MEMAAFKAN

“Memaafkan (mungkin) tidak bisa memperbaiki masa lalu tapi pasti memperindah masa depan”
-Mario Teguh-

Kalimat yang tepat. Saya jadi ingat pada apa yang terjadi di kampus belakangan ini. Keadaannya disebut ‘konflik internal’ bagi organisatoris. Tapi sayangnya, konflik internal yang awalnya cuma masalah pribadi ini berubah menjadi isu global di kalangan mahasiswa, di kampus saya.

“Apa yang sesungguhnya terjadi?” adalah pertanyaan besar bagi saya. Kesannya dibikin rumit. Mungkin saya yang paling “ngeh” terhadap ini semua. Saya mulai melihat ada yang tidak beres dengan kami (mahasiswa 06 dan 07). Namun, saya menjalani kehidupan seperti biasa. Hingga suatu hari, saya dicurhati.

Curhat itu merupakan awal dari ‘ketidaknyamanan’ saya. Ya, saya mulai tak nyaman. Ada sesuatu yang membuat salah satu pihak kecewa. Ketika itu, saya setuju dengan apa yang menjadi pokok pembahasan curhat. Dan saya berpikir : Bagaimana caranya?
Kemudian,

Saya mendengar ada sesuatu yang (lagi-lagi) tidak beres. Kabarnya ini bisa dibilang konflik. Ditilik dari siapa yang salah adalah kedua pihak salah. Ditilik dari siapa yang benar pun adalah kedua pihak benar. Yang menyebabkan ‘salah’ (mungkin) cara menyampaikan dan cara menerima terhadap apa yang disampaikan. Kemudian, keduanya emosi, dua-duanya merasa benar.

Lalu,

Saya kembali dicurhati dua minggu kemudian dengan pokok pembahasan yang sama plus masalah di atas. Tapi, oleh orang yang berlainan (yang cukup memiliki pengaruh). Teman saya yang ikut dicurhati bersama saya ketika itu, juga mencoba berpikir : Bagaimana caranya?. Persis dengan apa yang terjadi pada saya ketika dicurhati pertama kali.

Dari kedua curhat ini, saya masih setuju dengan apa yang menjadi pokok pembahasan.

Saya pun mulai menggali informasi. Bertanya. Jika dulu dicurhati, sekarang saya yang curhat. Saya curhat ke sana ke mari. Saya sampaikan bahwa saya ‘peduli’ dengan teman-teman. Ketika bertemu dengan pihak ini saya katakan ‘Anda salah karena begini dan begitu. Dia juga salah’. Ketika bertemu pihak yang satunya, saya pun mengatakan ‘Anda salah karena begini dan begitu. Dia juga salah’.

Saya memang menyalahkan semuanya. Mungkin semuanya marah pada saya. Mungkin setelah ini saya tak punya teman.

Posisi saya : saya ingin mendamaikan dengan cara menyalahkan.

Tapi, dengan cara menyalahkan itulah saya beroleh informasi. Saya dapatkan jawaban dari ‘Apa yang sesungguhnya terjadi’. Hingga kemudian saya temukan kesimpulan terang dari pertanyaan ‘bagaimana caranya?’ itu.

Bagaimana caranya? Jawabannya adalah dengan saling memaafkan.

Kepada Rizky, Efri, Kak Dini, semua mahasiswa ’07, semua mahasiswi ’07, semua mahasiswa dan mahasiswi ’06, semua pengurus HIMA, juga mahasiswa mahasiswi dari Jalur B, serta mahasiswa mahasiswi baru ’08 :
Bahwa memaafkan (mungkin) tidak bisa memperbaiki masa lalu tapi pasti memperindah masa depan.

Ingat! :

yang saya katakan di sini adalah memaafkan bukan meminta maaf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s