3 JAWARA MENULIS DARI PMAILS

Tokoh kali ini luar biasa. Luar biasa karena memang tidak biasa. Tidak biasa karena ketiga tokoh ini adalah para reporter P’Mails. Mereka adalah Maghriza Novita Syahti, Cesar Zeihan Camile, dan Amelia Asmi. Maghriza Novita Syahti yang biasa dipanggil Opie baru saja menjadi Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Remaja 2008 kategori Mahasiswa, Guru, dan Umum tingkat Nasional yang diadakan oleh PT ROHTO-MENTHOLATUM. Amelia Asmi yang akrab dipanggil Amel juga meraih Juara 2 Lomba Menulis Cerpen Remaja 2008 kategori Pelajar SMA tingkat Nasional. Cesar Zeihan Camile yang biasa dipanggil Emil berhasil meraih gelar Juara 1 Honda Best Student Sumbar 2008.

31

Opie, Pemenang I LMCR-2008 Kategori Umum

Opie, Pemenang I LMCR-2008 Kategori Umum

Opie :Bermain dengan kata-kata, logika, imajinasi, dan wawasan
Magriza Novita Syahti atau Opie awalnya tak percaya bisa menjadi pemenang utama dalam Lomba Menulis Cerpen Remaja yang diadakan oleh P.T ROHTO itu. “Kaget. Kemenangan ajaib. Tak percaya. Tak terduga. Nggak pernah terpikirkan soalnya,” komentar Opie perihal kemenangannya. Bahkan sms pemberitahuan sebagai pemenang dari panitia pada 6 November 2008 dianggap Opie sebagai orang iseng yang mengerjainya pasca ulang tahun. Kebetulan, Opie baru saja memperingati hari ulang tahunnya yang ke-19 pada 5 November 2008.
Opie baru agak yakin ketika tanggal 9 November 2008, hampir semua orang yang bertemu dengannya mengucapkan selamat. Sampai-sampai Opie mengistilahkan hari itu sebagai Hari Selamat. “Soalnya, ketika itu semua orang udah pada ‘Heri’ (Heboh sendiri,-red). Setiap orang ketemu Opie mengucapkan selamat, baik selamat menang, selamat ulang tahun, ataupun selamat siang. Hehe,” canda Opie.
Tak hanya Opie, orangtua Opie pun sempat tak percaya. “Malamnya Papa Opie nelpon Om KW (Yusrizal KW,-red) untuk memastikan. Om KW bilang, ‘Mudah-mudahan kabar itu benar’. Tapi, aneh dan gobloknya Opie, Opie sama sekali nggak penasaran tentang berita itu,” cerita Opie.
Barulah Senin pagi Opie benar-benar percaya. Ia datang sendiri ke warnet dan menemukan namanya tertera. “Pemenang I Judul karya: LUKISAN HUJAN Karya Maghriza Novita Syahti – Padang Sumatera Barat Hadiah: Uang tunai Rp 7.500.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD dan Buku Kumpulan Karya Beberapa Pemenang LMCR-208” Opie terang saja bahagia. “Pas tahu, Opie senyam senyum sendiri ke layar komputer. Nggak sampai jumpalitan kegirangan banting-banting monitor. Malu sama pengunjung warnet lain,” jawab Opie dengan humornya.
