Kue Bika Ambon

Cerpen Anak Nilna R. Isna, terbit di halaman Ceria P’Mails

Siang ini Dola belajar masak bersama mama. Dola sudah berjanji pada mama akan membuat kue bika ambon. Semua bahan-bahan sudah dipersiapkan di dapur. Ada tepung sagu, gula pasir, mentega, santan dan telur.
Alat-alatnya juga sudah ada. Ada oven untuk memasak, loyang untuk meletakkan adonan, dan baskom plastik untuk mengaduk adonan. Selain itu ada panci untuk memasak santan, centong kayu untuk mengaduk santan, dan saringan untuk menyaring adonan. Oh iya, ada kompor juga untuk memasak santan dan kuas untuk mengolesi mentega ke loyang.
“Oke Dola, mari kita mulai memasak kue bika ambon,” ujar mama bergaya sambil menyingsingkan lengan bajunya yang panjang. Dola juga ikut-ikutan gaya mama. Ia menyingsingkan lengan bajunya. Dola menambahkan dengan memakai celemek dan memakai sarung tangan.
“Mama tidak pakai celemek ?” tanya Dola.
“Oh tidak, Nak. Hari ini kamu yang memasak. Mama hanya membantu di awal,” jawab mama. Dola mengangguk-angguk.
“Pertama-tama, masukkan tepung sagu ke dalam santan !” kata mama.
Dola mengambil tepung sagu yang masih dibungkus dalam plastik. Kemudian memasukkannya ke dalam baskom plastik yang berisi santan.
“Aduk tepung dan santan dengan tangan sampai merata!” ujar mama lagi.
Dola mengaduk tepung dan santan . Mengaduknya harus sampai rata. Dengan hati-hati dan cermat, Dola mengaduk adonan kue bika ambonnya sambil diperhatikan mama. Tapi ternyata mengaduk adonan kue itu susah sekali dan lama sekali.
Dola pun bosan. Ia mulai mengaduk adonan itu asal-asalan. Mama tidak mau membantu Dola. Mama hanya memperhatikan Dola dan memberikan perintah-perintah. Kata mama biar Dola yang mengerjakannya sendiri agar nanti Dola pintar membuat kue.
Namun Dola tidak mau mengikuti anjuran mama. Dola sudah malas membuat kue.
“Ma, udah ya Ma. Dola sudah capek,” rayu Dola pada mama.
Mama menggeleng. “Tidak Dola, harus Dola yang mengerjakannya sendiri. Supaya Dola pintar. Jangan malas gitu dong, Nak,” ucap mama.
Tapi Dola nakal. Dia pergi mencuci tangannya. Lalu masuk kamar dan tidur. Mama menggeleng-geleng melihat tingkah Dola. Akhirnya mama yang melanjutkan membuat kue bika ambon.
Sorenya, kue bika ambon kesukaan Dola sudah siap dimasak mama. Kue itu kini ditaruh di lemari makan. Dola bangun dari tidur. Ketika bangun, ia mencium wangi kue bika ambon buatan mama. Dola pun berlari ke dapur mencari Mama. Mama sedang mencuci alat-alat membuat kue di dapur.
“Ma…,” panggil Dola
“Apa sayang ?” tanya Mama.
“Mana kue bika ambonnya, Ma ? Dola lapar nih, ” sahut Dola.
“Eitt…, tidak boleh,” kata Mama. Dola mengerinyitkan dahi.
“Kenapa, Ma?”
“Tidak boleh. Karena bukan Dola yang membuat kue. Orang yang makan kue bika ambon hanya orang-orang yang mau membuat kue bika ambon sampai selesai.”
“Loh? Kok gitu? Ah,mama nggak seru.” Dola protes.
“Sekali nggak boleh, tetap nggak boleh,” lanjut Mama.
Tapi lagi-lagi Dola nakal. Dola pergi ke lemari makan. Dia tahu mama biasa meletakkan kue yang baru siap dimasak di lemari makan. Benar saja, di dalam lemari itu sudah ada dua loyang kue bika ambon berbentuk persegi panjang yang sudah dipotong-potong. Wangi daun pandannya menusuk hidung Dola. Wangi kue itu menggugah selera, membuat Dola ingin cepat-cepat memakannya.
Ketika tangan Dola siap mengambil sepotong kue bika ambon, tiba-tiba….
“Ma, kuenya kabur, Ma… ,” pekik Dola.
“Ma…, kuenya kabur dari lemari!” pekik Dola lagi.
Mama tergopoh-gopoh dari dapur menuju lemari makan.
“Ada apa Dola?” tanya Mama dan mama pun kaget melihat Dola.
Dola sedang mengejar-ngejar kue bika ambon yang tadi dimasak Mama. Kue bika ambon itu tiba-tiba punya kaki dan tangan. Tubuhnya yang tadi dipotong-potong menyatu kembali. Kue yang tadinya berbentuk persegi panjang itu kini berlari-lari dikejar Dola.
“Kue bika ambon …! Jangan pergi!” panggil Dola
“Tidak… tidak… aku tidak mau dimakan anak pemalas,” jawab kue bika ambon.
Kue bika ambon berlari semakin kencang. Kue itu berlari dari lemari makan menuju ruang makan. Ia berputar-putar di sekeliling meja makan. Kemudian lari melewati ruang tengah, masuk ke ruang tamu, lalu-lari ke halaman rumah Dola.
“Jangan pergi kue bika ambon! Aku lapar sekali. Aku mau makan kue bika ambon,” ujar Dola sambil terus berlari.
“Tidak! Aku tidak mau dimakan anak nakal,” jawab kue bika ambon lagi.
Kue bika ambon berlari-lari mengelilingi halaman rumah Dola yang luas. Dola terengah-engah. Ia ingin sekali makan kue bika ambon. Tapi kue bika ambon tidak mau dimakan oleh Dola.
“Ayo kejar aku sampai dapat, anak pemalas. Aku akan terus berlari karena aku tidak mau dimakan anak nakal.”
Kue bika ambon berlari kencang sekali. Dola tertinggal jauh di belakangnya. Dola sudah terengah-engah. Ia capek mengejar kue bika ambon. Tapi ia juga lapar sehingga Dola memutuskan untuk terus mengejar kue bika ambon.
“Ayo… ayo… kejar aku!” teriak kue bika ambon.
“Ayo kejar aku. Kamu pasti tidak akan mendapatkanku. Aku kue bika ambon yang baik. Aku hanya mau dimakan anak yang baik,” teriak kue bika ambon lagi.
Dola terus mengejar kue bika ambon yang kabur itu sambil terengah-engah.
“Aku kue bika ambon yang baik. Aku hanya mau dimakan anak yang baik. Bukan anak pemalas dan nakal seperti kamu. Ayo…, ayo…, kejar aku!” teriak kue bika ambon sambil terus berlari.
Dola terus mengejar tapi ia kini sudah tertinggal jauh di belakang kue bika ambon.n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s