Global Warming : Manusia Tumbal Untuk Manusia

Pada 29 Agustus 2005 terjadi Badai Katrina yang menyentak hampir seluruh warga dunia. Amerika Serikat, tepatnya New Orleans, terkena bencana alam yang menewaskan banyak orang serta mencipratkan kerugian miliaran dolar. Dunia terpana. Amerika menganga. Indonesia terbata-bata.

Bencana alam itu dinyatakan sebagai puncak dari efek global warming atau pemanasan global. Yup, global warming, -sebuah frasa berbahasa internasional yang sering bias di telinga orang awam-. Pelaku utamanya disebut-sebut perilaku manusia.
Dalam The Washington Post, didapatkan data-data menarik tentang bumi, aktivitas manusia dan global warming. Pada sebuah diagram, seperti yang tersirat dari http://www.jirolu.com, peningkatan gas rumah kaca menyebabkan tiga hal, yaitu perubahan cuaca dan lautan, pergeseran ekosistem, dan degradasi lingkungan. Pada tahap lanjutan, pemanasan global berakibat pada menurunnya kualitas kesehatan masyarakat di dunia.

Perubahan cuaca menyebabkan perubahan panas matahari yang terpapar untuk manusia dan kehidupan. Akibatnya, terjadi penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas yang dapat menyebabkan kematian. Perubahan cuaca juga mengubah curah hujan berada di bawah normal pada sebagian daerah dan meningkat drastis pada daerah lain sehingga masa tanam terganggu. Masyarakat banyak yang gagal panen akibat kekeringan dan banjir yang tidak semestinya. Kegagalan panen ini membuat kasus marasmus mengalami peningkatan pada tahun-tahun terakhir.

Dampak negatif lain adalah perubahan ekosistem yang berakibat pada meningkatnya penyebaran penyakit melalui vektor. Di Jepara misalnya, dalam http://www.jawapos.com dikatakan, “Siklus tahunan yang berlaku di Kabupaten Jepara untuk kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) biasanya berlangsung dalam waktu lima tahun sekali. Namun, dalam dua tahun terakhir, siklus lima tahunan telah berubah jauh dari pola sebelumnya.”

Pola siklus lima tahunan ini juga diakibatkan oleh pola perubahan musim hujan. Menurut Kabid Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) pada Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara Sukmawati Kangiden, dalam http://www.jawapos.com, jika sebelumnya, April hingga Oktober adalah musim kemarau dan Oktober hingga April adalah musim hujan, maka saat ini sudah tak dapat lagi diprediksi. Inilah yang menyebabkan populasi Aedes meningkat drastis. Hal ini pula yang membuat DBD sulit dikendalikan.

Selain itu, nyamuk Aedes Aegypti yang biasanya lebih suka hidup di daerah perkotaan yang panas kini mulai merambah ke daerah pegunungan. Ini tak lain tak bukan merupakan dampak kekacauan yang ditimbulkan oleh global waming. Saat ini, bahkan kawasan pegunungan pun bukan dingin lagi melainkan sudah panas.

Untuk penyebaran penyakit melalui air, dari grafik yang dibuat Patterson Clark dalam The Washington Post yang diterjemahkan oleh Deddy Andaka, dapat ditemukan bahwa kolera, hepatitis A, leptospirosis, cryptosporidosis, dinoflagellate, dan keracunan ikan dan kerang, serta berbagai jenis penyakit akibat bakteri vibrio dan sallmonella adalah jenis-jenis penyakit yang diakibatkan oleh global warming. Begitu juga dengan diare dan trauma psikologis yang sering timbul pasca bencana, seperti banjir dan badai. yang terjadi karena pengaruh global warming.

Dampak-dampak buruk untuk kesehatan ini pun belum lagi ditambah pada akibat kesehatan dari polusi udara yang disebabkan oleh degradari lingkungan oleh global warming. Pada http://www.jiloru.com dituliskan bahwa global warming menyebabkan peningkatan penyakit asma, jantung, dan paru kronis yang timbul dari polusi udara.

Ancaman-ancaman global warming ini hendaknya menjadi peringatan bagi seluruh manusia, terutama di Indonesia yang berada pada daerah tropis yang dilalui garis khatulistiwa. Laporan IPPC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2007, seperti yang dikutip dari http://www.langitselatan.com, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia (antropogenik) semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan.

Di Indonesia, dampak global warming hadir karena hutan-hutan dibabat, terjadi pengundulan hutan besar-besaran yang dilakukan oleh oknum-oknum untuk meningkatkan taraf hidupnya. Sementara bagi masyarakat, baik yang taraf hidupnya di atas rata-rata maupun di bawah rata-rata, tampak tak peduli dengan keberlangsungan hidup bumi. Padahal, di balik itu, tersimpan aset hidup manusia yang berharga yaitu derajat kesehatan.

Manusia kadang hanya ingat pada taraf hidupnya dan lupa pada derajat kesehatannya. Manusia hanya menginginkan kehidupan tanpa peduli pada tempatnya meneruskan kehidupan. Sayangnya, manusia yang tahu global warming lah yang acap mengabaikan warning dari global warming itu sendiri. Inilah masalahnya. Akhirnya, manusia menjadi tumbal untuk manusia. Dan bumi menangisinya.

One thought on “Global Warming : Manusia Tumbal Untuk Manusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s