Bagi Opie, cerpen itu bermain dengan kata-kata, imajinasi, dan wawasan. “Dengan cerpen kita bisa menghibur, membuat pembaca merenung, dan membuat mereka berimajinasi,” tutur Opie. Begitu pun saat menulis Cerpen Lukisan Hujan yang memperoleh LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD ini. Opie, menulisnya dengan imajinasi kemudian merangkainya dengan kata-kata yang selaras dengan logika.
Ide cerpen Lukisan Hujan terbesit saat ia melihat photo-photo yang ada di komputernya. Opie bertemu dengan sebuah photo lelaki berjas hitam dan berpayung hitam yang sedang bermain hujan. Photo itu diambil dari balik kaca yang ada bulir-bulir airnya. Jadinya lelaki itu tampak kabur. Photo itulah yang menginspirasi Opie untuk membuat cerpen. Dalam cerpen itu imajinasi dan logika Opie berjalan seiringan, selaras dengan kata-kata yang disusun menarik tapi literer.
Sifat literer (sastra) inilah yang juga menjadi adalan bagi Opie. Dalam menulis, Opie bergabung dengan Sanggar Sastra Pelangi Yayasan Citra Budaya Sumatera Barat. Di sana ia berlatih menulis sastra setiap Minggu. Ke depannya, Opie akan tetap menulis dan terus menulis.
“Ketika aku menulis, aku menemukan hal baru, hal yang tak pernah kuketahui sebelumnya, yang belum pernah terjamah oleh pikiranku. Ketika aku menulis, aku butuh asupan gizi berupa bacaan bermutu. Menulis menuntutku untuk membaca, membaca menggelitik nuraniku untuk menulis,” tulis Opie di pada akhir wawancara. Menyentuh, mengena, dan penuh vitalitas.
Ngomong-ngomong soal menulis, Opie menceritakan sedikit kisah masa kecilnya. “Waktu SD, Opie paling goblok kalo masalah pelajaran mengarang. Disuruh mengarang satu halaman penuh, Opie gede-gedein tulisannya biar penuh satu halaman. Hehe,” kenang Opie, “Baru pas SMP, Opie suka menulis. Opie suka bikin cerpen meskipun menurut Opie cerpen itu jelek. Tapi nggak penting deh jelek atau bagusnya, yang penting kemauan.” Kemudian Opie melanjutkan, “ Mungkin Opie benar-benar jatuh cita sama menulis setelah bergabung dengan P’Mails. Pokoknya, P’Mails punya saham terbesar dalam hidup Opie, termasuk semua yang ada di dalamnya, teman-teman P’Mails, Bang On, dan Om KW.”

