Menggerakkan Hati untuk Meraih Buku dan Pena

Ditulis untuk rubrik Burn Your Self Tabloid BROCA FK UNAND

Burn Ur Self edisi kali ini sedikit berbeda. Tidak berupa pemaparan melainkan menyuguhkan kata-kata sarat maksud. Disini kami menuliskan kembali apa yang pernah dituliskan atau yang pernah terucapkan hanya untuk menggambarkan betapa membaca (meraih buku) dan menulis (meraih pena) sangat diperlukan.
S.I Hayakawa: “Dalam makna yang sungguh-sungguh, sebenarnya orang membaca ke perpustakaan yang baik, telah hidup lebih dari pada orang-orang yang tak mau membaca. Adalah tak benar bahwa kita hanya punya satu kehidupan yang kita jalani. Jika kita bisa membaca, kita bisa menjalani berapapun banyak dan jenis kehidupan seperti yang kita inginkan.”
Dr. Sir. M. Iqbal: “Berapa lamakah kau akan tetap menggelepar mengantung di sayap orang ? Kembangkan sayapmu sendiri dan terbanglah lepas seraya menghirup udara bebas di taman luas. Maka, membacalah.”
Ali Bin Abi Thalib: “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”
Deliar Noer: “Hidup memang perlu dijalani terus, dipahami atau tidak. Maka, aku pun bersyukur dengan keadaanku sekarang. Memang aku tidak punya jabatan, tanpa uang berlebihan, tapi kurasa sudah ada juga yang kuberikan untuk keluarga, famili, masyarakat, bangsa dan ummat, yakni tulisan.”
J.K Rowling: “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri. Itulah yang saya lakukan.”
Glenn Doman: “Belajar membaca itu sama mudahnya dengan belajar berbicara. Malah sebenarnya lebih mudah. Ini lantaran kemampuan melihat telah terbentuk sebelum kemampuan bicara.”
Jalaluddin Rakhmat: “Memang, untuk melakukan analisis kritis terhadap tarikh, di samping logika, kita memerlukan literatur.”
Barbara Tuchman: “Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra bisu, ilmu pengetahuan lumpuh, serta pikiran dan spekulasi mandek.”
Sa’ad bin Jubair: “Dalam kuliah-kuliah Ibnu Abbas, aku biasa mencatat di lembaran. Bila telah penuh, aku menuliskannya di kulit sepatuku, dan kemudian di tanganku. Ayahku sering berkata: Hafalkanlah, tetapi terutama sekali tuliskanlah. Bila telah sampai di rumah, tuliskanlah. Dan jika kau memerlukan atau kau tak ingat lagi, bukumu akan membantumu.”
Kompas: “Biarkan mereka katakan ‘mengapa’ terhadap setiap hal sepanjang hidupnya. Setiap ‘mengapa’ akan selalu menambah pengetahuan dan membuka wawasan. Pengetahuan, wawasan, dan pengalaman akan menjadikannya bijak.”
Ignas Kleden: “Di sini saya teringat akan cerita almarhum Soedjatmoko, bahwa setiap kali dia harus menulis makalah, maka dia seakan berhadapan dengan sebuah tekanan dan penderitaan besar. Menulis selalu menjadi momen-momen yang ‘agonizing’ yang dapatlah dianalogikan dengan penderitaan seorang ibu yang berjuang melahirkan anaknya.”
Stephen R. Covey: “Sebagian besar dari perkembangan mental kita dan disiplin studi kita berasal dari pendidikan formal. Akan tetapi, segera sesudah kita meninggalkan disiplin eksternal sekolah, banyak dari kita membiarkan otak kita berhenti pertumbuhannya. Kita tidak lagi membaca secara serius, kita tidak menjajaki subjek baru secara mendalam di luar bidang tindakan kita, kita tidak berpikir secara analitis, kita tidak menulis-sedikitnya tidak kritis atau tidak dengan cara yang menguji kemampuan kita mengekspresikan diri di dalam bahasa yang baik,jelas dan ringkas. Sebaliknya, kita malah menghabiskan waktu kita untuk menonton televisi.”
Rasul Ja’farian: “Sejumlah tradisi besar menunjukkan bahwa para Imam mempunyai buku-buku dan tulisan-tulisan yang mereka warisi dari para leluhurnya. Dalam tradisi lain, diriwayatkan bahwa Imam Ali pernah membuat pernyataan ‘ikatlah ilmu’ (lewat tulisan), yang diulanginya sampai dua kali. Telah diriwayatkan dari jabir bahwa Abu Hanifah memanggil Imam Ja’far Ash Shadiq dengan kutubi (kutu buku), sehubungan dengan kepercayaannya pada buku-buku, dan Imam bangga dengan julukan tersebut.”
Isabella Ziegler: “Writing is a lonely profession.”
Elizabeth G. Hainstock: “Membaca dan menulis berlangsung bergandengan, dan latihan-latihan awal materi-materi sensoris metode Montessori mempersiapkan anak untuk mengenal keduanya (membaca dan menulis). Montessori mengamati bahwa anak seringkali ‘memuntahkan segalanya dalam tulisan’, dan karena pengalaman-pengalaman sensoris tahun-tahun awal mereka, menulis biasanya terjadi sebelum anak benar-benar bisa membaca.”
Glenn Doman: “Anak-anak dapat membaca sebuah kata ketika usia mereka satu tahun, sebuah kalimat ketika berusia dua tahun, dan sebuah buku dalam usia tiga tahun dan mereka menyukainya.”
Hernowo: “Membaca buku dapat dilakukan secara ngemil (tidak sekaligus, tetapi sedikit demi sedikit).”
Rene Descartes: “…membaca buku yang baik itu bagaikan mengadakan percakapan dengan cendikiawan yang paling cemerlang dari masa lampau-yakni para penulis itu. Ini semua bahkan merupakan percakapan berbobot lantaran dalam buku-buku itu mereka menuangkan gagasan-gagasan mereka yang terbaik semata-mata…”
Bagaimana ? Apakah masih ragu untuk menulis dan membaca ? Ops teman, bukan membaca novel teenlit atau komik yang sedang kami perbincangkan. Tapi membaca sesuatu yang bisa menimbulkan wawasan. Dan menulis, bukan menulis catatan yang kami maksudkan, tapi menuliskan apa yang ada di pikiran. Tak mesti hal-hal berat, menulis catatan harian saja sudah langkah awal. Ayo, mulai membaca dan menulis. Jangan malas !

One thought on “Menggerakkan Hati untuk Meraih Buku dan Pena

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s