Mahasiswa Harus Tanggap Bencana

lpj1Menyadari bahwa secara geografis, Sumatera Barat berada pada daerah rawan bencana, Dr. H. Badrul Mustafa Kemal, DEA, pakar gempa wilayah barat, menegaskan kepada para mahasiswa agar cepat tanggap terhadap bencana. “Daerah kita rawan bencana, terutama gempa dan tsunami. Bencana lain seperti longsor yang terjadi di Malalak, erupsi vulkanik, banjir, longsor, abrasi, putting beliung, juga kebakaran hutan,” jelas Badrul Mustafa yang juga merupakan Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Andalas ini.
Wacana tersebut disampaikan oleh Badrul Mustafa saat menjadi pembicara pada Pelatihan Keterampilan Penanggulangan Bencana Alam di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Pelatihan yang diadakan pada Jumat, 14 November 2008 ini juga mengundang dua narasumber lain yaitu Drs. Jasmarizal SKP, MARS dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat dan Dr. H. Zulkarnain Agus Dipl. Appl.Nutr, MPH, MSc, SpGK dari Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Badrul mengatakan bahwa gempa yang terjadi 6 Maret 2007 lalu merupakan perulangan gempa tahun 1926, 1943, 1977, dan 2004 dimana patahan sumatera bergerak menurut zona geser. Data ini dengan jelas menerangkan bahwa gempa ataupun bencana lainnya akan terus terjadi di Sumatera Barat. Hanya saja waktu terjadinya tidak bisa diperkirakan.
“Dengan paradigma Provinsi Sumatera Barat rawan bencana, masyarakat tentu tidak akan panik untuk menghadapi bencana. Paradigma inilah yang mesti ada di setiap individu masyarakat kita,” ucap beliau. Badrul juga menyebutkan kontruksi bangunan yang kokoh sebagai salah satu cara meminimalisasi korban, terutama untuk bencana gempa. Kita bisa belajar dari bencana gempa di Jogjakarta. Gempa dengan kekuatan 5.9 SR tersebut mencatat 7000 korban jiwa, sementara dengan kekuatan yang sama, Provinsi Sumatera Barat hanya mencatat 70 korban jiwa. “Hal ini karena kontruksi bangunan Jogjakarta yang tidak kuat, tanpa besi beton dan dengan atap genteng. Akibatnya banyak rumah-rumah di Jogjakarta yang ‘rubuh sempurna’,” ujar Badrul.
Solusi untuk menanggulangi dampak buruk bencana, menurut Badrul, antara lain membangun rumah yang sesuai dengan Building Code dalam hal ini bisa berkonsultasi dengan ahli, pelebaran jalan untuk antisiasi macet, dan yang paling penting adalah paradigma bahwa kondisi geografis Sumatera Barat berada pada daerah rawan bencana.
Sementara itu, Zulkarnain Agus menyajikan materi mengenai epidemiologi penyakit akibat bencana dan dampaknya terhadap kesehatan. Dosen bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas ini mengatakan proses penyebaran dan penularan penyakit akan semakin cepat apabila berada di lokasi pengungsian, terutama diare dan disentri. Hal ini disebabkan karena jauhnya sumber air bersih dari lokasi pengungsian. Begitu pun pendistribusian pangan yang hampir tak pernah berjalan dengan tertib dan semestinya.
Zulkarnain Agus menekankan kepada para mahasiswa, terutama mahasiswa peserta seminar, bahwa yang utama adalah sensitivitas. Sensitivitas untuk berbuat dan bertindak menyelamatkan nyawa. “Saya berharap mahasiswa cepat tanggap. Punya sensitivitas karena sensitivitas inilah yang kurang. Setidaknya untuk menggalang dana. Jadilah tim yang tangguh dan profesional karena menghadai bencana tak hanya dengan otak yang cerdas tapi juga dengan hati,” harap beliau.
Zulkarnain Agus mengatakan penanggulangan bencana dapat dilakukan dengan menyiapkan tim siaga bencana dan melaksanakan simulasi-simulasi. “Perlu ketajaman para pengambil kebijakan untuk menggara simulasi ini dengan serius,” ujarnya. Selain itu, Zulkarnain Agus juga menganjurkan adanya peta kawasan dan mitigasi yang dalam hal ini sebagian telah dilaksanakan pemerintah daerah.
Di sisi lain, Drs. Jasmarizal SKP MARS dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, menyebutkan program-program penanggulangan bencana yang telah disiapkan Dinkes, antara lain : peningkatan sumber daya manusia, ketersediaan sarana dan prasarana, membangun jejaring, serta koordinasi. Untuk saat ini telah disediakan sejumlah peralatan tanggap bencana dengan anggaran dana 7,4 miliar yang saat ini disimpan di Rumah Sakit Jiwa HB Sa’anin Kota Padang.
(Nilna Rahmi Isna/ Kesehatan Masyarakat Unand)

Artikel ini diterbitkan di koran Padang Ekspres Minggu halaman Kampus serta dikirimkan sebagai artikel laporan kegiatan pengabdian masyarakat kepada DIKTI.

One thought on “Mahasiswa Harus Tanggap Bencana

  1. Rekan Nilna,

    Perkenalkan saya Dwi Kristiani dari SOlution Exchange DMRR Community.
    Kebetulan saya sedang menangani sebuah diskusi sesuai dengan tema tulisan Nilna pada blog ini.
    Saya ingin meminta izin untuk melayangkan tulisan nilna sebagai salah satu tanggapan pada Pertanyaan yang dilontarkan oleh Rosaria Indah dari FK Usyiah. Jika nilna memiliki pertanyaan mengenai hal ini jangan ragu untuk menghubungi saya.

    Saya berharap balasan dari anda, terimakasih sebelumnya

    DK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s