Herbal Dalam Pandangan Kedokteran Modern

Hampir setiap tahun muncul primadona baru dalam jajaran obat tradisional. Sebut saja buah mahkota dewa, sambiloto, temulawak, dan kumis kucing. Namun dalam dunia kedokteran, keabsahan obat-obatan ini belum bisa diakui karena masih berdasarkan pengalaman pemakai, belum diuji klinis.
Agar setara dengan obat modern, obat tradisional harus melewati banyak tahap. Tahapan inilah yang dikenal sebagai uji klinis. Jika telah lulus uji klinis, obat herbal disebut dengan fitofarmaka yang layak diresepkan dokter dan bisa masuk ke rumah sakit dan puskesmas.
Sejatinya, herbal bisa dibedakan dalam tiga tingkatan yaitu : jamu, obat tradisional (herbal terstandar) dan fitofarmaka. Jamu belum diuji kelayakannya, hanya berdasarkan data empiris (pengalaman pemakai). Herbal terstandar telah diuji namun hanya sampai praklinik yaitu uji khasiat dan toksisitas (kandungan racun). Tingkat herbal yang saat ini telah diakui ilmu kedokteran modern, disebut fitofarmaka. Fitofarmaka telah lulus tiga uji penting yaitu uji praklinik, uji teknologi farmasi yang menentukan identitas atau bahan berkhasiat secara seksama sampai dapat dibuat produk yang terstandarisasi, serta uji klinik yaitu uji pada pasien di rumah sakit.

Bisa Berefek Buruk
Herbal akan berefek buruk jika tidak tepat dalam penggunannya. Bagaimanapun obat tradisional tetap bahan asing bagi tubuh. Hal ini diutarakan oleh Dr. dr. Aris Wibudi, Sp.PD. Aris, seperti diceritakan kepada kafka.web.id pernah menangani kasus pasien yang mengalami hipoglikemia berat akibat minum obat tradisional secara salah. Sebelumnya, pasien sudah mendapat obat antidiabetes dari dokter. Lalu, tanpa sepengetahuan dokter, pasien juga minum obat tradisional yang berisi beberapa macam tanaman. Dua diantaranya sambiloto (Andrographis paniculata) dan brotowali (Tinospora crispa). Padahal kedua tanaman ini diketahui punya efek menurunkan kadar gula darah. Walhasil, bukannya sembuh, pasien justru mengalami hipoglikemia berat. Efek ini diyakini timbul karena kerja sinergi dari obat antidiabetes dari dokter, ditambah efek hipoglikemia dari sambiloto dan brotowali.
Kesimpulannya, kita tidak perlu tergesa-gesa menyimpulkan bahwa tanaman ini pasti punya khasiat itu. Di lain pihak, kita juga tidak boleh meremehkan bahwa khasiat tanaman obat hanya mitos belaka. Semua harus dipandang secara rasional dan objektif. (Berbagai Sumber/Nilna Rahmi Isna)

terbit di P’mails edisi 150

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s