Amel, Pemenang II LMCR-2008 Kategori Pelajar SMA

Amel, Pemenang II LMCR-2008 Kategori Pelajar SMA

Amel : Menulis cerpen lebih dahsyat dari ke gunung Kidul
Amel mulai menulis cerpen pada kelas 6 SD. Saat itu, ia suka sekali menulis puisi hingga ia dapat kesempatan bergabung dengan Sanggar Sastra Pelangi Yayasan Citra Budaya. Akan tetapi, ia sempat vakum sementara dan kembali bergabung ketika kelas 2 SMA, bersamaan dengan bergabungnya Amel sebagai reporter P’Mails.
Begitu mengetahui dirinya sebagai salah satu Pemenang Lomba Menulis Cerpen Remaja 2008 yang diadakan oleh P.T Rohto. Cerpen Amel yang berjudul Kuncir Dua meraih Juara 2 pada lomba tersebut. Atas prestasi itu, Amel berhak menerima uang tunai sebesar Rp 4.000.000,00, piagam LIP ICE-SELSUN, dan Buku Kumpulan Karya Beberapa Pemenang LMCR 2008. Serta meraih satu unit televisi yang ditujukan untuk SMAN 6 Padang (sekolah Amel,-red).
Begitu mengetahui dirinya sebagai Pemenang 2, Amel tak mampu berkata-kata. “Speechless. Nggak yakin. Ya, nggak yakin aja seorang Amel mampu ngalahin peserta lain yang ada di Indonesia,” jujur Amel. Akan tetapi, seorang “guru” meyakinkannya bahwa Amel pasti bisa. “Aku tidak yakin bisa. Tapi kata guruku, ‘Tak ada yang tidak mungkin. Ini karya aku yang paling hebat’,” kisah Amel.
Amel mendapat kabar bahwa ia muncul sebagai pemenang  dari seorang teman. Tapi ketika itu, Amel mengira itu hanya canda gurau temannya. “Aku malah sempat marah ke teman itu. Kalaupun menang aku pikir hanya 20 atau 50 terbaik. Tapi, rupanya juara 2,” ujar Amel bahagia dan terharu.
Tak hanya Amel, guru dan teman-teman sekolahnya pun awalnya tidak percaya. Tapi, setelah melihat pengumuman di website P.T Rohto, maka berbangga hati lah para guru dan teman-teman Amel di SMAN 6 Padang. “Mereka bangga dan salut,” ucap Amel singkat.
Cerpen Kuncir Dua merupakan pengalaman pribadi Amel. “Inspirasi tokoh utama cerpen ini berasal dari seorang teman yang selama 3 tahun musuhin Amel.  Sedangkan “Kuncir Dua” itu karena dulu Amel rambutnya panjang. Jika ke sekolah, selalu dikuncir dua sama mama. Oleh ayah, rambut Amel nggak boleh dipotong, nggak boleh pendek,” cerita Amel, “ Pernah satu hari, ketika di sekolah, karet kuncir rambut Amel lepas. Amel nggak bisa masang sendiri. Akhirnya, Amel lari-lari pulang ke rumah sambil menangis. Itulah makanya judul cerpen ini Kuncir Dua.”
Dalam proses menulis cerpen, “Kuncir Dua” dirampungkan Amel hanya dalam waktu 1,5 jam. Cerpen itu merupakan tugas mingguan Sanggar Sastra Pelangi. “Awalnya, cerpen itu cuma tugas, nggak ada niat untuk diikutkan lomba. Tapi, ketika ada lomba, guru di sanggar bilang cerpen itu bagus,” terang Amel.
Saat pengiriman brkas cerpen pun, Amel masih pesimis untuk menang. Akan tetapi, dengan dorongan dari “guru” tadi, Amel tetap ikut lomba. Amel punya cerita seru perihal pengiriman cerpennya itu. “Waktu itu crowded banget. Heboh. Ketika ngirim waktunya sudah limit bareng teman-teman sanggar. Kami ngirimnya sore-sore dan buru-buru karena takut Kantor Pos keburu tutup. Hari itu juga semuanya kelengkapan lomba diurus mulai dari nulis resensi, cetak photo, sampai jilid. Pokoknya crowded,” kisah Amel dengan semangat. Semangat yang membuahkan hasil.
Apa yang didapatkan Amel dari cerpen? “Menulis cerpen itu lebih dahsyat daripada ke Gunung Kidul,” jawab Amel. Ia melanjutkan, “Menulis cerpen itu menuangkan jiwa, perasaan, harap, khayal, keyakinan, dan sesuatu yang baru.” Sementara tentang sastra, Amel berkomentar, “Sastra itu sesuatu yang tidak mengikat, bebas, memikat, transparan, agung dan seksi karena sastra adalah seni.”
Amel kemudian bermimpi. Mimpi yang akan ia wujudkan. “Aku ingin sepintar Einstein, sepuitis Khairil Gibran, sesempurna Ibuku, dan sesederhana Yusrizal KW.” Amel mengucapkan terima kasih kepada Ibu, Ayah, CNS (sahabat-sahabat Amel,-red), teman-teman sanggar, dan yang terutama kepada guru besarnya yang ia sebut-sebut sebagai inspirasinya : Yusrizal KW.

