The Unpredictable Gift

The Unpredictable Gift, part 1
“Hadiah yang tak dapat diramalkan”

Om KW potong kue Ultah. Met ultah ya, Om

Om KW potong kue Ultah. Met ultah ya, Om

Sejak dua minggu yang lalu, kami kelimpungan mencari ide. “Ayolah kak, kita harus bikin sesuatu buat ‘papa’ kita itu. Masa’ pas ulang tahun kita cuma kasi ucapan pie bidei,” hasut Amel Minggu itu. Aku, Opie, dan Kak Ria berpikir. Apa yang harus kita lakukan, sesuatu yang berkesan untuk hari ulang tahun seorang yang special bagi kami. Seseorang yang mencurahkan ilmunya kepada kami agar menjadi berkah. Yang menyayangi kami agar kami menjadi cerdas.  Om KW.
“Gimana kalau kita beliin jam? Atau baju batik? Trus kuenya kita beli Black Forest gede? Trus kita kerjain, kak. Siapa gitu? Misalnya Kak Nilna habis acara pura-pura pingsan? Atau kita berantem, kak Ria? Pokoknya bikin Om panik.” Amel terus menggebu dengan segudang idenya.
Sayang sekali, semua ide Amel ditolak olehku, kak Ria, dan Opie. Ide Amel bukan berarti buruk atau tidak menarik, hanya semua ide itu terlalu sederhana dan mudah ditebak. Kalau soal dikerjai-mengerjai, itu sudah bukan hal mutakhir lagi, alias sudah biasa dan Om pasti tahu jika ia dikerjai.
Amel pusing, berpikir-pikir apa yang harus dilakukannya di hari ulang tahun Om. Hingga keluar ide gilanya, “Kita beliin mobil tapi kuncinya aja, yang gede ituh yang biasa di tivi-tivi.’ Om, ini hadiah ulang tahun dari kami. Tapi kuncinya aja’,” Amel beraksi seakan-akan Om berada di depannya. Aku, kak Ria, dan Opie ngakak ngeliat polah Amel.
“Atau gini aja,” ujarku, “Kita bikin kotak gede…, tapi nggak ada isinya. Trus pas Om buka, kan Om bingung tuh, trus bilang kotak ini sesungguhnya berisi doa kami. Tadi kami sudah berdoa untuk Om yang kami simpan dalam kotak ini,”
Amel, Opie, dan Kak Ria manggut-manggut. Tapi mereka, juga aku, kurang yakin dengan model hadiah seperti ini.
Tiba-tiba Opie nyeletuk, “Atau isi kotak itu… : Amel?”
Ha9s… ha9s… ha9s….
Emang susah nyari kado ulang tahun untuk Om. Kami kehabisan ide. Kehabisan skenario. Sekreatif apapun anak-anak P’Mails, tetap aja nggak bisa kreatif jika itu menyangkut untuk Om KW dan Bang On. Apalagi ada Bang On yang biasanya ‘selalu’ aja menggagalkan ‘proyek’ kami jika ada teman yang ulang tahun.
Jika boleh ber-falshback, ultah Om tahun lalu, dihadiahi dengan sebuah buku sederhana yang isinya tulisan kami, para reporter P’Mails, tentang Om KW. Nah, rasanya itu sudah hadiah yang paling ‘berkesan’. Dan untuk tahun ini, kami benar-benar kehabisan ide.
Menjelang senja di hari ulang tahun Om. Teman-teman P’Mails sudah berkumpul untuk merayakan ulang tahun Om. Kue sudah dibeli. Ketika di-sms, Om bilang sedang beli obat. Kami menunggu.
Bahkan saat menunggu itu pun, kami masih sempat ‘ingin’merumuskan scenario. Tapi tetap saja, scenario itu tak pernah ‘deal’.

The Unpredictable Gift, part 2
“Hadiah yang tak dapat diramalkan

Om berterima kasih kepada kami, anak-anak P’Mails. Dan benar saja : ‘semua ide kami yang tak jadi itu’, sebelum kami menyampaikannya, Om sudah bisa menebaknya. “Ada yang pingsan?” tanya Om bercanda sesaat setelah meniup kue ultah sederhana dari kami.
Dan ketika kue sudah dipotong, Om menyampaikan rasa terima kasihnya, dan ketika itulah kami mendapatkan ‘The Unpredictable Gift’ itu. Ya, bukan Om yang mendapatkan hadiah tapi kami lah yang menerima hadiah yang lebih besar, mungkin lebih besar dari hadiah ulang tahun yang pernah kami terima.
Kata Om :
“Ada 2 hal mengapa Om memilih hari ini (hari ulang tahun Om,-red) untuk Seminar Guru dan Lomba Debat. Pertama, karena yang menyelenggarakan Seminar guru adalah istri. Kedua, karena yang melaksanakan Lomba debat adalah kalian. Kedua-duanya ini adalah orang yang Om sayangi dalam hidup, Om. Maka, jika kedua atau salah satu acara ini gagal, maka inilah hadiah ulang tahun untuk Om. Jika, kedua atau salah satu acara ini sukses, maka inilah yang menjadi hadiah ulang tahun untuk Om.
Dan ternyata, kedua acara ini berhasil. Om, telah mendapatkan hadiah ulang tahun dari kalian. Tanpa kalian sadari, Om telah mempersiapkan sendiri kado ulang tahun untuk Om, yaitu kalian. Kalian inilah yang menjadi hadiah ulang tahun bagi Om, yang tak akan pernah Om lupakan sepanjang hidup, Om.”
Maka, aku sudah tak dapat lagi menahan tangis. Aku terus berusaha agar tak mengeluarkan air mata. Aku sudah bertekad akan terus tersenyum di hari ulang tahun ini tanpa mengeluarkan air mata.
Namun, aku tak bisa. Air mataku tumpah juga. Bahkan saat menulis tulisan ini. Jika ada orang yang paling berpengaruh dalam hidupku, maka Yusrizal KW lah orangnya. Ia menempati posisi pertama mengalahkan kedua orang tuaku.
Suasananya haru. Hampir semuanya menangis. Kami yang akhirnya terharu dengan kalimat Om. Bahwa ternyata diri kami adalah hadiah ulang tahun untuk Om yang kami cari-cari. Kami lah ‘the unpredictable gift’ di hari Ulang Tahun Om KW.
Salut tak terhingga untuk Om KW yang ilmunya tak henti dicurahkan kepada kami anak-anak didiknya. Maka, tak salah jika aku pernah menyebutnya sebagai ‘orangtua’, Amel pernah memanggilnya dengan ‘papa’, Kak Hanum menyebutnya sebagai ‘guru kehidupan’, dan yang pastinya beliau adalah pemimpin ideal bagi kami, siswa-siswi reporter P’Mails.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s