MKM, dosen Kesehatan Masyarakat Unand, Iklan rokok sangat mempengaruhi peningkatan jumlah perokok di Indonesia. Harga kreatif iklan rokok merupakan yang paling tinggi di Indonesia. Iklan dibuat sekreatif mungkin karena memang sasarannya kawula muda dan remaja. Iklan rokok yang menyebutkan “mild” atau “light” yang katanya lebih aman dibanding rokok kretek. Padahal sama, “mild” atau “light” itu hanya kedok. Dampak yang ditimbulkan sama.
Berkaitan dengan itu, Defriman Djafri mengatakan, “Devisa dari rokok tidak sama dengan akibat yang ditimbulkan oleh rokok. Memang, rokok memberikan income yang besar terhadap pendapatan Negara. Tapi, Negara akan mengeluarkan dana yang lebih besar lagi untuk menanggulangi dampak dari merokok tersebut. Sebagian besar, pasien penderita penyakit paru merupakan pecandu rokok.”
Ironisnya, hasil analisis Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional ) 2003 juga menampilkan paradoks. Sebab, jumlah uang yang dibelanjakan penduduk kita untuk tembakau/rokok 2,5 kali lipat dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan dan 3,2 kali lipat biaya kesehatan.
Tak heran, akhir-akhir ini, perang terhadap rokok gencar dilakukan. Fatwa MUI sudah dikeluarkan tentang merokok haram. KPA (Komisi Perlindungan Anak) bereaksi cepat dan lugas, mengingat sudah begitu banyaknya remaja yang menjadi perokok pemula karena iklan yang begitu progresif. Faktanya, “Dari penelitian yang diadakan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof Hamka, 46, 3 persen remaja berpendapat iklan rokok berpengaruh besar untuk memulai merokok,” beber Koordinator Pengembangan dan Penguatan Komisi Nasional (Komnas), Anak Hery Chairiansyah, seperti yang dikutip di Padang Ekspres, Edisi: Jumat, 23 Januari 2009.

Merokoklah, tapi….
Dari realitas di atas, tampaknya, perokok di negeri ini adalah konsumen yang potensial. Jumlah perokok, produksi rokok, serta cukai rokok, tiga hal yang kian menguatkan, susah “melarang orang merokok”. Karena itu, ketika ada fatwa MUI terkait merokok haram, rata-rata perokok kurang menerima. Berbagai alasan, bahwa fatwa itu berlebihan dan kurang bijaksana.
“Kita mungkin kesulitan atau tak bisa melarang orang merokok, namun, mengajak perokok tertib dan menghormati perokok pasif, itu termasuk bijaksana,” kata Sudarmoko, dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas yang kini mengajar di salah satu perguruan tinggi Korea Selatan kepada Padang Ekspres melalui Yahoo Masenger. Di Korea, katanya, membuang puntung rokok sembarangan saja, termasuk memalukan. Karena itu, ada tempat-tempat merokok yang disediakan.
M Rido, yang sejak enam bulan lalu berdomisi di Kuala Lumpur, mengatakan,persoalan merokok, adalah persoalan yang pelik di Indonesia. Pasalnya, perokok kita, kurang menghormati hak-hak orang yang tidak merokok. Bahkan, di atas angkutan umum, di rumah sakit yang jelas-jelas ada larangan merokok, orang masih merokok. Begitu juga, di ruang kelas (bagi guru), di ruang ber-AC, serta di antara anak-anak, tak ada yang risih kalau efek rokok mereka menyebabkan yang lain menjadi perokok pasif.
Menyambung kerisauan Rido, Defriman Djafri menerangkan, perokok aktif mengeluarkan 90% dari asap rokok yang dihisapnya yang akan dipaparkan pada perokok pasif. Tetapi, dampak yang ditimbulkan sama saja. Dampak yang didapatkan akibat merokok oleh perokok aktif dan perokok pasif sama karena asap yang dikeluarkan sama, zat beracun yang dihisap perokok aktif dan perokok pasif sama. “Hanya perokok aktif tidak menyadari bahwa dia juga membahayakan orang-orang di sekitarnya. Orang di sekitarnya pun hanya risih dan mengabaikan karena mereka pun tidak tahu kalau perokok pasif pun memiliki dampak yang sama dengan para perokok aktif,” kata dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang ini.
“Di Belanda, saat ini, ruang merokok diperkecil oleh pemerintah,” kata Suryadi. Alasannya, menurut Dosen Universitas Leiden ini, agar jumlah perokok berkurang. Sekaligus merupakan penghormatan bagi orang yang tidak merokok. Bagaimanapun, mudaratnya lebih banyak dari maslahatnya.

