Puisi Untuk Indonesia

Diskusi Komunitas Untuk Indonesia

Salah satu rangkaian acara Minangkabau Book Fair 2008 kemarin ada diskusi Komunitas Untuk Indonesia. Nama acaranya Parlementaria Remaja On Demokrasi. Topiknya Nasionalisme. Mottonya Untuk Indonesia Aku Ada.

Diskusinya keren terutama untuk mempertanyakan rasa nasionalisme remaja saat ini. Kan remaja sekarang banyak yang ga peduli sama negaranya. Hobinya cuma mejeng-mejeng di mall. Nggak peduli kalo negaranya lagi krisis. Iya toh?

Peserta yang hadir berkisar 50 orang. Jumlah yang diluar dugaan kata Om KW yang menjadi penggagas Komunitas Untuk Indonesia. Dalam diskusi ini ada penanggap ahlinya juga yang diberi gelar kak Pakar yaitu Kak Eka, kak Israr, dan kak Taufik. Ketiganya itu merupakan dosen sekaligus pakarnya demokrasi.

Materi diskusi rada-rada hot. Jadinya peserta ikutan panas. Apalagi para peserta berasal dari kalangan berbeda. Emang sih semuanya remaja, tapi ada juga remaja yang masih pelajar, remaja yang udah jadi mahasiswa, remaja yang udah kerja, bahkan remaja yang udah jadi guru atau dosen, dan “katanya” juga ada remaja jalanan. Lho?

Pokoknya seru deh. Ada yang debat, ada yang cuma nanya, ada yang sekedar menyampaikan aspirasi, ada yang nuduh-nuduh pemerintah, ada yang ngomelin generasi tua *??*, ada yang cuma meluruskan beda antara nasionalis dengan nasionalisme *biar ga asal ngomong kali ye…*, bahkan ada yang curhat, eh juga ada yang berpuisi. Haha….

Diskusi ini diramaikan oleh pemusik jalanan yang langsung didaulat jadi Pemusik Untuk Indonesia.

Oh iya, panitia menyediakan hadiah buku untuk penanggap dan penanya terbaik. Tapi ujung-ujungnya semua yang “angkat suara” dapat buku, ada 15 orang yang tunjuk tangan baik untuk yang bertanya ataupun menanggapi, ke-15nya itu dapat buku dari panitia.

Tapi tetap dipilih penanggap terbaik. Who is it? Ternyata oh ternyata saudara-saudara, saya yang terpilih jadi penanggap terbaik. Hohoho… hahaha….

Kaget sih pas disebut namanya sebagai penanggap terbaik. Toh, yang saya ucapkan waktu itu kalimat alakadarnya. Lagian saya bikin kata-kata itu ya waktu saya berdiri sambil megang mic itu. Nggak ada persiapan sama sekali. Waktu nunjuk tangan saya nggak mikir mau baca puisi. Cuma mau bilang agar negara kita nggak koripsi lagi. Eh, pas megang mic, entah dapat ilham dari mana, saya malah baca puisi. *Aneh*

He… ya sudahlah. Baguslah.

“Aku Mau

: untuk Indonesiaku

Aku mau punya bapak yang tidak korupsi

Aku mau punya ibu yang tidak suka menonton sinetron televisi

Aku mau punya teman yang gemar membaca

Aku mau kita semua cinta Indonesia !

Parlemetaria Remaja, 2008”

6 thoughts on “Puisi Untuk Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s