Rokok Dalam Angka-angka

nosmoking-7minutesSejak ditemukan dan diproduksi pertama kali, rokok telah menkalkulasikan deretan panjang angka-angka. Mulai dari produsen yang berujung pada perolehan deviden pertahun, hingga konsumen yang berakhir dengan angka kematian sebagai akibatnya. Berbagai lembaga survei pun menghimpun data-data yang tak kalah banyak tentang rokok dan prilaku merokok di berbagai negara. Dari kalkulasi angka-angka tersebut, survei WHO tahun 2008, Indonesia berada pada posisi ke tiga negara pengguna rokok di Asia, di bawah Cina dan India. Dengan jumlah lebih dari 60 juta penduduk Indonesia adalah perokok aktif. Sementara, di dunia Indonesia meraih predikat ke empat konsumen rokok, dengan jumlah sekitar 141 juta orang. Diperkirakan, konsumsi rokok Indonesia setiap tahun mencapai 199 miliar batang rokok, setelah RRC (1.679 miliar batang), AS (480 miliar), Jepang (230 miliar), serta Rusia (230 miliar). Sehingga angka kematian, di Indonesia, akibat adiksi nikotin 1.172 jiwa perhari atau lebih dari 400 ribu orang pertahun.
Pangsa pasar industri rokok di Indonesia sebanyak 76% didominasi oleh tiga perusahaan besar. Tahun 2003, Gudang Garam menempati peringkat pertama (32%), diikuti Djarum (25%) dan HM Sampoerna (19%). Setelah akuisisi Sampoerna oleh Philip Morris pada pertengahan 2005, kuartal pertama tahun 2007 pangsa pasar Sampoerna Phillip Morris menduduki peringkat pertama (24,2%), mengalahkan Gudang Garam (23,6%), dan Djarum (20,4%).
Industri rokok juga menyerap banyak tenaga kerja yang berhubungan langsung (petani tembakau, petani cengkeh, dan pekerja industri rokok) secara keseluruhan rentang 2004-2005 mencapai sekitar 2 juta orang atau 2% dari total tenaga kerja. Proporsi luas lahan tembakau terhadap tanaman semusim selama 40 tahun (1961-2001) adalah konstan sebesar 1,2%. Areal pertanian tembakau secara absolut turun selama tahun 2002-2005 dari 260.738 ha (2002) menjadi 198.212 ha (2005) atau turun hampir seperempatnya. Sementara proporsinya terhadap lahan tanaman semusim pun turun dari 1,16% menjadi 0,86% selama periode tersebut.
Indonesia menerapkan sistem pajak bertingkat berdasarkan jenis produk tembakau dan skala produksi. Pertengahan tahun 2007, pemerintah mulai memberlakukan cukai spesifik per batang rokok sebagai tambahan terhadap cukai advalorum masing-masing Rp. 7, Rp. 5, Rp. 3, untuk industri besar, sedang, dan kecil. Terhitung 1 Januari 2008, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru, yaitu meningkatkan tarif cukai spesifik menjadi Rp. 35 per batang untuk semua jenis produk dan skala produksi, kecuali rokok Kretek Tangan (SKT) golongan III, Rp. 30 per batang. Kemudian, menurunkan tarif cukai advalorum dari 0-36% sampai 4-40%. Ditambah lagi dengan pajak pertambahan nilai sebesar 8,4%. Tarif rata-rata cukai Indonesia sebesar 37% (kisaran 4-40%) adalah yang terendah setelah Cambodia.
Harga rokok di Indonesia termasuk golongan rendah. Jika menggunakan Marlboro sebagai pembanding maka harganya sangat murah dibanding Negara ASEAN lainnya. Harga rokok di Singapura tahun 2007 adalah US$ 7.47 sementara di Indonesia kurang dari US$ 1 (US$ 0.9). Begitu juga di Malaysia US$ 2.18 dan Thailand US$ 1.79. Setali tiga uang, harga murah, mudah didapat, dan tanpa aturan yang membatasi membuat konsumsi rokok di Indonesia senantiasa meningkat.