Perokok Tertib
Etika merokok, inilah idealnya yang mesti diperhatikan oleh perokok di Indonesia. Secara sosial merokok ideal itu lebih merujuk pada prilaku. “Bagaimana para perokok tidak menimbulkan suatu akibat pada orang lain. Silahkan merokok di tempat-tempat yang disediakan. Seperti di bandara, ada tempat khusus untuk merokok, bus ber AC biasanya juga menyediakan smoking area,” ungkap Effendy, karyawan sebuah perusahaan swasta, yang tidak merokok ini.
Hal yang sama juga diperjelas lagi oleh Wawan, seorang mahasiswa yang pernah akrab dengan berbungkus-bungkus rokok tiap harinya sebelum berhenti total, “Merokok yang ideal itu, sebatas apa kita tidak menganggu orang lain. Maksudnya ketika kita melaksanakan kepentingan kita merokok, mesti diingat sekitar kita, cocok atau pantas tidak, kita merokok di sana.”
Demikian juga dengan Yendra dan Rizky, dua orang yang telah mulai merokok sejak usia belasan sampai sekarang, “Merokok pada tempatnya. Maksudnya, sadari di mana kita berada. Kalau misalnya di angkot tidak ada orang merokok atau tidak memungkin untuk merokok, matikan rokok. Jadi, merokok selagi orang tidak keberatan dengan kita bila menyalakan rokok. Makanya saya sering kalau mau merokok nanya dulu pada orang sekitarnya, “Boleh merokok tidak?” Kalau diizinkan baru saya merokok, berarti mereka tidak keberatan. Kalau tidak boleh tahan dulu untuk tidak merokok, atau cari tempat lain yang memungkinkan.”
Menjadi perokok tertib inilah yang mestinya diidamkan oleh setiap perokok. Memang, tidak ada konsekuensi yang berat untuk hal ini, namun setidaknya untuk menjadi perokok juga harus memiliki sopan santun dan rasa malu. Kita bisa melihat beberapa Negara yang warganya tertib dalam merokok. Korea, misalnya, seperti diceritakan Koko, bahwa, di Korea ada iklan televisi, kalau membuang puntung rokok itu tindakan yang memalukan. “Di sini malu atau etika menjadi hal utama. Bahkan, karena merasa malu (untuk konteks lain) di sana banyak yang bunuh diri,” jelasnya.

Pemerintah dan Ruang untuk Perokok
Ketika segala sesuatunya memiliki tempat atau ruang khusus, maka perokok pun tidak lepas dari persoalan ini. Ruang untuk merokok di tempat-tempat umum yang tidak mempengaruhi lingkungan sekitar, sepertinya menjadi kebutuhan para perokok juga. Di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Bali pernah memiliki tempat ini. Sementara itu di Negara lain, juga menghargai perokok dengan penempatan ruang-ruang tersebut. “Di Malaysia, negara menghargai orang yang merokok dengan cara menyediakan tempat-tempat perokok. Hanya di tempat itu orang boleh merokok. Bahkan di rumah pun, disediakan ruang untuk merokok tersebut,” cerita Ardipal, yang sebelum berhenti merokok, secara rutin menghisap rokok dua bungkus sehari.
Begitu juga dengan Korea, “Kalau mau merokok yang di luar gedung, biasanya di pintu masuk ada tempat merokok. Di terminal ada juga khusus tempatnya, cuma ada disediakan satu tempat seperti tempat buang sampah atau asbak. Jadi yang merokok kumpul di situ, agak berjarak dari orang yang tidak merokok. Di stasiun Belanda juga begitu,” jelas Koko.
Sayangnya, di Indonesia, tempat-tempat seperti ini tidak tersedia sebagaimana seharusnya. Dan inilah yang menjadi persoalan perokok untuk bisa tertib. Di Sumatra Barat, kita baru menyaksikan tempat yang memang disediakan untuk merokok baru di tempat-tempat tertentu seperti di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Atau Di Balaikota Padangpanjang yang memberitahu di mana tempat merokok atau tidak di selingkar kantor. “Jadi, jangan membuat tempat dilarang merokok saja, tapi, tempat merokok juga harus dibuatkan,” kata Sudiro Sembiring, laki-laki yang mulutnya akrab dengan kepulan asap rokok tiap harinya.
Menyangkut ruang untuk perokok ini, apa yang dilakukan Bahrul juga bisa dicontoh. Merasa hidup dengan masyarakat yang kuantitas merokoknya tinggi, ia membuat aturan demi mengurangi efek asap menyebar ke paru-paru orang lain. Di ruangan-ruangan seperti ruangan fakultas, tempat kuliah, ia pasang tulisan “Terimakasih Tidak Merokok di Ruangan ini”.
Ia menyediakan ruangan untuk merokok di fakultas. “Salah satu tempat yang saya sediakan yaitu di kafetaria,” ujarnya. Hanya di sana mahasiswa boleh untuk merokok. Aturan itu ia buat kemudian dipantau atau diawasi. Ia juga membentuk Tim Disiplin Kampus. “Tim ini yang akan memantau aturan-aturan yang tidak dijalankan oleh civitas kampus, salah satunya yaitu rokok tersebut.,” tambahnya.
Tempat-tempat seperti itu mestinya diperbanyak. Pemerintah semestinya tidak mengakomodasi orang tidak perokok, tetapi juga bagi perokok. (Yusrizal KW/S Metron M/Andika Destika Khagen/Esha Tegar Putra/Gusriyono /Nilna R Isna/berbagai sumber)

Artikel ini ditulis dan diterbitkan di Harian Pagi Padang Ekspres, 1 Februari 2009

One thought on “Saatnya Memikirkan Ketertiban Merokok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s