Emil-Honda Best Student Sumatera Barat 2008

Emil-Honda Best Student Sumatera Barat 2008

Emil : Luar Biasa
Cesar Zeihan Camile memulai menulis karangan sejak kelas 1 SD. Ia senang menulis kejadian-kejadian di sekitarnya. Memang, sejak TK Emil sudah pandai membaca jadi ia tak begitu kesulitan merangkai kata-kata dalam buku hariannya. Mulai dari kesenangan menulis itulah, akhirnya Emil “saat ini” ketagihan menulis, terutama menulis karya tulis ilmiah.
“Saya suka menulis ilmu pengetahuan karena dapat meningkatkan wawasan dan berguna bagi orang banyak,” terang Emil. Menurut Emil, dengan karya tulis itu, masyarakat bisa mempelajari dan mengerti tentang suatu hal.
Judul yang diangkat Emil pada karya tulisnya adalah Tanggapan Pengendara Sepeda Motor HONDA terhadap Teknologi Euro II dan PGMFI dalam Menyongsong Sepeda Motor yang Ramah Lingkungan di kalangan Pelajar SMAN 10 Padang. Pada karya tulis ini, Emil ingin tahu seberapa besar kepedulian pelajar terhadap global warming dan aplikasinya terhadap penggunaan sepeda motor yang menggunakan Euro II dan PGMFI. PGMFI merupakan teknologi terbaru dari HONDA yang ramah lingkungan dengan tidak mengeluarkan emisi yang berbahaya bagi kesehatan.
Bukan tanpa kendala, Emil pun merasakan sedikit kesulitan dalam proses menyusun karya tulisnya. “Kendalanya itu waktu dan tenaga,” ucap Emil. Emil yang duduk di kelas XII IPA Internasional SMAN 10 Padang harus bisa menyelip-nyelipkan waktunya untuk survey dan mengumpulkan bahan kepada pelajar pengendara sepeda motor di sela-sela belajar. Juga saat membuat presentasi. “Presentasi yang dibuat dalam waktu 1 bulan itu butuh kerja keras yang luar biasa,” cerita Emil. Emil harus mondar-mandir ke sana kemari dan tetap diupayakan tidak menganggu proses belajar.
Saat presentasi di CV. Hayati, Emil sempat grogi. Pasalnya, dari empat finalis, Emil mendapat kesempatan terakhir untuk presentasi. “Grogi sebelum tampil karena penampilan finalis lain kelihatannya hebat-hebat. Tapi ada baiknya juga, aku jadi lebih sandai dan lebih banyak persiapan,” terang Emil. Namun demikian, Emil mendapat banyak pelajaran, baik dari segi penyusunan maupun materi dari karya tulis.
Atas kemenangan itu, Emil berkesempatan jalan-jalan ke Jakarta dan mengunjungi pabrik Honda di Jakarta serta mendapat beasiswa sekolah selama 1 tahun. Karena itu, Emil berterima kasih kepada orangtua dan guru, terutama Bapak Drs. Emrizal yang telah memotivasi Emil untuk ikut lomba. Juga kepada Bang On, Om KW, Pak Cici, dan Pak Zaili yang selalu mendukung Emil untuk menulis dan bersemangat.
Ke depannya, Emil berencana akan terus ikut lomba. Juga, ia akan lebih mendalami karya tulis. “Saya ingin lebih mendalami, jadi walikota, jadi penulis buku yang menghasilkan karya best seller dan meraih nobel sastra,” tutur Emil. Waw, Emil memang hebat. Ia sendiri punya motto, “Saya Luar Biasa” karena ia memang luar biasa.
Wah, kok Emil pengen jadi walikota? “Iya. Saya mau jadi walikota karena saya yakin dapat merubah kota Padang menjadi lebih baik. Pilih saya tahun 2018!” promosi Emil. Emil pun menambahkan tegas, “Yang penting saya tidak korupsi.”

8 thoughts on “3 JAWARA MENULIS DARI PMAILS

  1. Boleh tahu nggak alamat e-mail Magriza Novita Syahti atau Opie dan Amelia Asmi? Please ya kalau tahu hubungi gue ke email ini lhmbuchori@gmail.com atau za_qia90@yahoo.co.id. Please ya, yang tahu…… YANG TAHU……. cOZ saya ingin sekali membaca cerpen milik si Amel karena belum dipublikasikan. Kalau milik si Magriza saya sudah membacanya di rayakultura. net (sangat imajinasi dan qren abiiz)
    Tolong dong bagi siapa yang tahu e-mail mereka berdua hubungi saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s