Survei sosial ekonomi nasional (Susenas) 2004 dan 2005 memperoleh angka lebih dari 50 juta orang Indonesia membelanjakan uang setiap bulan untuk membeli rokok. Pada tahun 2004, dengan sumber daya rumah tangga yang sudah terbatas, proporsi pengeluaran bulanan untuk belanja rokok rumah tangga yang pendapatan terendah adalah 11,5%, sementara yang pendapatan tertinggi 9,7%. Tahun 2005, pengeluaran bulanan rumah tangga perokok untuk membeli rokok menempati urutan nomor 2 (10,4%) setelah beras (11,3%). Sementara itu Survei Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LDUI) 2005 menjelaskan, orang miskin mengeluarkan biaya Rp. 113 ribu per bulan, lebih besar dibanding Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang hanya Rp. 100 ribu perbulan. Sekitar 12,43% pendapatan si miskin dialokasikan untuk rokok. Sehingga mencapai angka 15 kali lipat dari biaya yang dikeluarkan untuk membeli daging (lauk-pauk), 8 kali lipat dari biaya pendidikan, dan 6 kali lipat lebih besar dari biaya kesehatan.
Kemudian, kelompok masyarakat berpendidikan rendah dan remaja mencapai posisi rawan dan perlu diperhatikan. Sebanyak 67% laki-laki tidak sekolah atau tidak lulus SD adalah perokok aktif. Selebihnya 47, 8% perokok aktif berasal dari lulusan perguruan tinggi. Perokok aktif usia 13-15 tahun berkisar 24,5%, sementara remaja usia 15-19 tahun prevalensinya 33%. Umur merokok yang semakin muda sangat mengkhawatirkan sekali. Anak-anak usia 5-9 tahun sudah mulai merokok dan peningkatan prevalensinya tertinggi di antara semua kelompok umur di bawah 19 tahun, yaitu dari 0,4% tahun 2001 menjadi 1,8% tahun 2004 atau lebih dari 4 kali lipat. Populasi perokok yang mulai merokok sebelum berusia 19 tahun meningkat dari 69% tahun 2001 menjadi 78% tahun 2004.
Tidak hanya laki-laki, perempuan juga menjadi perokok yang memiliki angka cukup berpengaruh di Indonesia. Koalisi untuk Indonesia Sehat (KuIS), menyebut, saat ini rata-rata remaja wanita mulai merokok pada usia 14 dan 15 tahun, dan 7 % wanita muda menjadi perokok aktif. Dengan akses yang mudah untuk mendapatkan rokok, maka lebih dari 88,78% wanita muda pernah merokok. Riset yang dilakukan KuIS, The Tobacco Control Research Program of Southeast Asia Tobacco Alliance (SEATCA), dan Rockefeller Foundation dengan melibatkan 3.040 responden perempuan berusia 13-25 tahun. Sebanyak 50% responden tinggal di Jakarta dan sisanya tinggal di Kabupaten Pariaman dan Bukittinggi, Sumbar. Pengumpulan data dilakukan dari Oktober sampai Desember 2007. Riset yang baru mencakup sebagian kecil wilayah Indonesia itu melaporkan sebanyak 7,18% dari remaja dan perempuan muda pernah merokok 11-100 batang. Bahkan 4,06% dari 3.040 remaja dan perempuan telah mengisap rokok lebih dari 100 batang.
Riset tersebut juga mengungkapkan sebanyak 54,59% remaja dan perempuan merokok dengan tujuan mengurangi ketegangan dan stres. Lainnya beralasan untuk bersantai 29,36%, merokok sebagaimana dilakukan pria 12,84%, pertemanan 2,29%, dan agar diterima dalam kelompok 0,92%. Sebagian besar remaja putri melihat iklan rokok di televisi 92,86% dan poster 70,63%. Sebanyak 70% remaja dan perempuan juga mengaku melihat promosi rokok pada acara pentas musik, olahraga, dan kegiatan sosial. Sebanyak 10,22% wanita berusia 13-15 tahun dan 14,53% wanita berusia 16-15 tahun pernah ditawari sampel rokok gratis.
Akankah angka-angka ini tetap menjadi hitungan yang tak berhingga dengan persentasi berlipat tiap tahunnya? (Gusriyono)

sumber : Harian Pagi Padang Ekspres Minggu, 1 Februari 2009

One thought on “Rokok Dalam Angka-angka

  1. Sangat bagus untuk terus mengadvocasi pemerintah agar mau meratifikasi FCTC. Kalau boleh, tolong dong kirim ke e-mail ku sumber data yang bisa saya akses megenai persetase pangsa pasar industri rokok di Indonesia. Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s