Melirik Herbal, Tanaman Kaya Khasiat

Tatkala dipopulerkannya pengobatan modern semenjak Sekolah Dokter didirikan pada 1908, penggunaan tanaman herbal (tanaman obat) justru dianggap kuno dan berbahaya. Masyarakat ragu-ragu menggunakan obat-obatan alami dan kemudian beralih ke obat-obatan kimiawi. Kenyataan ini berbeda dengan negara timur lain seperti Jepang, Cina, Taiwan, dan Korea yang justru kembali ke alam. Negara-negara tetangga itu malah mengolah herbal hingga menjadi obat manjur yang terjamin mutu dan kualitasnya.
Saat ini, di Indonesia, semakin luas diketahui bahwa obat kimia ternyata lebih banyak membawa dampak negatif. Dampak negatif itu terjadi baik secara langsung maupun bertahap. Tubuh manusia bersifat organis yang mana di dalamnya terdapat banyak campuran dari berbagai senyawa. Sedangkan obat kimia termasuk senyawa anorganik. Obat kimia tersusun atas senyawa karbon murni yang sesungguhnya tidak cocok untuk tubuh. Maka, bukan hal aneh jika obat kimia sering dikeluhkan sebagai racun.
Sebagai obat yang hadir dari alam, herbal bisa menggantikan obat-obatan kimia yang saat ini harganya semakin melangit. Kelebihan herbal terletak pada tanaman itu sendiri di mana setiap bagiannya dapat berkhasiat obat. Karena itu, tanaman herbal disebut juga sebagai tanaman kaya manfaat.Selain itu, ada sejumlah penyakit berat yang belum mampu disembuhkan oleh obat kimia, antara lain kanker, stroke, juga AIDS.

Penggunaan Herbal di Pedalaman Indonesia
Meskipun pamor obat herbal menyusut tapi masih ada beberapa kelompok di Indonesia yang sejak dahulu hingga sekarang menggunakan obat-obatan hanya dari alam. Masyarakat pesisir pantai Papua misalnya. Sadar tidak sadar, masyarakat di sini telah terbukti mampu mengobati penyakit Malaria versinya (tanpa sentuhan obat dari dokter).
Di sepanjang pinggir pantai Kalimantan, masyarakat menggunakan jenis tumbuhan marga Brucea javanica (sejenis pohon perdu/kwalot atau dikenal dengan daun sukun) untuk menyembuhkan Malaria. Meskipun hanya bermodalkan pengalaman, kenyataan masyarakat memang mempergunakannya sebagai obat.

Obat Herbal di dalam jamu
Saat ini banyak tanaman-tanaman herbal yang diramu dalam bentuk jamu. Memang reaksi obat herbal dalam jamu tak secepat obat kimia. Obat kimia bisa bereaksi dalam 15 menit. Sementara obat herbal bereaksi antara seminggu sampai sebulan. Rentang waktu ini bisa lebih lama lagi pada penyakit kanker.
Dalam mengonsumsi jamu, ada kekhawatiran pada masyarakat melihat endapan serbuk jamu sampai hampir sepertiga gelas. Beberapa orang menganggap hal ini bisa berbahaya pada ginjal. Akan tetapi kekhwatiran ini keliru. Logikanya setiap makanan yang masuk akan diserap oleh tubuh. Dedaknya tinggal di usus, mengikuti proses pencernaan makanan. Zat yang masuk ke dalam ginjal adalah segala sesuatu yang dibawa darah. Darah tentu tidak mungkin membawa endapan serbuk jamu. Meskipun begitu, sari jamu memang dibawa darah untuk masuk ke ginjal sehingga mempengaruhi kerja ginjal. Oleh karena itu, ada baiknya minum banyak air putih sesudah meminum jamu.

Indonesia, Negeri Subur Herbal
Indonesia sesungguhnya beruntung karena kaya akan potensi keanekaragaman hayati darat dan laut. Di tanah air ini terdapat sekitar 9.606 spesies tumbuhan obat. Akan tetapi hanya 350 spesies yang teridentifikasi dan baru sekitar 3 – 4% yang telah dimanfaatkan secara komersial.
Sayangnya lagi, penggunaan aneka ragam herbal baru sebatas indikasi khasiat. Belum ada acuan baku kepada masyarakat untuk menggunakannya. Berbeda dengan negara Cina yang telah memiliki panduan tanaman herbal hingga ribuan resep. Pemanfaatannya pun masih jauh lebih minim dibanding dengan pengobatan filosofi ayurveda dari India atau pemanfaatan tanaman obat di Eropa. (Berbagai Sumber/Nilna Rahmi Isna)

terbit di Pmails edisi 150

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s